
Zhen yang melihat Zeline hanya diam, langsung mendekat, memeluk tubuh Zeline dari belakang.
"Abang sayang sama kamu, sayang sebagai seorang gadis bukan adek abang. Abang tahu ini tidak benar, tapi abang tidak bisa menahannya lagi."
Zhen melepaskan pelukan, membalik tubuh Zeline agar menghadap ke arahnya. Zhen memegang kedua bahu Zeline.
"Zeze jangan diam saja, kalau mau marah sama abang, marah saja, maki abang kalau perlu, tapi jangan diamkan abang seperti ini," ucap Zhen frustasi, apalagi saat dia melihat air mata turun begitu saja dari kedua mata Zeline.
"Zeze, ngomong dong sayang!" Zhen menggoyang bahu Zeline, melepaskannya, berbalik badan meremas rambutnya kasar.
"Sejak kapan?" Tanya Risa lirih. Setidaknya dia harus memastikan.
Zhen kembali berbalik, mendekat ke arah Zeline, meraih kedua tangannya.
"Abang tidak tahu."
Rasa kecewa jelas terlihat dari sorot mata Risa saat ini. Berpikir jika jawaban Zhen tidak tahu, mungkin saja Zhen sudah merasakannya sejak lama, dan berarti perasaan Zhen adalah milik Zeline bukan dirinya.
Risa menarik tangannya, berbalik dan kembali melangkah. Zhen sedikit berlari, menghadang langkah Risa.
"Belakangan ini, abang baru merasakannya belakangan ini, semenjak abang baru pulang, berjalan menuju kamar kamu, melihat kamu yang terlelap, memeluk juga mencium kamu, jantung abang berdebar kencang saat-saat itu. Abang juga marah saat kamu pergi bersama kedua teman laki-laki kamu, abang tidak suka kamu berdekatan dengan mereka, abang…"
Risa berjinjit, mengalungkan kedua tangan di leher Zhen, menariknya agar sedikit menunduk, mendaratkan bibirnya di bibir Zhen.
Zhen mengangkat tubuh Zeline tanpa melepas pagutan bibir mereka, menutup pintu dan menguncinya, menjatuhkan tubuh Zeline perlahan di atas kasur empuk miliknya.
Keduanya saling beradu pandang hanya sesaat karena setelahnya Zhen kembali memagut bibir Zeline.
*
*
"Abang…"
"Hmm."
"Zeze lapar."
Zhen membuka matanya, mengambil ponsel di atas nakas, melihat pukul berapa sekarang.
Sudah jam 8, pantas saja, dirinya kini juga sudah merasa lapar.
"Tapi Zeze mau mandi dulu," Risa pun kini turun dari ranjang, membenarkan pakaiannya yang berantakan karena ulah Zhen.
"Tidak mandi disini saja? Bareng sama abang juga tidak apa-apa."
"Gak!" Tolak Risa tegas.
__ADS_1
"Yah, abang sendiri dong, padahal pengen sama kamu."
"Abang ih!"
"Ya sudah sana, nanti takut abang khilaf."
"Dasar," ucap Risa yang kemudian segera berlalu pergi dari sana menuju ke kamarnya sendiri, sebelum Zhen merealisasikan ucapannya tadi.
Sementara Zhen terkekeh melihat wajah cemberut Zeline. Dia mengambil kaosnya yang tadi dia lempar begitu saja, memasukkan ke keranjang kotor, setelahnya dia masuk ke kamar mandi.
Tak butuh waktu lama, kini Zhen sudah keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya, berjalan ke walk in closet dan memakai pakaiannya disana.
Begitu selesai, Zhen pun keluar dari kamarnya, melewati kamar Zeline dan memilih untuk turun terlebih dahulu.
"Bi!"
"Iya Tuan, semua makanannya sudah bibi panaskan," ucap bi Irma melaporkan jika dirinya sudah melaksanakan semua permintaan Zhen lewat telpon tadi.
Zhen mengangguk, tatapan keduanya beralih pada seseorang yang kini berjalan mendekat.
"Sini duduk samping abang sayang!" Kata Zhen yang menarik kursi di sebelahnya agar Zeline duduk disana.
Wajah Risa kembali merona saat Zhen memanggilnya sayang, terlebih di depan bi Irma. Wanita itu hanya tersenyum, mengira jika itu karena keakraban mereka tanpa tahu apa yang terjadi pada keduanya.
Panggilan Zhen tadi tak urung membuat Risa mendekat hingga duduk di samping pria itu.
Zhen tersenyum dan mengangguk, berbeda dengan Risa yang kini menatap bi Irma memelas, berharap wanita itu tahu, jika Risa ingin bi Irma tetap disana, karena jujur saja Risa sangat gugup berdekatan seperti ini dengan Zhen, apalagi mengingat tadi saat dia dan Zhen...Risa menepuk kedua pipinya yang memanas, tak sadar jika kini Zhen ternyata memperhatikannya dengan senyum di wajahnya.
Zhen yang tidak tahan, karena Zeline terus menepuk kedua pipinya, segera menarik tangan Risa dan menggenggamnya di atas pangkuan gadis itu.
"Kenapa hmm?"
Risa menggeleng, mengalihkan pandangannya.
"Sayang!"
"Abang jangan panggil Zeze seperti itu."
"Lalu, kamu mau abang panggil apa, hunny, bunny, sweety."
"Abang stop!"
Zhen terkekeh mengusap puncak kepala adiknya.
"Menggemaskan sekali, abang jadi pengen cium lagi."
"Abang!"
__ADS_1
Risa melotot, kedua tangannya ditarik dengan cepat menutup mulutnya.
Zhen justru tergelak.
"Abang rese!"
Risa memukul lengan Zhen pelan dengan bibir manyun.
Cup
Lagi-lagi Zhen mengambil kesempatan mencium bibir Zeline.
"Abang ih!" Zeline menghadap ke meja dan mulai melahap makanannya, meladeni Zhen rasanya tidak ada habisnya.
Zhen pun melakukan hal yang sama, perutnya sudah meronta, minta diisi. Sesekali Zhen makan sambil melirik gadis di sampingnya.
"Jangan lihatin Zeze seperti itu!" Risa menoleh, dirinya tidak nyaman karena Zhen terus memperhatikannya.
"Siapa juga yang lihatin kamu sayang," elak Zhen yang tampak jika dirinya memang sedang fokus makan.
Risa mendengus, dan menggeser kursinya agar sedikit menjauh dari Zhen. Zhen menoleh sekilas sambil tersenyum. Lalu keduanya pun mulai makan dengan tenang.
"Nanti abang ingin tidur bersama kamu lagi."
"Uhuk...uhuk…" Zeline tersedak saat mendengar perkataan Zhen yang terdengar enteng saat pria itu mengucapkannya.
Buru-buru Zhen memberikan segelas air putih pada Zeline yang langsung diambil gadis itu.
"Abang bisa tidak kalau ngomong disaring dulu, bagaimana jika bi Irma mendengar, nanti bi Irma bisa salah paham."
"Abang salah?"
"Iya lah. Disini tidak hanya kita berdua abang, jadi jangan bicara sembarangan!"
"Abang tidak bicara sembarangan sayang, abang mengungkapkan saja apa yang memang abang inginkan, abang ingin tidur sama…"
Zeline menutup mulut Zhen yang lagi-lagi bicara tentang tidur bersama dengan suara yang cukup keras, Risa bahkan jadi gugup sendiri, tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika sampai bi Irma mendengarnya.
Zhen melepaskan tangan Zeline darinya,
"Iya, abang tidak akan bilang seperti itu lagi."
"Bagus, ya sudah Zeze ke kamar dulu, mau belajar, abang tolong yang beresin ya," ujar Zeline sebelum akhirnya gadis itu bangkit dan berlalu pergi lebih dulu.
Zhen segera membereskan bekas makan mereka, ingin cepat-cepat menyusul Zeline ke kamarnya.
Dan begitu sampai di kamar, Zhen melihat adiknya yang tampak fokus belajar, Zhen diam-diam tersenyum, sebelumnya Zeline tidak akan pernah mau berkutat dengan buku-buku miliknya, dulu Zeline justru sibuk bermain game.
__ADS_1
"Kamu memang benar-benar sudah dewasa sayang," ucap Zhen yang kemudian keluar dari kamar Zeline, dia tidak akan mengganggu adiknya malam ini.