Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 61


__ADS_3

"Apa maksud papa? Katakan pa! Kenapa papa diam saja? Siapa Viona? Ada hubungan apa papa dengannya? Kenapa papa membandingkan hubungan aku dan abang, dengan hubungan papa dan wanita itu? Papa selingkuh? Papa mengkhianati mama? Katakan pa!"


Abi mengurut pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut mendengar rentetan pertanyaan-pertanyaan yang putrinya ajukan. Terlebih lagi dengan pertanyaan Zeline yang menunjukkan bahwa putrinya itu tidak tahu apa-apa.


'Kenapa bisa? Bukankah Zeline yang waktu itu mengungkapkan hubungannya dan Viona, lalu apa sekarang yang ia dengar?' Dalam hati, Abi sibuk mencoba mencernanya. 


"Zeline ayo masuk!" 


Hingga Abi tersadar saat mendengar sayup suara istrinya. Abi menegakkan kepalanya dan melihat sang istri merangkul Zeline dan berusaha membawa putri mereka masuk ke kamarnya.


"Tidak ma, Zeze gak mau masuk, Zeze mau dengar jawaban papa."


"Tidak sayang, kamu harus masuk sekarang!" Ucap Anita.


Dia yang tadi hendak menemui putranya untuk mengatakan agar Zeline menjauhi Risa, mematung saat mendengar pertanyaan-pertanyaan Zeline kepada suaminya. Anita bukan tak tahu hal itu, tapi dia hanya tidak menyangka, kenapa Abi sampai membongkar hubungannya dengan wanita itu di depan putri mereka. Padahal Anita selama ini berusaha menutup rapat-rapat hal itu, berharap suaminya sadar dan berubah, meninggalkan wanita itu dan kembali padanya, memulai hidup baru bersama dengan anak-anaknya. Walaupun Anita sempat kecewa, saat mendengar suaminya mengungkapkan bahwa dia akan menikahi wanita itu dan membuat pilihan sulit untuknya. Dadanya terasa sesak saat melihat air mata Zeline berjatuhan, dia yakin jika Zeline sudah menebak apa yang terjadi sebenarnya.


"Papa mengkhianati mama, mama dengar semuanya kan tadi? Mama sudah tahu? Kenapa mama sama sekali tidak terkejut?"


"Sayang," Anita mencoba meraih tangan Zeline.


Tapi Zeline dengan cepat menepisnya, dia segera berlari dan masuk ke kamarnya, mendorong pintu cukup keras hingga terdengar debuman, Zeline segera mengunci pintu kamarnya, berbalik bersandar pada pintu. Perlahan tubuhnya merosot dan jatuh di lantai yang dingin, tangisnya kembali pecah.


"Kenapa? Kenapa hal seperti ini selalu terjadi padaku? Ditinggalkan, diabaikan dan sekarang…" Zeline menangis tersedu-sedu. Sungguh hatinya begitu sakit saat tahu bahwa semua impiannya ternyata sudah hancur. Impian yang begitu sederhana bagi seorang gadis kaya seperti Zeline. Dia hanya ingin hidup bersama keluarganya dengan kebahagiaan dan saling menyayangi.


Zeline tiba-tiba tertawa kencang, saat impian itu hanya khayalannya saja. Mendengar papanya tadi, bukankah menandakan bahwa pria itu sudah tidak menyayangi mamanya. Lalu bagaimana bahagia, jika mereka tidak saling menyayangi satu sama lain?"


"Akkkhhh!" Zeline berteriak meremas rambutnya sendiri cukup kencang. Membuat kedua orang tuanya yang masih berdiri di luar kamarnya khawatir saat mendengar teriakan Zeline.


Anita kini bahkan mengetuk-ngetuk pintu kamar Zeline meminta sang putri untuk membukanya, dia khawatir jika membiarkan Zeline seorang diri di kamarnya, terlebih dengan kondisinya yang bisa Anita yakini jika putrinya tidak baik-baik saja.


"Zeze buka sayang! Zeline! Ini mama. Zeze buka!" Anita terus menggedor-gedor pintu yang tertutup itu.


Dia lalu berbalik dan menatap tajam suaminya. 


"Lihatlah! Lihat apa yang kau lakukan? Kau menyakitinya! Kenapa? Kenapa kau harus mengatakan itu pada Zeline? Jika kau ingin menikahi wanita itu, nikahi saja, nikahi diam-diam dan jangan melibatkan kami, lihatlah sekarang, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Zeline. Kau tahu Zeline belum cukup dewasa untuk menerima hal seperti ini. Sudah cukup kita selama ini mengabaikannya karena keegoisan kita. Dan sekarang, lihat apa yang kau lakukan, kau kembali membuatnya sedih hanya karena kau tidak sabar ingin bersama wanita itu."


"Itu bukan seperti yang kau pikirkan," lirih Abi.


Anita hanya tertawa miring mendengar perkataan suaminya. Dia kembali berbalik dan mencoba lagi mengetuk pintu kamar Zeline, berharap untuk kali ini putrinya mau mendengarkannya dan akhirnya membuka pintu.

__ADS_1


*


*


Zhen membalikkan ponselnya yang tergeletak di samping dirinya duduk. Saat ini dia dan Risa sedang menonton drama di ponsel Risa. 


"Dari siapa bang? Jawab saja, mungkin penting," Risa yang tadi menyandarkan kepalanya di bahu Zhen kini menegakkan badan dan menatap kekasihnya yang seperti enggan menjawab panggilan itu.


"Abang!"


Risa yang tidak sabar, menunggu jawaban Zhen kini mencoba mengambil ponsel milik pria itu.


"Papa," gumam Risa saat membaca nama yang tertulis di layar.


"Ini dari papa, abang jawab gih!"


"Tidak usah," ucap Zhen mengambil ponsel yang ada di tangan Risa. Membiarkan panggilan itu berakhir lalu menonaktifkannya.


"Bagaimana jika itu penting, tentang Zeline misalnya?"


Zhen menatap kekasihnya lalu tersenyum.


Risa mendengus, sementara Zhen terkekeh.


"Abang terlalu percaya diri."


Zhen lalu menarik Risa ke dalam pelukannya.


"Jika itu tentang Zeline, abang hanya ingin Zeline menyelesaikan masalahnya sendiri. Kamu tahu kenapa, karena dengan menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi sendiri, itu bisa mengajarkannya agar bisa bersikap dewasa. Tidak sedikit-sedikit menelpon untuk meminta orang lain menyelesaikan masalahnya, sementara dirinya lari dari masalah. Jika terus seperti itu kapan dia bisa dewasa? Yang ada nanti dia terus bergantung pada orang lain. Abang tidak ingin Zeline tumbuh menjadi gadis seperti itu."


Zhen mengecup puncak kepala Risa berkali-kali, menghirup aroma rambut Risa yang menenangkannya. Sebenarnya Zhen khawatir jika apa yang dikatakan Risa tadi benar, soal papanya yang menelpon dan bagaimana jika itu menyangkut Zeline. Tapi Zhen harus benar-benar mendidik adiknya. Dia tidak mau, jika Zeline akan kembali menyeret Risa dalam masalah keluarga mereka. 


"Hmm sudah jam sepuluh, abang tidak pulang?" Tanya Risa saat melihat jam di ponselnya. 


"Ah iya benar, kenapa cepat sekali?"


Zhen lalu berdiri, Risa pun mengikutinya.


"Abang mau pulang sekarang?" Tanya Risa berdiri di hadapan Zhen.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu menyesal sudah menyuruh abang pulang, atau kamu mau abang tetap disini?" Ucap Zhen menaik turunkan alisnya, dan Risa dengan segera memalingkan wajahnya.


"Bukan seperti itu."


"Lalu?" Zhen sengaja mendekatkan wajahnya, kepalanya sedikit dimiringkan, ingin tahu reaksi Risa.


Risa segera mundur beberapa langkah, hingga membuat Zhen terkekeh.


"Aku hanya mau tanya, abang pulang ke rumah kan?"


"Memangnya kemana lagi, jika abang tidak pulang ke rumah?" Zhen justru balik bertanya, Risa yang mendengarnya mendengus kesal.


"Ya sudah sana pulang!" Kata Risa mendorong tubuh Zhen keluar pintu.


"Hmm, abang pulang dulu, oh ya abang sampai lupa, mana ponsel kamu," ucap Zhen menengadahkan tangannya.


"Untuk?" Tanya Risa bingung tapi tetap memberikan ponsel miliknya pada Zhen.


Zhen mengetikan beberapa nomor lalu memanggilnya.


"Sudah, nanti abang akan hubungi kamu," Zhen meraih tangan Risa dan meletakkan ponsel di telapak tangan gadisnya.


"Kamu hati-hati di rumah," ucap Zhen sambil menarik Risa ke dalam pelukannya.


Cup 


Setelah pelukan mereka terlepas, Zhen mengecup kening Risa cukup lama, barulah setelah itu, dia berlalu pergi. Sesekali Zhen berbalik dan tersenyum pada Risa yang masih berdiri di depan pintu menatap kepergiannya.


"Abang pulang dulu!" Teriak Zhen.


"Iya hati-hati."


Zhen lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya dirinya lenyap dari arah pandang Risa.


Risa lalu mengangkat ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Dengan segera ia membuka layar ponsel dan membaca pesan yang baru saja masuk.


Risa menarik sudut bibirnya ke atas, saat membaca pesan yang rupanya dari Zhen.


"I Love You."

__ADS_1


"Love you too abang," balas Risa yang kini menepuk kedua pipinya yang tiba-tiba memanas. Risa tersenyum dan segera berjalan masuk dengan derap langkah semangat.


__ADS_2