
"Jangan menatapku seperti itu, tadi aku dengar kamu tidak mau ke kantin sendiri, aku hanya berniat baik, menemanimu ke kantin," ucap pria yang Risa ketahui sebagai ketua kelas.
"Hmm ya terima kasih, tapi maaf, apa bisa lepasin tangan gue."
Pria itu berhenti, menatap tangannya yang saat ini menggenggam tangan Risa.
"Oh sorry," dia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, salah tingkah.
"It's oke," Risa mengangguk kemudian melangkah dengan cepat.
"Tidak perlu buru-buru."
Risa berhenti lalu menoleh ke arah Nico nama pria itu.
"Sebentar lagi bel masuk."
"Tenang aja, jam pertama dan kedua kosong, semua guru akan rapat," kata Nico memasukkan kedua tangan di kantong celananya, berjalan mendahului Risa.
Risa segera berlari menyusul Nico, dan kini keduanya berjalan beriringan, sambil mengobrol, tanpa tahu jika ada dua pasang mata yang menatap mereka tidak suka.
"Itu Evan dan Rio!" Risa menunjuk kedua sahabatnya.
Nico mengangguk kemudian mengikuti langkah Risa yang kini menghampiri kedua temannya.
"Lo dari mana sih Zel? Dari tadi gue sama Rio nungguin, tapi lo malah baru nongol," protes Evan.
"Gue tadi…"
"Loh ketua kelas kita juga disini rupanya," ucap Evan memotong ucapan Risa begitu melihat Nico yang berdiri di belakang Risa.
"Hmm iya, Nico boleh ikut gabung kan?"
"Tentu saja," jawab Rio.
"Tapi bentar lagi bel," tambahnya.
"Kata Nico jam pertama dan kedua kosong, para guru akan rapat," beritahu Risa pelan, agar yang lain tidak mendengar.
Rio dan Evan menatap Nico, pria itu hanya mengangguk, membuat Evan dan Rio bersorak dan bertos ria, Risa menggeleng melihat tingkah kedua anak itu. Ya bagaimanapun, mereka jauh lebih muda darinya dan sudah seperti adiknya.
"Yaudah, gue mau pesan minuman dulu."
"Biar gue saja," Nico menawarkan diri.
Risa menatap Nico tidak enak, anak itu sudah mengantar dirinya ke kantin dan kini juga menawarkan diri untuk memesan minuman Risa.
__ADS_1
"Tapi…"
"Santai aja." Setelah mengatakan itu, Nico segera berlalu meninggalkan ketiga orang dengan ekspresi berbeda-beda.
"Sejak kapan kalian dekat?" Tanya Rio membuyarkan lamunan Risa.
"Hah?"
"Lo sudah dekat sama dia?"
"Oh, hmm tidak sih, baru saja tadi, dia ngajak ke kantin bareng saat denger gue mau ke kantin. Memang kenapa?"
"Memang kenapa?" Rio dan Evan berucap kompak.
"Dia itu tidak pernah dekat sama siapapun, tidak banyak bicara, hidupnya cuma sama buku," jelas Rio membuat Risa spontan menatap Nico yang kini berjalan membawa dua minuman, yang tentu milik dia sendiri juga milik Risa.
"Dan aneh saja saat dia datang sama lo, dan dia juga menawarkan diri memesan minuman lo, dan mungkin saja…"
"Sst dia sudah datang," potong Evan menghentikan ucapan Rio saat langkah Nico semakin mendekat.
Risa menoleh dan tersenyum, "Terima kasih," ucapnya menerima minuman dari Nico.
Nico hanya mengangguk, lalu ikut duduk di samping Risa.
"Yes benar, jadi kita bisa santai disini," ucap Evan senang.
"Yoi, gimana kalau kita mabar," saran Rio yang langsung diangguki oleh Risa dan Evan.
Keduanya sibuk mengambil ponsel dan bersiap untuk bermain, sedangkan Nico dia hanya memperhatikan ketiganya karena dia memang tidak pernah bermain game.
*
*
Semua murid menatap Risa dengan pandangan yang berbeda-beda. Lagi-lagi Risa mendapatkan nilai tertinggi bahkan Nico kali ini kalah darinya. Terlebih Renata yang kini posisinya juga tergeser dari yang biasanya menjadi orang kedua dengan nilai tinggi menjadi yang ketiga, menatap Risa dengan pandangan kesal juga mengepalkan kedua tangannya erat di bawah meja.
"Gue bener-bener gak nyangka lo Zel, kemarin matematika dan kini pelajaran lain lo juga dapat nilai tertinggi," ucap Rio yang bangga tapi juga sekaligus heran dengan perubahan Zeline seratus delapan puluh derajat.
"Tapi Zel, lo beneran selama ini hanya pura-pura saja?"
"Hmm ya gitu deh."
Mereka terus mengobrol sepanjang jalan, lima menit yang lalu pelajaran sudah selesai dan kini Rio, Evan dan Zeline berjalan bersama menuju parkiran. Zeline memang tadi bilang pada keduanya nebeng sampai depan, dia tidak ingin jalan sendiri.
Di parkiran, Zeline melihat Nico, pria itu sedang memakai helm nya. Tak lama, Nico terlihat menatap Zeline, mungkin merasa diperhatikan gadis itu.
__ADS_1
Nico menyalakan mesin motornya, menghampiri Zeline.
"Mau balik sama Evan dan Rio?"
"Hmm tidak, gue dijemput, gue hanya mau nebeng sampai depan, jalan sendiri kayak orang hilang soalnya," canda Zeline, tanpa sadar jika saat ini Nico tersenyum dibalik helm full face nya.
"Ya udah, ayo sama aku aja," ucap Nico membuat Zeline alias Risa mengernyit, meyakinkan bahwa dia tidak salah mendengar, sudah dua kali Nico berbicara dengannya aku kamu, pertama saat mereka akan ke kantin dan sekarang…."
"Ah mungkin Nico memang terbiasa berbicara aku kamu seperti aku selama ini," ucap Risa dalam hati.
"Tapi…"
Mobil yang Zeline kenali mobil Evan berhenti di dekatnya. Kaca jendela mobil terbuka, dan benar Rio kini berbicara dan mengajaknya masuk.
"Nico sorry…"
"Oke gak apa-apa."
"Baiklah, gue duluan."
Nico mengangguk, sementara itu, Risa segera masuk ke dalam mobil, membuka kaca, melambaikan tangan pada Nico sebelum akhirnya mobil mulai melaju.
"Sepertinya Nico suka deh sama lo," celetuk Evan, membuat pandangan Risa yang tadi menatap keluar jendela kini menatap ke arah Evan.
"Dia kelihatan beda, gue cowok, setidaknya gue tahu arti tatapan dia ke lo," jelas Evan setelah menatap spion di atasnya untuk melihat ekspresi Zeline saat ini.
"Hmm menurutmu sejak kapan?" Tanya Risa, yang mungkin saja, Nico memang menyukai Zeline, Zeline yang asli bukan dirinya, dan jika memang Zeline juga menyukai Nico, maka dengan senang hati, Risa akan membuat keduanya bersama.
"Setiap kita dihukum, diam-diam dia suka lihatin lo," sahut Rio yang sedari tadi diam saja.
"Lo rupanya nyadar juga yo," ucap Evan melirik ke arah Rio, ternyata bukan hanya dirinya yang menebak jika Nico menyukai Zeline tapi juga Rio.
"Berarti benar Zeline," gumam Risa yang kemudian tersenyum penuh arti.
"Thanks infonya," ucap Zeline sambil lagi-lagi tersenyum membuat Evan dan Rio bergidik ngeri.
"Tunggu dulu," Risa kemudian mengambil ponselnya, melihat riwayat chat antara Zeline dan Nico ketua kelas.
"Cuma kemarin saja?" Tanyanya karena tidak ada pesan apapun selain pesan yang dikirimkan pria itu kemarin.
"Mungkin Zeline sudah menghapusnya," gumam Risa dan pandanganya tertuju pada jalan di depannya, dimana ternyata dia sudah sampai di depan gerbang.
"Oke, makasih ya," ucap Risa.
"Siapa yang jemput lo?" Tanya Rio kepada Zeline yang tengah menatap ke sekeliling mencari sopir yang menjemputnya, tapi pandangan Risa justru tertuju pada seorang pria yang memakai setelan jas hitam, yang berdiri bersandar di depan mobil.
__ADS_1