Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 60


__ADS_3

"Abang kenapa?"


Zhen menoleh lalu menggeleng," Sudah sampai," ucapnya kemudian.


Pria itu segera turun, lalu membukakan pintu untuk Risa.


"Ayo!" Zhen mengulurkan tangan, menggandeng kekasihnya.


Keduanya berjalan bersama menuju tempat tinggal Risa.


"Boleh abang masuk?" Tanya Zhen begitu mereka sampai di depan kos an Risa.


"Tapi ini sudah malam."


"Abang lapar, tadi abang hanya makan sedikit saja kan?"


Risa menatap Zhen, benar apa yang pria itu katakan, dia hanya makan sedikit, justru dirinya yang menghabiskan makanan milik Zhen.


"Abang ingin memakan masakanmu lagi, bagaimana?"


"Lagi?" Tanya Risa mengernyitkan dahi bingung.


"Iya," ucap Zhen yang kini langsung masuk begitu pintu kos an Risa sudah terbuka.


Risa mengedikan bahu, lalu segera menyusul Zhen. Tidak lupa dirinya membuka pintu lebar-lebar, agar terhindar dari fitnah.


"Tapi aku tidak tahu masih ada bahan yang dimasak tidak, kemarin aku datang, tidak lama kan pergi lagi," Risa berjalan ke arah kulkas satu pintu yang terletak di samping dispenser.


Zhen mengekori Risa, ikut melihat apa saja yang ada di dalam kulkas.


"Tinggal itu!"


"Hmm seadanya aja, apapun yang kamu masak apa abang pasti akan makan."


Risa mengangguk-angguk kepalanya.


"Tapi bagaimana jika masakanku tidak enak?" Tanya Risa menoleh ke belakang, menatap Zhen yang bersandar di dinding dengan kedua tangan yang bersedekap.


"Tetap abang habiskan."


"Oke," Risa pun mulai mencuci sayuran yang tadi diambilnya.


Tiba-tiba tubuh Risa menegang saat  tangan Zhen melingkari tubuhnya.


"Ini  dilipat dulu sayang, nanti basah," ucapnya tepat di telinga Risa, Risa yang merasakan hembusan nafas Zhen, seketika merinding.


Risa segera mematikan kran, "A…aku bisa sendiri abang," ucap Risa gugup.

__ADS_1


"Padahal abang hanya ingin membantu," kata Zhen mengulum senyumnya, dia sebenarnya sengaja melakukan hal itu. Suka saja melihat wajah Risa yang merona seperti saat ini.


"Abang duduk saja di sana!" Pinta Risa menunjuk ke arah tempat tidurnya.


"Yakin tidak mau abang bantu?" Zhen mendekatkan wajahnya membuat Risa dengan segera menghindar.


"Hmm sangat yakin, sudah ih sana!" Risa mendorong tubuh Zhen. 


Dan gadis itu kesal, saat mendengar gelak tawa pria yang dia sukai itu. Risa sudah merasa jika Zhen dari tadi memang sengaja menggodanya.


"Iya…iya…cium dulu dong!"


"Tidak abang."


"Yah gak asyik," dengan gontai Zhen pun melangkah pergi, membuat Risa tersenyum menang, tapi tak Risa duga, jika tiba-tiba saja Zhen berbalik dan langsung mencium Risa.


"Abang!" Risa memukul dada Zhen pelan begitu ciuman mereka terlepas.


Zhen hanya terkekeh, menangkap tangan Risa lalu mengecupnya cukup lama.


"Lanjutkan memasaknya, abang tidak akan mengganggu lagi," ucap Zhen yang kini benar-benar melangkah pergi, duduk di atas kasur Risa meraih remote dan menyalakan televisi.


Zhen sebenarnya tidak benar-benar menonton televisi, karena sedari tadi pandangan Zhen terus tertuju pada Risa yang kini sudah berkutat dengan peralatan memasaknya. 


Dan saat Risa selesai, dan  memindahkan makanan buatannya, lalu hendak membawanya ke tempat Zhen berada, barulah Zhen melihat ke arah tv, pura-pura menonton.


"Ya, ini dimakan dulu," kata Risa yang memang tidak tahu jika sedari tadi Zhen terus memperhatikannya.


Zhen bangkit dari duduknya lalu mendekat dan duduk di samping Risa.


"Ini?"


"Oh itu Aga yang bawa, dia tidak tahu aku kembali, makanya dia beli itu untuk Zeline.


Zhen manggut-manggut, lalu mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Masih sama rasanya, dan abang suka."


"Hah?"


"Masakan kamu sayang, masih sama rasanya tidak berubah, selalu enak."


Risa semakin bingung, tidak mengerti maksud perkataan Zhen.


"Ya kan abang baru pertama kali mencoba masakanku, bagaimana abang bilang jika  rasanya masih sama."


Zhen tidak menyahuti ucapan Risa justru sibuk melahap makanannya, membiarkan Risa dengan rasa penasaran dan kebingungannya.

__ADS_1


*


*


"Ini baru anak mama," ucap Anita saat memindai tubuh gadis yang berdiri di depannya.


"Maksud mama?" Tanya Zeline mengernyitkan dahi bingung.


Anita tak menjawab pertanyan Zeline, dia justru menarik tangan Zeline dan memintanya untuk duduk. Lalu Anita menarik kursi memposisikan agar berhadapan dengan kursi yang Zeline duduki. Lalu ia dengan segera duduk disana.


"Kamu dari mana saja sayang?" Tanya Anita sambil menyelipkan rambut Zeline ke belakang telinga.


"Kenapa mama bertanya seperti itu? Jelas saja Zeze ada di rumah ini terus, kalaupun pergi, Zeze hanya pergi ke sekolah memangnya mau kemana lagi.


Anita terdiam lalu tersenyum, "Tidak apa-apa, mama hanya bertanya saja. Oh ya, tadi kamu pergi sama abang, lalu abang kemana? Kenapa kamu pulang sendiri?"


"Hah? Oh abang? Hmm abang…"Zeline tampak  berpikir, mencari jawaban yang sekiranya masuk akal, tentunya agar mamanya tidak curiga.


"Oh itu, abang katanya mau bertemu temannya ma."


"Bertemu teman?" Tanya Anita menatap Zeline yang enggan membalas tatapannya, membuat Anita yakin, jika jawaban yang Zeline berikan bukanlah jawaban yang benar.


'Sampai kapan kamu akan membohongi mama jika gadis itu memaksa bertukar tempat denganmu, kamu masih terlalu polos,   tidak tahu jika mungkin saja gadis itu memanfaatkanmu, dia pasti senang sekarang karena sudah berhasil memanfaatkan mama juga. Padahal harusnya siang tadi mama habiskan uang mama untukmu, tapi mama yang awalnya tidak tahu, malah memborong semuanya untuk dia,' ucap Anita dalam hati yang masih mengira jika Risa lah yang meminta Zeline untuk bertukar peran.


Anita menghela nafas panjang, dirinya harus memikirkan cara, agar putrinya menolak apa yang gadis itu katakan. 


"Hmm ma, Zeze lapar, ayo kita makan," ajak Zeline yang tidak ingin diinterogasi lebih banyak oleh mamanya.


"Oh iya," jawab Anita begitu tersadar dari lamunan. Dia kemudian mengangguk dan merubah posisi hingga menghadap meja makan, begitu pun dengan Zeline. Keduanya kemudian, makan dengan tenang.


"Zeline ke kamar dulu ya ma," pamit Zeline begitu sudah menghabiskan makanannya.


"Iya sayang."


Setelah mendapat jawaban dari mamanya, Zeline berjalan pergi, melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Dia harus kembali menghubungi Risa. Dia menganggap ucapan Risa sebelumnya bukan yang sebenarnya, mungkin saja Risa marah karena abangnya tiba-tiba mengajak dirinya pulang.


Sebelum menelpon, Zeline lebih dulu mengirimi Risa pesan, karena Zeline sudah tahu tentang Risa yang memang tidak suka bertelepon jika tidak benar-benar penting.


"Gue mau ngomong sama lo mbak, sebentar lagi aku telepon," tulisnya lalu segera Zeline kirimkan pada nomor Risa.


Zeline terus melangkah hingga saat sesudah melewati tangga terakhir, dirinya terkejut saat melihat papanya yang berdiri sambil menatapnya tajam.


"Papa…"


"Akhiri hubunganmu dengan Zhen, dia kakakmu Zeline. Dan yang papa minta ini, tidak ada kaitannya dengan hubungan papa dan Viona. Jadi…"


"Apa maksud papa? Viona? Apa hubungan papa dengannya? Siapa dia pa?" 

__ADS_1


Sama seperti Zeline yang terkejut, Abi ayah Zeline pun sama terkejutnya, tapi rasa terkejut Abi Justru membuatnya bingung. Terutama saat melihat ekspresi Zeline yang benar-benar memperlihatkan rasa kecewanya, bukan karena Zeline berpura-pura tidak tahu apa-apa.


__ADS_2