Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 55


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan? Eh abang?"


Ucap Zeline yang baru saja membukakan pintu. Tadi Zeline yang sedang asyik melihat-lihat akun sosial media milik kekasihnya, merasa terganggu dengan ketukan pintu, bukan ketukan lagi sebenarnya, lebih terdengar seperti gedoran, yang membuat Zeline awalnya ketakutan menjadi marah dan buru-buru membuka pintu, melihat siapa orang yang berusaha mengganggu ketenangannya. Zeline berteriak bertanya apa yang dia lakukan, tapi bungkam saat tahu, bahwa pelakunya adalah abangnya sendiri.


"Abang ngapain kesini?" belum selesai bertanya kini pandangan Zeline teralihkan ke arah belakang Zhen.


"Mbak Risa?" Ucapnya, saat melihat Risa yang kini berjalan mendekat ke arah mereka.


Zeline lalu menatap Zhen dan Risa bergantian.


"Kamu siap-siap, kita pulang sekarang!"


Kedua gadis itu hanya menatap Zhen, tidak mengerti sebenarnya siapa yang Zhen ajak bicara saat ini, terutama Zeline, sedang Risa hanya menduga-duga saja dalam hati.


"Kamu Zeze, ganti pakaian dan kita pulang sekarang!" Tegas Zhen karena adiknya hanya diam saja.


"Tapi bang…"


Zeline lagi-lagi menatap Zhen lalu bergantian menatap Risa yang hanya menundukkan kepala, dia yakin jika ada masalah yang mungkin saja Risa lakukan hingga membuatnya harus kembali ke tempatnya semula. Dan salah satunya mungkin karena Zhen tahu jika mereka bertukar peran selama ini.


"Cepat Zeze!"


Mendengar perkataan Zhen, Zeline pun melewati pria itu, dan menghampiri Risa, lalu memegang kedua bahu Risa.


"Kenapa? Ini pasti karena mbak kan? ini gara-gara mbak memberitahu abang tentang kita, pokoknya mbak yang harus menyelesaikannya. Mbak Juga jangan lupa jika mbak masih punya waktu enam bulan lagi, untuk menggantikanku."


"Zeline."


"Tidak bang, mbak Risa harus menyelesaikan kesepakatan kami sebelumnya."


Zhen menarik nafas panjang, Zeline itu keras kepala, mirip seperti mama mereka. Jika memutuskan sesuatu sulit untuk merubah pikirannya.


"Kamu minta Risa untuk menggantikanmu karena kesepian kan? Kamu tenang saja Ze, kamu tidak kesepian lagi, mama dan papa juga abang akan tinggal bersama kamu."

__ADS_1


Zeline diam dan menatap Zhen. Tiba-tiba wajahnya berubah murung.


"Tapi papa sepertinya tidak sayang Zeze bang," ucapnya lirih.


Zhen mendekat dan menarik sang adik ke dalam pelukan. Bukan papanya tidak sayang lagi, tapi papanya sudah berubah, sekarang papa mereka menunjukkan rasa sayang kepada anak-anaknya dengan cara yang berbeda, itulah yang Zhen bisa rasakan. Zhen mengelus punggung Zeline membiarkan adiknya merasa lebih tenang.


Risa menatap keduanya, lalu berlalu masuk ke dalam rumahnya tanpa kata. Dan hal itu tak luput dari pandangan Zhen.


"Kita pulang sekarang, kamu pasti merindukan mama."


Dan Zhen bernafas lega, saat Zeline akhirnya mengangguk.


"Mana ponsel milik Risa?" Tanya Zhen begitu pelukan mereka terlepas.


Zeline menatap ke arah Zhen ragu, tapi akhirnya dia pun memberikan ponsel Risa kepada abangnya.


"Kamu jalan dulu ke depan dan tunggu di mobil."


"Memberikan ponsel ini, dan mengambil ponsel milikmu."


Dengan cepat, Zeline merebut ponsel yang di tangan Zhen, lalu berkata, "Biar Zeze yang menukar ponsel ini kembali bang."


Setelah mengatakan itu, Zeline segera masuk ke dalam, untuk menemui Risa. Dia perlu tahu, kenapa tiba-tiba Zhen mendatanginya, dan meminta dirinya kembali, padahal waktu Zeline tahu jika Zhen sudah mengetahui hal itu, Zhen tidak mengatakan apapun, pria itu tampak mendukungnya, lalu kenapa Zhen bisa berubah pikiran, sebenarnya apa yang sudah Risa lakukan hingga kesepakatan mereka berakhir seperti ini.


Begitu masuk, Zeline mendapati Risa yang duduk termenung di atas ranjang, bahkan sepertinya Risa tidak menyadari kedatangannya.


"Sebenarnya ada apa?"


Tanya Zeline tanpa basa-basi, mengejutkan Risa dan membuatnya menoleh ke arah Zeline.


Risa menggeleng, "Aku tidak tahu, kenapa tidak kau tanyakan langsung pada abangmu?"


"Mbak pikir abang akan menjawab?"

__ADS_1


Risa mendengus, kesal dengan Zeline yang berbicara ketus padanya.


"Lalu kamu pikir aku tahu apa yang ada di pikiran abangmu, dia hanya mengajakku keluar, dan aku tidak tahu jika ternyata tujuan abang adalah datang kemari. Aku bahkan tidak tahu jika abang akan memintamu kembali saat ini juga," kesal Risa, karena setiap ada sesuatu, Zeline selalu menyalahkannya. Risa lalu mengambil sebuah ponsel yang dia taruh di tasnya, lalu meletakkan di atas meja yang terletak di samping tempat tidurnya.


"Ini ponselmu, sepertinya semuanya harus berakhir sampai disini."


"Tidak…tidak bisa seperti itu, mbak tetap harus menyelesaikan kesepakatan kita," ucap Zeline yang tidak mau dibantah.


"Lalu maksudmu, kau akan tetap disini dan membiarkan abangmu marah padaku?" Risa benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran Zeline saat ini, hingga di situasi seperti ini, Zeline masih tetap saja kekeh dengan keputusannya.


"Sudahlah, lebih baik kamu pulang, ambil ponselmu dan letakkan ponselku disitu," ucap Risa menunjuk sebuah meja, dia kemudian memilih membaringkan tubuhnya. Entah kenapa rasanya lelah sekali. Tak hanya fisik tapi hati dan juga pikirannya, Risa jadi tahu, bahwa menjadi sosok Zeline anak orang kaya pun tak lepas dari hal rumit. Sebenarnya Risa merasa kasihan pada Zeline, tapi dia juga tidak berhak ikut campur lagi, jika bahkan kakak dari gadis itu sudah memutuskan seperti itu.


"Bangun mbak!" Zeline rasanya belum puas berbicara dengan Risa, gadis itu berusaha membuat Risa bangun, dan baru berhenti, saat tiba-tiba ponselnya berdering nyaring, dengan segera Zeline pun menjawab panggilan itu, yang ternyata dari abangnya.


"Halo bang."


"Cepat Zeze! Abang sudah menunggu di mobil tapi kamu tidak juga kemari, kenapa menukar ponsel saja lama sekali?"


"Iya bang, ini sudah kok, lagi jalan keluar," Zeline memutus panggilan telepon dari kakaknya, menatap Risa kesal, meletakkan ponsel Risa sedikit kasar, berbalik dan melangkah pergi, tak lupa menutup pintu cukup kencang membuat Risa sampai terkejut dan menatap kasihan pintu kos annya yang menjadi korban padahal tidak tahu apa-apa.


"Kenapa nangis sih? Cepat atau lambat hal ini juga pasti terjadi kan? Walaupun hubunganmu tidak terlarang, tapi tetap saja Ris, kamu harus ingat, status kalian sangatlah berbeda. Mana mungkin orang tuanya merestui hubungan kalian, dan apa kamu juga yakin, jika Zhen benar-benar mencintai kamu dengan tulus? Lihatlah, bahkan dia memilih membuangmu, tanpa mau menjelaskan apa yang membuatnya tiba-tiba berubah pikiran seperti itu," ucap Risa sambil terus menghapus air matanya yang tak hentinya mengalir. 


Bayangan-bayangan saat Risa bersama Zhen bermunculan, dan hal itu justru membuat dada Risa semakin sesak, kata-kata Zhen yang terdengar tulus, hingga membuat Risa luluh, kini hanya menjadi bumerang bagi Risa. Menghancurkan harapan cinta yang sebelumnya tidak pernah Risa sangka-sangka. 


Ceklek


Bunyi pintu yang terbuka membuat Risa kembali membalik posisi tidurnya. Risa memejamkan mata, berpura-pura tidur saat tahu siapa yang baru saja masuk. Aroma parfum yang begitu Risa kenali, kini semakin mendekat ke arahnya. Risa dapat merasakan jika kini Aga menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga sebatas dada. Samar-samar Risa juga mencium aroma makanan, membuat cacing di perutnya berdemo minta diisi.


"Aku bawa makanan, jika kamu lapar, bisa ambil di meja. Seperti apa yang aku katakan tadi siang. Aku akan mencari tempat untuk menginap malam ini, bagaimanapun kita adalah lawan jenis, dan tidak bisa tinggal di satu atap yang sama, terlebih kita tidak mempunyai hubungan apapun," ucap Aga yang memang belum tahu, jika yang ada di tempat itu benar-benar kakaknya.


Setelah mengatakan itu, Aga pun melangkah ke arah pintu, menarik kunci yang tergantung di pintu, lalu dia pun keluar dan memasukkan kunci serep kemudian menguncinya.


Mendengar sudah tidak ada lagi suara, Risa pun bangun dari rebahannya. Pandangannya tertuju pada kantong plastik berwarna putih, yang Risa yakin jika itu adalah makanan yang Aga maksud. Risa lalu menatap meja yang terletak di samping ranjangnya. Disana terlihat ponsel miliknya tergeletak, Risa pun mengulurkan tangan lalu mengambil ponsel itu. Mata Risa membelalak saat melihat sebuah pesan masuk yang sepertinya memang sengaja tidak dibuka oleh Zeline. Jari-jari Risa bergerak hendak membalas pesan itu, tapi Risa kembali menghapusnya dan memilih untuk memanggil nomor tersebut.

__ADS_1


__ADS_2