Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 49


__ADS_3

"Tinggalkan tempat ini, dan pergilah ke negara yang kau suka."


"Apa maksud papa?" Tanya Zhen menatap pria yang berdiri membelakanginya.


Pria yang Zhen panggil papa berbalik, melangkah dan duduk di kursi kerjanya. Menatap sang putra yang mengepalkan kedua tangan erat.


"Lakukan seperti 3 tahun yang lalu, dan pulanglah jika papa sudah meminta pulang."


Zhen bukan tidak mengerti maksud perkataan papanya, dia hanya memastikan jika dia tidak salah menerka pada apa yang papanya katakan.


"Papa ingin membuat Zeze kesepian lagi? dengan memintaku pergi dari sini."


"Papa yang akan tinggal disini, jadi jangan khawatirkan Zeline."


Zhen tertawa kencang, merasa lucu mendengar ucapan papanya.


"Woah...jadi papa menjadikan Zeze alasan? Padahal tinggal bilang saja, jika papa ingin dekat dengan wanita itu? Atau mungkin dia yang meminta papa menyuruhku pergi dari sini, agar dia bisa datang kemari menjadi nyonya rumah ini?"


Zhen memalingkan wajahnya, menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh begitu saja. Zhen memang seorang pria, tapi dia juga bisa menangis, apalagi saat orang yang selama ini menjadi panutan, diam-diam mengkhianati dirinya juga sang mama.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pergi dan meninggalkan Zeline bersama papa."


"Zhen!"


"Kenapa? Apa sebegitu inginnya papa membawa wanita itu kemari hingga menyuruhku pergi dari sini?"


"Ini bukan tentang dia, tapi tentang kamu dan adikmu Zhen!" 


"Kenapa? Kenapa dengan aku dan Zeze? Kami biasa hidup berdua sedari dulu, apa yang papa khawatirkan sekarang ha?" Teriak Zhen, nafasnya naik turun tak beraturan. Tangannya rasanya ingin melayang saat itu juga, jika tidak mengingat bahwa pria di hadapannya adalah pria yang membuatnya ada di dunia ini.


"Jangan berharap apapun karena aku akan tetap disini," ucap Zhen berbalik lalu melangkah pergi.


"Hubunganmu dan Zeline tidak pantas Zhen."


Zhen spontan menghentikan langkahnya.


"Jika hubungan kami tidak pantas, lalu bagaimana dengan papa? Apa menurut papa itu pantas?" Ucap Zhen yang kemudian benar-benar berlalu pergi dari sana.


Sementara seseorang yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan mereka, segera bersembunyi sambil memegangi dadanya.


"Sayang."


Risa terlonjak kaget saat mendapat tepukan di bahunya, tanpa menoleh, Risa sangat tahu siapa yang melakukannya, mendengar dari suaranya tadi.


"Hehe mama…" Risa berbalik dan mencengir menunjukkan deretan giginya yang rapi. 


"Kamu ngapain?"


Risa celingak-celinguk ke kiri kanan, lalu segera menarik lengan mamanya mengajak pergi dari sana.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa ma," jawab Risa disertai gelengan, tidak mungkin dia menceritakan apa yang tadi didengarnya. 


"Ma, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Kita tidak pernah jalan berdua kan?" 


Risa menatap wajah mama Zeline yang tampak berfikir. Lalu senyumnya terbit begitu mendapatkan jawaban dari wanita itu.


"Ya sudah ayo, mama ganti baju dulu ya."

__ADS_1


Risa mengangguk cepat, dia juga ikut naik ke lantai atas untuk bersiap. Dia ingin membawa mama Zeline pergi, setidaknya agar wanita itu tidak suntuk dan hanya berdiam diri di rumah, karena kalaupun mama Zeline pergi itu juga karena urusan pekerjaan bukan untuk bersenang-senang.


Begitu membuka pintu kamarnya, Risa terkejut saat Zhen sudah berada di kamarnya dan duduk di atas ranjang. Pria itu, segera bangkit dan berjalan cepat memeluk Risa.


"Sampai kapanpun, abang tidak akan meninggalkan kamu sayang," ucapnya pada Risa.


'Abang memang tidak harus meninggalkan Zeline. Zeline masih butuh abang.'


"Abang maaf…"


Zhen buru-buru melepaskan pelukannya dan menatap Risa.


"Maaf karena semuanya jadi kacau. Terutama hubungan abang dan papa, abang juga diminta pergi dan meninggalkan Zeline, itu semua pasti gara-gara kehadiranku disini, jika saja aku…"


Zhen buru-buru membungkam Risa dengan bibirnya. Zhen tahu kenapa Risa berkata seperti itu. Tadi Zhen melihat Risa yang sedang menarik tangan mamanya, dan Zhen yakin jika gadis itu mendengar pembicaraannya dengan sang papa.


Zhen mengakhiri ciuman mereka. Matanya menatap lekat wanita yang berdiri di hadapannya. Risa sama sekali tidak bersalah, Zhen yang justru bersalah karena menyeret Risa ke dalam keluarganya yang berantakan. Dan jika saja Risa tidak disini, Zhen tidak tahu, apa yang akan terjadi pada dirinya. Mungkin dia masih akan menjadi pria egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.


"Abang…"


"Jangan berkata seperti itu, abang tidak suka," ucap Zhen, tangannya terulur, ibu jarinya ia gunakan untuk mengusap bibir Risa, menghapus sisa saliva di bibir yang sudah menjadi candu untuk Zhen.


"Sayang dengarkan abang! Tanpa kamu justru abang tidak tahu harus melakukan apa. Kamu yang bikin abang bisa melewati semuanya. Tidak lari seperti dulu lagi."


"Tapi gara-gara aku, abang dan papa…"


"Itu salah papa, papa yang melakukan hal itu, jika kamu tidak mengatakannya, suatu saat semuanya juga akan terbongkar, jadi jangan merasa bersalah karena ini, mengerti?"


Risa mendongak menatap Zhen lalu mengangguk.


"Nanti, jika papa mengatakan sesuatu, kamu harus secepatnya beritahu abang, apapun itu."


"Iya."


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu, mengingatkan Risa tentang dirinya yang akan mengajak mama Zeline untuk jalan-jalan. Buru-buru Risa melepaskan pelukannya.


"Itu pasti mama," ucap Zeline yang kini berbalik dan berjalan ke arah pintu.


"Biar abang saja," susul Zhen yang justru khawatir jika yang saat ini datang adalah papanya.


"Biar aku saja bang, mama pasti sudah siap dan ingin menjemputku, lebih baik abang sekarang sembunyi, aku tidak ingin mama salah paham dan hal ini sampai ke telinga papa," ucap Risa yang kini segera bergegas membukakan pintu. Apalagi mendengar pintu yang tidak berhenti diketuk.


"Mama sudah siap?" Tanya Risa.


"Hmm, tapi sepertinya kamu yang belum," ucap mama Zeline menatap putrinya sambil tersenyum.


"Hehehe iya, bentar ya ma, mama mau tunggu di dalam atau…"


"Mama tunggu di mobil saja."


Risa mengangguk dan tersenyum, "Baiklah, tidak akan lama kok."


Risa lalu kembali masuk, pandangannya bertemu dengan pandangan Zhen.

__ADS_1


"Kalian mau kemana?"


"Aku hanya ingin mengajak mama jalan-jalan bang."


"Biar abang antar," ucap Zhen yang hendak melangkah pergi, tapi dengan cepat Risa menahannya.


"Tidak perlu bang."


Zhen menatap Risa lalu menghela nafasnya. Mengambil dompet dan menyerahkan sebuah black card pada Risa.


"Gunakan ini, jika ingin membeli sesuatu."


Risa tersenyum dan segera menerimanya, "Makasih abang, abang memang pengertian, aku akan gunakan ini sebaik-baiknya," Risa berjinjit dan mengecup pipi Zhen cepat sebelum akhirnya gadis itu berlari ke walk in closet.


Zhen terkekeh melihat tingkah Risa, dia kemudian segera keluar dari kamar Zeline begitu mendapatkan telepon dari asistennya.


"Aku kira abang masih disini," ucap Risa mencebikkan bibirnya, begitu selesai berganti pakaian dan sudah tidak melihat lagi keberadaan Zhen di kamar.


Dia melangkah ke arah nakas, mengambil ponselnya lalu keluar kamar. Pandangannya tertuju pada pintu kamar Zhen yang tertutup. Menatap pintu itu cukup lama, hingga akhirnya dia menuruni tangga menghampiri mama Zeline yang pasti sudah cukup lama menunggunya.


"Loh mama…"


"Mama yang akan menyetir, ayo masuk!"


Risa mengangguk lalu masuk ke sisi samping kemudi.


"Kita menghabiskan waktu berdua saja ok," ucap mama Zeline lalu mulai melajukan mobilnya.


Risa tersenyum, ikut senang melihat mama Zeline yang terlihat begitu bersemangat apalagi saat melangkah masuk ke dalam salah satu pusat perbelanjaan. Bahkan mama Zeline selalu menarik Risa dan memintanya untuk mencoba barang-barang yang dipilihnya.


"Setidaknya aku bisa membuat mama Zeline tersenyum seperti ini," ucap Risa dalam hati saat mama Zeline mengepas sebuah gaun di tubuh Risa.


"Kamu cantik banget sayang pakai ini."


Risa hanya menanggapi dengan senyuman, dirinya memang terlihat berbeda mengenakan gaun yang dipilihkan mama Zeline, mungkin karena harganya yang mahal.


"Yang ini, terus yang ini juga ya mbak," ujar mama Zeline pada pelayan toko, membuat Risa hanya geleng-geleng kepala, tidak siap mendengar berapa uang yang akan dihabiskan mama Zeline untuknya.


"Mama sudah, ini sudah banyak, lagian Zeze juga tidak tahu kapan bisa memakai semua ini," protes Risa saat mama Zeline kembali memilih barang-barang untuknya.


"Hust sudah tidak apa-apa, jarang-jarang juga kita menghabiskan waktu berdua, oh yang itu pasti cocok buat abang kamu," ujar mama Zeline yang kemudian melangkah menuju ke tempat dimana terdapat koleksi barang-barang pria.


"Ya sudahlah, punya abang jadi masih utuh," gumam Risa yang kemudian segera menyusul mama Zeline.


"Sepertinya belanjaan kita sudah banyak sayang."


Risa hanya memutar bola matanya, ini bukan banyak lagi, tapi sangat banyak. Tapi Risa tidak berani menyuarakan suaranya.


"Habis ini, gimana kalau kita makan dulu, mama lapar."


"Iya, Zeze juga lapar habis keliling."


"Oke, kalau gitu kita bayar dulu ya," ucap mama Zeline dan keduanya pun berjalan ke arah kasir, untungnya tidak banyak antrian hingga kini keduanya sudah bisa keluar dan kini melanjutkan langkah berjalan mencari tempat makan.


"Kamu mau makan dimana sayang?"


"Hmm ikut mama saja deh," jawab Risa.


"Oke," jawab mama Zeline, tapi tiba-tiba wanita itu menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Risa pun melakukan hal yang sama, lalu mengikuti kemana arah pandang wanita itu. Mata Risa membelalak saat melihat Zeline bersama orang yang dia kenal. Lebih terkejut lagi saat Risa melihat mama Zeline  melangkah meninggalkannya menuju ke tempat dimana Zeline berada.


"Gawat ketahuan," gumam Risa yang kini segera berlari menyusul langkah mama Zeline.


__ADS_2