Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 84


__ADS_3

Risa hendak mengambil foto yang terjatuh, tapi tangan seseorang lebih dulu mengambilnya.


"Papa!"


Abi menatap Risa, ia lalu mengambil satu stel baju tidur di tangan gadis itu.


"Kamu juga lebih baik istirahat, besok kamu harus sekolah, papa tidak ingin sampai kamu kesiangan dan jadi terlambat," ujar Abi meninggalkan Risa menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Risa hanya bisa terdiam menatap pintu kamar mandi yang kini tertutup.


"Aku yakin itu sebuah foto, tapi kenapa papa seolah tidak mengizinkan aku untuk melihatnya? Hmm sudahlah, itu bukan urusanku," ucap Risa dalam hati, ia lalu melangkah ke arah pintu dan keluar dari kamar papanya, ia lalu menuju dapur untuk membuat minuman hangat. 


Begitu selesai, Risa kembali menuju kamar papanya, tidak lupa gadis itu mengetuk pintu. Tak lama, pintu kamar Abi pun terbuka. Terlihat papa Zeline yang mengenakan kacamata, membuat Risa menghembuskan nafasnya kasar.


"Papa pasti bekerja lagi," ucap Risa menerobos kamar Abi, meletakkan minuman di atas meja. Benar saja di atas ranjang tampak laptop menyala, melihatnya saja Risa sudah tahu, bahwa papa Zeline adalah orang yang gila kerja.


"Papa sudah menyuruhmu istirahat, tapi kenapa kamu…"


Risa berbalik lalu menatap Abi.


"Papa sendiri kenapa belum istirahat? Papa sedang tidak enak badan tapi kenapa malah sibuk bekerja? Tubuh papa butuh istirahat, pekerjaan bisa dilakukan besok lagi."


"Papa hanya…"


"Tidak ada hanya, papa minum ini, lalu papa cepat istirahat," kata Risa, lalu ia melangkah ke arah sofa dan duduk disana.


"Kamu…"


"Zeze mau tetap disini sampai papa tidur, kalau perlu, Zeze juga akan tidur di sofa ini," ujar gadis itu."


"Papa janji sebentar lagi akan istirahat, kamu sekarang kembali ke kamarmu," ucap Abi mendekat ke arah putrinya.


Risa menggeleng, ia lalu justru merebahkan tubuhnya di atas sofa. 


"Zeline?"


Risa tak menjawab, ia merubah posisi hingga wajahnya menghadap pada sandaran sofa dan memejamkan matanya. Abi hanya menghela nafas, ia lalu berjalan ke arah ranjang, ia menyimpan pekerjaannya tadi sebelum akhirnya menutup laptop miliknya, menyingkirkannya dan menaruhnya di atas meja.

__ADS_1


"Papa sudah menuruti keinginanmu, sekarang kamu kembali ke kamar!" Ucap Abi kemudian.


Abi mengernyitkan dahi saat tidak mendapat jawaban apapun dari putrinya. Dia lalu melangkah menghampiri Risa yang tidak bergerak sama sekali.


"Zeline…Zeze…" panggil Abi, dia lalu dengan perlahan menyentuh bahu sang putri, dan menarik badannya pelan hingga posisi Risa telentang.


Abi tersenyum saat melihat putrinya ternyata tertidur, ia lalu dengan perlahan memindahkan Risa ke atas ranjangnya. Dipandangi dengan intens anak gadisnya itu, sambil diusap rambutnya dengan penuh kelembutan.


"Maafkan papa…maaf karena selama ini papa selalu mengabaikanmu, kamu tidak salah, papa yang salah," ucapnya pelan.


Abi mendekatkan wajahnya dan mencium kening Risa yang masih ia sangka Zeline. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh sang putri. Diperhatikannya sekali lagi gadis itu, baru setelah itu, Abi mengambil lagi laptopnya dan membawa ke sofa, menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi, dan setelah itu, ia akan beristirahat. Dirinya harus bangun pagi-pagi dan pulang ke rumah. Tak ingin jika putrinya besok sampai terlambat karenanya.


*


*


Sementara itu, di tempat lain Zeline yang baru saja selesai makan langsung beranjak dan masuk ke kamarnya meninggalkan Ibu Risa yang saat ini tengah membereskan bekas makan malam mereka.


"Ponsel mbak Risa," gumam Zeline pelan. Ia lalu mengambilnya dan hendak membuka ponsel itu, tapi Zeline gagal. Rupanya Risa sudah mengganti sandi ponselnya. 


Zeline menatap foto yang menjadi wallpaper ponsel Risa tersebut.


"Abang terlihat bahagia," tambahnya. Ia lalu buru-buru meletakkan ponselnya begitu pintu kamar terbuka. 


Seorang wanita yang walaupun dengan penampilan sederhana tapi terlihat begitu cantik, dia tersenyum lalu duduk di samping Zeline.


"Kenapa?" Tanya pada sang putri.


Zeline menggeleng, "Tidak apa-apa bu," jawabnya kemudian.


"Benar tidak apa-apa? Tapi ibu lihat sepertinya kamu sedang ada masalah. Selama makan tadi, ibu perhatikan kamu banyak diam," ucap wanita itu yang merasa putrinya berbeda.


"Tidak ada bu, sungguh," ucap Zeline meyakinkan.


"Ya sudah, kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama ibu, jangan memendam semuanya sendiri."


Mata Zeline berkaca-kaca, ia lalu dengan cepat memeluk ibu Risa. Walaupun ucapan yang tadi dikatakan ibu Risa terdengar biasa saja, tapi tidak bagi Zeline. Sudah lama, Zeline ingin mendengar ucapan itu dari mamanya sendiri.

__ADS_1


Ibu Risa tersenyum, ia lalu balas memeluk gadis itu dan mengelus lembut punggungnya.


"Kamu sangat mirip ayahmu, suka memendam semuanya sendiri, berkata tidak apa-apa tapi dalam hati sebenarnya kamu tidak baik-baik saja," ucap ibu Risa dalam hati.


"Ya sudah ayo tidur!" Ucap Zeline melepas pelukan mereka lebih dulu, setelah menghapus air matanya diam-diam yang tiba-tiba saja menetes tadi.


Zeline lalu menggandeng ibu Risa hingga ibu Risa naik ke atas tempat tidur, dirinya lalu memutari ranjang, lalu ikut berbaring di samping wanita itu. Keduanya kini dalam posisi saling berhadapan. Ibu Risa mengulurkan tangan membelai lembut pipi Zeline membuat Zeline tersenyum, sungguh ia merasa senang, ia tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya.


"Sudah saatnya kamu memikirkan diri sendiri, Aga sudah besar dan bisa mengurus semuanya sendiri, kamu juga tidak perlu mengkhawatirkan ibu," ucap ibu Risa membuat Zeline meneteskan air mata.


Dengan segera ibu Risa menyeka air mata putrinya itu.


"Kenapa? Apa ibu mengatakan hal yang salah?"


Tangan Zeline menyentuh tangan ibu Risa yang masih di atas pipinya hingga kini tangan gadis itu di atas tangan ibu Risa. La lalu memejamkan matanya, hatinya begitu tenang, hingga tanpa sadar gadis itu menyunggingkan senyum.


"Risa bahagia dan ingin selalu seperti ini," ucapnya, dan dengan perlahan matanya kini kembali terbuka. Ditatapnya wajah wanita yang berbaring tepat di hadapannya.


"Andai aku benar-benar anak ibu, aku pasti akan bahagia, mbak Risa sangat beruntung," tambahnya kemudian dalam hati.


Zeline yang memang sejak kecil kurang perhatian dari mamanya, begitu senang dengan perhatian yang ia dapatkan dari ibu Risa.


"Ibu…"


"Hmm, kenapa?" Tanya ibu Risa yang kini mengelus rambut Zeline.


"Tidak apa-apa, Risa hanya ingin memeluk ibu," ujar Zeline lalu ia segera melingkarkan tangan ke tubuh wanita itu yang langsung mendapat balasan. 


Mendapat elusan di kepalanya, membuat kedua mata Zeline dengan perlahan terpejam. 


Ibu Risa melonggarkan pelukan saat tidak merasakan pergerakan dari putrinya. Ia tersenyum sambil menatap lamat-lamat sang putri.


"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari ibu?" 


Ibu Risa pun teringat saat tadi tanpa sengaja melihat putrinya seperti menyembunyikan sesuatu saat dirinya membuka pintu.


Dia dengan perlahan melepas tangan Zeline dari tubuhnya, dan perlahan turun dari tempat tidur. Ia lalu menyelimuti Zeline hingga sebatas dada, setelah itu ia berjalan ke arah meja yang tak jauh dari tempat tidur, ia diam-diam hendak membuka laci, tapi urung saat mendengar getar ponsel di samping bantal Zeline. Tak ingin tidur putrinya terganggu, ia pun buru-buru mengambilnya.

__ADS_1


Deg


Tubuhnya membeku saat melihat siapa yang tengah menghubungi nomor putrinya saat ini.


__ADS_2