Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 13


__ADS_3

"Turunkan gue disini saja!" Ucap Zeline tiba-tiba.


"Kenapa? Sopir lo sudah datang?" Evan dan Rio ikut mengedarkan pandangannya mencari keberadaan pria paruh baya yang biasanya menjemput sahabatnya itu.


"Bukan sopir yang menjemput, tapi abang."


"Abang?" Cicit keduanya.


Zeline mengangguk, kemudian mengacungkan jari telunjuknya ke seseorang yang tadi dilihatnya.


"Itu abang gue!" Ucapnya.


"Oh, ya sudah, biar gue yang antar kesana," ucap Rio yang tidak bisa ditolak Zeline.


Rio lalu melajukan mobilnya ke arah dimana mobil Zhen berada.


"Makasih ya," ucap Zeline begitu turun. Evan menurunkan kaca jendela saat pria yang mereka baru ketahui sebagai kakak Zeline terus menatap ke mobil seperti tengah penasaran siapa yang mengantar adiknya.


"Hai bang," ucap keduanya bergantian sembari tersenyum namun justru hanya dibalas dengan wajah datar Zhen.


Zeline meringis melihat hal itu, merasa tidak enak pada kedua sahabatnya.


"Oh ya sudah bang, kami jalan duluan," pamit Rio segera merasakan tatapan permusuhan dari kakak sang sahabat.


"Kalian hati-hati ya, sekali lagi makasih," ucap Zeline yang membuat Zhen meliriknya malas.


"Ayo bang!" Ajak Zeline pada abangnya agar segera masuk ke mobil, apalagi kini mobil Rio sudah pergi meninggalkan mereka setelah mengangguki perkataan Zeline.


Zhen menghembuskan nafas, lalu masuk. Pria itu kemudian segera melajukan mobil meninggalkan sekolah.


"Kok abang yang jemput? Memangnya abang gak sibuk?"


"Kenapa? Kamu jadi kepergok sama abang jalan sama dua pria. Dan kedua pria itu, pria yang kemarin kan, yang membuatmu pulang terlambat, abang sudah menunggu kamu selama satu jam di depan sekolah, kamu justru sudah pergi dengan kedua pria itu, tanpa mengabari abang."


"Tunggu...tunggu...maksud abang apa? Aku jalan sama dua pria? Oh jadi itu anggapan abang sama Zeze? Zeze benar-benar tidak menyangka seburuk itu abang menilai Zeze."


Zhen menepikan mobil dan menatap adiknya.


"Bukan seperti itu maksud abang."


"Terus? Mendengar ucapan abang saja Zeze tahu maksud abang, Zeze tidak menyangka, abang beranggapan seperti itu pada Zeze. Abang tau apa soal kehidupan Zeze selama dua tahun ini? Abang tidak tahu apa-apa, abang terlalu sibuk dengan diri abang, sampai Zeze sama sekali sudah tidak dalam prioritas abang, karena apa, karena sekarang Zeze tahu, kekasih oh tidak lebih tepatnya mantan kekasih abang nyatanya yang lebih berarti bagi abang daripada Zeze, iya kan?"


Zeline melepaskan seatbeltnya. 


"Buka!" Pinta Zeline.


"Kamu mau kemana? Zeze dengar dulu penjelasan abang!"


"Buka!"


"Zeze!"


"Cepat buka!"


Zhen menghembuskan nafas dan menuruti permintaan adiknya, sungguh bukan maksud Zhen menuduh adiknya yang tidak-tidak, Zhen hanya tidak suka adiknya terlalu dekat  dengan lawan jenis, kita tidak tahu jelas isi hati orang, dan Zhen takut, kedua pria itu punya niat tidak baik pada adiknya.

__ADS_1


Zeline yang sudah turun, segera menghentikan taxi, dia ingin menenangkan diri saat ini. Dia jadi merasakan kasihan pada Zeline.


"Lagian apa salahnya berteman dengan teman cowok? Mereka juga tidak kalah asyik," gumamnya.


Lagian sebagai Risa, dia jelas tahu bahwa Evan dan Rio tidak ada maksud apapun, jika Rio, Risa sedikit tahu, pria itu suka sama Zeline, tapi Rio berhasil menutupinya,  dan itu berarti Rio lebih mempertimbangkan pertemanan mereka dibanding sebuah hubungan yang kedepannya bisa rusak kapan saja, jika orang yang dicintainya tidak punya perasaan yang sama.


"Kita mau kemana nona?"


Risa menghembuskan nafas, tersadar jika saat ini  dirinya sedang bersama orang lain.


"Kita akan…"


Risa menghentikan ucapannya, saat mendengar dering pada ponselnya, ponsel dia yang sesungguhnya bukan ponsel milik Zeline.


"Bentar pak."


Risa mengernyit saat ternyata sebuah nomor tidak dikenal yang menghubunginya. Risa kemudian memilih untuk mengabaikannya, hingga dering kedua pun kembali terdengar, disusul sebuah pesan yang masuk.


"Ini aku Viona," itulah bunyi pesan yang saat ini tengah dibacanya.


Tahu jika itu dari seseorang bernama Viona, Risa pun segera menjawabnya saat dering ketiga kembali menyapa.


"Halo Vi?"


"Ketemuan?"


"Oh, ok, hmm bagaimana kalau sekarang?"


"Oke aku akan kirim alamatnya, aku tunggu disana!" Setelah mengatakan itu, Zeline segera memutuskan panggilan.


"Kita ke cafe xx ya pak," ucap Risa yang langsung diangguki sang sopir, tapi sebelumnya Risa sopir mengantarkannya ke mall terdekat,  tidak mungkin jika dia harus menemui dengan mengenakan seragam sekolahnya, nanti yang ada Viona akan bertanya-tanya dan bisa saja rahasianya bersama Zeline akan terbongkar, Risa tidak mau hal itu terjadi.


*


*


Dan kini dirinya dalam perjalanan menuju cafe tempat janjiannya bersama Viona. Risa dan Viona berteman saat sma, Viona yang memang anak ibukota menjadi murid pindahan di tempat Risa sekolah, keduanya satu bangku juga sering satu kelompok hingga akhirnya mereka berteman, tapi tidak bisa dikatakan teman akrab juga, karena mereka tidak sering saling ketemu, alasannya karena kesibukan masing-masing, Risa yang bekerja di sebuah restoran. Sedangkan Viona yang bekerja di sebuah perusahaan ternama di ibukota.


Taxi berhenti, Risa segera turun, dia kemudian masuk memilih kursi yang berada di dekat jendela.


Sambil menunggu Viona, Risa mengambil ponsel Zeline, banyak pesan masuk di sana yang terbanyak adalah dari Zhen yang menanyakan dimana keberadaannya juga meminta maaf, dan akan menjelaskan tentang perkataannya tadi. Risa memilih mengabaikan, dia ingin memberikan Zhen waktu memikirkan ucapannya yang bisa saja menyakiti Zeline, jika memang yang saat itu berada di tempatnya adalah Zeline sendiri.


Risa mengalihkan pandangan saat seorang wanita cantik tersenyum dan memanggilnya. Lalu berjalan ke arahnya.


"Risa, wah kamu masih terlihat imut seperti waktu kita terakhir kali bertemu," ucapnya yang kini duduk berhadapan dengan Risa.


Risa hanya menanggapi dengan senyuman. Karena banyak orang yang mengatakan seperti itu.


"Kamu pesan dulu gih!" Ucap Risa memberikan buku menu.


"Kenapa tidak dipesankan sekalian? Atau jangan-jangan kamu lupa minuman kesukaan aku?" 


"Hmm tidak, tapi takutnya selera kamu sudah berubah, karena status kamu yang kini naik ke permukaan."


"Kamu ini bisa saja, dan kata-katanya itu loh, naik ke permukaan, kayak apaan aja."

__ADS_1


Risa kemudian membiarkan Viona memanggil pelayan dan memesan minumannya.


"Kamu masih bekerja di restoran?"


"Hmmm, daripada harus nyari lagi, belum tentu langsung dapat."


Viona mengangguk mengerti.


"Oh ya kenapa nih tumben-tumbenan kamu ngajak bertemu?"


Viona tidak langsung menjawab, dia meneguk minumannya yang baru saja disajikan.


"Hmm apa ya…" Ris menunggu ucapan Viona yang memang sengaja digantung gadis itu.


"Ih buruan, kau sengaja bikin aku penasaran kan?"


"Hehe, sabar dong, hmm begini, aku akan menikah," ucapnya membuat Risa tersenyum senang.


"Wah benarkah? Hmm selamat ya."


"Iya makasih, tapi Ris…"


Risa menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan Viona.


"Kenapa?"


"Aku minta tolong sama kamu, untuk meyakinkan mama dan papa ya."


"Maksud kamu?" Risa terkejut dengan ucapan Viona barusan.


"Orang tuaku tidak memberi restu."


Risa sedikit paham kenapa Viona meminta bantuannya, apalagi jika bukan karena orang tua Viona memang mengenal baik dirinya.


"Alasannya?" Tanya Risa santai.


"Perbedaan umur, kata mama dan papa, kekasihku ini terlalu tua untukku."


"Memang umurnya?"


"52, tapi dia tidak setua umurnya kok, dia masih sangat gagah, dan yang lebih penting aku menyukainya."


"Tunggu...tunggu...lalu Riu kekasihmu itu?"


"Kita putus dua tahun lalu," Viona meraih tangan Risa dan menggenggamnya.


"Please ya Ris, bantu aku!"


"Aku akan pikirkan."


"Makasih ya Ris," ucap Viona senang.


Risa hanya mengangguk, terus membiarkan Viona mengangkat panggilan telepon miliknya.


"Aku pergi dulu, aku yang traktir, kekasihku  sudah menjemput. Itu dia!" Viona menunjuk ke seseorang di luar yang baru saja keluar dari mobil. 

__ADS_1


Risa mengernyitkan dahi, melihat siapa orang itu, karena dia seperti pernah melihatnya tapi Risa tidak tahu kapan dan dimana.


"Aku duluan ya Ris, maaf, tidak bisa mengenalkanmu dengannya, mungkin lain kali." Ucap Viona membuyarkan Risa yang sibuk dengan pikirannya mengingat-ingat dimana  dia pernah melihat kekasih Viona itu.


__ADS_2