Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 62


__ADS_3

Risa segera keluar dari kos an nya saat mendapat balasan pesan dari Zhen bahwa pria itu belum jalan.


"Abang tunggu!" Tulis Risa yang kini berlari menuju ke tempat dimana mobil Zhen berada.


Risa membungkuk, memegang kedua lututnya dengan nafas terengah-engah.


"Hah….hah…" Risa menarik nafasnya, menghembuskannya perlahan lalu melanjutkan larinya.


Tok


Tok


Dia ketuk kaca jendela mobil Zhen, membuat Zhen yang tadi sedang sibuk dengan ponselnya kini meletakkan benda pipi itu, dia tadi mendapat telepon dari sekretarisnya meminta dirinya untuk mengecek email masuk.


"Kenapa sayang?" Tanya Zhen setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.


Risa membuka pintu, masuk dan duduk di samping Zhen.


"Abang, ada yang ingin aku bicarakan, tapi tolong, abang dengarkan dulu ya," ucap Risa kemudian.


Zhen menatap Risa lekat, diambilnya tisu yang memang tersedia di mobil lalu mengusap keringat yang membasahi wajah Risa.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? Kamu sampai harus berlari dan berkeringat seperti ini. Lagian sayang, besok kita juga bertemu lagi, kita bisa membicarakannya nanti.


"Tidak abang, pokoknya kita harus bicara sekarang juga, aku tidak bisa menundanya lagi."


Zhen mengambil botol air mineral, membuka tutupnya lalu memberikannya pada Risa.


"Minum dulu, tidak perlu terburu-buru, abang akan menunggu dan mendengarkan apa yang ingin kamu bicarakan." 


Baru selesai berucap, Zhen kaget saat Risa memberikan botol itu kembali padanya dalam keadaan sudah kosong.


"Aku haus," jelas Risa saat Zhen hanya menatap botol itu.


Zhen tersenyum, lalu menerima botol yang Risa berikan.


"Sekarang apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Zhen saat merasa Risa sudah tampak santai..


Risa menghela nafas panjang sebelum akhirnya kini dia mulai  mengeluarkan suaranya.


"Waktu itu abang bilang tidak ingin membahasnya, oke, mungkin abang perlu waktu untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi atau mungkin abang belum siap untuk mendengarnya, jadi aku memutuskan untuk tidak membahas hal itu. Tapi setelah aku pikirkan, bagaimanapun aku harus menjelaskannya pada abang, aku terus kepikiran jika abang tidak tahu apa yang terjadi, sedangkan aku tahu hal itu walau tidak begitu banyak."


"Tentang papa dan Viona?"

__ADS_1


"Hmm," Risa menganggukkan kepalanya cepat, dan bisa dia dengar helaan nafas Zhen setelah itu.


"Abang sebenarnya memang tidak ingin membahas tentang hal itu,  tapi jika dengan kamu menjelaskan pada abang dan hal itu bisa membuat kamu lega. Maka abang akan dengarkan baik-baik."


"Abang sempat bertanya-tanya tidak, kenapa aku bisa tahu hubungan Viona dan…"


"Iya pernah," ucap Zhen segera memotong ucapan Risa.


"Lalu menurut abang, apa aku tahu dari awal mereka menjalin hubungan dan menyembunyikan fakta itu atau aku hanya sekedar tahu lalu memilih berpura-pura tidak tahu?"


"Entahlah."


"Aku belum lama tahu abang, waktu itu, saat aku baru menjadi Zeline. Tiba-tiba Viona menghubungiku. Dia meminta bertemu, dan sungguh, aku tidak tahu jika Viona adalah kekasih abang."


"Mantan sayang, kekasih abang hanya kamu," ucap Zhen meralat ucapan Risa.


"Iya itu maksudku. Kita lalu janjian bertemu, Viona cerita kalau dia sudah putus dengan kekasihnya. Dan sekarang dia menjalin hubungan dengan seseorang, dia memintaku untuk membantu berbicara dengan ibunya, karena hubungan mereka yang tidak direstui. Dan waktu Viona berpamitan pulang, Viona menunjuk seorang pria, aku seperti melihatnya, dan saat itu aku benar-benar lupa, bahwa aku memang pernah melihatnya di foto keluarga satu-satunya yang ada di kamar Zeline, awalnya aku juga memang ragu, bagaimanapun pertama kali bertemu, aku hanya melihat sekilas saja. Dan beberapa hari kemudian, aku baru tahu alasan kenapa ibunya tidak merestui hubungan mereka. Lalu yang membuat aku yakin bahwa itu memang papa abang, aku melihat dengan jelas saat itu, dan ketika aku marah di telepon dan tidak sengaja mengungkap fakta itu, papa abang sama sekali tidak mengelaknya. Abang…aku benar-benar minta maaf, harusnya saat aku mulai menduga hal itu, aku harus segera cerita sama abang. Walaupun sakit ataupun mengecewakan, abang berhak tahu. Tapi, lagi-lagi aku hanya diam dan tidak mengatakan pada abang apa yang sebenarnya terjadi. Baik itu tentang Zeline maupun papa abang."


Zhen menarik Risa ke dalam pelukannya.


"Abang sudah mendengar semua penjelasan kamu, lalu apa sekarang kamu sudah merasa lega?"


Risa mengangguk di pelukan Zhen, dia memang merasa lega setelah menceritakan semuanya.


Zhen mengurai pelukan mereka, meraih tangan Risa dan menggenggamnya.


"Sayang dengarkan abang, dari awal abang memang sudah tidak peduli lagi apapun tentang Viona, semenjak dia mengkhianati abang, abang sudah tidak ingin tahu lagi bagaimana hidupnya. Abang tidak mau membahas tentangnya karena abang memang sudah melupakannya."


Zhen menyelipkan rambut Risa, lalu menatapnya lekat.


"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang," ucap Zhen yang kini turun dari mobil disusul oleh Risa.


"Abang mau kemana?"


"Mengantarmu, dan memastikan kamu selamat sampai tujuan."


"Abang tidak perlu, lagian juga tidak begitu jauh."


Tak mendengarkan ucapan Risa, kini Zhen menautkan tangannya dengan tangan Risa.


"Abang juga ingin lebih lama lagi menghabiskan waktu bersamamu."


*

__ADS_1


*


Mobil Zhen kini berhenti di basement apartemen miliknya. Tadi Zhen memang bertujuan akan pulang ke rumah, tapi di tengah jalan dia berubah pikiran. Zhen segera memutar balik mobilnya dan menuju ke apartemen yang menjadi persinggahannya saat dia memang ingin sendiri.


Nomor papanya yang terus menghubunginya, membuat Zhen yakin jika ada sesuatu yang terjadi, tapi Zhen tidak ingin terlibat dengan apapun yang menyangkut pria itu.


Zhen segera melangkah memasuki lift, dirinya dibuat terkejut, saat melihat Aga ada di dalam lift itu.


"Aga? Kenapa kamu disini?" Tanya Zhen begitu dia masuk dan hanya ada mereka berdua.


"Nganter teman," jawab Aga singkat.


Zhen menghembuskan nafasnya, menatap Aga dari pantulan pintu lift.


"Maaf atas yang kamu lihat waktu itu, tapi kamu harus percaya pada kami kalau…"


"Abang marah sama mbak Risa?" Ucap Aga justru mengajukan pertanyaan lain.


"Marah? Kenapa aku marah?" Zhen mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Aga.


"Abang waktu itu pergi begitu saja."


"Oh, soal itu maaf, waktu itu, aku hanya terlalu terkejut dan hanya ingin menenangkan diri. Ini bukan masalah mantan kekasihku, tapi ini juga ada kaitannya dengan papa. Aku yakin kamu mengerti Aga."


"Ya aku mengerti, itu juga yang aku katakan sama mbak Risa saat dia terlihat kecewa karena abang tiba-tiba meninggalkannya tanpa mendengar penjelasan mbak Risa dulu."


"Makasih, Risa juga sudah cerita."


"Abang baik-baik saja?"


"Hmm tentu saja, apalagi ada kakak kamu," jawab Zhen dengan senyum mengembang.


"Kamu?"


"Aku mau menginap di rumah teman."


"Tadi…"


"Beberapa teman aku memang tinggal disini, hmm sekitar empat orang."


Ting


Tak lama Pintu lift pun akhirnya terbuka, dan hal itu otomatis menghentikan obrolan antara  Zhen juga Aga.

__ADS_1


Kedua pria itu menatap lurus ke depan, dan sama-sama terdiam saat melihat siapa yang berdiri di hadapan mereka.


__ADS_2