
Seorang pria mengendurkan dasi yang terasa mencekiknya seharian ini. Ia masuk ke mobil, segera duduk sambil memijat pangkal hidungnya, yang terasa berdenyut.
"Kita langsung pulang," ucapnya yang segera dituruti sang sopir.
Terdengar bunyi ponsel dari saku jas pria itu, dengan malas pria itu mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
Seperti tak ada minat, pria itu segera menolak panggilan, ia letakkan ponsel di sampingnya duduk lalu bersandar sambil memejamkan matanya. Ia jadi mengingat kejadian sore tadi.
"Aku yakin itu kamu," ucapnya dalam hati.
"Maaf, aku harus pergi," ucap seorang wanita.
"Kenapa?" Tanya seorang pria menahan tangan wanita itu.
"Aku janji, akan perjuangkan cinta kita, jadi aku mohon jangan tinggalkan aku, ini tidak seperti kamu, May. Jika ada masalah katakan padaku!"
"Maaf Bi," gadis yang dipanggil May pun melepaskan tangan pria itu, dan berlalu pergi.
"Tuan!"
"Tuan Abi!"
Abi langsung membuka matanya, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, ternyata dia masih ada di dalam mobil.
"Ternyata mimpi," gumamnya. Ia menegakkan duduknya sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing.
"Tuan Anda baik-baik saja?"
"Hmmm," jawab Abi.
"Berhenti!" Ucapnya kemudian pada sang sopir.
Dengan menahan pusing di kepalanya, Abi turun dari mobil. Langkahnya sempat terhenti tak jauh dari gadis yang tampaknya sedang melamun. Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, menahan diri untuk tidak marah. Ia lalu kembali berjalan mendekat, meraih tangan gadis itu dan menariknya.
Tak jauh berbeda dari Abi, gadis itu pun sama terkejutnya, saat menaikkan pandangan dan bersitatap dengan Abi.
"An…Papa?" Ucap Risa gugup. Bagaimana bisa ia bertemu dengan ayah Zeline di tempat itu.
"Pulang sekarang!" Ucapnya menarik tangan Risa. Mau tidak mau, Risa pun hanya bisa menurut.
"Masuk!" Perintah Abi dan Risa sama sekali tidak membantahnya.
Risa duduk, ia memperhatikan Abi yang berjalan mengitari mobil dan kini membuka pintu dan duduk di sampingnya.
Pria itu sama sekali tidak berbicara, membuat Risa jadi merasa serba salah.
"Pa…"
Hening, Abi sama sekali tidak menjawabnya.
__ADS_1
Risa lalu menatap ke depan dimana sang sopir juga tengah menatapnya lewat spion, pria itu menggeleng, memberi isyarat agar dirinya lebih baik tidak mengacak Abi berbicara.
Risa lalu menatap Abi yang sedari masuk memejamkan kedua matanya, dahinya mengernyit memperhatikan wajah Abi yang tampak berbeda.
Risa lalu memberanikan diri mengangkat tangannya, dan menempelkan di kening Abi, membuat pria itu terkesiap sampai spontan membuka kedua matanya.
"Papa demam," ucap Risa lirih.
"Papa baik-baik saja," jawab Abi mengalihkan pandangan keluar jendela.
"Di rumah…apa ada obat demam?" Tanya Risa membuat Abi mengernyitkan dahi lalu menatap gadis yang ia sangka adalah putrinya.
"Oh…maksud Ris ah Zeze barangkali obatnya tidak ada, jadi selagi kita di jalan bisa membelinya dulu."
Melihat Abi yang diam saja dan kembali memejamkan matanya, Risa pun berinisiatif meminta sopir untuk berhenti di apotik terdekat.
Begitu sampai tempat tujuan Risa turun perlahan, tak ingin mengganggu Abi yang tertidur.
Tapi sayangnya begitu Risa keluar, Abi terbangun saat merasa mobilnya tidak jalan.
"Kenapa berhenti? Tanya Abi pada sang sopir.
"Zeline mana?" Tanyanya lagi saat tidak mendapati sang putri di sampingnya.
Pandangan Abi sudah lebih dulu tertuju pada seorang gadis yang baru saja keluar dari apotik membawa kantong plastik.
"Itu Nona!" Tunjuk sang sopir, tidak tahu jika Abi sudah melihatnya lebih dulu.
"Papa sudah bangun? Oh ya ini…" Risa memberikan roti dan minuman pada Abi.
"Sebelum minum obat, lebih baik papa makan dulu," ucapnya merebut roti yang sudah ada di tangan Abi dan membantu membukanya.
"Ini…"
Abi hanya menerima tanpa berucap apapun. Lalu perlahan pria itu mulai memakan roti itu.
"Ini obatnya," ucap Risa lagi menarik tangan Abi, lalu meletakkan obat di telapak tangan pria itu.
Lagi-lagi papa Zeline itu hanya menurut.
"Papa tiduran saja, nanti kalau sudah sampai Ris ah maksudnya Zeline bangunin."
Abi menatap sang putri, dia baru tahu sisi putrinya yang seperti itu, setahu dia, Zeline begitu manja, jangankan mengurus orang lain yang sakit, mengurus dirinya sendiri pun rasanya dia tidak bisa.
"Kenapa papa menatapku seperti itu?" Tanya Risa berusaha menutupi rasa gugupnya, dia takut jika kali ini Abi bisa mengenalinya.
Abi menggeleng, lalu berkata kepada sang sopir.
"Kita antar Zeline pulang dulu pak."
__ADS_1
Risa yang mendengar itu, menoleh menatap Abi dengan pandangan bertanya-tanya.
"Baik Tuan."
"Memangnya papa mau kemana?" Tanya Risa yang tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Papa pulang ke apartemen."
"Bersama dia?"
Abi yang akan memejamkan matanya, urung saat mendengar pertanyaan putrinya.
"Tidak."
"Lalu?"
"Papa punya apartemen sendiri Zeline, cukup dekat dengan kantor, jadi jika papa lembur, papa lebih memilih pulang kesana."
Risa diam, dia tidak berani bertanya lagi, bagaimanapun dirinya merasa tidak berhak untuk tahu lebih banyak tentang keluarga Zeline.
Risa memilih memalingkan wajahnya menatap keluar jendela.
"Kalau begitu, Zeze ikut pulang ke apartemen papa, papa sedang sakit, jika ada Zeze setidaknya ada yang merawat papa," ucap Risa kemudian setelah cukup lama terdiam.
"Tidak boleh Zeline, kamu harus pulang ke rumah temenin mama kamu, karena sepertinya abang kamu tidak pulang lagi malam ini."
"Zeline tidak meminta izin, Zeline hanya memberitahu," tambahnya tak menerima penolakan.
Abi dan Risa saling beradu pandang, Abi menghela nafas mengalah pada putrinya.
"Baiklah," jawab Abi akhirnya membuat Risa tersenyum senang.
Setelah dipikir-pikir, entah kenapa Risa ingin tahu tentang papa Zeline. Risa merasa jika papa Zeline tidak seperti yang dibicarakan selama ini.
Menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya kini mobil Abi telah sampai ke tempat tujuan.
Abi hendak turun, tapi Risa mencegahnya.
"Tunggu pa," ucapnya lalu membuka pintu mobil di sampingnya. Setelah itu, Risa berlari kecil mengitari mobil, membuka pintu samping Abi, lalu membantu pria itu turun.
"Kepala papa masih pusing kan? Jadi biar Zeze bantu," ucapnya.
Abi mengangguk saja. Sang sopir pun ikut senang, dia lalu diam-diam mengambil foto lalu mengirimkannya pada seseorang.
"Kenapa papa tidak pulang saja sih, setidaknya jika papa pulang, ada mama yang akan mengurus papa," kata Risa sambil membantu Abi berbaring di ranjangnya.
"Aku ambilkan pakaian ganti dulu, biar papa tidurnya nyaman," Risa langsung berlari ke arah lemari.
Abi hanya menatap putrinya lamat-lamat, san seulas senyum kemudian terbit di sudut bibirnya.
__ADS_1
Risa membuka lemari mengambil satu setel piyama, saat Risa menariknya selembar kertas terjatuh dalam posisi terbalik tepat di atas kaki Risa.
"Seperti foto," gumam Risa. Lalu dengan perlahan ia membungkukkan badannya untuk mengambil foto itu.