
"Bbb...bos…"
Zeline menciut menatap pria yang kini menatap garang padanya.
"Ikut denganku!"
Pria itu, Dirga Yuan praditama menarik tangan Zeline membawanya entah kemana.
"Bos sakit…"
Pria itu berhenti dan melepaskan tangan Zeline. Tapi pergerakan Zeline bisa dibaca pria itu, saat Zeline akan kabur, dengan cepat Dirga menahan tangan Zeline.
"Mau kabur kemana?"
Zeline hanya bisa nyengir, rencananya yang akan kabur dari pria itu, kini gagal sudah.
"Ti...tidak bos, saya tidak kabur kok, saya hanya…"
"Melarikan diri maksudmu?"
Zeline kalah telak, tidak bisa melawan ucapan bos Risa.
Dirga kemudian kembali menarik Risa tapi kali ini lebih lembut dari sebelumnya.
"Masuk!" Perintahnya begitu membuka pintu mobilnya.
"Kita mau kemana bos?"
"Masuk Risa! Atau kau ingin aku memaksamu."
Zeline mengerucutkan bibir kesal, dan dengan terpaksa masuk ke mobil pria itu, tidak tahu, pria itu akan membawa dirinya kemana.
"Kau membohongiku," bukan pertanyaan melainkan pernyataan yang Dirga ucapkan.
"Bu...bukan seperti itu bos, saya…"
"Kenapa? Cepat jelaskan!"
"Saya memang mau pulang ke kampung, tapi besok," jawab Zeline saat menemukan alasan yang tepat.
"Dan kau sudah izin dari kemarin?"
"Itu…"
"Batalkan!"
"Hah?" Zeline menoleh menatap Dirga tidak mengerti.
"Kau naik kereta kan? Batalkan kita berangkat bersama."
"Tu...tunggu maksudnya?"
Dirga menepikan mobilnya, lalu menatap Zeline.
"Aku akan ke kota tempat tinggalmu, ada urusan disana, kau juga akan pulang kan? Sebagai bos yang baik aku menawarkan sesuatu yang menguntungkanmu," ucap Dirga yang kini kembali melajukan mobilnya.
"Tidak perlu bos, saya…"
"Saya tidak mau mendengar penolakan Risa, besok jam 7, aku akan menjemput di depan kos an mu."
"Kos an?"
__ADS_1
"Ya masih di tempat yang sama kan?"
"Itu…"
Zeline membuang muka keluar jendela.
"Bagaimana ini?" Gumamnya sambil menggigit kuku jari-jarinya.
Panik, itu yang saat ini Zeline rasakan, dirinya memutar otak, mencari alasan apalagi untuk menolak Dirga.
"Kau tidak tidur kan Risa?"
"Hah?" Zeline menoleh dan menatap Zhen memaksakan senyumnya.
"Hah?" Dirga menirukan jawaban Zeline tadi, membuat gadis itu kesal.
"Intinya besok jam 7 kurang, setidaknya kamu harus sudah siap. Kau tahu bukan, aku bukan orang yang mau menunggu, terlebih itu menunggu kamu."
'Lagian siapa juga yang mau ditunggu olehnya, gue juga gak minta pulang bareng dia kan, dan lagi pulang? Yang benar saja, pulang kemana?' Dalam hati Zeline terus menggerutu karena bos nya yang menyebalkan.
"Sudah sampai, turunlah!"
Zeline mengedarkan pandangan, dirinya kini telah sampai di depan kos an Risa. Zeline kemudian menatap Dirga yang memberi isyarat padanya dengan matanya memintanya untuk turun.
"Bos itu…" Zeline tampak berfikir.
Sementara Dirga masih menatap Zeline menunggu jawaban dari gadis itu.
"Saya tidak bisa pulang dengan Anda bos, nanti yang ada saya merepotkan."
Dirga tersenyum miring, menurutnya alasan Risa terdengar klise.
Zeline tersenyum senang, akhirnya dirinya tidak ikut dengan Dirga.
"Tidak masalah, karena kamu tidak akan mungkin bisa merepotkanku, yang ada aku yang akan merepotkanmu, jadi beristirahatlah dan jangan lupa besok jam 7 pagi."
Dirga menepuk bahu Zeline membuat kedua bahu gadis itu turun, berbicara dengan Dirga memang selalu membuatnya kalah.
Zeline turun dari mobil pria itu, dan melangkah menuju kos an Risa, saat dirinya berbalik mobil Dirga sudah menghilang dari pandangan.
Zeline duduk di kursi rotan yang memang ada di depan kos an Risa, tempat biasa Risa menerima tamu terutama jika tamu nya laki-laki.
"Gue harus bagaimana?" Zeline mengacak rambutnya hingga membuatnya berantakan.
Zeline mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Risa, meminta solusi dari gadis penggantinya.
*
*
Risa yang sedang membereskan barang-barangnya menghentikan kegiatannya saat Zeline kembali menghubunginya, dengan segera Risa menjawabnya, dia hanya khawatir mungkin saja Zeline memberi kabar lagi tentang Zhen.
"Halo Ze."
"Mbak gue harus bagaimana?"
Risa mengernyitkan dahi, tidak mengerti maksud perkataan Zeline.
"Maksud kamu Ze? Bagaimana apanya?"
"Mbak…"
__ADS_1
"Iya."
"Mbak…"
"Iya Ze kenapa? Jangan buat mbak khawatir, apa terjadi sesuatu dengan abang?"
Zeline menggeleng, padahal jelas Risa tidak akan tahu.
"Zeze!"
"Gue harus bagaimana mbak?"
Risa menghela nafas, sepertinya dia harus menyetok kesabaran yang banyak untuk menghadapi Zeline, sedari tadi, Zeline hanya memanggilnya dan mengatakan harus bagaimana, ya jelas Risa tidak tahu, masalahnya saja Zeline tidak menjelaskannya, Risa bukan cenayang hingga bisa mengerti maksud Zeline tanpa gadis itu mengatakannya.
"Sekarang kamu tarik nafas dulu pelan-pelan, lalu hembuskan!"
Zeline mengikuti instruksi dari Risa.
"Coba, pelan-pelan ceritakan pada mbak, ada apa?"
Risa bisa mendengar Zeline menghela nafasnya, lalu dengan perlahan menceritakan semuanya, tentang pertemuan tidak sengaja Zeline dengan bos nya, juga apa saja yang tadi Dirga katakan pada Zeline.
"Lalu menurut mbak, gue harus gimana mbak? Gue gak bisa nolak. Tidak, lebih tepatnya gue udah nolak dengan berbagai alasan tapi dia gak mau mendengarkan, dia hanya bilang tidak menerima penolakan.
Risa menghela nafas berat, terdiam mencoba berpikir, mencari solusi terbaik untuk masalah mereka.
"Kamu ikuti saja apa kata bos!"
"Lalu?" Zeline kembali bertanya, rasanya otaknya tiba-tiba buntu.
"Nanti mbak kirim alamat mbak, kamu kesini saja. Ibu mbak masih di rumah sakit, yang pulang mungkin hanya adik mbak. Nanti mbak akan ajak adik mbak pergi dulu, saat kamu datang, dan nantinya kita bisa bergantian keluar, jika satu keluar, satunya akan bersembunyi."
Lalu bagaimana disini mbak? Pasti orang rumah akan curiga jika tidak mendapati keberadaanku."
Risa memijat pelipisnya yang tiba-tiba merasa pusing. Tidak menyangka, padahal baru beberapa hari, tapi…
"Mbak? Mbak ada solusi lain kan?"
"Mbak, mbak pesan makanan?"
Tiba-tiba Risa panik saat mendengar suara adiknya yang ternyata belum berangkat lagi ke rumah sakit, buru-buru gadis itu memutus panggilan Zeline begitu saja, bertepatan dengan pintu yang kini terbuka dan melihat adiknya yang kini mengangkat tinggi-tinggi kantong plastik berisi makanan yang dipegangnya.
Sementara itu, sebelum panggilan berakhir Zeline bisa mendengar suara orang di seberang telepon.
Gadis itu menghela nafas, saat menatap layar ponselnya yang kini meredup bahkan mati. Zeline tahu pasti disana Risa sedang bersama orang lain, makanya Risa buru-buru memutus panggilan telepon begitu saja.
Zeline kemudian kembali memesan ojek, tidak mungkin dirinya tetap disana, karna dia tidak memegang kunci kos an Risa, Zeline juga takut, jika akhirnya bi Irma menyadari dirinya tidak ada di rumah.
Menunggu beberapa menit, akhirnya kini Zeline beranjak dari duduknya, saat akhirnya ojek yang dipesannya datang.
Zeline segera naik, membiarkan kendaraan beroda dua itu mengantarkan dirinya kembali ke rumah.
"Makasih pak," ucap Zeline, turun dari motor lalu melangkah gontai masuk ke dalam rumahnya setelah satpam membukakan gerbang.
Zeline kemudian menatap sekitar, dan merasa sedih karena tidak melihat mobil abangnya, dan yang bisa Zeline tebak, jika Zhen malam ini pasti tidak akan pulang lagi.
Lagi-lagi menghela nafas, kini Zeline masuk dan segera menuju kamarnya, membanting tubuhnya di atas ranjang.
Dengan malas, Zeline mengambil ponsel saat terdengar bunyi pesan masuk. Dilihatnya sebuah pesan yang dikirimkan Risa padanya kemudian tersenyum.
"Ya, mungkin ini yang lebih baik," ucap Zeline setelah membaca pesan yang dikirimkan Risa.
__ADS_1