Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 6


__ADS_3

"Mampus!"


Bukan Zeline, tapi Rio dan Evan yang mengatakan. Dia jadi menyesal kenapa tidak bertanya dari mana Zeline bisa mengerjakan. Masalahnya, sekarang jadi Zeline yang harus bertanggung jawab, maju ke depan, dan jawaban disaksikan sekelas, jika salah pasti Zeline dapat nyinyiran dari orang-orang yang memang tidak menyukainya.


Rio berdiri dan hendak melangkah maju, tapi Zeline dengan cepat menahan tangan pria itu saat hampir melewatinya.


Rio menatap tangan yang memeganginya. Lalu memandang Zeline yang kini berdiri.


"Lo duduk saja."


"Tapi Zel."


"Percaya sama gue," ucap Zeline yang kini melewati Rio dan berjalan ke depan. 


Zeline menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, mengambil spidol di meja guru, lalu mencoret angka-angka di papan tulis. Tak butuh waktu lama, gadis itu sudah berbalik dan meletakkan kembali spidol yang tadi digunakannya. Zeline melangkah kembali dan duduk di tempatnya.


Bu Siska bangkit dari duduknya mengoreksi jawaban Zeline.


"Benar jawabannya. Bagus Zeline, pertahankan ya," ucap guru itu membuat Zeline tersenyum bangga akan dirinya.


"Zeline lo…"


"Gimana? Makanya percaya sama gue."


"Kok bisa?"


"Hmm bisalah, gue itu sebenarnya memang pintar, tapi sengaja gue umpetin tuh selama ini," ucapnya percaya diri.


Mendengar itu, ada dua orang yang menatap Zeline dengan pandangan berbeda.


"Sudah-sudah sekarang buka buku kalian halaman 72."


Suasana kelas pun kembali hening, memulai pembelajaran hari ini.


*


*


Klunting


Sebuah pesan masuk di nomor Zeline, Zeline mengernyit melihat nomor tak dikenal itu. Hingga pesan kedua masuk dari nomor yang sama. Zeline membacanya, dia kemudian menoleh ke seseorang yang baru saja berjalan masuk kelas.


"Woy, nglihat ketua kelas gitu amat." Rio membawa styrofoam berisi makanan. Zeline tidak mau diajak mereka makan, hingga Rio sebagai sahabatnya berinisiatif membawakannya.


"Hah? Oh tidak, siapa juga yang ngeliatin."


Evan menarik salah satu kursi dan duduk di depan Zeline, Rio melakukan hal yang sama, bedanya dia memilih duduk di samping gadis itu.


"Ngomong-ngomong lo beneran menyimpan kepintaran lo selama ini?" Tanya Rio penasaran, menatap Zeline melipat kedua tangan di atas meja.

__ADS_1


"Bukan nyimpen, hanya saja selama ini malas saja memperlihatkan sama orang-orang. Tunggu waktunya tiba dan...duar…" Zeline menggebrak meja membuat dua pria kepo itu terlonjak kaget.


"Zeline!" Teriak keduanya karen sekarang Zeline berdiri dan pergi menjauh.


"Lo mau kemana?"


"Ke toilet."


"Sepertinya dia memang kemasukan," gumam Evan yang melihat punggung Zeline menghilang dari balik tembok.


Zeline melangkahkan kakinya ke toilet yang berada paling sudut. Zeline segera masuk, tapi saat dirinya akan keluar, Zeline mengurungkan niatnya, saat mendengar dua orang sedang mengobrol dan menyebut namanya.


"Lo yakin Re akan membiarkan Zeline? Ih sumpah benci banget gue sama tuh cewek, ngapain juga tiap hari nempel-nempel sama Rio, ih sumpah pengen gue beri pelajaran tuh anak. Dasar sok kecantikan. Oh ya, kok gue gak percaya dia bisa ngerjain tadi ya. Masa tukang bolos bisa dapat nilai sempurna, aneh kan?"


"Halah, itu hanya kebetulan saja, kau tidak perlu khawatir, seperti sebelumnya, yang pasti akan mendapatkan nilai bagus ya pasti Nico sama gue."


"Ya lo bener, dia pasti lagi beruntung saja."


Setelah sudah tidak terdengar suara lagi, barulah Zeline keluar. Zeline bukan takut, dia hanya  tidak ingin mencari masalah dengan orang-orang yang memang tidak dikenalnya. Semua orang bebas berkomentar, walau banyak diantara mereka yang tidak tahu yang sebenarnya.


*


*


Klunting


Zeline melihat ponselnya saat mendengar nada tanda pesan masuk. Saat ini Zeline tengah membereskan buku-bukunya, jam pelajaran telah usai sepuluh menit yang lalu dan kini gadis itu sedang bersiap untuk pulang.


"Sepertinya tidak deh, gue dijemput soalnya."


"Yah terus kapan nih kita mabar lagi?" Sela Evan yang kini berdiri di samping Rio, mengelilingi Zeline duduk.


Zeline menatap Rio dan Evan bergantian. Zeline berpikir sejenak apalagi saat teringat jika di rumah ada abang Zeline.


"Hmm baiklah gue ikut, tapi jangan di rumah gue ya?" Putus Zeline akhirnya. Dia masih merasa canggung dengan keberadaan Zhen di rumah, bagaimanapun dia tidak mengenal Zhen terlepas dari statusnya saat ini.


"Baiklah," kedua laki-laki itu terlihat semangat saat akhirnya mereka kembali mabar setelah sekian lama. Ya waktu seminggu mereka yang tidak mabar, terasa seperti setahun saja bagi mereka.


Ketiganya berjalan beriringan menuju mobil Evan. Setelah masuk ke dalam mobil, Evan segera melajukannya. Di depan gerbang, Zeline tampak melihat Zhen yang berdiri di depan mobil sambil melipat tangan di depan dada. Entah kenapa ada perasaan bersalah menyusup dalam hatinya. 


"Ngeliatin apa sih Zel?"


Zeline segera menegakkan badannya begitu mendengar pertanyaan Rio.


"Hah? Oh tidak."


Zeline mencoba menatap ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang dimana abangnya masih setia menunggunya.


Walaupun Zeline berusaha mengabaikan Zhen, nyatanya kini gadis itu tampak gelisah, Rio dan Evan saling pandang, karena baru kali ini Zeline tidak fokus bahkan sampai kalah beberapa kali. Padahal selama ini, Zeline yang selalu menang, baik dari Evan ataupun Rio.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Zel?" Rio tidak sabar, untuk tidak bertanya.


Zeline memandang Rio memelas. Membuat pria itu semakin mengernyitkan dahi bingung. Gadis itu memindai ponsel melihat pukul berapa sekarang. Sudah pukul 3 sekarang, itu artinya Zeline sudah berada di rumah Rio selama satu jam setengah, dia hanya berharap, jika Zhen sudah kembali ke rumahnya. 


"Gue gak apa-apa, ya sudah ayo lanjut lagi," ucap Zeline. Tapi baru 5 menit, pikiran gadis itu kembali tertuju pada Zhen. Dia benar-benar tidak setega itu membuat orang menunggu, ya dia takut jika Zhen kakak Zeline itu masih menunggunya sampai sekarang.


"Gue balik sekarang deh," ucap Zeline yang buru-buru bangkit dari duduknya.


Saat Zeline hendak melangkah, Rio seketika menahan tangan gadis itu.


"Biar gue antar."


Zeline tidak ingin drama, hingga dia langsung menyetujui tawaran Rio.


"Iya, tapi buruan ya!"


"Lo buru-buru mau kemana sih Zel?" Evan yang sedari tadi diam, mengungkapkan rasa penasarannya.


"Ya balik lah."


"Ya sudah ayo! Kalau lo buru-buru gimana kalo kita naik motor saja."


Zeline berpikir sejenak, hingga kemudian dia pun mengangguk.


"Tunggu sebentar, gue ambil kunci nya dulu, Van gak apa-apa kan kita tinggal dulu."


"Ya santai aja, tapi ingat pulang bawa makanan, gue laper."


"Ok," setelah itu, Rio berlari menaiki tangga, dan tak lama pria itu kini kembali.


"Ini, pakai buat nutupin!" Rio memberikan jaketnya pada Zeline.


"Makasi yo."


Rio mengangguk, kemudian melangkah lebih dulu diikuti Zeline.


Zeline naik ke motor Rio, dengan kecepatan tinggi, Rio mengendarai motornya, membuat Zeline refleks memegang baju Rio di sisi kiri dan kanannya.


Tak lama, Rio pun akhirnya sampai di depan rumah Zeline. Zeline langsung turun, melepas helm dan memberikannya pada pemiliknya.


"Sekali lagi makasih ya Yo."


"Santai aja, kayak sama siapa aja lo. Ya udah buruan masuk, baru gue jalan," perintah Rio dijawab anggukan oleh Zeline yang kini dengan segera menuruti perintah sahabatnya itu.


Zeline masuk ke dalam rumah, dia berjalan mengendap-ngendap, berharap Zhen ada di kamarnya, dan tidak melihat dirinya yang baru pulang.


Saat akan menaiki tangga, tiba-tiba langkah Zeline berhenti.


"Darimana saja kamu?"

__ADS_1


Zeline menoleh, dia menunduk saat mendapati sorot mata Zhen yang penuh amarah.


__ADS_2