Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 66


__ADS_3

Zeline melangkahkan kaki keluar dari kamarnya, namun dia dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba memanggilnya.


"Sarapan dulu," ucapnya membuat Zeline menoleh dan dengan langkah malas berjalan menuju ke meja makan.


"Abang mana?" 


"Pergi."


"Pergi? Kapan? Kemana?" Tanya Zeline terkejut.


Aga mendengus, lalu menatap Zeline dan mengedikan kedua bahunya acuh.


"Kenapa lo tidak tahu?"


"Lo yang paling tau kenapa abangmu bisa pergi."


Kali ini Zeline mendengus, dia mengambil ponsel yang tadi dikantonginya, mencari nomor Risa lalu menghubunginya.


"Gak dijawab sih," kesalnya meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar.


"Mbak Risa sudah mulai kerja," ucap Aga yang bisa menebak siapa yang Zeline hubungi.


Zeline menyalakan layar ponselnya, dan benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, yang memang sudah menunjukkan waktu bekerja.


"Tunggu, bukannya mbak Risa sudah diberhentikan?"


Aga yang sedang mengambil air untuk Zeline sampai tersiram, terkejut mendengar ucapan gadis itu barusan.


"Apa maksud lo?"


Zeline menoleh dan menatap Aga.


"Katakan, apa maksud lo tadi? Setelah apa yang mbak Risa lakukan yang terbaik untuk lo, lo justru membuat kehilangan pekerjaannya?"


"Bukan begitu, gue…gue juga tidak sengaja melakukan itu."


"Tidak sengaja?" Aga tertawa mendengar pembelaan Zeline terhadap dirinya sendiri.


"Kalaupun tidak sengaja, lo harusnya berusaha agar hal itu tidak sampai terjadi, setelah ini…apa yang akan lo lakuin lagi. Tidak…gue tidak akan membiarkan lo berbuat sesuka hati sama mbak Risa lagi. Jangan harap kau bisa minta mbak Risa untuk menggantikan lo lagi, kalaupun mungkin mbak Risa mau, gue tidak akan pernah mengizinkannya, ingat itu!" 


Aga melepas celemek yang dipakainya, melemparnya pada Zeline, lalu segera pergi dari sana meninggalkan tempat tinggal Zhen.


"Kenapa semua orang menyalahkanku? Menyebalkan!" Zeline melempar sembarang celemek tadi, menghentakkan kaki dan berbalik lalu berlari kembali ke kamarnya.

__ADS_1


*


*


"Ini pesanan meja no 6," ujar Risa pada salah satu rekannya yang bekerja sebagai pelayan.


Dengan sigap rekan Risa itu, membawanya ke meja pemesan. Setelah itu, Risa kembali sibuk melihat yang tertulis di kertas, lalu membuatnya, begitulah kesibukan Risa hari ini.


"Aneh," ujar salah satu rekan Risa yang lainnya yang bekerja di satu bagian dengannya.


"Dia seperti berkepribadian ganda bukan?" ujar yang lainnya.


Suara bisikan, tidak bukan bisikan lagi, tapi seperti memang sengaja berbicara cukup lantang mungkin agar Risa bisa mendengarnya.


"Padahal kemarin aku dengar dia sudah dipecat, tapi entah apa yang dia lakukan hingga bisa bekerja di tempat ini lagi, oh ya dan kalian tau…" gadis itu mengajak yang lainnya untuk berkerumun lalu entah mengatakan apa, Risa tidak begitu jelas mendengarnya, tersamarkan dengan bunyi peralatan masak serta kompor yang sedang dia gunakan.


"Kalian tidak melihat, Risa sedang sibuk menyiapkan pesanan, dan kalian justru asyik bergosip disini, Dini, kembali ke tempatmu, tuh tamu terus berdatangan lebih baik kamu layani mereka," ucap Hani yang baru saja kembali setelah dari toilet ditujukan pada gadis yang mengajak yang lainnya berkerumun.


Para gadis itu, menatap Hani sinis lalu segera bubar. 


"Kenapa kamu diam saja, kali-kali sodorin tuh mereka pakai minyak panas, kemana keberanian kamu yang kemarin, yang suka bikin ribut sama mereka-mereka," kesal Hani pada Risa yang kini tengah memindahkan hasil masakannya ke piring saji.


"Sudah jangan bawel, bantuin aku dulu, tuh masih banyak yang belum dibikin," ucap Risa saat melihat para rekan kerja pria nya ikut mencuri-curi pandang ke arahnya, bukan karena tertarik melainkan tidak suka, mereka berpikir, karena Risa lah Aldi teman mereka dipecat. Mereka tidak tahu saja apa yang sebenarnya terjadi.


Kini mereka semua sudah kembali berkutat dengan pekerjaan masing-masing, terlebih saat bos mereka datang, tak ada satupun yang berani berbicara.


Risa meregangkan tangannya yang terasa pegal, sudah lumayan lama dia tidak bekerja dan kini pertama kalinya dia bekerja lagi, badannya terasa begitu lelah.


"Ayo ganti!" Ujar Hani mengajak Risa untuk mengganti pakaian mereka karena jam kerja mereka kini telah berakhir.


Risa melepas celemek dan membawanya untuk dicuci.


"Kita berangkat bareng aja deh dari sini, gimana?" 


Risa menoleh ke arah Hani, mengernyit bingung dengan maksud perkataan Hani.


"Nih anak kenapa sih? Kamu ada masalah?"


"Hah?"


"Kamu udah pikun, kemarin bukannya kita janjian, aku bakal ceritain…"


"Hani bentar, hmm maaf…sepertinya aku tidak bisa hari ini, bagaimana kalau lain kali saja, aku ada urusan mendadak dan ini penting."

__ADS_1


Risa risih melihat tatapan Hani yang penuh selidik. Seakan menginterogasi dirinya lewat tatapan itu.


"Jangan menatapku seperti itu, beneran aku tidak bohong."


"Ya aku percaya, tapi…" Hani lalu mendekat ke arah Risa.


"Kamu janjian sama bos?" Bisiknya kemudian membuat Risa sampai spontan memundurkan tubuhnya.


Plak


Tangan Risa mendarat mulus di lengan Hani.


"Ngaco. Jangan suka nyebar gosip deh kamu, atau jangan-jangan…"


"Sembarangan, jangan menuduhku, aku bukan orang yang seperti itu ya…" tegas Hani kesal.


"Habisnya kamu,ngomongnya ngaco gitu, mana ada aku janjian sama dia," Risa membelangkangi Hani, membuka loker untuk mengambil pakaiannya.


"Tapi tadi pagi aku lihat kamu keluar dari mobil Bbbb…."


Risa segera membungkam mulut Hani dengan telapak tangannya. Ia lalu berjalan ke arah pintu, menyembulkan kepalanya menengok kanan kiri, lalu segera menutup pintu dan berbalik sambil mengelus dada merasa lega.


"Sorry," ucap Hani yang menyadari kesalahannya, dia hampir saja kelepasan, untungnya tidak Risa segera membungkam mulutnya yang bisa saja ucapannya tadi didengar orang lain dan itu akan kembali menyulitkan Risa.


"Kamu melihatnya?" Tanya Risa yang tidak menutupi bahwa dia memang berangkat bersama Dirga bos mereka. 


"Iya, aku ada di seberang jalan, dan aku lihat kamu keluar sebelum sampai di restoran," jelas Hani pada apa yang dilihatnya tadi pagi.


Dan Risa, tadi pagi dia memang meminta Dirga menghentikannya di jalan yang tidak jauh dari tempatnya bekerja, Risa hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian dan menjadi bahan pembicaraan para rekannya lagi.


"Soal itu, aku tidak tahu, tiba-tiba saja tadi pagi bos sudah ada di depan kos an," ucap Risa jujur.


"Ris kamu ngerasa gak sih, sikap bos ke kamu sedikit berbeda?"


"Maksudnya, aku merasa sama saja kok, justru dia sering jutek sama aku."


"Jutek tapi perhatian kan?" Goda Hani.


"Sudah ah, aku mau ganti dulu," Risa pun berjalan ke tempat ganti, tapi Hani terus membuntutinya tak lupa godaan gadis itu terus ia layangkan pada Risa yang kini sampai menutup kedua telinga, tidak ingin mendengar apa yang Hani ucapkan lagi.


"Ris beneran deh, kayaknya bos suka sama kamu."


Risa berbalik, dan menatap Hani tajam yang justru dibalas kekehan gadis itu yang memang suka sekali menggoda Risa.

__ADS_1


"Bentar," ucap Risa saat ponselnya bergetar, dia mengambil ponselnya melihat siapa yang telah menghubunginya.


"Hani, aku harus pergi sekarang!" Ucap Risa segera mengganti seragam dengan pakaian miliknya sendiri. Dan bisa Hani lihat jika Risa tampak begitu gugup dan tegang, tidak tahu siapa yang menghubungi temannya itu, hingga membuat ekspresi Risa berubah begitu cepat.


__ADS_2