Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 64


__ADS_3

"Tuan!"


Zhen terkejut saat membuka pintu dan mendapati sopirnya ada disana.


Sopir yang biasa mengantar kemanapun adiknya pergi itu, memang tahu apartemennya.


"Ada apa pak? Dan kenapa bapak ada disini?" Tanya Zhen pada sang sopir yang wajahnya tampak gelisah.


Zhen memang meminta sopir itu, mengawasi Zeline yang mungkin saja bisa pergi lagi.


"Abang…"


Belum menjawab seseorang muncul dari balik punggung pria itu, Zhen menghela nafasnya saat melihat Zeline yang datang membawa ransel dalam gendongannya.


"Saya minta maaf Tuan karena akhirnya harus membawa Non Zeline kemari."


"Kamu bisa kembali," ucap Zhen yang ditujukan pada sang sopir.


"Baik Tuan, sekali lagi saya minta maaf."


Setelah itu, sopir yang Zhen tugaskan untuk mengantarkan Zeline kemanapun kini berjalan menjauh.


Zhen lalu beralih menatap adiknya yang kini tampak menundukkan kepala. Zhen menghela nafasnya panjang, tidak tahu harus bagaimana membuat adiknya agar bisa bersikap dewasa dan menghadapi masalah yang menghampirinya bukan terus kabur seperti ini jika ada masalah.


"Masuk!"


Zeline mendongak menatap kakaknya lalu kembali menunduk saat melihat tatapan tajam Zhen padanya. Dengan langkah perlahan, kini dia masuk mengikuti langkah Zhen yang berjalan ke dalam lebih dulu.


"Itu…" Zeline menunjuk sesuatu dan Zhen pun mengikuti kemana arah pandang adiknya.


"Adik Risa, kau pasti sudah pernah bersamanya."


"Kenapa dia bisa disini?" 


Zhen kembali memberikan tatapan tajamnya, nyali Zeline pun menciut.


"Ayo, atau kamu mau abang  antar pulang sekarang?"

__ADS_1


Mau tidak mau, akhirnya Zeline kembali mengekori Zhen yang kini masuk ke sebuah  kamar. Zhen menyalakan lampu lalu duduk di atas ranjang.


"Tutup pintunya lalu duduk!" Ucap Zhen menepuk sisi kosong yang berada tepat di sampingnya.


Zeline menurut, dengan ragu dia duduk di tempat yang Zhen tunjuk.


"Kenapa kamu pergi dari rumah lagi?" 


"Abang juga memilih tinggal disini," jawab Zeline menatap Zhen. Menurut  Zeline, jika Zhen bisa kenapa dirinya tidak.


Zhen menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, "Kali ini apa alasannya?"


Kini gantian Zeline yang menghembuskan nafasnya, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.


"Semuanya sudah berantakan kan bang, bukan hanya sekarang tapi sejak dulu. Kenapa mereka begitu egois dan hanya memikirkan diri mereka sendiri. Tidak perlu jadi yang terbaik untuk kita, cukup jalankan peran mereka dengan baik, apa seperti itu saja begitu menyusahkan?" lirih Zeline.


Tak terasa air mata Zeline menetes begitu saja, Zhen segera menarik Zeline ke dalam pelukannya. Ya, dia saja yang sudah dewasa kadang merasa seperti itu, apalagi Zeline yang masih remaja.


Zeline mengurai pelukan lalu memberanikan diri menatap kakaknya.


"Abang, izinkan Zeze tinggal disini ya, Zeze mohon, Zeze tidak ingin kembali ke rumah," ucap Zeline kemudian dengan wajah memelas. 


"Kalau tidak boleh, aku akan menelpon mbak Risa untuk…"


Zhen segera merebut ponsel yang ada di tangan Zeline membatalkan panggilan ke nomor Risa.


"Kamu tahu Ze, kamu juga egois seperti mereka, kamu hanya pikirkan diri kamu sendiri, pernah tidak kamu memikirkan Risa, bertanya pendapatnya apa yang sebenarnya dia inginkan, bukan malah kamu yang selalu memberi keputusan. Kamu bilang itu kesepakatan, kesepakatan itu, memikirkan kedua belah pihak Ze, bukan cuma kamu yang bisa mengatur semaumu," ucap Zhen cukup kencang. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya Zeline pikirkan.


"Abang tidak tahu apa-apa, dan perlu aku kasih tahu ke abang, aku bekerja menggantikan mbak Risa, bayarannya aku tidak mengambil sepeserpun, karena bos langsung mengirim ke rekeningnya, uang itu, uang hasil kerja kerasku, mbak Risa yang menikmatinya, dan itu berarti kita impas."


Zhen tertawa mendengar ucapan Zeline. 


"Cuma satu bulan dan kamu seolah-olah melakukan itu cukup lama, dan perlu kamu tahu, Risa hampir saja kehilangan pekerjaannya karena kamu, tapi kamu masih berani berbicara seperti itu. Kamu beruntung karena Risa tidak meluapkan amarahnya padamu, coba jika itu orang lain, mungkin saja mereka akan membuat perhitungan."


"Kenapa abang jadi belain mbak Risa? Abang suka sama dia? Oh…pantas saja tadi papa berbicara seperti itu, jadi karena ini."


"Ini bukan masalah abang belain siapa Zeze, abang berbicara seperti ini karena tidak membenarkan tindakan kamu, kamu salah dan kamu masih bisa berkata seperti itu, seolah kamu benar, abang mengatakan ini karena abang sayang sama kamu, abang tidak ingin kamu tersesat terlalu jauh."

__ADS_1


"Tidak….abang mengatakan itu bukan karena Zeze, tapi karena…."


"Cukup!" Zhen langsung bangun dari tempatnya duduk.


"Lebih baik kamu istirahat," ucapnya sebelum akhirnya dia keluar.


Zhen berjalan menuju kamarnya, mengambil kunci mobil dan ponselnya. Zhen kemudian berjalan ke arah lemari. Lalu setelah itu barulah dia kembali keluar. Langkahnya berhenti di dekat sofa, untungnya Aga masih tertidur, Zhen menjadi lega, karena itu berarti Aga tidak mendengar perdebatan dirinya tadi bersama Zeline. Zhen menutupi tubuh Aga dengan selimut yang tadi dibawanya lalu melangkah pergi. Kini dia melajukan mobilnya tanpa tujuan, hanya berkeliling melewati jalanan yang masih sepi.


Waktu kini menunjukkan pukul 4 pagi saat Zhen tiba di sebuah tempat, entah kenapa yang dia pikirkan pertama kalinya adalah tempat itu. Zhen melangkah lalu duduk di sebuah kursi yang berada tepat di depan rumah, masih tampak sepi, lampu pun belum menyala, Zhen tidak yakin jika penghuni rumah itu masih tidur, tapi untuk mengetuk pintu, tetap saja Zhen enggan terlebih ini masih terlalu pagi untuk seseorang bertamu. Zhen meluruskan kedua kakinya, diturunkan sedikit tubuhnya, lalu bersandar  mencari posisi yang menurutnya nyaman. Menyilangkan tangan di depan dada, kemudian memejamkan kedua mata yang sudah cukup berat. Hembusan angin yang menerpa wajahnya, membuat matanya semakin sayu, hingga perlahan kedua matanya benar-benar tertutup rapat, dengkuran halus pun kini mulai menyapa, menandakan bahwa dia akhirnya benar-benar terlelap. Tidak tahu berapa lama Zhen tertidur, kini dia mulai mengerjapkan matanya saat merasakan sentuhan halus di pipinya, sesekali Zhen merasakan seseorang menarik hidungnya. Semua itu akhirnya membuat Zhen memaksakan diri untuk membuka mata.


"Akhirnya bangun."


Pemandangan pertama yang Zhen lihat adalah seorang gadis cantik yang tersenyum padanya.


Gadis itu lalu tertawa saat melihat wajah Zhen  yang tampak linglung, nyawanya belum kumpul, seperti itulah yang orang-orang katakan.


"Sayang?" 


Zhen segera menegakkan badan dan meringis merasakan rasa pegal pada lehernya.


"Sakit?"


"Iya."


Risa yang tadi berjongkok di samping Zhen duduk kini bangun, sudah mengira jika Zhen pasti akan merasa pegal dan kesakitan, makanya tega, tidak tega, Risa mencoba membangunkan Zhen, kasihan melihat bagaimana posisi tidur pria itu, yang terlihat jelas tidak nyaman.


"Kalau mau tidur lagi lebih baik abang masuk. Walaupun kasurnya tidak seempuk di rumah abang, setidaknya lebih nyaman dari kursi ini."


Zhen tersenyum, dia mengulurkan kedua tangannya meminta Risa untuk membantunya bangun.


"Dasar manja!" Ucap Risa, tapi tetap saja menerima uluran tangan itu dan menariknya.


Jika saja mereka tidak diluar Zhen akan dengan sengaja menarik Risa hingga terjatuh di pangkuannya, sayangnya ini di luar, Zhen tentu berpikir dua kali saat akan melakukan itu, tak ingin kekasih hatinya nanti menjadi pembicaraan tetangga.


Zhen menggandeng tangan Risa melangkah masuk.


"Risa!"

__ADS_1


 Langkah Zhen dan Risa yang sudah hampir mencapai pintu terhenti saat tiba-tiba mendengar seseorang memanggil Risa.


__ADS_2