
Zhen baru saja pulang ke tempat Risa, dan untungnya Risa memberikannya kunci cadangan sebelum tadi pagi dirinya berangkat.
Dan begitu masuk, Zhen tersenyum saat melihat Risa sedang menonton televisi. Dia segera mendekat lalu duduk di samping Risa. Zhen lalu memiringkan wajahnya, menatap Risa yang sama sekali tidak merespon kedatangannya. Dan tampaknya kekasihnya itu justru tenggelam dalam lamunannya sendiri.
"Sayang!" Zhen mencoba memanggilnya tapi Risa tidak menjawab bahkan menoleh padanya.
"Sayang!" Zhen menaik turunkan telapak tangannya di depan wajah Risa.
"Ah abang? Baru pulang?" Tanya Risa begitu sadar dari lamunannya.
"Kamu melamun?"
"Tidak, siapa juga yang melamun, abang saja kali yang jalan tanpa bersuara."
Zhen memegang kedua lengan Risa agar menghadap ke arahnya.
"Kenapa?" Tanya Zhen menatap mata Risa lekat, hanya sebentar karena Risa segera menjauhkan pandangannya agar tidak bersirobok dengan tatapan Zhen.
Tapi Zhen tak membiarkan begitu saja, dia menarik dagu Risa agar kembali menatapnya.
"Katakan ada apa?" Tanya Zhen lagi.
"Abang tidak pulang ke rumah?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan sayang!"
"Tidak apa-apa sungguh, lebih baik abang pulang ke rumah ya, temani Zeline agar dia merasa jika ada seseorang yang bisa dia andalkan. Besok juga Zeline mulai masuk sekolah kan? Dia cuma butuh teman dan perhatian, jika ada orang yang selalu ada disampingnya, aku yakin dia akan berubah."
Zhen menghela nafas panjang, dia tadi memang mendapat kabar jika Zeline sudah kembali ke rumah, walau sebenarnya masih ada pertanyaan dalam benaknya saat ini saat kabar itu juga mengatakan jika Zeline kembali dengan papanya.
"Aku pasti akan kembali, sekarang aku mau disini dulu, aku kangen sama kamu," Zhen segera menarik Risa ke dalam dekapannya.
"Abang…" Risa mendorong tubuh Zhen menjauh darinya.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Katakan saja, abang akan mendengarkan," ucap Zhen yang merasa ada sesuatu yang mengusik kekasihnya.
"Abang beneran akan pulang ke rumah kan bukan ke apartemen?" Risa menatap Zhen lekat berharap jika Zhen menjawab sesuai harapannya.
"Kenapa?" Zhen mengedarkan pandangan yang justru membuat Risa mendesah kesal karena tak kunjung mendapatkan jawaban pasti dari Zhen.
"Aga sudah datang?"
"Hmm."
__ADS_1
Zhen justru terkekeh dan mencubit kedua pipi Risa gemas.
'Lucu banget sih kalau cemburu jadi pengen kantongin aja.'
"Abang sakit tau…bukannya jawab pertanyaanku tadi malah senyum-senyum tidak jelas, masih senang karena baru ketemu mantan?"
Kini Zhen tergelak, ternyata benar dugaannya jika kekasihnya itu kini tengah cemburu.
"Kamu semakin menggemaskan jika sedang cemburu."
"Cemburu? Siapa juga yang cemburu," jawab Risa yang kini malah tampak memalingkan wajahnya.
Zhen tersenyum lalu merangkul Risa tapi Risa terus menolak dan menyingkirkan tangan Zhen yang melingkar di tubuhnya.
"Abang baru ketemu dia kemarin, abang tidak tahu jika dia juga tinggal disana. Tapi jika kamu ingin abang untuk pulang agar tidak tidak dekat dengan dia akan abang lakuin, kalau perlu abang akan beli apartemen lain jika abang sedang tidak ingin pulang ke rumah."
"Ya tidak perlu beli apartemen lain juga."
Zhen menautkan alisnya, "Memangnya kenapa? Duit abang banyak."
"Bukan karena itu ih."
"Terus…oh abang tau, kamu pengennya abang beli rumah buat masa depan kita, iya? Oke tidak apa-apa, tapi kalau rumah biar abang yang desain sendiri, kamu bilang aja sama abang mau rumah yang seperti apa."
"Jauh banget ngomongnya sampai kesitu, lagian belum tentu kita…"
"Abang!"
"Makanya jangan ngomong gitu lagi, memangnya kamu tidak ingin hidup bersama abang sampai nanti hmm?"
"Ya tapi kan…"
Zhen meraih tangan Risa dan menggenggamnya.
"Dengarkan abang! Dengan kamu saja sudah lebih dari cukup bagi abang. Yang abang mau hanya kamu dan abang harap kamu juga begitu. Selain kamu, bagi abang sudah tidak ada yang menarik lagi. Lalu kenapa abang harus melirik yang lain, bahkan mereka belum tentu seperti kamu yang buat abang nyaman dan merasa berarti. Walau mungkin kamu baru saja hadir di hidup abang, tapi abang yakin jika kamu yang terbaik untuk abang, kamu memang dikirim untuk menyembuhkan luka abang dan menemani abang sampai kapanpun."
"Abang…"
"Abang tidak mau dengar yang lain lagi, pokoknya kamu harus mau, tapi mungkin kamu harus sabar menunggu, karena banyak hal yang harus abang selesaikan dulu, dan setelah itu kita akan hidup bersama selamanya, oke?" Ucap Zhen yang sedikit memaksa.
Risa mengangguk dengan air mata yang berderai, dia tidak menyangka, di balik banyak kejadian saat dirinya menjadi Zeline, satu yang tidak pernah Risa sesali, yaitu dirinya yang bertemu dengan Zhen dan mendapatkan cinta darinya. Hal itu benar-benar di luar dugaan Risa.
"Kok malah nangis sih?" Zhen menyeka air mata Risa yang terus turun membasahi pipi.
__ADS_1
"Aku sayang sama abang, cinta juga sama abang," ucap Risa yang kini menabrakkan diri ke tubuh Zhen.
Zhen tersenyum melingkarkan kedua tangan pada tubuh Risa, memeluknya erat.
"Abang juga sayang dan cinta sama kamu, jadi apapun masalah yang mungkin akan datang menguji cinta kita, abang mau kita hadapi sama-sama ya, jangan pernah menyerah dan jangan tinggalkan abang hanya karena orang-orang yang mungkin tidak suka dengan kebersamaan kita. Karena cinta kita tidak akan bisa terwujud jika hanya satu orang yang berjuang."
Zhen semakin mengeratkan pelukan saat merasakan anggukan Risa.
"Semoga bahagia menyertai kalian," ucap seseorang yang berdiri di depan pintu begitu menyaksikan dan mendengar percakapan Risa dan Zhen.
*
*
Sementara itu, di tempat lain seorang gadis baru turun dari sebuah mobil, gadis itu mengernyit saat orang yang bersamanya tidak ikut turun. Dia lalu mendekat dan mengetuk kaca pintu mobil. Hingga tak lama terlihat kaca itu bergerak turun dan memperlihat seorang pria yang kini masih memegang setir.
"Kenapa papa tidak ikut turun? Papa mau menemui wanita itu?"
"Kamu masuk saja, papa ada urusan penting."
"Urusan penting? Sebegitu pentingnya dia?"
"Zeline papa tidak ingin membuat keributan disini, kamu cepat masuk, nanti pulang papa ingin bicara sama kamu."
Brak
Zeline memukul pintu mobil sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Papa Zeline hanya menghela nafas, lalu mulai menancapkan gas, melajukan mobilnya kembali. Melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, kini akhirnya mobil papa Zeline itu sudah kembali ke tempat dirinya berada tadi.
"Aku di unit, kamu langsung naik aja," ucap seseorang di seberang telepon sata papa Zeline menghubunginya.
Papa Zeline bergegas masuk ke lift. Hingga saat lift menunjuk angka yang dituju dan pintu terbuka, dia segera keluar. Berjalan melewati lorong dan memencet bel salah satu pintu. Tak butuh lama, karena dalam hitungan detik pintu sudah terbuka sempurna.
"Apa saja yang tadi kamu katakan?" Tanya papa Zeline tanpa basa-basi begitu masuk.
"Kenapa kamu bertanya tentang itu?" Wanita itu merangkul lengan papa Zeline tapi dengan cepat Abi melepaskannya.
"Aku harap kamu jaga sikap Viona!"
"Kamu kenapa tiba-tiba datang langsung marah-marah, karena aku tadi berbicara padanya? Atau karena aku yang ingin kita bersikap mesra seperti pasangan kebanyakan?"
"Kedatanganku kesini hanya mengingatkan padamu, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak padanya lagi, jika kamu masih ingin menikah denganku," ucap Abi lalu berbalik pergi.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Mas Abi!" Teriak Viona yang sama sekali tidak digubris oleh Abi.
"Jika sampai kau tidak menikahiku, kau akan tahu akibatnya! Si*al!" Ucap Viona membanting pintu apartemennya saat Abi justru terus berjalan menjauh, mengabaikan perkataannya.