Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 33


__ADS_3

Risa segera saja melepaskan pelukannya, menempelkan punggung tangannya di kening pria itu.


"Abang demam? Panas banget abang, ayo cepat bangun, jangan duduk di lantai!" Zeline bangkit lebih dulu, membantu Zhen agar bangun dari duduknya, membantu sang abang agar duduk di atas ranjang, tapi sebelumnya, Zeline menyusun bantal untuk dijadikan sandaran Zhen.


Risa hendak berlalu pergi, tapi Zhen menahannya.


"Abang…"


"Kamu mau kemana? Jangan tinggalin abang."


"Zeze mau ambil obat penurun panas, juga ambil untuk kompres abang. Atau abang mau langsung ke dokter, biar Zeze panggil sopir."


Zhen menggeleng lemah, menarik Zeline agar lebih dekat, memeluknya hingga wajahnya kini berada di perut gadis itu.


"Baiklah, kita tidak ke dokter, tapi abang tetap harus minum obat ya? Zeze ambilkan dulu, cuma sebentar saja kok," Zeline mengusap rambut Zhen dengan lembut. Dirinya juga ikut merasakan panas tubuh Zhen karena tubuh mereka yang memang tidak ada jarak sedikitpun.


Zhen dengan terpaksa melepaskan pelukannya, membiarkan Risa berlalu. Matanya menatap kemanapun gadis itu bergerak, menatap dengan pandangan sayu.


'Sebenarnya ada apa denganku? Perasaan ini… perasaan seperti saat aku baru kembali. Perasaan yang ingin selalu bersamanya.'


"Ini bang makan dulu obatnya," Risa memberikan obat pada Zhen juga segelas air putih.


Risa menatap Zhen, memastikan pria itu memakan obatnya, kemudian menerima gelas yang sudah Zhen habiskan airnya.


"Pusing…" Zhen menempelkan keningnya di bahu Risa. Tangannya melingkari tubuh sang adik.


"Ya sudah, abang tiduran aja."


"Temenin?"


"Iya, nanti Zeze temani. Tapi setelah Zeze kompres abang dulu ya, sekarang abang rebahan dulu."


Zhen mengangguk, lalu dibantu Risa untuk berbaring. Risa mengambil alat kompres untuk mengompres abangnya.


"Ya sudah sini!" 


Zeze menatap Zhen, lalu memutari ranjang king size milik pria itu. Ini pertama kalinya, Risa tidur bersama Zhen di kamar pria itu.


Risa membaringkan tubuhnya, dan terkejut saat Zhen memeluknya tiba-tiba.


"Abang basah…yang benar tidurnya."


Zhen menatap Risa cemberut. Risa yang gemas mencubit bibir Zhen yang tengah mengerucut itu.


"Ayo yang bener!"


"Iya. Tapi kamu peluk abang."


"Iya, bawel banget sih abang siapa sih ini?" Risa duduk kemudian membenarkan handuk di kening Zhen, lalu berbaring kembali dan memeluk pria yang begitu dia rindukan, padahal baru tiga hari tidak bersamanya.


Risa lalu melepas pelukan begitu melihat Zhen yang sudah tertidur, bangun dan turun dari ranjang, duduk di tepi kosong, membilas handuk lalu kembali mengompres Zhen. Tak lupa, Risa mengecek suhu badan Zhen yang masih juga belum turun demamnya. Risa terus melakukan hal yang sama, hingga akhirnya dirinya bernafas lega, setelah demam Zhen akhirnya turun. Risa membereskan peralatan yang tadi dia gunakan, setelahnya kembali dan berbaring di samping pria itu.

__ADS_1


*


*


Zhen perlahan membuka matanya, kepalanya sudah tidak pusing seperti semalam, saat hendak bangun, dirinya tersenyum saat merasakan tangan adiknya melingkari perutnya, Zhen mengubah posisinya menjadi miring. Menatap wajah tenang Risa yang masih terlelap, jari telunjuknya memainkan bulu mata Risa yang lentik, hingga perlahan kelopak mata Risa tampak berkedut, buru-buru Zhen menutup kedua matanya, entah ada maksud abang.


Sementara Risa, dirinya tersenyum, saat membuka mata dan pandangan yang pertama kali dia lihat adalah wajah tampan abangnya.


Menempelkan punggung tangan di kening Zhen menghembuskan nafas lega, karena sepertinya Zhen sudah benar-benar sembuh. Risa mendekatkan wajah dan mengecup pipi Zhen lalu turun dari ranjang, dirinya harus bersiap untuk berangkat sekolah.


Begitu merasa jika Risa sudah pergi, Zhen membuka matanya, pria itu menatap punggung Risa yang keluar dari kamarnya dengan sudut bibir yang tertarik ke atas.


***


"Non Zeze apa yang Non Zeze lakukan?" Bi Irma yang baru saja dari luar membuang sampah terkejut saat melihat nonanya berada di dapur dan tengah berkutat dengan peralatan memasak. Wanita itu berlari tergopoh-gopoh, takut jika nona nya terluka. Karena wanita itu tahu, bahwa Zeline tidak pernah masuk ke dapur, apalagi memegang alat-alat masak.


"Eh bibi...hmm ini Zeze sedang buatkan bubur untuk abang, semalam abang demam," beritahu Zeze menoleh menatap bi Irma yang berlari mendekat ke arahnya.


"Biar bibi saja non," Bi Irma berusaha mengambil alih pekerjaan yang saat ini tengah Zeline lakukan.


"Hmm tidak perlu bi, ini sudah selesai kok. Bibi kerjakan yang lain saja ya. Atau kalau enggak nanti tolong beresin dapurnya, soalnya Zeze harus sekolah."


Bi Irma sampai tercengang, saat melihat dengan piawainya, Zeline melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak pernah dia lakukan. 


Risa juga begitu cekatan menyiapkan semuanya.


"Zeze antar dulu ke kamar abang ya bi…"


Langkah Zeline terhenti saat menatap Zhen yang berjalan mendekat dan juga pria itu sudah dengan penampilannya yang rapi. 


Zeline buru-buru meletakkan nampan yang tadi berisi bubur di atas meja lalu menghampiri Zhen.


"Abang mau kemana?"


"Ke kantor, kamu tidak melihat penampilan abang."


"Tidak! Zeze tidak izinkan abang ke kantor, ayo ganti pakaian abang, abang pokoknya harus istirahat hari ini."


"Tapi sayang…"


"Abang sayang Zeze?"


Dengan cepat Zhen mengangguk.


"Ya sudah, berarti abang harus nurut sama Zeze, ayo kembali ke kamar abang, ganti baju dulu, baru habis itu makan, makan sekarang juga masih terlalu panas."


Risa mendorong tubuh Zhen yang hanya pasrah saja.


Sedang bi Irma menatap keduanya dengan senyum yang terukir di sudut bibirnya, merasa senang.


"Gantiin!"

__ADS_1


Risa yang akan berjalan ke kamarnya menghentikan langkah dan menoleh ke arah abangnya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


"Abang, Zeze juga harus ganti pakaian."


"Nanti abang bantuin."


"No."


Zhen mengerucutkan bibir kesal, karena Risa menolak keinginannya.


Risa menghela nafas, lalu melangkah kembali mendekati Zhen. Membuka pintu kamar pria itu, menarik tangan Zhen  mengajaknya masuk.


Zhen tersenyum senang, mengikuti langkah Risa.


"Abang duduk!" Perintah Risa tapi Zhen tidak langsung menurutinya.


"Abang…abang terlalu tinggi, Zeze susah."


Mendengar itu, barulah Zhen menurut. 


Risa mendekat melepaskan dasi, lalu membuka kancing kemeja pria itu satu persatu. Sementara Zhen hanya menatap wajah adiknya yang tampak serius, tapi entah kenapa Zhen kesal saat Risa tampak seperti biasa saja melihat tubuhnya yang kini bertelan*jang da*da.


"Kenapa kamu biasa saja?"


Risa mendongak menatap Zhen, tidak mengerti maksud pertanyaan pria itu.


Zhen yang semakin kesal karena Risa hanya menatap bingung, menarik Risa hingga terjatuh di atas pangkuannya.


"Abang!" Risa terpekik kaget, wajahnya merona.


"Apa harus seperti ini dulu, agar abang lihat kamu malu-malu seperti itu."


"Hah?"


"Kamu biasa saja lihat abangnya."


Risa semakin mengernyitkan dahi, dan dia baru mengerti begitu melihat tatapan Zhen.


"Kenapa?"


"Aku sudah terbiasa melihat yang seperti ini, kenapa harus terkejut seperti itu," gumam Risa.


"Apa sudah biasa? Siapa? Siapa saja yang sudah kamu lihat?" Suara Zhen meninggi, membuat Risa sampai terkejut, tidak menyangka jika gumamannya tadi, masih bisa didengar oleh Zhen.


"Kenapa Zeze?"


Zeze menatap Zhen takut-takut, Zhen yang sadar langsung menurunkan intonasinya.


"Siapa sayang?" tanya Zhen lagi, merasa belum puas.


"Hmm itu.." Risa tampak gugup harus menjawab pertanyaan Zhen seperti apa. Apalagi begitu melihat wajah Zhen yang sepertinya tengah menunggu jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2