Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 81


__ADS_3

Zeline membanting kasar tubuhnya di atas ranjang, pandangannya menerawang ke atas langit-langit kamarnya. 


Saat matanya hampir saja terpejam, terdengar ketukan pintu, membuat Zeline kembali membuka matanya cepat. Dia lalu melirik siapa orang yang kini membuka pintu kamarnya.


Segera saja Zeline bangun dari rebahannya dan duduk di pinggiran ranjang, perasaannya tiba-tiba tidak enak saat melihat bagaimana tatapan orang yang kini berjalan semakin mendekat ke arahnya.


"Papa…"


Abi memberikan ponsel miliknya pada Zeline, agar putrinya bisa melihat apa yang ada di dalamnya.


"Kamu bisa jelaskan?"


"Pa ini…"


"Kamu meminta abangmu untuk datang menjemput, dan apa yang kamu katakan pada papa? Kalian pergi bersama? Berani kamu membohongi papa?" Gertak Abi.


Baru saja ia mendapat laporan dari salah satu orangnya yang ia tugaskan untuk mengawasi Zeline. Sebenarnya saat tadi Abi mendapatkan laporan dari anak buahnya, bahwa ia kehilangan Zeline, Abi langsung bergegas menyuruh orang kepercayaannya untuk melacak keberadaan putrinya. Begitu Abi tahu, Abi langsung meminta orang yang tadi pagi mengantar Zeline datang ke tempat itu dan mengawasinya dari jauh. Abi pun menelpon Zeline, ingin tahu bagaimana jawaban putrinya. Dan ternyata Zeline memilih membohonginya. 


"I…itu…"


"Mau beralasan apalagi?"


"Pa, Zeze bisa jelasin. Zeze memang…"


"Mulai besok, kamu tidak akan papa izinkan keluar rumah. Sepulang sekolah, kamu harus langsung ke rumah. Papa juga akan mendatangkan guru les, untuk membantumu belajar mempersiapkan ujian."


"Tapi pa…"


"Papa tidak terima penolakan."


Setelah mengatakan itu, papa Zeline pun keluar dari kamar putrinya.


"Lakukan tugasmu dengan baik sebagai ibu nya, awasi dia dan jangan biarkan dia keluar," ucap papa Zeline di depan pintu saat melihat bahwa ternyata sang istri ada disana dan mungkin mendengar pembicaraannya dengan Zeline tadi.


Abi pun melanjutkan langkahnya.


"Lalu kamu?"


Pertanyaan sang istri membuat langkah Abi berhenti.

__ADS_1


"Aku sudah melakukan tugasku, kau tadi mendengarnya kan? Aku melakukan seperti itu, untuk kebaikan putriku, selama ini aku terus melakukannya, tidak seperti kamu yang selalu hidup untuk dirimu sendiri."


"Abi aku…"


"Melakukan demi keluargamu?" 


Abi berbalik dan menatap sang istri.


"Kamu lupa jika Zeline putrimu? Kamu tidak peduli dengannya. Kamu selalu mengabaikannya, kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Aku masih mampu untuk menghidupi kalian semua, aku…"


"Kamu juga tidak peduli dengan putrimu, Abi. Kau juga sibuk dengan hidupmu, disaat aku berjuang untuk mempertahankan milik keluargaku. Kau justru bersenang-senang dengan wanita lain. Dan sekarang, kau menganggap aku tidak peduli dengan putri kita? Kita sama Abi, kita sama-sama mengabaikannya, tapi setidaknya aku tidak keras sepertimu. Kamu terlalu mengekangnya, apa kamu ingin Zeline pergi lagi dari rumah ini karena sikapmu itu ha?"


"Cukup!"


Sepasang suami istri itu, sama-sama menoleh, dan melihat Zeline yang berlinang air mata.


"Kalian semua egois! Awalnya aku ingin kita terus bersama-sama. Tapi jika bersama justru sering ribut seperti ini, lebih baik aku hidup seperti dulu, walaupun kesepian setidaknya aku merasa nyaman disini, tidak seperti sekarang."


Blam


Pintu tiba-tiba tertutup kencang. Abi dan istrinya sampai kaget.


Setelah mengatakan itu, Abi pun bergegas pergi. Dia ingin menenangkan diri.


Sementara itu, Anita tidak bisa menahan air mata yang sedari tadi mengambang di pelupuk matanya. Dirinya hanya menatap nanar kepergian suaminya. 


Begitu Abi tidak lagi terlihat dari pandangan, Anita pun menatap pintu kamar Zeline. Kepalan tangannya terangkat, hendak mengetuk namun hanya melayang di udara. Beberapa kali, hingga tiba-tiba pintu terbuka.


"Zeline kamu mau kemana?" Kaget Anita saat Zeline membawa koper kecil di sampingnya.


"Zeze kita bicarakan baik-baik sayang, jangan seperti ini. Maaf jika mama tadi ribut disini, mama hanya ingin…"


Zeline tampak tak peduli. Dia justru menarik kopernya, tapi dengan cepat Anita menahan putrinya.


"Zeze dengarkan mama! Mama akan cari cara, kamu bisa melakukan apapun seperti yang kamu lakukan selama ini, tapi kamu jangan seperti ini!"


Zeline menghela nafasnya, dia lalu menarik kopernya kembali masuk. Dia kemudian duduk di tepi ranjang. Matanya melirik wanita yang berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Kamu masih marah sama mama karena masalah papa?"

__ADS_1


Zeline tak menjawab, ia justru memainkan kuku-kuku jari-jarinya, kepalanya menunduk tidak mau menatap mamanya.


"Mama tahu kamu kecewa sama mama, mama diam bukan karena mama menerimanya, itu semua mama lakukan karena memikirkan kalian."


Zeline mengangkat kepala menoleh dan menatap mamanya yang kini bergantian menunduk. Matanya berkaca-kaca, seharusnya dia bisa mengerti perasaan mamanya. Zeline sedih dengan kondisi orang tuanya, dan mamanya pasti lebih sedih darinya.


Zeline lalu memeluk wanita yang telah melahirkannya, membuat sang mama meneteskan air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk mata. 


Zeline menepuk-nepuk punggung mamanya, dirinya ikut menjatuhkan air mata, merasakan kesedihan yang mamanya rasakan.


"Ma…"


Panggil Zeline pelan.


"Zeze tahu solusinya," ucap Zeline, membuat mamanya spontan melepas pelukan mereka dan menatap Zeline yang tampak ragu mengatakannya.


"Apa sayang?"


"Tapi mama harus setuju."


Anita menunggu kelanjutan ucapan putrinya, tapi Zeline belum juga angkat suara.


"Jangan bilang…"


"Hmm seperti yang mama pikirkan."


"Tapi Ze…"


"Ma…"


"Biar mama pikirkan dulu, sekarang lebih baik kamu mandi dan istirahat," Anita segera bangkit dari duduknya dan melangkah hendak pergi dari kamar Zeline.


"Hanya itu jalan satu-satunya ma, jadi Zeze harap mama setuju. Zeze tidak mau jika Zeze benar-benar harus berdiam diri di rumah. Yang ada Zeze akan semakin tertekan, dan bisa jadi Zeze tidak akan lulus. Jadi tolong mama pikirkan dan beritahu Zeze jika mama setuju dengan keputusan Zeze ini."


Tangan Anita yang hampir saja menarik handle pintu terhenti saat mendengar ucapan Zeline. Jika sampai hal itu terjadi, dia tidak tahu apa yang akan suaminya lakukan pada putri semata wayangnya itu. Anita tidak ingin hidup Zeline seperti hidupnya yang dihabiskan hanya untuk orang lain, bukan dirinya sendiri.


"Baiklah, lakukan apapun yang kamu mau," ujar Anita, membuka pintu dan kali ini benar-benar keluar dari kamar putrinya.


Zeline tersenyum senang, dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


__ADS_2