
"Cepat keluar!" Ucap Zhen pada adiknya begitu mereka sudah sampai di kediaman.
Zeline mengerucutkan bibirnya, kesal pada Zhen, sedari tadi dia merengek meminta Zhen untuk mampir membeli makanan, tapi pria itu terus menolaknya, bahkan Zhen semakin mempercepat laju kendaraannya, tampak seperti sedang terburu-buru.
"Abang, Zeze lapar," ucap Zeline memelas, tapi sepertinya tidak mempan sama sekali bagi Zhen.
"Abang…" Zeline kembali merengek apalagi saat Zhen justru sibuk dengan ponselnya.
"Ab…"
"Turun Zeze! Abang sudah memesan makanan kesukaanmu, kamu tunggu saja dan makanlah bersama mama dan papa!"
"Zeze tidak mau. Papa…"
"Belajar menghadapi sendiri masalah kamu Zeze, jangan libatkan orang yang sama sekali tidak seharusnya terlibat, jika kamu terus lari dan menghindar, kamu pikir masalahmu akan selesai? Mama dan papa ada di rumah, harusnya kamu gunakan kesempatan itu untuk lebih dekat sama mereka, kami bilang kamu kesepian kan? Buatlah mereka untuk selalu menemanimu dan tidak membuatmu kesepian lagi."
"Tapi bang…"
"Cepat turun! Abang buru-buru."
"Abang mau kemana? Bagaimana jika Zeze ikut abang saja?"
Zhen menghela nafas, membuka pintu dan segera turun, berlari kecil ke pintu sisi lainnya dan segera membuka pintu itu."
"Cepat turun atau abang akan menarikmu!"
Zeline semakin mengerucutkan bibirnya, dan mau tidak mau, dirinya pun akhirnya turun, menghentakkan kaki lalu melangkah masuk, kesal dengan sikap Zhen saat ini.
Zhen kembali menghela nafas, begitu melihat adiknya masuk, segera saja Zhen kembali masuk ke mobil, mengirim pesan pada mamanya, lalu mulai melajukan kendaraannya.
Dengan kecepatan di atas rata-rata, Zhen mengendarai mobilnya membelah jalanan ibu kota yang untungnya tidak macet. Zhen berhenti di depan sebuah gang, dimana beberapa menit yang lalu mobil itu berhenti.
Pandangan Zhen tertuju pada seorang gadis yang naik ke boncengan motor dan memakai helm.
"Mau kemana?" Gumam Zhen yang kini mengikuti kemana motor itu melaju.
Hingga di depan sebuah restoran, Zhen ikut menghentikan mobilnya. Zhen melihat gadis itu yang masuk ke dalamnya, Zhen memilih menunggu, mungkin saja gadisnya itu sedang makan disana, setelah gadisnya keluar, barulah Zhen akan menghampirinya dan mengantarkannya pulang, ada hal yang perlu Zhen bicarakan padanya.
Sambil menunggu, Zhen mengambil ponselnya mengirim pesan balasan pada mamanya. Tapi cukup lama menunggu, gadisnya tidak juga keluar, hingga tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang gadis yang berjalan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu, Zhen sangat mengenali gadis itu, walaupun hanya melihat dari belakangnya saja.
Zhen segera membuka pintu mobil hendak turun untuk mengejarnya. Pikirannya tiba-tiba berkecamuk saat tadi dia juga sempat melihat ada seorang pria yang mengikuti gadisnya.
__ADS_1
Tapi begitu turun, Zhen yang terburu-buru justru tidak sengaja menabrak seorang anak kecil berusia sekitar 5 tahunan, yang juga baru saja turun dari mobil yang berhenti tepat di samping mobilnya.
"Maafkan om, apa kamu terluka?" Tanya Zhen membantu anak itu.
Anak kecil itu hanya menggeleng, melepaskan tangan Zhen dan berlari masuk. Zhen meminta maaf kepada orang tua anak itu, lalu segera pamit pergi untuk mengejar Risa. Tangan Zhen terkepal saat dari jauh melihat pria yang tadi mengikuti gadisnya tampak memojokkan Risa di dinding, bahkan pria itu sampai mendekatkan wajahnya. Zhen berlari, pikirannya hanya satu, dia harus menyelamatkan gadisnya, tapi tiba-tiba langkah Zhen terhenti, saat seorang pria menarik pria yang mengurung Risa bahkan menghajarnya hingga pria yang hendak berbuat jahat pada gadisnya itu jatuh tersungkur. Dan pemandangan selanjutnya membuat dada Zhen merasa sesak. Bagaimana tidak, Zhen melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat pria itu menarik Risa ke dalam pelukannya, bahkan Risa sampai menumpahkan tangisnya di dekapan pria itu.
Zhen berbalik, berlalu pergi dari sana menuju ke mobilnya. Dengan segera Zhen melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Zhen memegang dadanya, sakit, itu yang dia rasakan, bahkan lebih sakit saat dirinya tahu kekasihnya yang dulu mengkhianatinya.
*
*
"Risa kau baik-baik saja?" Tanya pria itu khawatir.
Risa hanya mengangguk, walaupun dirinya merasa lega, tapi tidak tahu kenapa air matanya masih saja terus berjatuhan hingga membasahi wajahnya.
Pria itu melepaskan pelukan, lalu menyeka air mata Risa, berbalik dan menatap tajam pria yang sudah berani berbuat hal seperti itu di depannya.
"Kamu saya pecat Aldi," ucapnya memaksa Aldi menatapnya.
"Salahmu? Kau tahu jelas apa salahmu," jawab pria itu, lalu berbicara dengan seseorang yang tadi dihubunginya.
"Sebentar lagi, polisi akan datang, kamu harus membayar apa yang sudah kamu lakukan kepada Risa."
Aldi justru tertawa mendengar ucapan pria yang tak lain adalah Dirga bos mereka.
"Dugaanku benar kan? Jika kalian punya hubungan."
"Kenapa? Kalaupun iya, kurasa itu bukan urusanmu."
Dirga merangkul Risa dan membawanya pergi dari sana begitu melihat mobil polisi sudah berhenti di tempat itu.
"Jika butuh kesaksian saya bersedia, ini kartu nama saya," ucap Dirga begitu salah satu polisi berlari menghampirinya.
"Baik pak terima kasih, tapi untuk…" polisi itu menatap Risa.
"Risa namanya," jawab Dirga yang seolah tahu arti tatapan polisi itu.
"Baik untuk ibu Risa, diharapkan ke kantor untuk memberi keterangan."
__ADS_1
Dirga menatap Risa dan berkata.
"Apa kesaksian saya saja tidak cukup? Apa bapak tidak melihat jika Risa masih shock dengan kejadian tadi," ucap Dirga dengan suara meninggi.
Risa memegang lengan Dirga membuat pria itu menoleh.
"Tidak apa-apa kita kesana saja."
Dirga tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk.
"Baiklah, aku akan mengantarmu," ucap Dirga yang dibalas anggukan oleh Risa.
"Kita bertemu di kantor," ujar Dirga pada pria berseragam itu, sebelum akhirnya mengajak Risa untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Minumlah!" Ucap Dirga memberikan sebotol air mineral yang sudah dia bukakan tutupnya.
"Makasih," jawab Risa tersenyum.
Tapi Dirga tahu jika senyum yang Risa berikan itu adalah senyum palsu.
"Sudah lebih tenang?"
Risa pun mengangguk.
"Kita jalan sekarang?"
Lagi-lagi, Risa hanya menjawab pertanyaan Dirga dengan anggukan. Dan spontan tangan Dirga mengacak rambut Risa membuat tubuh Risa membeku. Dan entah kenapa yang di pikiran Risa sekarang hanya dipenuhi oleh Zhen.
"Maaf, aku tidak bermaksud…" ucap Dirga yang baru menyadari apa yang tadi dia lakukan.
"Tidak apa-apa," jawab Risa yang kini mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.
Dirga menatap Risa cukup lama, hingga kemudian dia pun mulai melajukan mobilnya.
Keduanya sama-sama diam, hening, yang terdengar hanya deru mesin mobil.
Hingga dering ponsel Risa tiba-tiba mengisi keheningan itu.
Risa menatap nama pemanggil lalu menolak panggilan itu, panggilan pun berakhir dan tak lama, terdengar bunyi notifikasi pesan masuk, Risa langsung membukanya, membaca dengan seksama, lalu jari-jarinya mengetik beberapa huruf sebagai balasan.
"Sorry Ze, aku tidak bisa lagi, lagian itu hanya kesepakatan bukan perjanjian. Belajar menghadapi masalahmu sendiri agar kamu bisa berfikir lebih dewasa nantinya," setelah mengirim pesan itu, Risa pun meletakkan kembali ponselnya, bahkan sebelumnya, Risa sempat menonaktifkannya, Risa sedang tidak ingin diganggu siapapun.
__ADS_1