
"Mama! Mama mau kemana?" Tanya Risa dengan nafas terengah-engah karena setengah berlari mengejar mama Zeline.
"Tunggu dulu, mama tadi seperti melihat…"
Langkah wanita itu berhenti, hingga spontan membuat Risa juga menghentikan langkahnya, gugup, tubuh Risa bahkan menegang saat mama Zeline menatap dirinya dari atas ke bawah. Risa mengedarkan pandangan, tak siap jika dirinya di interogasi di depan umum seperti ini. Risa kemudian menundukkan kepalanya, siap tak siap, hal ini pasti akan terjadi, sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya.
Risa memundurkan kepala, saat tiba-tiba tangan mama Zeline berada di wajahnya, bahkan Risa juga memejamkan matanya erat. Beberapa detik hingga menit menunggu, tapi tidak terjadi apapun, hingga saat Risa membuka mata, bertepatan dengan tangan mama Zeline yang menempelkan tisu di wajah Risa dan mengusap keringat yang membasahi wajah cantik putrinya.
"Kok, bisa keringatan begini sih sayang? Padahal ini di ac loh" Tanya mama Zeline yang sedikit merasa heran.
"Tadi Zeze cuma lari-lari ngejar mama," jawab Risa tidak sepenuhnya berbohong, padahal hal utama yang membuat tubuhnya berkeringat karena dia benar-benar gugup.
"Aduh maafin mama ya sayang, tadi tuh mama seperti melihat anak teman mama, mama mau nyamperin dan nanyain kabar mereka, soalnya mama hilang kontak sama mereka, terakhir saat kamu kelas satu smp."
Risa masih mencerna ucapan mama Zeline.
"Jadi ternyata bukan karena melihat Zeline?" Gumam Risa menghela nafas lega.
"Kamu ngomong apa sayang?"
"Hah? Oh tidak, Zeze gak ngomong apa-apa kok mama. Oh ya ma, ayo katanya mau makan, Zeze udah lapar nih," ucap Risa saat melihat Zeline lagi .
"Oh iya ayo! Kamu pasti juga berat bawa barang-barang ini."
Mama Zeline menatap paper bag yang ada di kedua tangan Risa.
"Sini biar mama bantu bawa!"
"Gak usa ma, biar Zeze aja."
"Sudah sini mama bantu!" Paksa mama Zeline, hingga Risa pun hanya bisa pasrah dan memberikan sebagian bawaannya pada mama Zeline.
Keduanya kemudian melangkah ke tempat makan yang akhirnya dipilih oleh Risa, karena mama Zeline sudah menyerahkan pada Risa agar memilih. Keduanya makan dalam diam. Mama Zeline yang terus menatap Risa, sedang Risa hanya menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya, entah kenapa dirinya tiba-tiba takut bersitatap dengan wanita yang duduk di depannya.
"Kenapa ma?" Risa akhirnya memberanikan diri menyuarakan suaranya.
Mama Zeline menggeleng, dan kembali melahap makanannya.
"Kamu kapan mulai sekolah lagi?"
"Minggu depan ma."
Mama Zeline pun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
"Mama dengar dari abang, nilai kamu kemarin yang tertinggi."
Risa tersenyum, "Iya ma."
"Mama sama papamu pasti bangga."
"Hah?"
"Mama bangga, papa pasti juga demikian," jelas wanita itu meralat ucapannya tadi.
Sementara Risa terdiam, memikirkan sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di hatinya.
"Habiskan makanannya sayang, setelah itu kita pulang."
__ADS_1
Ucapan mama Zeline membuyarkan lamunan Risa segera.
"Iya ma," jawab Risa yang kini melanjutkan makannya.
*
*
"Kenapa?"
"Hah?" Seorang gadis menoleh dan menatap pria yang saat ini sedang menyetir mobil."
"Kamu kenapa Zel? Dari tadi aku perhatiin kamu malah asyik sama lamunan kamu sendiri."
"Gue gak apa-apa kok."
"Yakin?"
"Hmm iya."
Mobil pria itu, kini berhenti di basement sebuah apartemen. Pria itu turun lebih duku dan berlari kecil membukakan pintu untuk Zeline.
"Ayo aku antar sampai depan pintu."
Zeline menatap pria yang kini sedang membuka pintu belakang mobil untuk mengambil belanjaan Zeline.
"Nico, maaf gue jadi repotin lo," ujar Zeline tidak enak pada Nico sang ketua kelas yang sudah membantunya hari ini, tak hanya membantu dengan membayarkan belanjaannya, tapi juga membiarkan Zeline tinggal di apartemen milik kakaknya yang tak lain adalah Dirga, bos Risa. Untungnya Dirga sedang pergi ke luar negeri dalam waktu yang cukup lama. Dan Nico mengizinkan dirinya untuk tinggal disana sementara. Karena tahu jika Zeline kabur dari rumah. Zeline memang tidak mengatakan alasannya, tapi Nico tahu jika pasti ada masalah dengan gadis itu.
"Aku gak merasa kamu repotkan, jadi kamu santai saja dan anggap ini rumah kamu sendiri."
Zeline menoleh menatap Nico yang berjalan beriringan dengannya.
"Kenapa gak enak? Karena ini apartemen kakakku?"
Zeline hanya bisa mengangguk lemah.
"Kamu tenang saja, tidak perlu khawatirkan itu. Kakakku gak akan mempermasalahkan hal ini, lagian apartemen ini memang kosong dari awal. Kakakku tidak tinggal disini."
"Sudah sampai," ujar Nico saat mereka sudah tiba di depan pintu.
"Istirahat gih, jaga diri baik-baik karena aku gak bisa nemenin kamu."
Zeline mengangguk, dia ingin menanyakan sesuatu pada Nico, tapi baru saja hendak membuka mulut, justru mengatup kembali.
"Kenapa?"
"Hah?" Zeline terkejut mendengar pertanyaan Nico tiba-tiba.
"Kamu kenapa? Ada yang ingin dikatakan?"
Zeline menatap pria di depannya.
"Bagaimana Nico bisa tahu apa yang aku pikirkan? Jangan-jangan dia juga tahu kalau aku…"
"Malah diam saja."
"Oh maaf, gue gak apa-apa kok. Oh ya Nico, kenapa lo…"
__ADS_1
"Karena aku suka sama kamu?"
"Hah?"
Nico justru tergelak.
"Hah...hah mulu dari tadi."
"Gak...gak...maksud ucapan lo barusan…"
"Aku suka sama kamu Zeline Zakeisha Arlangga, itu kenapa di setiap kita hanya berdua aku selalu menyebut kita aku kamu."
"Kamu…"
"Iya, jadi apa kamu mau jadi pacar aku?"
Zeline memalingkan wajah dan tersenyum, hatinya berbunga-bunga, bahkan jantungnya seperti mau lompat saja dari tempatnya mendengar pengakuan Nico, karena jujur saja, Zeline juga menyukai pria itu, sejak pertama masuk sma.
"Zel? Gak apa-apa kalau kamu gak mau jawab sekarang. Aku bisa…"
"Iya aku mau," ucap Zeline cepat, dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini bukan, terlebih Nico sendiri yang lebih dulu menyatakan perasaannya.
"Sungguh?" Nico menatap Zeline dengan pandangan berbinar, dia tidak menyangka jika sekarang dia dan Zeline menjadi sepasang kekasih, ternyata cintanya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan.
Zeline mengangguk antusias, hingga membuat Nico yang gemas langsung menarik gadis itu ke pelukannya.
Drt
Drt
Ponsel Zeline bergetar, memaksa gadis itu mengakhiri pelukan mereka.
"Siapa?" Tanya Nico saat Zeline hanya menatap layar ponselnya.
"Hah? Oh bukan siapa-siapa," jawab Zeline.
Nico mengangguk, lalu menatap gadis yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu, sudah janji sama mama mau nganterin ke tempat arisan."
"Ya, lo hati-hati," ucap Zeline kemudian, tapi dirinya mengernyit saat melihat Nico tidak kunjung beranjak.
"Kenapa?" Tanyanya penasaran.
"Mulai sekarang biasakan panggilnya aku kamu, jangan lo gue lagi."
"Hmm," jawab Zeline hanya dengan gumaman, kepalanya menunduk, tidak berani menatap Nico.
Nico tersenyum, mendekat dan mengecup puncak kepala Zeline.
"Aku jalan dulu, nanti malam aku hubungi kamu," ucap Nico, berbalik lalu segera pergi, sambil menjawab telepon dari mamanya.
Zeline terus tersenyum menatap kepergian Nico, dirinya masih belum percaya jika saat ini mereka sudah berpacaran.
"Siapa sih ganggu aja dari tadi," gerutu Zeline kemudian saat nomor asing yang tadi menghubunginya kembali menelponnya.
"Halo ini siapa?" Jawab Zeline tanpa basa-basi
__ADS_1
"Risa segera berangkat sekarang atau aku akan memecatmu!"
"Dirga? Dia sudah kembali?"