Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 63


__ADS_3

Zhen segera menjauh saat wanita itu masuk ke dalam lift. Aga hanya diam, melirik Zhen dan wanita itu bergantian, sebenarnya canggung jika berada di antara keduanya, tapi Aga juga tidak mungkin meninggalkan Zhen dengan wanita itu, terlebih Aga tahu jika kakaknya begitu mencintai Zhen. Pintu lift kembali tertutup, Aga memutuskan untuk tetap berada di dalam, jiwa kepo nya meronta-ronta, dia ingin tahu apa yang akan kedua orang itu bicarakan atau mereka hanya akan saling diam.


"Tidak bertemu di cafe, kita bisa bertemu disini ya, sepertinya dunia begitu sempit," ujar wanita itu, membuat Aga mengernyit heran sementara Zhen pria itu tampak sibuk dengan ponselnya, sedang berbalas pesan dengan Risa. Bahkan Zhen terus senyum-senyum sendiri, membuat Aga bergidik ngeri, sementara wanita itu justru terlihat begitu kesal, karena merasa diabaikan oleh kedua pria yang dikenalnya itu.


"Kamu kenapa disini Aga?" Tanya wanita tadi, yang jelas ditujukan pada adik Risa itu.


"Oh, habis main di tempat teman, dan ini mau menginap di salah satunya," jawab Aga.


"Loh kenapa kamu tidak bareng sama Risa, kalian tadi habis makan bareng juga, aku kira kamu hanya main bahkan menginap di rumah teman, kasihan loh kakak kamu, kamu bilang kesini karena sedang liburan dan ingin main ke tempat kakak kamu. Tapi disini kamu justru sibuk main sendiri."


"Aku sudah izin kok kak sama mbak Risa, mbak Risa juga tidak keberatan."


"Ya mungkin saja kakakmu tidak enak melarangmu, harusnya kamu yang lebih peka sebagai pria, jangan mengabaikan, giliran dia sudah dapat kesenangan baru, kamu sendirilah loh yang akan menyesal."


Dahi Aga semakin mengerut dirinya benar-benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan teman kakaknya itu, yang menurut Aga sangat tidak nyambung.


Aga kemudian menyadari Viona yang saat ini tengah melirik Zhen, dan kini Aga pun mengangguk mengerti, sepertinya ucapan Viona tadi bukan ditunjukkan kepadanya melainkan pria yang kini benar-benar fokus dengan benda pipih miliknya. Bahkan Aga sangat yakin, jika Zhen sama sekali tidak mendengarkan ucapan Viona barusan yang tengah menyindirnya.


Ting


Pintu lift terbuka, Zhen melihat sebentar ke atas, lalu melangkah keluar lift.

__ADS_1


Viona menghentakkan kakinya kesal, karena Zhen sama sekali tidak menggubrisnya. Bahkan pria itu berjalan begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Tangan Viona mengepal bersamaan dengan pintu lift yang kembali tertutup.


"Sepertinya dia begitu kesal."


Zhen menoleh dan melihat Aga yang kini mencoba menyeimbangi langkah Zhen.


"Kenapa kamu turun disini?" Tanya Zhen saat Aga malah mengikutinya.


"Aku akan menginap di tempat abang. Hanya tak ingin saja nanti abang clbk, secara kan kalian tinggal di apartemen yang sama, bukan tidak mungkin kan jika kalian akan terus bertemu, lalu benih-benih cinta muncul kembali."


"Aku bukan orang seperti itu."


Zhen mendengus, lalu berjalan cepat menyusul Aga.


"Kamu…"


Aga menatap Zhen lalu duduk di sofa.


"Aku tidak suka dengannya, dia itu…intinya aku tidak suka dengan wanita yang pandai berpura-pura seperti dirinya," jawab Aga merebahkan dirinya di sofa, melipat tangan dan meletakkan di atas matanya yang terpejam.


"Maksud kamu?" Tanya Zhen tapi tidak juga mendapat jawaban Aga. 

__ADS_1


Zhen mendengus saat mendengar dengkuran halus yang menandakan bahwa Aga sudah tertidur.


"Cepat sekali tidurnya," gumam Zhen yang kini berjalan melangkah menuju kamarnya. Zhen ingin membersihkan diri sebelum tidur.


Sementara Aga membuka kembali matanya, begitu mendengar suara pintu yang tertutup. Aga menghela nafasnya, pandangannya menatap langit-langit. Pikirannya menerawang kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Iya tante, Risa memang selalu seperti itu. Tante harus hati-hati saja. Jangan biarkan dia dekat dengan anak tante. Tante sudah lihat sendiri bagaimana Ardan sama Risa, jika tante membiarkannya, maka…"


Sepotong percakapan wanita itu masih bisa Aga ingat dengan jelas. Saat itu, Aga masih sma, dia yang sedang kerja kelompok dengan beberapa temannya di sebuah cafe, melihat teman kakaknya itu datang bersama dengan wanita yang Aga juga kenal. Awalnya Aga berniat menghampiri untuk menyapa keduanya, tapi dia justru mendengar hal yang begitu menyakitkan. Ya bagi Aga, jika ada orang yang membicarakan keluarganya, itu sangat menyakiti hatinya. Dia tidak menyangka teman kakaknya yang diperlakukan baik oleh keluarganya justru diam-diam menikam dari belakang. Dengan tangan mengepal Aga meninggalkan tempat itu, ingin rasanya Aga tetap menghampiri mereka, tapi Aga sadar siapa dirinya, jika sedikit saja dia membuat masalah, itu akan berakibat fatal dengan keluarganya. Selain itu, Aga selalu mengingat pesan orang tuanya, bahwa dia tidak boleh membalas orang yang tidak menyukai mereka dengan rasa benci yang sama.


Aga terus berjalan, hingga dia tiba di sebuah cafe, tempat kakaknya bekerja part time. Melihat kakaknya tersenyum bahkan tertawa bersama teman kerjanya, membuat Aga tidak tega membuat senyuman itu hilang. Aga terus memperhatikan kakaknya hingga saat Risa melihatnya dan melambaikan tangan padanya, Aga tersenyum, lalu berjalan mendekat.


Ingin sekali menceritakan kejadian itu, tapi Aga terus menundanya, dia pikir dia akan menunggu waktu yang tepat, hingga saat itu tiba. Ayahnya masuk rumah sakit dan mereka tidak punya uang cukup besar, untuk membayar biaya operasi sang ayah. Teman Risa tiba-tiba datang dan menjadi pahlawan. Risa sangat berterima kasih, dan menganggap jika dia berhutang budi padanya. Risa berjanji akan melunasinya. Dan walaupun Risa sudah mengembalikan uangnya, tapi Risa tetap saja menganggap wanita itu sangat baik. Risa selalu membangga-banggakannya di depan keluarganya. Dan Aga akhirnya memilih untuk menutup rapat-rapat apa yang pernah didengarnya, dia hanya mengingatkan kakaknya untuk selalu berhati-hati, dan jangan menceritakan apapun masalah pribadinya pada orang lain walaupun itu temannya sendiri. Aga hanya tidak ingin, jika wanita itu, nantinya akan menggunakan hal itu sebagai kelemahan Risa. Dan sebagai gantinya, Aga meminta Risa untuk menceritakan apapun hanya padanya. Dan satu hal yang pasti, Aga yakin suatu saat kakaknya akan tahu sendiri bagaimana sifat wanita itu yang sebenarnya.


Aga lalu merubah posisinya menjadi miring menghadap ke arah sandaran sofa. Tak lama dia kini akhirnya benar-benar terlelap.


Zhen keluar dari kamarnya dan melihat Aga yang masih lelap.


"Padahal bisa tidur di kamar satunya," gumam Zhen, dia kemudian melangkah ke dapur untuk mengambil minuman. Tapi baru beberapa langkah, dirinya terpaksa berhenti dan berbalik saat mendengar bel apartemennya berbunyi.


"Siapa yang bertamu malam-malam begini," gumam Zhen yang kemudian melangkah menuju pintu.

__ADS_1


__ADS_2