
"A...abang!" Tubuh Zeline membeku, kakinya seperti tidak bisa digerakkan. Sementara Zhen terus mendekat ke arahnya.
"Kamu belum jawab pertanyaan abang, kamu dari mana?" Tanya Zhen menatap Zeline penuh intimidasi.
Otak Zeline berpikir keras, mencari alasan yang sekiranya masuk akal hingga tiba-tiba sebuah ide terlintas.
"Zeline abis belajar kelompok bang," ucapnya tanpa sadar.
'Zeline?'
Zhen mengernyitkan dahi. Sempat terdiam, sebelum akhirnya Zhen kembali berkata.
"Belajar kelompok dengan dua orang pria saja?" Melipat kedua tangan di depan dada menatap Zeline dengan tatapan menyelidik.
"Abang tau darimana?" Tanya Zeline refleks.
"Kenapa terkejut? Kamu bohongin abang?"
"Bu...bukan begitu bang...tadi Zeze hanya..." Zeline tidak tahu harus menjelaskan apa.
"Tunggu, abang tau darimana?" Zeline tampaknya masih penasaran kenapa Zhen bisa tau, padahal bisa dipastikan jika Zhen tadi tidak melihatnya saat mobil Rio melewati Zhen.
"Jadi benar."
"Bang Zeze bisa jelasin…"
"Jelasin apa maksud kamu? Siapa kedua pria itu? Dan apa hubunganmu dengannya?"
Zhen terus mendekat, mencoba mencari tahu lebih dalam siapa kedua pria yang bersama dengan Zeline. Dan dia tidak akan membiarkan hal itu.
Sementara itu, Zeline takut-takut menatap Zhen, tatapan Zhen seperti bos nya yang siap meluapkan segenap amarahnya, jika tengah ada masalah, baik dirinya salah ataupun tidak. Gadis itu tiba-tiba merasa kesal karena Zeline, maksudnya Zeline yang asli belum juga menghubunginya kembali, bahkan pesan terakhir yang dia kirimkan belum juga dibaca oleh gadis itu.
"Ka...kami hanya sahabatan bang."
"Terus?" Zhen mencari kebohongan dari mata Zeline.
"Tidak ada terusannya bang," Zeline yang tak lain adalah Risa terus mundur karena Zhen yang terus mendekat ke arahnya.
Hingga tiba-tiba..
"Akh…"
Risa hampir saja terjatuh saat kakinya tersandung tanjakan tangga. Untungnya dengan sigap Zhen menariknya hingga masuk ke dalam pelukan pria itu.
__ADS_1
Deg
Jantung Risa berdebar kencang, kedua kalinya dia dipeluk oleh Zhen. Pria yang saat ini berstatus sebagai kakaknya tapi sebenarnya bukan.
"Hati-hati Zeze!" Zhen melepaskan pelukan dengan tatapan khawatir. Memastikan bahwa Zeline tidak terluka.
"Maaf bang, tadi abang…"
"Cepat masuk ke kamar dan ganti baju, abang tunggu di ruang makan, kita makan sama-sama!"
Mendengar itu, Risa segera berbalik badan, dan dengan cepat menaiki tangga tak ingin Zhen berubah pikiran dan akan menginterogasinya lagi, sungguh Risa belum siap, dia belum tahu bagaimana Zhen, dan dia tidak mau gegabah, terlebih Zeline memang belum memberitahu detail tentang Zhen, hanya secara umumnya saja. Karena Zeline bilang, jika Zhen tidak mungkin kembali dalam waktu dekat, dan dia akan cerita kapan-kapan hari.
Risa menutup pintu kamar dan menguncinya. Tubuhnya merosot bersandar pada pintu. Ingatannya berputar pada beberapa hari yang lalu, tepat saat dirinya meninggalkan Zeline setelah dia dengan jelas menolak permintaan Zeline yang menurutnya tidak masuk akal.
Risa yang berjalan pergi segera menghentikan langkah saat tiba-tiba Zeline menghadang di depannya. Mata gadis itu masih menatap penuh permohonan, dan sungguh jika Risa terus melihat itu, dia tidak akan tega dan pasti akan berujung mengiyakan permintaannya.
"Aku tidak ingin pergi ke sekolah, kamu tahu mbak, satu kali lagi aku membuat kesalahan mungkin saja aku bisa dikeluarkan dari sekolah."
Risa menatap Zeline, bagaimana bisa gadis itu menyia-nyiakan kesempatan sekolah, sementara dirinya dulu, ingin sekolah pun tidak bisa karena kekurangan biaya.
"Mbak aku mohon, aku akan bekerja sebaik mungkin saat menggantikan mbak," ucap Zeline yakin.
"Mbak, please!"
Risa menatap Zeline cukup lama, dia menghela nafas dan mengangguk pelan, membuat senyum langsung terukir di sudut bibir Zeline.
Setelah itu, Zeline kemudian menarik Risa mencari tempat yang nyaman untuk mereka mengobrol, menukar informasi, demi menjalankan peran sebagai putri yang tertukar, hingga waktu sudah menjelang sore, Zeline meminta Risa untuk menjadi dirinya saat itu juga, Zeline mengantar Risa ke tempat dimana sopir keluarga gadis itu menunggunya. Tapi Zeline hanya menunjuk dari jauh, sementara dirinya memilih untuk bersembunyi.
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Risa. Buru-buru Risa bangkit saat mendengar bahwa suara itu, adalah suara abangnya.
"Zeze, cepat buka pintunya! Kamu sudah selesai belum? Jika sudah, ayo cepat turun!" ucap Zhen di sela ketukan pintu.
Risa gugup, dia melihat dirinya yang sama sekali belum mengganti seragamnya.
"Zeze!" Teriak Zhen karena tidak mendapat jawaban dari adiknya.
"Sebentar abang, abang duluan saja, nanti Zeze nyusul."
Risa akhirnya bernafas lega saat tidak terdengar lagi suara Zhen. Buru-buru gadis itu menuju ke walk in closet untuk mengganti seragamnya dengan pakaian santai.
__ADS_1
*
*
"Duduk!"
Risa kini kembali memulai perannya sebagai Zeline, dia menurut dan duduk di seberang Zhen. Mereka lalu makan dalam diam, tidak ada yang berbicara yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu.
Zhen telah selesai makan, menegakkan duduknya dan menatap Zeline yang belum selesai.
Zhen tersenyum begitu melihat saos menempel di sudut bibir adiknya.
'Sepertinya abang salah mengira jika kamu sudah dewasa, nyatanya kamu masih seperti anak kecil, makan saja belepotan.'
Zhen mengambil tisu, tangannya terulur membersihkan bibir Zeline, membuat gadis itu terkejut dan refleks memundurkan wajahnya.
"Kenapa bang?" Zeline meraba sekitar bibirnya.
"Abang hanya membersihkan saos di sudut bibirmu."
Zeline menarik tisu yang masih dipegang Zhen.
"Zeze bisa sendiri bang."
Zeline mengusapnya sesuai arahan Zhen, mencoba bersikap biasa saja, padahal jantungnya kini berdebar kencang.
Tanpa sadar, Risa memegang dadanya.
"Kenapa? Kamu sakit?" Zhen bangkit dari duduknya, segera menghampiri Zeline.
Memegang kedua bahu Zeline agar menghadapnya. Kedua tatapan mata itu bertemu, Risa baru menyadari betapa tampannya pria yang kini ada di hadapannya.
Tak hanya Risa, Zhen tiba-tiba saja juga merasa gugup saat wajah keduanya berdekatan. Zhen menarik diri dan berdehem pelan, menetralkan kegugupannya.
"Zeze baik-baik saja kok bang," buru-buru Risa bangun hingga lagi-lagi karena kecerobohannya, Risa justru kesandung kaki meja, membuatnya jatuh di atas tubuh Zhen yang limbung karena tidak terkejut dan tidak bisa mengimbangi tubuhnya.
"Akh!" Risa meringis memegangi kepalanya yang terbentur benda keras.
'Tapi tunggu…' Risa menajamkan indera pendengarannya.
Jedag...jedug...jedag..jedug…, bunyi itu terdengar cukup keras bahkan begitu cepat.
Risa menempelkan telinga di sumber suara, satu tangannya meraba sekitar. Risa buru-buru bangun saat menyadari sesuatu. Tapi saat itu tanpa sadar tangan Risa justru menekan benda pusaka Zhen membuat keduanya berteriak.
__ADS_1
"Maaf abang, aku gak sengaja," buru-buru Risa berlari meninggalkan Zhen yang meringis pelan.
Risa berjalan sambil menepuk kedua pipinya yang terasa panas.