
"Risa, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini, apa kamu datang menjemput Aga? Semalam aku bertemu dengannya, dia bilang mau menginap di rumah teman yang tinggal di gedung ini, aku tidak tahu loh ternyata Aga punya teman disini. Dan kelihatannya bukan sembarang teman ya," ucapnya sambil menatap sekeliling.
"Apa maksud lo?"
"Ayolah Ris, kamu lihat apartemen ini… kebanyakan yang tinggal disini…tunggu dulu…tapi kenapa aku perhatikan sepertinya kamu terlihat beda…" wanita itu hendak menyentuh wajah Zeline, tapi dengan cepat Zeline menampiknya.
"Ris kamu…tunggu dulu," ucapnya lagi saat ponsel wanita itu berdering.
Zeline tampak tidak peduli, dia hendak melewati wanita yang tidak dikenalnya itu, tapi sayangnya tangan Zeline dicekal olehnya, hingga mau tidak mau, Zeline akhirnya bertahan disana mendengarkan suara wanita itu yang menurut Zeline terdengar dilebih-lebihkan.
"Kamu mau kemana? Ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu, dan setelah ini, kamu harus janji bantu aku membujuk orang tuaku, agar merestui pernikahan kami. Ayo ikut aku!" Wanita itu menarik tangan Zeline yang bahkan tidak memberi jawaban.
Bisa saja Zeline menepis tangan wanita itu, dan meninggalkannya, tapi mendengar apa yang wanita itu ucapkan, juga sebuah foto yang terselip di dompet wanita itu, membuat Zeline penasaran, dan Zeline terpaksa ikut karena ingin memastikan sesuatu.
"Aga pintar juga ya cari teman," ucap wanita itu saat mereka dalam perjalanan ke restoran.
Zeline hanya melirik tidak suka, mendengar ucapan wanita itu, yang menurut Zeline terdengar seperti tengah merendahkan seseorang.
"Tapi memang harus sih," tambahnya lagi.
Zeline menghentikan langkah, lalu menatap tajam wanita itu yang kini juga ikut berhenti.
"Kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?" Wanita itu tersenyum, lalu arah pandangnya tertuju pada seseorang yang berjalan ke arahnya.
"Sayang!" Teriak wanita itu mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi.
Sedang Zeline, dia ikut membalikkan badan, matanya membelalak melihat siapa orang yang kini tengah menghampirinya. Pun dengan orang itu yang tiba-tiba saja menghentikan langkah saat melihat Zeline.
Wanita itu lalu menatap Zeline dan pria itu bergantian, tersenyum. Dia lalu mendekat pada Zeline dan berbisik.
"Biasa aja lihatnya, dia milikku, dan kamu tidak boleh tertarik."
Zeline menoleh dan menatap tajam wanita itu.
"Ayo aku kenalkan dengan calon suamiku," ujarnya menarik tangan Zeline, namun Zeline menepisnya, bahkan kini tangan Zeline mendarat di pipi wanita itu.
"Risa apa yang kau lakukan?" Teriaknya memegangi pipinya yang terasa panas.
"Itu pantas buat wanita sepertimu," ucap Zeline.
Plak
Sekali lagi tangan Zeline mendarat di pipi yang satunya.
"Kau…."
__ADS_1
Wanita itu melayangkan tangannya, Zeline spontan memejamkan mata, tapi beberapa saat menunggu, Zeline tidak merasakan apapun, dia membuka matanya dan tidak menyangka, jika pria itu mencekal tangan wanita yang hendak menamparnya.
"Mas…" wanita itu terdengar tidak terima karena calon suaminya menahan dirinya yang hendak memberi pelajaran pada Zeline.
"Hentikan Viona, dan kita pergi sekarang!" Ucapnya lalu menarik tangan wanita yang ternyata adalah Viona.
"Tidak bisa, aku harus…"
"Kita pergi sekarang atau tidak sama sekali," ucap pria itu datar.
Viona mendengus dan terpaksa mengikuti langkah pria itu. Tapi tiba-tiba dirinya berhenti saat pria di depannya juga berhenti.
"Sekarang sudah tahu kan? Jadi lebih baik kamu pulang sekarang!" Ucap pria itu yang mengira bahwa Zeline ada disana karena ingin mencari tahu tentang Viona.
"Oh jadi dia orangnya? Wah Anda memang hebat pak Abi," ucap Zeline bertepuk tangan.
Abi, ayah Zeline itu segera melepas tangan Viona, berbalik lalu melangkah ke arah Zeline. Abi menarik tangan Zeline dan segera mengajaknya pergi dari sana, meninggalkan Viona yang menatap heran pada keduanya dengan rasa kesal.
"Pantas saja, dia jauh lebih muda dari mama. Sepertinya umurnya juga tidak jauh dari abang, Anda benar-benar hebat pak Abi," ucap Zeline begitu dirinya sudah duduk di dalam mobil.
"Panggil papa yang sopan Zeline!" Tegas Abi. Tidak suka jika putrinya memanggilnya seperti itu.
Zeline justru tertawa mendengar perkataan ayahnya.
"Haruskah?" Ujar Zeline di sela tawanya.
Sementara Abi, dia menghela nafas panjang, rasanya jika dia menjawab ucapan Zeline, suasana akan semakin tak terkendali. Abi takut kelepasan dan akhirnya marah lagi pada putrinya itu, sungguh Abi tidak ingin hal itu terjadi.
"Darimana kamu tahu?" Tanya Abi setelah mereka berdiam diri beberapa menit lamanya.
"Zeline papa berbicara denganmu!" Ucap Abi karena putrinya hanya diam saja.
Lagi-lagi Abi hanya menghela nafas, apalagi melihat putrinya yang sepertinya enggan berucap. Dan keduanya kini sama-sama bungkam selama perjalanan.
*
*
"Aga kamu disini?"
Risa segera mempercepat langkahnya saat melihat Aga duduk di kursi depan kos an nya.
"Iya belum lama Aga sampai, mbak baru pulang?" Aga segera berdiri menyambut kepulangan Risa.
"Iya tadi ada sedikit urusan. Kamu sudah makan, jika belum mbak akan…"
__ADS_1
"Tidak perlu memasak, ini Aga tadi sudah beli makanan. Lagian mbak pasti juga capek baru pulang kerja.
"Hmm kamu memang adik yang pengertian," ucap Risa tersenyum, ia lalu segera membuka pintu dan mengajak Aga untuk masuk.
"Ini…" Aga tak sengaja melihat pakaian Zhen.
"Oh itu milik abang," jawab Risa sambil memindahkan makanan yang dibawa Aga.
"Bang Zhen menginap disini?" Tanya Aga menatap kakaknya penuh selidik.
Risa menghentikan aktivitasnya sejenak, mengedikan kedua bahu membuat Aga segera menghampiri kakaknya itu.
"Mbak!"
Risa tersenyum, melihat wajah khawatir Aga.
"Tidak Aga, abang memang kemari tapi mbak juga tidak tahu jam berapa. Karena begitu mbak bangun dan membuka pintu, mbak lihat bang Zhen tidur sambil duduk di kursi depan. Mbak suruh masuk, lalu mbak tinggal berangkat kerja."
Mendengar kata kerja, Aga jadi teringat ucapan Zeline.
"Kakak masih bekerja?"
"Iya, memangnya kenapa, kamu…"
"Aga dengar dari Zeline kakak sudah diberhentikan," jelas Aga yang mengerti arti tatapan kakaknya yang seolah bertanya kenapa dia tahu tentang dirinya yang hampir saja kehilangan pekerjaan.
"Zeline? Kamu bertemu dengannya? Atau kamu bersama dia semalam?"
"Hmm itu…" Aga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus menjelaskan dari mana."
"Aga!"
"Iya, tapi bukan seperti yang mbak pikirkan."
"Memang apa yang mbak pikirkan?" Tanya Risa menatap Aga sepenuhnya.
"Ya mungkin saja mbak berpikir macam-macam."
"Tidak tuh. Jadi beritahu mbak, bagaimana ceritanya hingga kamu bisa bersama dengan Zeline?"
"Ya udah mbak duduk dulu, biar Aga enak ceritanya."
Risa pun menurut, dia duduk lalu melipat kedua tangan di atas meja, bersiap seperti layaknya seorang murid yang akan memperhatikan gurunya mengajar.
"Berasa kayak guru yang mau nerangin pelajaran," ucap Aga membuat Risa terkekeh.
__ADS_1
Adik Risa akhirnya ikut duduk, dia lalu menceritakan dari awal dirinya yang main di tempat temannya, lalu bertemu dengan Zhen di lift juga Zeline yang tiba-tiba datang ke apartemen Zhen, hingga Zhen pergi setelah berdebat dengan Zeline, semuanya Aga ceritakan tidak ada yang dia tutup-tutupi.
"Jadi abang bertemu dengan Viona?" Lirih Risa, entah kenapa Risa merasa minder jika dibandingkan dengan Viona. Tiba-tiba saja rasa takut menyusup di hati kecilnya tahu jika sang kekasih tinggal di satu gedung apartemen yang sama dengan mantannya.