Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 72


__ADS_3

Risa segera mengunci pintu kos annya. Hari ini dia berangkat lebih pagi dari biasanya. Aga juga sudah pergi dari sebelum matahari terbit, adik Risa itu harus kembali ke kampung halaman untuk menjaga ibu mereka, juga karena memang sebentar lagi sudah waktunya masuk kuliah.


Risa berjalan sampai ke depan gang. Tiba-tiba suara klakson mobil menyapanya. Risa menunggu hingga kaca mobil terbuka, untuk melihat siapa gerangan orang yang berada di dalamnya, karena Risa memang tidak mengenali mobil itu.


"Masuk!" Ucap pria itu.


Risa tampak ragu, hingga pria itu kembali berkata.


"Cepat naik! Jangan membuatku menunggu terlalu lama."


Risa menghela nafas, lalu akhirnya menurut. Membuka pintu bagian belakang, dan saat hendak masuk pria itu lebih dulu menyela.


"Kamu pikir aku supirmu, duduk di depan!" Perintahnya tak bisa dibantah. 


"Sudah untung aku jemput," tambahnya.


"Siapa juga yang minta dijemput," gumam


Risa memutar bola matanya, beginilah pria itu jika sedang dalam mode menyebalkan.


Pria itu segera melajukan mobil saat Risa sudah memasang sabuk pengamannya.


Risa membuka tasnya mengambil kotak bekal makanan yang dia masak dan belum sempat dia makan. Seketika aroma harum menyeruak ke seisi mobil, membuat perutnya tidak sabar lagi menyantap makanan itu.


"Makan bos!" Risa menawari pria yang tak lain adalah bos nya.


Tak mendapat jawaban Risa langsung menyantap makanannya. Toh Risa berpikir jika bos nya itu pasti sudah makan dulu sebelum berangkat.


"Kenapa makan sendiri? Kamu hanya menawariku tapi tak berniat untuk membagi makananmu padaku?"


Risa menghentikan kunyahannya, lalu menoleh menatap Dirga yang menatapnya.


"Bos mau?"


"Hmmm."


"Tapi…"


"Cepat suapi aku, kamu tidak lihat jika aku sedang nyetir."


"Masalahnya bukan itu."


Dirga lalu segera menepikan mobil, dia lalu merebut sendok yang dipegang Risa. Mengambil makanan yang ada di piring dan menyantapnya. Jujur saja dia juga merasa lapar, dari semalam dirinya tidak sempat makan ditambah dengan bau harum masakan Risa, membuat perutnya semakin meronta-ronta minta diisi. Biasanya dia selalu memasak dan membawa makanan tapi dia bangun agak kesiangan, rencananya dia akan makan begitu sampai restoran. Tapi karena Risa membawa makanan, maka dia tak segan untuk ikut memakan bekal gadis itu.


"Bos itu…"


"Kenapa? Tidak ikhlas berbagi makanan denganku."


"Bukan…"


"Lalu? Kenapa menatapku seperti itu?"

__ADS_1


Risa menggeleng, dia hanya menatap sendok yang tadi digunakannya yang sekarang justru dipakai Dirga. Lalu melihat pria itu yang masih bersemangat menyantap makanan miliknya, tidak merasa ji*jik sama sekali karena memakai sendok yang sama dengannya.


"Kamu mau lagi?" Tanya Dirga.


Risa lagi-lagi menggeleng, "Habiskan bos saja, aku sudah kenyang," Risa lalu mengambil botol minuman yang dia bawa, dan meneguknya.


"Karena sendok ini jadi bekasku, makanya kamu tidak mau makan lagi?"


Uhuk…uhuk


Risa sampai tersedak mendengar ucapan Dirga. 


Dirga segera mengulurkan tisu memberikan pada Risa yang segera diterima gadis itu untuk membersihkan mulutnya.


"Maaf," ucap Risa tak enak.


"Ini…" Dirga lalu memberikan kotak makanan yang kini sudah kosong.


Risa segera menutupnya, lalu memasukkan ke dalam tas.


"Makasih," ucap Dirga setelah minum. Dan sesudahnya dia segera melajukan kembali mobilnya.


Ponsel Risa berdering, Risa sedikit mengintip, melihat siapa yang pagi-pagi sudah menghubunginya.


"Jawab saja mungkin penting, jika sudah sampai aku tak yakin kamu bisa menjawabnya," Risa menoleh ke arah Dirga yang masih fokus mengemudi.


Benar apa yang Dirga katakan, jika sudah sampai, Risa akan segera sibuk, dan menjawab telepon saja mungkin tidak akan bisa. Risa pun akhirnya menjawab panggilan itu.


"Halo sayang, kamu dimana? Abang ke kos an, tapi kamu gak ada, kata tetangga kamu, kamu sudah berangkat, tapi ini bahkan belum waktunya kan?" 


Pertanyaan beruntun dari sang kekasih terdengar.


"Abang maaf, aku lupa mengabari jika hari ini aku berangkat lebih awal. Ada banyak pesanan hari ini."


Terdengar helaan nafas dari seberang telepon.


"Abang sudah bawain makanan untuk kamu, atau abang antarkan saja ke restoran tempat kamu bekerja?"


"Jangan!"


"Kenapa?" Zhen di seberang telepon mengernyitkan dahi tak mengerti kenapa Risa langsung melarang dia datang.


"Jarak kantor abang dengan tempatku bekerja berlawanan, yang ada nanti abang bisa terlambat, abang bilang juga pagi ini ada rapat kan?"


"Tapi kamu…"


"Aku tadi sudah makan kok, jadi abang tidak perlu khawatir."


"Ya sudah, kamu nanti pulang seperti biasa kan?"


"Iya."

__ADS_1


"Nanti abang jemput."


"Hmm. Oh ya bang, sudah dulu ya, ini sudah sampai."


"Iya, kamu hati-hati."


"Abang juga."


Setelah itu panggilan pun berakhir.


"Makasih bos tumpangannya," ucap Risa yang hanya dijawab oleh Dirga dengan gumaman.


Setelah itu, Risa pun turun dan segera masuk. Risa yang tadinya melangkah dengan semangat spontan berhenti saat melihat beberapa teman kerjanya yang kini menatapnya dengan pandangan tidak suka.


Risa menundukkan kepalanya sebagai bentuk sapaan, setelah itu, dia berpamitan untuk masuk lebih dulu. Risa terkejut saat seseorang tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar.


*


*


Tak seperti biasanya, itulah yang kini orang-orang lihat pada diri Zeline. Zeline kembali ke dirinya yang dulu, itulah yang sejak tadi Evan dan Rio katakan. Terbukti dengan gadis itu yang kini mengajak kedua temannya itu, untuk membolos dengan alasan hari ini pasti belum mulai pembelajaran. Bahkan larangan Nico tak membuat Zeline menuruti pria yang kini berstatus sebagai pacar.


"Besok aku akan masuk dan ikut belajar," ucap Zeline pada Nico agar membiarkan saja dirinya pergi hari ini.


"Kita sudah mau masuk semester akhir Ze, gak cuma nilai, kehadiran kita di kelas juga akan dipertimbangkan."


"Aku tau kamu pacar aku, tapi tentang ini…please jangan larang aku…aku paling nggak bisa jika hanya diam di kelas, nanti yang ada malah ngantuk, syukur-syukur kalau aku gak ketiduran."


"Kalau aslinya begini ya akan tetap begini," ucap seseorang tiba-tiba dari arah belakang Zeline.


"Maksud lo apa?"


Gadis itu hanya mengangkat kedua bahu acuh, lalu berjalan ke arah tempat duduknya.


"Dasar aneh," ucap Zeline yang terus melihat pergerakan teman sekelasnya itu, yang terkenal sebagai gadis yang pintar karena selama ini selalu mendapat peringkat dua. Dan yang Zeline perhatikan dari tatapannya tadi, menunjukkan dengan jelas bahwa dia seperti sangat tidak menyukainya. Dan itu sungguh membuatnya heran.


"Nico please!"


"Tidak, cepat duduk!" 


Zeline menatap Evan dan Rio bergantian dengan tatapan memelas, berharap kedua temannya itu membantunya.


"Kalian ngapain berdiri di depan pintu saja, mau jadi penjaga? Cepat duduk! Sebentar lagi masuk," perintah Nico saat melihat kemana arah pandang kekasihnya.


"Iya pak ketu," ucap keduanya bersamaan dan mau tidak mau mengikuti perintah sang ketua kelas.


"Nanti kalau dia menuju ke bangkunya, kita langsung cabut," bisik Evan saat melewati Zeline.


Zeline tersenyum menyeringai.


"Kenapa aku tidak berpikiran sampai kesitu?"

__ADS_1


__ADS_2