
Mama Zeline berbalik, berjalan mendekat dan menatap sang putra.
"Sejak kapan kalian membohongi mama?" Tanya wanita itu dengan raut wajah kecewa.
"Maaf, Zhen hanya ingin menjaga perasaan mama, Zhen tahu bagaimana sakitnya, apalagi mama," lirih Zhen.
"Menjaga perasaan mama kamu bilang? Lalu bagaimana dengan adikmu? Kau tidak menjaganya?"
Ma, Zhen selalu berusaha menjaganya."
"Dengan cara apa Zhen? Mengirim orang untuk mengawasinya, atau kamu sendiri yang menemaninya. Jika kamu menjaga adikmu, lalu dimana dia sekarang? Kamu tahu?"
Zhen terdiam, mencoba mencerna ucapan mamanya. Dia mengira yang mamanya katakan adalah tentang perselingkuhan ayahnya. Tapi ternyata bukan, tidak mungkin jika...
"Maksud mama?" Zhen ingin tahu lebih jelas lagi mengenai pertanyaan mamanya. Mungkinkah hal itu seperti dugaannya.
"Gadis tadi...dia bukan Zeline kan? Siapa dia? Kenapa dia bisa menjadi Zeline? Tidak, kenapa dia bisa menjadi Zeline?"
"Mama…"
"Jawab Zhen!"
"Mama tahu darimana?" Ucap Zhen lirih.
"Kamu tahu mama darimana? Zhen, kau lupa mama ini siapa? Mama ini mama kalian, mama tahu anak-anak mama. Walaupun mama tidak selalu ada bersama kalian, tapi ikatan ibu dan anak, tidak bisa bohong. Awalnya mama sedikit ragu, karena mama merasa dia kadang memang Zeline tapi terkadang mama juga merasa dia bukan Zeline, tapi begitu mama menghabiskan waktu dengannya, mama tahu, tahu dengan jelas malah, bahwa dia bukanlah Zeline."
"Ma…"
"Dimana Zeline? Dia tidak apa-apa kan Zhen?" Wanita itu menatap putranya kecewa.
"Zhen tidak tahu ma."
"Apa? Bagaimana bisa kamu tidak tahu dimana adik kamu Zhen? Dan bukannya mencari kamu justru membawa gadis itu kemari, menggantikan adikmu, kamu bahkan berhubungan dengannya."
"Ma, bukan seperti itu…"
"Lalu seperti apa?"
Tok
Tok
Di tengah ketegangan tiba-tiba terdengar pintu diketuk.
Mama Zeline menghela nafas, membiarkan Zhen melangkah pergi untuk membukakan pintu.
"Maaf, apa Zeze mengganggu?"
Ternyata orang yang mengetuk pintu kamar mama Zeline adalah Risa.
Risa menatap mama Zeline yang kini memalingkan wajahnya, lalu pandangan gadis itu beralih pada Zhen, menatap pria itu, seolah bertanya lewat tatapannya, apa yang terjadi.
"Ayo kita pergi, mama hanya ingin istirahat," ucap Zhen merangkul Risa, tapi Risa menahan kakinya untuk tidak dulu pergi dari kamar mamanya.
"Ma, Zeze tinggal dulu, mama istirahat saja. Maafkan Zeze ya, mama pasti lelah seharian ini nemenin Zeze jalan-jalan."
Hening, tidak ada sahutan, membuat Risa bertanya-tanya, padahal tadi mama Zeline biasa saja, kenapa kini jadi mendiamkannya.
"Ayo sayang!" Ajak Zhen lagi. Dan perkataan Zhen sukses membuat mama Zeline menatap pria itu tajam.
__ADS_1
"Tapi bang…"
"Sudah ayo!" Dengan berat hati, Risa pun kini hanya pasrah mengikuti langkah Zhen. Sesekali dirinya menoleh menatap mama Zeline, dan entah kenapa Risa merasa jika mama Zeline begitu marah padanya.
"Abang mama kenapa?" Tanya Zeline begitu mereka sudah cukup jauh dari kamar orang tua Zhen.
"Tidak apa-apa, mungkin ada masalah sama pekerjaan."
"Tapi bang, kenapa aku merasa mama abang marah padaku? Tapi kenapa? Padahal tadi baik-baik saja."
"Itu hanya perasaanmu saja, oh ya, bagaimana kalau kita nanti dinner di luar."
"Sama mama juga?"
"Hmm tidak, hanya kita berdua, anggap saja kencan pertama kita. Bagaimana?" Zhen menaik turunkan alisnya membuat Risa akhirnya terkekeh.
Lalu tak lama anggukan Risa berikan. Zhen mengecup puncak kepala Risa dan melanjutkan kembali langkah mereka.
"Oh ya, tadi kenapa kamu tiba-tiba ke kamar mama?"
Risa menepuk keningnya pelan, dia sampai lupa, tujuan dirinya datang ke kamar mama Zeline.
"Aku tadi nyamperin abang, mau mengatakan hal penting," Risa menengok kanan dan kiri, lalu menarik tangan Zhen pergi ke kamarnya.
"Kita mau kemana?"
"Kita bicarakan di kamar saja, takut ada yang mendengar," jelas Risa hingga Zhen pun segera mengikuti kemana Risa akan membawanya.
Begitu masuk ke kamar Zeline, Risa pun menutup pintu dan menguncinya, lalu mengajak Zhen untuk duduk di sofa.
"Kenapa sayang? Tinggal katakan saja juga, kan aku jadinya penasaran," ucap Zhen tidak sabar.
"Aku sudah tahu bang, Zeze sekarang berada," beritahu Risa.
"Dia di kos an aku, Aga baru saja menelpon dan memberitahu."
Zhen menghela nafas lega, jika di kos an Risa, Zhen jadi merasa jauh lebih tenang.
"Minta Aga, untuk awasin Zeline dan jangan biarkan dia pergi dari sana."
"Tanpa diminta, Aga juga sudah melakukannya."
"Hmm baiklah, bilang juga sama Aga makasih dan titip Zeline."
"Iya, nanti aku sampaikan."
Kini tatapan mereka bertemu, tangan Zhen terulur, ujung ibu jarinya mengusap bibir Risa membuat Risa membeku. Perlahan Zhen mendekatkan wajahnya, kedua bibir itu menyatu, Zhen menarik lembut tengkuk Risa, memperdalam ciuman mereka.
"I love you," ucap Zhen begitu pagutan bibir mereka terlepas. Tatapannya tak lepas dari mata Risa.
"Love you too," jawab Risa yang kini memeluk Zhen dan menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.
"Kenapa?"
"Malu," jawab Risa begitu pelan membuat Zhen terkekeh dan mengecupi puncak kepala Risa berkali-kali merasa gemas.
Risa kemudian melepaskan pelukan Zhen, hendak turun tapi Zhen memegangi tangannya.
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Mau mandi, sudah sore."
"Abang temenin?"
"Gak…," tolak Risa cepat, melepaskan tangan Zhen lalu segera berlari menuju kamar mandi bahkan sampai kelepasan menutup pintu cukup kencang, membuat Zhen tergelak.
"Ada-ada saja," ucap Zhen memandangi pintu yang sudah tertutup.
"Karena kamu, hari-hari abang jauh lebih berwarna, kamu membuat abang merasa menjadi seseorang yang berharga."
*
*
"Makasih," ucap Zeline dan Aga hanya memberi anggukan.
"Bagaimana? Sudah tidak nyeri lagi kan?"
Zeline menggeleng, "Hmm sudah lebih enakan."
Kruyuk kruyuk
Tiba-tiba perut Zeline berbunyi. Zeline memegangi perutnya, wajahnya menunduk malu, dalam hati merutuki perutnya yang berbunyi di waktu yang tidak tepat. Rasanya, Zeline tidak punya muka lagi untuk bertatapan dengan adik Risa itu.
"Lo lapar?"
Zeline hanya mengangguk pelan, tidak berani menatap Aga.
"Gue lihat dulu ada apa di kulkas," ujar Aga.
"Lo bisa masak?" Zeline kini spontan mengangkat wajahnya, rasa malu tadi kini berubah menjadi rasa was-was, karena dirinya akan memakan masakan Aga yang takutnya justru akan membuatnya sakit perut.
"Setidaknya lebih baik dari lo."
Zeline mendengus, dia jadi teringat saat berada di rumah Risa. Waktu ibu Risa pulang, Zeline sok-sok an melangkah ke dapur untuk memasak, bukannya benar-benar memasak, Zeline justru hampir saja membakar rumah Risa. Untungnya Aga segera datang. Dan Itulah awal, Aga selalu menatap Zeline penuh curiga.
"Nasi goreng aja ya yang simple."
"Hmm terserah lo."
"Yang sopan sama orang yang lebih tua, juga gak boleh lo, lo, gue, gue."
Zeline memutar bola matanya, sebenarnya benar juga kata Aga, terlebih dirinya juga terpaut 4 tahun lebih muda dari pria itu.
"Iya terserah kamu aja Aga, puas!"
"Gak boleh hanya panggil nama."
Zeline menghela nafas panjang, sementara Aga menahan tawa, asyik juga membuat Zeline kesal, pikirnya.
"Cepetan abang, Zeze sudah lapar!"
"Gue bukan abang penjual nasi goreng."
Zeline menatap sapu yang tidak jauh dari tempatnya. Rasanya ingin mengambil lalu melemparkan kepada pria yang kini berdiri membelakanginya. Tapi Zeline tidak seberani itu, bagaimanapun sekarang di rumah itu hanya ada mereka berdua.
"Pedes gak?"
"Jangan terlalu pedas. Dan jangan lama-lama ya mas."
__ADS_1
"Hmm tenang saja tidak sampai dua hari."
Zeline benar-benar bangkit lalu mengambil sapu. Tapi saat akan melemparnya, dia justru melihat Aga yang berbalik dan melipat kedua tangannya di depan dada menatap Zeline tajam.