Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 17


__ADS_3

Seorang gadis terus saja menggerutu, bilang jika bosnya itu suka makan waktu karyawan, bagaimana bisa di jam yang sudah melebihi jam nya pulang, dirinya malah disuruh ini itu. Oke memang hari ini restoran cukup ramai, tapi jam kerjanya sudah berakhir dari lima belas menit yang lalu.


"Ini tidak ada tutupnya apa restoran?" Gadis yang tengah kesal itu melempar lap yang tadi digunakannya.


"Kenapa? Kau menginginkan restoran ini bangkrut," bisik seseorang tepat di telinga gadis itu, yang katanya membuatnya merinding seketika.


"Tidak...tidak...tidak seperti itu," gadis itu menoleh saat mendengar suara orang yang begitu dikenalnya belakangan ini.


"Lalu?"


"Saya hanya lelah bos, lihatlah kerjaan tidak ada henti-hentinya, lagian bos jam kerjaku sudah usai, jadi saya pamit pulang sekarang," ucapnya lalu melewati begitu saja, pria yang dia panggil bos.


"Apa? Lihatlah para pengunjung begitu banyak, dan kau mau pulang?" Pria itu menunjuk sebuah kaca dimana bisa melihat para tamu yang datang.


Gadis itu, mengikuti kemana arah yang ditunjuk pria itu. Hanya meringis pelan, meratapi nasibnya. Gadis itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Tapi dia tidak boleh menyerah begitu saja, ini keputusannya, dan dia akan berjuang sampai akhir.


"Hanya 7 bulan, iya 7 bulan," gumam gadis itu meyakinkan dirinya bahwa dia bisa dan melewati semua ini.


"Lagian kerjaan kamu gak becus belakangan ini. Entah apa yang terjadi sampai kau amnesia dan meminta yang lainnya mengajarimu dari awal. Dan kamu tahu, perbuatan kamu itu merugikan saya, jadi anggap saja kamu membayar kerugian yang beberapa hari kamu lakukan."


Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap pria tampan yang sayangnya nyebelin itu tengah melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh. Terus pandangan gadis itu tertuju pada teman-temannya yang begitu sibuk saat ini. Gadis itu menghela nafas dan berjalan meninggalkan bos nya untuk melakukan pekerjaannya. Tapi baru dua langkah tiba-tiba dia berbalik.


"Daripada bos tidak ada kerjaan, bagaimana kalau bos ikut bantuin saja."


Tuk


Pria yang dipanggil bos itu memukul kepala sang gadis hingga mengadu pelan dengan bibir yang mengerucut.


"Sembarang saja kamu nyuruh-nyuruh, disini siapa kau pikir bosnya? Saya atau kamu?" Pria itu menunjuk sang gadis dan juga dirinya bergantian.


"Ya sudah kalau begitu, lebih baik bos pergi deh ke ruangan bos, mengurangi oksigen aja."


"Siapa kau berani mengusirku? Dan apa tadi kamu bilang? Mengurangi oksigen? Yang benar saja."


Gadis itu lalu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dan tanpa mempedulikan bos nya itu, dia membalik badan dan melangkah pergi untuk membantu rekannya menyelesaikan pekerjaan, dirinya ingin cepat-cepat pulang, dan meluruskan tubuhnya, yang rasanya sudah begitu lelah.


"Risa!"


Gadis yang dipanggil Risa itu terus melangkah, melambaikan tangan ke atas tanpa menoleh.


*


*


Berulang kali, Risa menghubungi nomornya yang dipakai Zeline, dua kali sudah dia menelponnya tapi tidak juga dijawab. Kesal, tentu saja, tapi Risa juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kebiasaan banget tuh sih anak, gak tau apa situasi genting begini," Risa bersiap-siap, mau tak mau dia harus temui Zeline.


Dia melirik jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Yang berarti satu jam lagi, Zeline akan pulang.


Begitu tangannya menggapai handle pintu, ponselnya kembali berdering, Risa segera menjawab panggilan itu.

__ADS_1


"Halo bu."


"Halo Nak."


"Ibu, bagaimana keadaan ibu? Kata Aga ibu sakit, ibu sudah ke dokter?"


"Sudah kok, ibu baik-baik saja, hanya kelelahan, biasa adikmu suka melebih-lebihkan."


"Beneran?"


"Iya Nak."


"Tunggu sebentar bu," Risa segera mengalihkan panggilannya menjadi panggilan video, ingin melihat dan memastikan, dan Risa bernafas lega karena ibunya memang sudah terlihat baik-baik saja.


"Bagaimana? Ibu baik-baik saja kan? Kamu ini tidak percaya sama ibu," Ucap wanita dari seberang telepon.


"Bukan seperti itu bu…" Risa cemberut mendengar ucapan ibunya.


Wanita di seberang telepon hanya tersenyum lalu melanjutkan obrolan mereka, hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan jam bahkan telah menunjukkan hampir pukul 11.


"Sudah tidak perlu khawatir, ibu baik-baik saja, kamu jaga diri disana, jaga kesehatan juga jangan lupa makan dan istirahat yang cukup," ucap Ibu Risa setelah cukup lama mereka mengobrol.


"Iya, ibu juga, nanti Risa akan cari waktu untuk cuti dan pulang."


"Iya Nak. Ya udah sudah dulu ya, ibu juga mau istirahat ini, sudah malam."


"Ya bu." Setelah itu, panggilan pun berakhir.  Risa menghembuskan nafas lega, tapi walaupun ibunya sudah tampak baik-baik saja, Risa tetap akan pulang, dia harus mengatakan itu pada Zeline secepatnya agar gadis itu meminta izin dan kembali menjadi dirinya. Saat sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkannya.


"Abang ih berisik!" Risa membuka pintu kamarnya menatap kakaknya kesal.


"Lagian biasanya tidak dikunci kenapa dikunci, mencurigakan saja," Zhen menerobos masuk dan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk milik Zeline.


"Abang ngapain di kamar Zeze? Kalau mau tidur di kamar abang sendiri!" Risa mencoba menarik Zhen agar pergi dari kamarnya.


"Akh!" Tubuh Risa yang akhirnya jatuh menimpa tubuh Zhen hingga tatapan keduanya pun bertemu. Sesaat mereka terdiam dan Risa yang tersadar dengan posisinya sekarang mencoba untuk bangun tapi Zhen justru semakin menariknya hingga tidak ada jarak diantara mereka.


"Abang!" Teriak Risa saat Zhen dengan cepat membalik posisi mereka, hingga kini berakhir tubuhnya yang mengungkung tubuh Risa.


Pandangan Zhen lekat pada bibir Risa dan dengan perlahan mendekat dan…


Cup


Zhen mengecup bibir Risa sekilas.


Risa yang shock hanya bisa mengerjapkan kedua matanya.


"Abang tidak suka kamu dekat-dekat mereka."


"Ma…maksud abang?" Tanya Risa gugup.


"Teman-teman kamu cowok semua Ze,  abang tidak suka."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Risa dengan suara pelan nyaris tidak terdengar.


"Intinya abang tidak suka, jadi kamu harus jauh-jauh dari mereka," ucap Zhen ada nada kesal dari ucapannya.


"Tidak bisa abang, mereka teman Zeze, dan lagi kami semua satu sekolah, bukan cuma satu sekolah, kami bahkan satu kelas, bagaimana bisa saling berjauhan?"


"Ya  kamu usahakan."


"Baiklah," jawab Risa terpaksa, dengan bibir yang mengerucut tentunya.


Cup


Benda kenyal kembali  mendarat di bibirnya hanya sekilas. Risa menatap Zhen yang kini juga menatapnya, dan dengan cepat, Risa menarik tengkuk Zhen mencium bibir pria itu. 


Begitu pagutan bibir mereka terlepas, keduanya sama-sama canggung. Zhen bahkan sampai berulang kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah.


"Zeze ke kamar mandi dulu," dengan sekuat tenaga Risa mendorong tubuh Zhen.


Risa kemudian dengan cepat turun dan berlari ke kamar mandi.


"Menggemaskan," ujar Zhen terkekeh pelan, menatap punggung adiknya yang hilang di 


balik pintu.


Dug


Risa membenturkan keningnya di dinding.


"Apa yang kau lakukan tadi Risa? Memalukan!" Risa merutuki dirinya yang tanpa sadar melakukan hal di luar dugaan nya.


Dug


Kening Risa kembali membentur dinding untuk kedua kalinya.


"Aku harus bagaimana lagi jika bertemu bang Zhen? Ih Risa kok bisa sih!" Risa menghentak-hentakkan kakinya merasa tidak punya muka lagi jika bertemu dengan Zhen.


Risa menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Lebih baik aku berendam, ya aku harus berendam, dan begitu keluar, aku yakin bang Zhen sudah tidak ada di kamarku," ucap Risa yakin.


***


Sudah cukup lama Zhen menunggu Zeline keluar dari kamar mandi, tapi Zeline belum juga keluar. Sambil menunggu  Zeline, Zhen pun berniat memejamkan matanya walau sebentar, rasanya dia sangat mengantuk malam ini. 


Sedangkan Risa yang baru keluar dari kamar mandi, terkejut saat mendapati Zhen di kamarnya, dia kira abangnya itu sudah kembali ke kamarnya sendiri, tapi tidak tahunya ternyata pria itu justru terlelap di atas kasur miliknya. 


Mau membangunkan pun rasanya tidak tega. Hingga Risa pun akhirnya membiarkan Zhen tidur di atas ranjangnya. 


Risa menarik satu bantal, membawanya ke sofa, tak lupa gadis itu juga mengambil selimut baru, untuk membantu tubuhnya tetap hangat nanti.


Melihat ke arah Zhen yang masih nyenyak, kini Risa akhirnya berbaring, entah karena lelah atau mengantuk, Risa yang rasanya baru memejamkan mata, tak lama tidur begitu lelap.

__ADS_1


__ADS_2