
Risa merebut ponsel Rio dan membaca pesan sahabatnya itu, yang ternyata dia sudah mengirim pesan pada Nico dan Nico baru saja membalas jika dirinya memang tidak ada di rumah dan kini sedang berada di kediaman tante nya yang berada di luar kota, itu kenapa dirinya izin. Teman sekelas memang tidak ada yang tahu karena Nico memang hanya mengirim pesan pada wali kelasnya.
"Lihat mana mungkin lo tidak punya hubungan apapun dengannya? Pesannya? Bukankah seperti yang tadi kamu katakan, kamu diam-diam suka berkirim pesan dengannya?" Rio merebut ponselnya baru menginterogasi Risa sambil jalan.
"Ih serius, gue gak ada kirim pesan apapun dengan Nico, dan tadi itu hanya kebetulan saja pasti, gue aja asal jawab."
"Yakin?" Kali ini Evan ikut menimpali sambil mengedipkan kedua matanya.
"Tahu ah terserah kalian saja, dah ah gue mau balik, mau jalan-jalan sama abang," kata Risa meninggalkan kedua sahabatnya.
Tanpa mereka sadari seseorang mengepalkan tangannya erat mendengar pembicaraan Risa, Evan dan juga Rio.
Risa kini sudah lebih dulu sampai di depan gerbang, dia melambaikan tangannya pada Zhen yang ternyata sudah datang.
Risa tersenyum, saat Zhen mengulurkan kedua tangannya. Dengan segera Risa berlari dan masuk ke dalam pelukan sang abang. Sedang Zhen langsung bertubi-tubi menciumi puncak kepala Zeline. Meregangkan pelukan mereka lalu merangkul pinggang Zeline mengajaknya untuk masuk ke mobil.
"Abang sudah nunggu dari tadi?"
"Hmm, jadi kamu harus bayar kerugian karena sudah membuang-buang waktu abang."
"Ih abang jahat," Risa memukul lengan Zhen pelan, sebelum akhirnya gadis itu masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah Zhen bukakan tadi.
Zhen hanya terkekeh, lalu berlari kecil menuju kursi kemudi.
"Kayak lagu tadi," komentar Zhen begitu masuk ke dalam mobil.
"Yang mana?"
"Tadi yang kamu bilang."
"Tau aja abang."
"Tau lah, abang gitu loh," ucap Zhen membanggakan dirinya sambil menepuk dada hingga keduanya tertawa bersama. Barulah setelah itu mobil Zhen perlahan melaju meninggalkan sekolah Zeline.
"Abang yakin tidak akan bosan nemenin Zeze?"
"Tidak dong, kayak tidak biasa aja dulu, dulu setiap kamu belanja pakaian kamu, bukannya abang yang selalu mengantar, bahkan abang juga ikut andil memilih pakaian yang akan kamu beli."
'Masa sih? Ya mungkin sih, tapi aku kan bukan Zeline dan ini...beli keperluanku loh, ahh rasanya malu banget,' ucap Risa dalam hatinya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Zhen karena adiknya justru diam saja dan tampak sibuk melamun.
"Tidak apa-apa abang, hanya saja Zeze malu," cicit Risa.
Zhen hanya tersenyum dan mengacak rambut adiknya.
"Kenapa malu? Dulu juga abang sering…"
"Abang stop!" Risa buru-buru menutup mulut Zhen, tidak ingin membahas masa lalu mereka, lebih tepatnya masa lalu antara Zhen dan juga Zeline yang tentunya Risa akan tidak tahu. Jadi sebelum membahas itu, lebih baik Risa menghentikannya sekarang.
"Hahaha." Zhen justru tertawa melihat wajah cemberut Risa. Wajah cemberut yang Zhen lihat berbeda dengan apa yang sebenarnya Risa pikirkan. Zhen mengira Risa cemberut karena mengingat masa-masa kecil mereka, sedang Risa cemberut karena bukan Risa lah yang ada di ingatan Zhen yang entah kenapa membuat Risa kesal.
"Abang!"
"Iya...iya….abang tidak membahas itu lagi. Lalu kenapa kamu malu?" Kata Zhen mulai serius, menoleh sekilas ke arah adiknya.
"Dulu sama sekarang beda abang, dulu Zeze masih kecil, sekarang Zeze…"
"Iya abang tau kok, uda ngrasain juga dikit," ucap Zhen yang langsung mendapat tabokan dari Risa.
Zhen kembali tergelak, dan Risa kali ini benar-benar cemberut karena ucapan Zhen yang mengingatkan dirinya malam itu bersama Zhen. Untungnya Risa bisa menahan Zhen, jika tidak dia tidak tahu bagaimana sekarang.
"Iya sayang, maaf ya, dan abang tau mungkin kedepannya hubungan kita pasti berat, tapi abang akan jamin bila kita bisa melalui ini bersama. Abang sayang sama kamu. Abang akan berusaha agar kita bisa selalu bersama."
Risa kemudian menghela nafas, mereka tentu saja bisa bersama, kalau alasan itu yang Zhen maksud. Hanya saja Risa khawatir akan dirinya yang sebenarnya. Risa saja tidak bisa membayangkan jika sampai Zhen tahu bahwa dirinya bukan Zeline. Zhen pasti akan marah dan kecewa padanya, bahkan Risa sampai berfikir, jika hal itu terjadi, Zhen akan membenci dan meninggalkannya, bagaimanapun dia sudah membohongi Zhen.
"Abang!"
"Iya."
"Abang janji mau maafkan Zeze?"
"Maafkan? Memangnya kenapa? Kamu bikin salah sama abang?" Zhen bingung saat mendengar pertanyaan adiknya tiba-tiba.
"Ya namanya manusia abang, banyak salah walau sengaja atau tidak, tapi abang mau kan maafkan Zeze jika Zeze punya salah sama abang, dan mungkin saja, kesalahan Zeze sangat besar?"
"Hmm contohnya?"
"Misalnya Zeze….bohongi abang."
__ADS_1
Zhen langsung menoleh ke gadis yang duduk di sampingnya.
"Tergantung, kebohongan apa yang kamu buat, jika cuma kebohongan kecil, abang pasti akan maafkan, tapi jika…"
"Walaupun Zeze punya alasan kuat?"
Zhen tiba-tiba saja menepikan mobilnya lalu benar-benar menaruh perhatiannya pada sang adik.
"Zeze sayang, apapun kebohongannya tetap saja namanya berbohong, walaupun terkadang ada yang bilang tidak apa-apa berbohong demi kebaikan, tapi sebenarnya itu tidak boleh, terkadang misalnya kita bohong sama orang lain, demi kebaikannya. Memang kita tahu apa yang terbaik untuk orang itu, misalkan kita bilang itu yang terbaik, bukankah hal itu belum tentu yang terbaik buat orang lain juga. Jadi apapun alasannya, jangan gunakan alasan seperti itu, untuk membohongi abang. Apa kamu mengerti?"
Risa segera menganggup, apalagi saat mendengar nada bicara abanganya yang memang terdengar serius. Beberapa minggu tinggal bersama Zhen, Risa sedikit tahu bagaimana wajah Zhen jika benar-benar pria itu tengah serius juga cuma sedang bercanda.
"Iya abang, Zeze ngerti kok."
"Lalu kenapa kamu bertanya seperti tadi? Atau jangan-jangan kamu membohongi abang? Iya" Zhen bertanya pada Risa dengan penuh selidik.
Ditatap se tajam itu oleh Zhen, tentu saja membuat Risa begitu gugup.
"Kenapa tidak dijawab?" Tanya Zhen yang membuat Risa sampai meremas jari-jarinya.
"Hmm itu…"
"Cepat katakan! Jika kamu mau katakan pada abang sekarang, maka abang akan memaafkanmu dan akan memberikanmu kesempatan untuk menebus kesalahanmu."
"Apapun alasannya?" Tanya Risa memastikan.
"Iya apapun alasannya."
Zhen menunggu dengan sabar, sampai Risa mengatakan apa yang ingin gadis itu katakan.
"Janji? Abang tidak marah?"
"Iya janji. Apa perlu abang menulis diatas kertas, membuat semacam perjanjian gitu?"
"Hah? Ti...tidak perlu," jawab Risa.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan, kebohongan apa yang selama ini kamu sembunyikan dari abang?" Ucap Zhen yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Risa.
"Hmmm itu…" Risa semakin gugup dengan pandangan Zhen terhadapnya saat ini.
__ADS_1