Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 34


__ADS_3

"Ah itu abang, di drama yang aku tonton," ucap Risa begitu menemukan jawaban yang tepat.


Zhen menatap Risa mencari kebohongan di mata gadis itu. Tatapan penuh selidik, membuat jantung Risa berdebar kencang, bagaimana jika abangnya tahu dia berbohong, tapi tidak, Risa harus berusaha tetap tenang membalas tatapan Zhen.


"Sudah ah, nanti Zeze terlambat," Risa meninggalkan Zhen dan berjalan menuju ke walk in closet, mengambil satu setel pakaian santai, berupa kaos dan celana pendek, lalu menyerahkan kepada abangnya itu.


"Ini abang pakai sendiri, Zeze ke ruang makan dulu, abang harus cepat-cepat turun lalu makan buburnya oke?"


"Hmm," jawab Zhen yang kini hanya bisa menatap punggung adiknya yang kini menghilang di balik pintu dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


Pria itu segera mengganti pakaiannya lalu turun, seperti pesan Zeline tadi, karena Zhen yakin, Zeline pasti menunggunya.


"Ayo bang makan, ini selagi buburnya masih hangat."


Zhen hanya mengangguk, menarik kursi lalu duduk, mulai mencicipi bubur buatan Zeline, yang membuat Zhen terkesan karena ini pertama kalinya dia menikmati masakan adiknya, dan entah enak atau tidak, Zhen akan menghabiskannya, tidak ingin Zeline kecewa. Tapi melihat lagi, entah kenapa Zhen ragu, bukan Zhen meremehkan masakan adiknya, tapi lebih kepada ini untuk yang pertama kalinya.


Risa lalu menatap Zhen, melipat kedua tangannya di atas meja.


"Ayo dong bang dimakan, jangan dilihatin aja, Zeze jamin abang pasti suka, dan mungkin bakal ketagihan. Ini spesial loh, Zeze buat buat abang tersayang."


"Ah iya…" Zhen terkejut, karena ternyata Zeline tengah memperhatikannya.


Risa yang melihat, Zhen tidak juga menyentuh sendok, mendorong kursi dan bangkit dari duduknya. Lalu berpindah di kursi yang ada di sebelah Zhen. Menarik mangkuk di depan pria itu, menyendoknya.


"Aaaa…."


Zhen refleks membuka mulutnya, gerakan mulutnya begitu pelan, tapi tiba-tiba matanya melotot begitu merasakan betapa enaknya masakan Zeze. Pria itu mengunyah dengan cepat. Lalu membuka mulutnya lagi dan lagi menerima suapan Zeline, hingga bubur di mangkuk habis tak tersisa.


Risa tentu saja tersenyum senang, melihat Zhen yang begitu menyukai makanan buatannya.


"Enak kan?"


Zhen mengangguk cepat. Risa kemudian menarik piring berisi makanan miliknya dan mulai melahapnya. Waktunya sudah tidak banyak lagi, karena dia harus secepatnya pergi bersekolah.


*

__ADS_1


*


Di tempat lain, seorang gadis tampak melangkah dengan tenang saat seorang pria mengajak dirinya untuk bertemu dengan orang tua pria itu.


"Ayo Ris, itu orang tua aku," pria itu menunjuk pada sepasang pria dan wanita yang tengah mengobrol dengan tamunya.


"Ma, pa…ini Risa."


Wanita paruh baya itu menoleh, saat pria di samping gadis yang dipanggil Risa.


Bisa gadis itu lihat dengan jelas bahwa sepasang suami istri itu menatapnya tidak suka.


"Selamat malam tante, om," Zeline yang tak lain adalah gadis yang dipanggil Risa mengulurkan tangannya, tapi sudah cukup lama, uluran tangannya sama sekali tidak mendapat tanggapan.


Zeline menarik tangannya kembali, lalu pandangannya bersitatap dengan Ardan yang menatapnya tidak enak.


"Ardan, kamu temui tamu papa yang baru saja datang dari kota, nanti papa nyusul," ucap pria itu pada sang putra yang langsung diangguki oleh Ardan.


Ardan lalu berpamitan pada Zeline, meninggalkan gadis itu bersama dengan orang tuanya.


"Kamu masih menemui anak saya rupanya, bukankah terakhir kali sudah pernah saya katakan, jangan deketin anak saya lagi. Mau naikin status dengan berhubungan dengan anak saya, jangan mimpi!"


Zeline menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, berusaha tersenyum. 


"Maaf sebelumnya om, tante, karena om dan tante mungkin harus kecewa, bukan aku kok yang ingin mendekati anak kalian, tapi anak kalian yang terus berusaha untuk mendekatiku, bahkan anak kalian sampai menungguku seharian loh, demi membujuk aku agar datang kesini, padahal sebelumnya aku sudah menolaknya, dan…" 


Zeline sengaja menggantung ucapannya, saat dari kejauhan dia melihat seseorang yang dikenalnya.


Sementara ayah dan ibu Ardan, seperti tidak sabar menunggu perkataan Zeline selanjutnya.


"Kalian tidak perlu khawatir, aku sudah memiliki kekasih," ucapnya saat melihat orang yang dilihatnya kini berjalan mendekat.


"Hai sayang, kamu akhirnya datang juga," ucap Zeline membuat kedua orang tua Ardan menoleh ke belakang, penasaran dengan siapa gadis itu berbicara.


Zeline berjalan mendekat dan merangkul lengan pria itu, sedikit berjinjit dan berbisik padanya.

__ADS_1


"Dir...Dirga?"


"Selamat malam om, tante...sebelumnya selamat, hmm ini ada sesuatu dari mami dan papi," pria yang ternyata adalah Dirga memberikan sesuatu kepada ibu Ardan, yang disambut dengan wajah kaku, apalagi saat melihat Dirga yang kini menatap Risa penuh puja. 


Dan orang tua Ardan baru menyadari bagaimana penampilan Risa saat ini yang tampil begitu memukau.


"Oh ya tante, om, kalau begitu Dirga pamit kesana dulu ya," pamitnya pada keduanya.


"Ayo sayang, temani aku makan, aku lapar," tambahnya membuat orang tua Ardan cengo saat mendengar keponakannya mengatakan sayang pada gadis yang begitu mereka benci karena begitu dekat dengan putra mereka dari sma.


"Ayo, aku juga sudah lapar," keduanya kemudian melangkah pergi tak peduli pada wajah kesal orang tua Ardan saat ini.


Setelah cukup jauh dari tempat tadi, Zeline buru-buru melepas tangannya. 


"Maaf bos."


"Nagapain kamu disini? Kamu mengenal om dan tante?"


"Hmm itu...aku…" Zeline bingung harus menjelaskan seperti apa, karena dia memang tidak tahu apapun, kecuali cerita Risa.


"Hmm kalau kenal banget sih tidak bos, hanya bertemu beberapa kali. Ardan dia teman sma ku."


"Kau dan Ardan satu sma?"


"Iya, bos mengenalnya?"


"Tentu saja dia sepupuku."


"Sepupu? Jadi?"


"Iya dia om dan tanteku. Dan aku sarankan kamu lebih baik tidak bersama dengan Ardan, dia terlalu patuh, hingga tidak mempunyai prinsip, dia cenderung mengikuti segala apapun perkataan orang tuanya. Dan yah...om dan tante selalu melihat orang dengan statusnya, dan maaf kamu…"


"Ya, aku paham dan mengerti," Zeline kemudian berjalan ke arah stand makanan, dia sudah datang kesini bukankah dia harus menikmati makanan yang sudah disajikan, ingin tahu bagaimana selera orang yang selalu memandang rendah orang lain.


"Hmmm lumayan…" gumam Zeline teramat pelan hingga Dirga yang mengikuti di belakangnya pun tidak bisa mendengarnya.

__ADS_1


Saat sedang menikmati makanan, tanpa sengaja pandangan Zeline tertuju pada seorang pria yang berjalan mendekat, Zeline buru-buru membalikkan badan, tak ingin jika pria itu melihatnya disini.


"Bos tolong, aku mau ke toilet," ucap Zeline memberikan piring itu pada Dirga sementara dirinya segera pergi dari tempat itu.


__ADS_2