
"Nanti bunga-bunga cantik ini bisa hancur karena mbak."
Risa menoleh, menatap adiknya yang kini duduk di sampingnya, mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Mbak menghela nafas berkali-kali seperti itu. Kenapa? Ada masalah?"
Bukannya menjawab, Risa justru menyandarkan kepalanya di bahu Aga. Sementara Aga mengelus rambut kakaknya penuh sayang.
"Mbak harus gimana ya Aga?"
"Soal kak Ardan?"
Risa hanya mengangguk lemah.
"Kenapa mbak tidak mau sama kak Ardan? Setahuku dia pria yang baik, dia juga kelihatan jelas jika sayang sama mbak."
"Gak tahu. Selain keluarga kita berbeda, rasanya mbak…"
"Ya sudah kalau mbak ragu sebaiknya gak usa."
"Tapi mbak uda janji mau datang ke acara orang tua nya."
"Ya sudah kakak datang."
Risa menegakkan badan menatap sang adik yang dengan entengnya berbicara.
"Kamu gampang ngomong."
"Sudah-sudah, ayo kita masuk, takut ibu bangun dan nyariin."
Risa menghembuskan nafas, lalu bangkit dari duduknya, mengikuti Aga yang menarik tangannya. Keduanya lalu kini melangkah bersama menuju ke ruang rawat ibu mereka.
Dan benar saja, saat mereka kembali ibu Risa sudah bangun, dan kini sedang dibantu oleh perawat untuk duduk.
"Biar kami saja sus," Risa segera mengambil alih membantu ibunya.
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu."
Risa dan Aga mengangguk, Risa kini membenarkan posisi duduk ibunya, sedang Aga dia duduk mengupaskan buah untuk sang ibu.
"Maaf ya sudah ninggalin ibu sendiri," ujar Risa menggenggam tangan ibunya, merasa bersalah.
"Ibu tidak apa-apa Nak, ibu juga baik-baik saja kan? Lagian tadi juga ada perawat yang membantu ibu."
"Tapi…"
"Sudah bu, jangan dengarkan mbak, lebih baik ibu makan buah dulu, biar cepat sehat," kata Aga memotong ucapan Risa, sambill menyuapkan buah pada ibunya.
Risa memanyunkan bibirnya kesal, karena Aga tiba-tiba memotong ucapannya.
"Tuh lihat mbak bu! kayak anak kecil saja, ini seharusnya Aga yang jadi kakaknya," ucap Aga yang langsung dihadiahi cubitan oleh Risa, membuat ibu keduanya tersenyum, karena melihat anak-anaknya yang terlihat saling menyayangi.
'Lihatlah pak, anak-anak kita, bapak pasti senang melihat mereka seperti ini,' ucap ibu Risa dalam hati yang tanpa sadar setetes air mata jatuh begitu saja membasahi wajahnya yang sudah banyak kerutan.
Risa melepaskan cubitannya, begitu mendapati ibunya yang tengah menangis. Gadis itu kemudian langsung membawa sang ibu ke pelukannya.
__ADS_1
"Ibu…"
"Ibu tidak apa-apa Nak, ibu hanya ingat bapak kalian."
Mendengar kata ayah, Aga pun ikut mendekat dan memeluk kedua wanita yang begitu disayanginya
"Bapak sudah bahagia disana bu, jadi ibu jangan menangis lagi ya, nanti yang ada bapak ikut sedih," ucap Risa sambil menghapus air matanya yang juga tiba-tiba ikut menetes. Mungkin karena mengingat bapaknya yang sudah lebih dulu berpulang.
"Iya bu mbak benar, kita jangan bersedih-sedih lagi ya, kita harus bahagia, biar bapak juga bahagia," ucap Aga ikut menimpali.
Risa merasakan ibunya kini mengangguk, setelahnya Risa pun melepaskan pelukannya begitu Aga lebih dulu melepasnya.
Risa lalu menyeka sisa air mata di wajah ibunya dan tersenyum, yang kini juga menular ke sang ibu.
Ketiganya kemudian mengobrol, membahas apapun yang membuat mereka senang hingga Risa melupakan sejenak masalah dirinya yang harus pergi ke acara orang tua Ardan, juga kesedihan yang sempat kembali dirasakannya saat mengingat sosok pria cinta pertamanya.
*
*
"Abang kok tidak turun-turun bi?"
Bi Irma yang sedang membersihkan sekitar meja makan, menghentikan kegiatannya.
"Bi?"
"Tuan Zhen sudah berangkat pagi-pagi sekali Non."
Zeline meletakkan roti isi selai yang sedang dimakannya begitu saja.
Zeze mendorong kasar kursinya, bangun dan segera pergi ke sekolahnya.
Selama perjalanan, Zeline terlihat murung, dia diam saja, merasa aneh dengan abangnya, Risa bilang, abangnya tidak bersikap dingin lagi, tapi buktinya abangnya justru seperti menghindarinya, bahkan terlihat jelas abangnya tidak suka jika dia ada di rumah.
"Apa Risa berbohong, agar gue mau kembali menjadi diriku dan dia bisa pulang?"
Zeline mengepalkan kedua tangan merasa marah jika Risa memang seperti itu.
"Tunggu saja Risa, kamu tidak bisa mempermainkan seorang Zeline begitu saja."
"Kita sudah sampai Non."
Ucapan sang sopir membuyarkan lamunan Zeline.
Zeline tanpa menyahut langsung turun begitu saja. Dia melangkah dengan malas, bahkan sepanjang jalan gadis itu, tampak menendang-nendang udara.
"Ngapain woy, abang lo marah lagi?" Zeline menoleh sebentar lalu kembali berjalan mengabaikan pertanyaan Evan.
"Sepertinya," jawab Rio saat melihat tatapan Evan padanya.
Zeline kemudian berhenti melangkah, menatap Rio dan Evan bergantian, tersenyum dan merangkul keduanya.
"Bagaimana kalau kita cabut saja," ucap Zeline dengan suara pelan, takut ada orang yang mendengarnya.
"Sepertinya perasuknya sudah hilang."
__ADS_1
"Bisa jadi, buktinya kumat nih anak."
Bukannya mendapat jawaban, Zeline justru melihat kedua sahabatnya saling berbisik-bisik, ya walaupun dengan jelas Zeline mendengar apa yang saat ini mereka bicarakan.
"Maksud kalian apa? Siapa yang kumat?"
"Lo lah, siapa lagi emang," Rio dan Evan kompak menjawab.
"Gue," Zeline menunjuk dirinya sendiri.
"Sepertinya selain kumat juga amnesia nih bocah."
"Siapa yang lo katain bocah hah?" Zeline menjewer telinga Evan, tidak terima saat dirinya dibilang bocah, buktinya Zeline selama ini hidup mandiri tanpa ada keluarga yang menemaninya.
"Sorry...sorry Zel, sakit Zel, telinga gue berasa mau putus nih," Evan meringis terlebih saat Zeline dengan sengaja memutar telinganya.
"Makanya jangan rese jadi orang."
"Siapa yang…"
"Sudah tidak perlu berdebat lagi." Rio mencoba menengahi keduanya, wajahnya lalu dia dekatkan pada Evan.
"Mungkin Zeline lagi pms, jadi sebaiknya lo jangan gangguin, nanti bisa-bisa dia ngamuk," bisiknya kemudian.
Evan menatap Rio, hingga pandangan mereka bertemu, lalu dirinya mengangguk, membenarkan bahwa yang dikatakan Rio memang benar.
"Ya udah ayo, katanya mau cabut," ujar Rio merangkul bahu Zeline.
"Dari tadi napa," ketus Zeline dan baru saja mereka akan melangkah, ketiganya berhenti dan menoleh saat mendengar suara seseorang.
"Kalian mau kemana?"
Zeline, Rio dan Evan saling pandang, merasa gugup, mendapati guru bk yang kini menatap mereka garang sambil berkacak pinggang.
Zeline melirik ke kiri dan kanannya, memberi isyarat pada kedua temannya, bahwa setelah hitungan ketiga mereka harus segera melarikan diri.
"Satu….dua….ti…"
Mereka mau masuk kelas kok pak, kan ruang kelas kita ada disana."
Begitu berbalik dan hendak berlari, ketiga orang itu, justru melihat ketua kelas mereka tengah berdiri dan menatap ketiganya.
"Benar?"
"Hmm iya pak," jawab Zeline yang merasa senang dengan keberadaan Nico disana.
"Kalau mereka beneran bolos dan saya salah karena membela mereka, bapak bisa hukum saya," jawab Nico mantap.
"Ya sudah cepat sana masuk!"
"Ayo kita masuk, ajak Nico kepada ketiga temannya yang diikuti dengan lantai gontai.
"Gagal deh, gara-gara kalian sih," gerutu Zeline sambil menghentak-hentakkan kakinya lalu berjalan masuk ke dalam kelas.
Melihat Zeline kesal bahkan tadi sempat ditangkap guru bk salah satu murid tersenyum senang, tapi senyumnya memudar saat Nico juga tengah bersama Zeline saat ini.
__ADS_1