Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 38


__ADS_3

"Zeze kemarin membolos lagi, hmm waktu abang cuekin Zeze. Zeze jadi tidak semangat lalu mengajak Rio dan Evan pulang ke rumah Evan dan seharian bermain game disana," jawab Risa yang teringat cerita Evan kemarin.


Zeze menghela nafas lalu mulai kembali mengemudikan mobilnya.


"Maafkan abang."


Risa menoleh dan menatap Zhen yang tampak fokus dengan jalanan di depannya. 


"Kenapa abang minta maaf?"


"Karena harusnya abang lebih perhatian sama kamu begitu abang memutuskan kembali kesini, tapi abang...abang justru sibuk dengan hati abang sendiri," lanjut Zhen dalam hati.


"Tapi abang kenapa?"


Zhen menoleh dan tersenyum.


"Tapi abang justru sibuk dengan pekerjaan abang, bahkan sampai tidak pulang karena harus lembur, membuat kamu harus bersama dengan bi Irma saja. Abang benar-benar minta maaf ya."


"Baiklah Zeze maafin abang, tapi abang harus janji sama Zeze, abang tidak boleh seperti itu lagi, semarah apapun abang, sesibuk apapun juga sepusing apapun abang menghadapi Zeze, abang tidak boleh mengabaikan Zeze, karena apa? Karena Zeze sedih jika sampai abang seperti itu, Zeze jadi teringat…"


Zhen segera menarik Zeline ke dalam pelukannya.


"Abang janji sayang, abang janji," kata Zhen mengecup puncak kepala Zeline dan melepaskan pelukannya, bagaimanapun saat ini dirinya sedang menyetir.


"Dan satu lagi, belanjaan Zeze pokoknya nanti abang yang bayar semua."


Mendengar ucapan Zeline, Zhen hanya tertawa dan mengacak rambut adiknya.


"Pintar ya," ucap Zhen dan disambut senyuman oleh Risa.


Tak terasa kini mobil Zhen sudah masuk di basement sebuah pusat perbelanjaan di ibukota. Risa turun lebih dulu disusul oleh Zhen yang langsung merangkul pinggang adiknya. Dan siapapun yang melihat mereka, pasti menyangka jika mereka adalah sepasang kekasih, apalagi melihat perlakuan Zhen yang menurut mereka sangat manis.


Zhen yang menarik Risa ke sampingnya saat akan bersenggolan dengan pria. Zhen yang menggandeng tangan Risa kemanapun mereka akan melangkah.


"Temani abang dulu ya beli sesuatu," ucap Zhen yang langsung disetujui oleh Risa.


Zhen ternyata masuk ke sebuah toko jam tangan. 


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Sapa pelayan toko menawarkan bantuannya.


Zhen justru menoleh ke arah adiknya yang sedang melihat-lihat.


"Kamu suka?"

__ADS_1


"Hmm iya abang, bagus," komentar Risa.


"Iya itu jam pasangan Tuan, Nona, dan itu akan sangat cocok untuk pasangan muda seperti kalian," sahut tiba-tiba pelayan yang tadi.


"Hah, kami bu…"


"Baiklah ambilkan yang itu saja," ucap Zhen memotong ucapan Risa.


"Baik Tuan, mohon ditunggu!" Pelayan itu segera berlalu untuk membungkus pesanan Zhen.


"Abang itu pasti mahal," bisik Risa sedikit berjinjit.


"Kamu lupa siapa abang? Hmm tepatnya keluarga kita? Bahkan satu toko pun bisa abang beli kalau kamu mau."


"Tidak...tidak….bukan seperti itu juga abang maksud Zeze. Sudah ah terserah abang aja, Zeze tidak mau berkomentar lagi, nanti jiwa sombong abang keluar."


Zhen tersenyum dan menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan, membiarkan adiknya melihat-lihat sambil menunggu jam pesanannya siap. Tak menunggu lama, kini pesanan sudah siap dan Zhen pun berjalan ke arah kasir untuk membayarnya.


"Kita mau kemana lagi bang?"


"Terserah kamu, abang akan menemani kemanapun kamu akan pergi."


Risa tersenyum, merangkul lengan Zhen dan menariknya ke tempat yang tadi sempat dilewatinya. Seharian mereka berkeliling, dan kini keduanya berjalan menuju mobil dengan kedua tangan yang sama-sama penuh, dan hampir semua belanjaan ini milik Risa yang tentunya dibayarkan oleh Zhen.


Zhen menoleh ke arah Zeline.


"Kita pulang saja abang, Zeze ngantuk."


"Baiklah."


Zhen tersenyum saat melihat Zeline sudah memejamkan mata. Dia lalu menurunkan kursi agar posisi tidur Zeline lebih nyaman.


Cup


Zhen mengecup bibir Zeline sekilas sebelum akhirnya pria itu mulai melajukan mobilnya.


Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Zhen pun kini telah sampai di depan rumahnya. Zhen turun meminta penjaga juga bi Irma untuk membantu menurunkan barang belanjaan sementara Zhen sendiri mengangkat tubuh Zeline yang masih lelap tertidur.


"Nanti taruh di depan kamar Zeze saja ya bi, biar Zhen nanti yang beresin. Zhen bawa Zeze ke kamar dulu."


"Baik Tuan," jawab Bi Irma lalu menyampaikan pesan Zhen pada penjaga yang ikut membantunya membawa barang belanjaan.


Zhen membuka pintu kamar Zeline dengan sedikit menendangnya. Lalu membawa sang adik masuk dan merebahkannya perlahan di atas ranjang.

__ADS_1


"Sepertinya kamu capek sekali sayang," ucap Zhen sambil merapikan rambut Zeline yang berantakan.


Pria itu kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh adiknya, baru setelah itu Zhen keluar untuk mengambil barang-barang milik Zeline yang tadi mereka beli, membawa semuanya masuk.


Zhen membongkar satu persatu, dan ada satu hal lagi yang Zhen dapatkan membuat pria itu kembali terdiam, sibuk dengan berbagai macam pikiran. Zhen menghela nafas, menyelesaikan beberesnya, dan bangkit lalu keluar dari kamar Zeline.


Begitu masuk, Zhen segera mengambil ponselnya. Mencari nomor seseorang lalu menghubunginya.


"Bagaimana?"


"Baiklah, lanjutkan apa yang saya minta kemarin!" Ucap Zhen yang kemudian mengakhiri panggilan.


Zhen masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sebelum nanti dia akan membawa pekerjaannya ke kamar Zeline dan akan menyelesaikannya disana.


*


*


Risa menggeliat lalu membuka matanya perlahan, dengan wajahnya yang sebagian tertutup selimut dan hanya kelihatan matanya saja, Risa menatap Zhen yang tengah sibuk membaca entah apa, yang jelas, Risa yakin jika itu adalah bagian dari kerjaan kakaknya.


Risa terus menatap sambil terus tersenyum.


"Kenapa abang terlihat tampan sekaĺi jika sedang serius seperti ini...rasanya aku ingin...ahh aku ingin dicium abang lagi," ucap Risa dalam hati.


Risa lalu terkejut saat Zhen tiba-tiba menoleh ke arahnya.


"Kamu tadi ngomong apa?"


"Hah maksud abang?" Risa terkejut mendengar suara Zhen. Dirinya memang tadi sempat melamun.


"Tadi apa yang kamu katakan?"


"Pengen dicium abang."


"Apa kamu bilang?"


"Zeze pengen dicium abang," ucap Risa lirih.


Zhen tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Zeline, dan Zhen terkejut saat tiba-tiba, Zeline menangkup kedua pipinya dan mengecup tepat di bibir Zhen, tapi hanya sekilas.


Dan setelah melakukan hal itu, Risa justru terlihat mendadak merasa gugup, Risa juga bahkan sampai menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


Dan masih di tempat yang sama, perlahan tapi pasti, kini Zhen justru menarik selimut yang menutupi wajah Risa membuat gadis itu hanya bisa mengerjapkan kedua matanya lucu, dan itu hanya bagi Zhen tentunya.

__ADS_1


Tatapan Zhen dan Risa bertemu, Zhen menatap Risa lekat, dan perlahan Zhen semakin mendekatkan wajahnya, Zhen lalu mencium bibir Risa. Ciuman penuh kelembutan, perlahan namun tidak menuntut. Ciuman yang awalnya Zhen lakukan sendiri, hingga Risa yang akhirnya membalas ciumannya, bahkan kedua tangan gadis itu, sudah mengalung di leher Zhen.


__ADS_2