
"Lepaskan!"
Zhen segera melepas pelukan Nico terhadap Risa. Tadi begitu pergi, pikirannya tidak tenang dan terus memikirkan apa saja yang bisa Nico lakukan terhadap kekasihnya, segera saja Zhen memutar balik mobilnya. Dan tangannya mengepal di atas setir saat melihat Nico menarik Risa ke dalam pelukannya.
"Abang!" Ucap Risa dan Nico kompak.
"Masuk Zeze!"
"Tapi bang…"
"Abang bilang masuk! Dan kamu…" pandangan Zhen kini beralih pada Nico. Sebelum berkata pada pria itu, Zhen menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, berharap bisa meredakan emosi yang saat ini tengah menguasainya.
"Sebaiknya kamu pulang, kami sekeluarga akan makan malam bersama, ini kesempatan Zeze bisa menghabiskan waktu dengan orang tua kami, jadi saya harap kamu mengerti."
Nico menatap Risa, lalu tersenyum.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu," ucapnya mengacak rambut Risa, perlahan Nico mendekatkan wajahnya, mengecup pipi Risa cukup lama, membuat gadis itu terkesiap dengan aksi tiba-tiba Nico.
Sementara Zhen, tidak perlu ditanya lagi, pria itu tampak menahan rasa kesalnya.
"Nanti malam aku telepon," ucap Nico yang kini menaiki motornya dan melambaikan tangan sebelum mulai melajukannya.
"Ayo masuk!" Zhen meraih tangan Risa dan segera menariknya masuk.
Cup
Cup
Cup
"Abang harus menghapus bekas kecupan bocah itu," ucap Zhen setelah mengecup pipi Risa berkali-kali.
Risa justru tergelak apalagi saat melihat wajah Zhen yang cemberut.
"Cepat bersiap kita akan pergi sekarang!"
"Tapi ini belum waktunya makan malam," jawab Risa memperlihatkan jam di layar ponselnya pada Zhen.
"Tau abang."
"Lalu?"
"Sudah, cepat bersiap dulu, nanti kamu juga tahu kemana kita akan pergi."
"Hmm," Risa pun berbalik dan segera menaiki tangga menuju kamar Zeline untuk bersiap.
Begitupun dengan Zhen yang kini segera menyusul Risa.
"Mau kemana kalian?"
Zhen menghentikan langkah dan menatap mamanya yang keluar dari balik dinding.
__ADS_1
"Dinner."
"Zhen…."
"Cukup ma, Zhen tidak ingin membahas hal itu," Zhen pun kembali melanjutkan langkahnya. Tapi di anak tangga pertama, Zhen kembali berhenti.
"Zhen sudah dewasa, dan Zhen berhak menentukan hidup Zhen sendiri, jadi mama tidak perlu repot-repot mengurusinya. Lebih baik, mama urus papa saja."
"Zhen!" Teriak sang mama tapi sama sekali tidak digubris olehnya.
"Kamu seperti ini karena dia? Kamu tidak mau mendengarkan mama lagi karena gadis itu?"
"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Risa ma."
"Oh jadi namanya Risa? Hebat sekali dia, sudah membuat putriku pergi, dan kini putraku ada dipihaknya."
"Ma!"
"Kenapa? Benar kan apa yang mama katakan?"
"Sepertinya mama perlu waktu sendiri dulu," ucap Zhen kemudian, dia lalu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, lalu memilih untuk segera pergi dari sana menuju kamarnya.
Risa yang sedari tadi berdiri di dekat tangga berlari masuk kamar saat melihat Zhen yang semakin mendekat ke arahnya.
Risa menyandarkan tubuhnya di balik pintu, sambil mengusap kasar air matanya yang tiba-tiba jatuh begitu saja. Tidak menyangka bahwa mama Zeline menganggapnya gadis seperti itu. Padahal saat seharian ini menghabiskan waktu dengannya, Risa merasa begitu senang karena melihat tawanya. Bukan karena dia yang membelikan Risa baju dengan harga yang menurut Risa sangatlah mahal.
Risa segera berlari ke depan meja rias, memastikan jika wajahnya tidak terlihat seperti habis menangis, menarik sudut bibirnya ke atas lalu melangkah kembali ke arah pintu, bertepatan dengan pintu yang diketuk.
"Hmm sudah bang. Ayo!"
Zhen menggenggam tangan Risa lalu segera mengajaknya turun, bahkan Zhen melewati papanya yang baru saja pulang dan berpapasan saat pria itu keluar dari mobilnya.
Zhen segera membukakan pintu, agar Risa bisa segera masuk, lalu dia berlari kecil ke arah kursi kemudi, begitu dia membuka pintu, pintu justru kembali tertutup, Zhen menoleh dan mendapati papanya yang kini menatap tajam ke arahnya.
"Mau kemana kamu?"
"Bukan urusan Anda."
"Zhen!"
"Cukup pa! Zhen tidak ingin berdebat."
"Apa yang sebenarnya yang kau lakukan dengan adikmu?"
"Apalagi memangnya? Bukankah sudah jelas, tanpa harus Zhen jelaskan," jawab Zhen datar dan dingin.
Papa Zhen menarik Zhen agar menghadap kepadanya.
"Apa kau tahu, yang kau lakukan ini salah?"
"Lalu bagaimana dengan papa? Apa papa juga tahu apa yang papa lakukan salah?"
__ADS_1
"Ini bukan waktunya membahas papa Zhen, tapi kamu!"
Zhen kembali membuka pintu mobil, lalu segera masuk, tak ingin menjawab ucapan papanya yang bisa saja menjadi perdebatan panjang.
"Zhen! Zhen! Buka pintunya!" Ucap papa Zhen menggedor-gedor kaca mobil.
Tapi Zhen sama sekali tidak menggubrisnya dia justru segera menancap gas, melajukan mobilnya.
"Abang…"
Risa menatap Zhen sendu, jelas sekali jika pria itu tengah menahan amarahnya. Tak mendapat jawaban dari Zhen, Risa pun kembali diam, dia mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela. Risa tidak tahu, apa yang sebenarnya membuat Zhen marah, karena memang perbuatan papanya yang menyakiti mamanya. Atau karena papanya yang merebut kekasihnya.
Hening, baik Risa maupun Zhen sama sekali tidak ada yang bersuara. Keduanya sama-sama bungkam selama perjalanan, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga tiba-tiba Zhen menghentikan mobilnya di tempat yang begitu Risa kenali.
"Abang…"
"Ayo turun!" Belum juga Risa menyelesaikan ucapannya, Zhen sudah lebih dulu memotong, bahkan pria itu sudah keluar lebih dulu dan melangkah menjauh.
Risa menatap Zhen dengan mata berkaca-kaca, entah kenapa tiba-tiba dadanya merasa sesak. Risa pun perlahan turun, lalu segera menyusul Zhen.
*
*
Sementara itu, ayah Zhen masuk ke dalam dengan tergesa-gesa, tujuannya saat ini adalah ke kamarnya, dengan kasar, papa Zhen membuka pintu, hingga wanita yang berada di dalam sana terkejut bukan main.
"Mas Abi, kamu sudah pulang?"
Buru-buru mama Zeline menghampiri suaminya. Tapi saat dia hendak membantu melepaskan jas, Abi, papa Zhen segera menepisnya.
"Mas…"
"Tidak perlu melakukan hal yang sudah kamu tinggalkan sejak lama Anita, aku sudah tidak butuh itu," jawab Abi dingin.
"Apa kamu tidak bisa memaafkanku mas," lirih Anita menatap Abi dengan mata berkaca-kaca.
Abi justru tertawa, membuat Anita mundur beberapa langkah, merinding mendengar suara tawa Abi.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan Anita? Lihatlah mereka! Lihatlah anak-anak, mereka bahkan melakukan hal yang salah. Ini semua karena kamu Anita, kamu yang memilih meninggalkan mereka untuk dirimu sendiri!"
Tangan Anita mengepal, marah mendengar apa yang suaminya katakan.
"Aku? Apa hanya aku, bukannya kamu juga mas. Kamu juga yang membuat anak-anak jadi seperti itu, kamu tidak sadar. Zhen, dia berubah…karena apa? Karena kamu mas, kamu yang menghancurkan hidupnya!" Teriak Anita yang tidak bisa lagi menahan semuanya.
"Selama ini, aku pura-pura tidak tahu, aku hanya ingin mempertahankan keluarga kita, aku ingin anak-anak punya keluarga yang lengkap seperti anak-anak yang lainnya, mengabaikan kesalahanmu, aku hanya berharap kamu menyesal dan berubah, tapi apa mas…" isak Anita, tubuhnya meluruh di atas lantai yang dingin.
Abi berbalik, meraup kasar wajahnya, lalu kembali menghadap Anita. "Baiklah, jika kamu sudah tahu, aku tidak perlu mengatakan apa-apa lagi," ucapnya berbalik pergi.
Tapi saat di ambang pintu, langkah Abi tiba-tiba berhenti. "Aku akan menikahinya, dan kamu punya dua pilihan, menerimanya atau kita akan berpisah."
Seperti disambar petir di siang bolong, Anita kini menangis tersedu-sedu mendengar apa yang suaminya katakan, bahkan wanita itu sampai memukul-mukul dadanya, berharap rasa sesak yang dia rasakan sedikit saja berkurang.
__ADS_1