Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 22


__ADS_3

"Abang nanti tidak bisa jemput kamu, kamu sama pak Yudi aja, abang tidak mau kamu pergi dengan teman laki-laki kamu itu," pesan Zhen saat dirinya kini dalam perjalanan mengantarkan Zeline ke sekolah.


"Iya abang, sudah berapa kali abang mengatakan itu, Zeze sampai bosan mendengarnya," ucap Risa memalingkan wajahnya keluar jendela, dalam diam dia mengulum senyumnya, merasa senang karena sikap Zhen yang menunjukkan bahwa pria itu sangat menyayanginya.


"Abang hanya takut kamu lupa, kamu dekat sekali dengan siapa itu namanya yang kalian pergi bertiga?"


"Evan sama Rio abang, dia baik sama Zeze, jadi Zeze juga hanya bersikap baik dengan mereka."


"Tapi bersikap baik tidak harus sedekat itu sayang, abang tidak suka."


"Iya, iya abang sayang."


Zhen yang tadi fokus melihat jalanan di depannya kini menoleh ke arah Risa yang kembali menatap keluar jendela.


"Tadi kamu bilang apa?"


"Aku?"


"Hmmm," Zhen tampak mengangguk semangat.


"Tidak bilang apa-apa," jawab Risa sambil merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya keceplosan memanggil Zhen sayang.


"Ayo ulangi lagi!"


"Ulangi apanya?" Tanya Risa pura-pura bodoh.


Citttt


Tiba-tiba Zhen mengerem mendadak dan menepikan mobilnya.


Zhen sedikit bergeser agar posisi duduknya menghadap Risa.


"Abang!"


"Cepat katakan lagi Zeze!"


"Katakan apa? Zeze tadi tidak mengatakan apa-apa," Risa masih terus mencoba mengelak.


Klik


Grep


Zhen melepas seatbelt Risa dan menarik tubuh gadis itu agar mendekat hingga wajah mereka kini dalam jarak yang begitu dekat.


Zhen semakin mendekatkan wajahnya, dan Risa segera menahan dada Zhen dengan kedua tangannya.


"Baiklah, akan Zeze katakan."

__ADS_1


Zhen tersenyum saat akhirnya Risa menyerah dan mau mengulang panggilan sayang yang tadi gadis itu ucapkan. Tapi Zhen sama sekali tidak melepaskan  tangannya yang kini berada di pinggang Risa.


"Ayo cepat katakan!"


"A...a...abang...sa...sayang!" Ucap Risa gugup lalu buru-buru mengalihkan wajahnya.


"Zeze kalau ngomong lihat abang dong!" Pinta Zhen dengan entengnya sambil menarik dagu Risa, tidak tahu saja, jika untuk mengucapkan kalimat tadi saja, sangat sulit bagi Risa.


"Katakan lagi!"


"Abang nanti Zeze terlambat."


Zhen melihat jam di pergelangan tangannya lalu tersenyum.


"Tidak akan terlambat sayang. Coba sekarang ulangi lagi dan tatap mata abang!"


"Abang…" Risa mengacak rambutnya, rasanya frustasi karena Zhen tidak mau mengalah dan tetap kekeh ingin mendengar dirinya memanggil sayang.


"Ya sudah tidak perlu katakan, jika kamu memang ingin terlambat, karena abang tidak mau jalan."


"Abang…Risa menatap Zhen dengan pandangan memelas, yang ditatap justru membuang muka.


"Abang sayang...ayo dong, nanti Zeze dihukum."


Zhen segera saja menatap Risa kembali.


"Mulai saat ini, kamu harus memanggil abang seperti itu," ucap Zhen lalu mulai melajukan mobilnya.


"Zeze masuk dulu abang!"


"Tunggu sayang!" Risa yang hendak membuka pintu mobil urung saat mendengar Zhen memanggilnya.


"Kenapa bang?"


Cup


Zhen mencium kening Risa lembut dan cukup lama.


"Belajar yang benar, jangan membolos lagi," ucap Zhen sembari merapikan rambut Risa yang sedikit berantakan karena Risa yang sempat mengacaknya tadi.


"Iya, abang hati-hati."


Setelah Zhen mengangguk, Risa pun turun dan berjalan masuk. 


"Kami kira lo belum masuk."


Risa menoleh dan mendapati bahwa Rio lah yang kini merangkul bahunya. Risa dengan segera menyingkirkan tangan Rio.

__ADS_1


"Evan mana?"


"Biasa yang gak ada yang dicariin, yang ada di sia-siain."


"Apaan sih Yo, pagi-pagi udah baper aja. Gue nanya karena gak biasanya kalian gak bareng, ibarat lo jam nya Evan itu baterainya, tak terpisahkan."


"Ada-ada saja perumpamaan lo."


Risa kembali melanjutkan langkahnya, begitu pula dengan Rio yang berjalan beriringan dengannya.


"Telat katanya dia."


Risa pun tidak bertanya lagi, karena kebetulan bel sudah berbunyi dan beruntung keduanya sudah sampai di depan kelas.


Mereka masuk juga dengan murid yang lain yang segera duduk di bangku masing-masing, karena guru mapel hari ini  juga sudah masuk ke dalam kelas, dan segera memulai pelajaran.


*


*


Risa yang baru keluar dari toilet terkejut saat ada orang yang mendorongnya kembali masuk hingga punggung Risa membentur dinding.


"Akh!" Risa meringis, merasakan sakit di punggungnya karena benturan yang cukup keras.


"Renata?" Ucap Risa mengenali siapa yang melakukan  hal itu padanya.


"Iya gue, kenapa? Mau ngadu sama kedua bodyguard lo," gadis yang dipanggil Renata menatap Risa sinis dengan kedua tangan yang dilipat di atas perutnya.


Tanpa dijelaskan Risa tahu siapa  dua bodyguard  yang dimaksud Renata. Masalahnya Risa tidak tahu apa kesalahannya sehingga Renata terlihat sangat membencinya. Apa sebelumnya Zeline punya masalah dengannya. Dia memang pernah dengar sebelumnya pembicaraan antara Renata dan temannya, tapi Risa tidak percaya saja, jika Renata membencinya hanya karena nilainya yang ada di atasnya. Karena menurut Risa bersaing nilai adalah hal yang wajar, asal tidak dengan cara curang.


"Gue peringatin ke lo, jauh-jauh dari Nico, juga gak usa menunjukkan  kepintaran yang lo bilang disimpan itu deh, kalau mau simpan ya simpen seterusnya kalau perlu selamanya," Renata berbalik dan berlalu pergi, tapi saat sudah di ambang pintu, langkahnya tiba-tiba berhenti.


"Juga jangan sok kecantikan, jangan merasa Evan dan Rio selalu ada di samping lo, lo jadi besar kepala hingga juga menginginkan Nico,"  tambahnya, membanting pintu sebelum akhirnya pergi.


"Menginginkan Nico? Apa karena tadi?" Risa teringat saat dirinya tadi menghampiri tempat duduk Nico untuk mengembalikan buku yang kemarin dipinjamnya.


"Akh! Sakit banget, gila tuh tenaga cewek, atau memang gitu ya, kalau cewek lagi marah, karena merasa cewek lain dekat dengan gebetannya juga menginginkannya, huft padahal aku dan Nico tidak ada hubungan apa-apa," gumam Risa yang mendadak terkejut begitu dirinya melihat pintu yang kini tiba-tiba terbuka.


"Awas saja jika lo sampai mengadu, gue akan lakukan lebih parah dari tadi."


Risa melihat punggung Renata yang kali ini  benar-benar pergi, menghela nafas lega. Risa bukan tidak bisa membalas bukan, tapi Risa hanya menahan diri, dia tidak ingin membuat masalah, atau mungkin bisa saja membongkar penyamarannya.


Risa pun hendak keluar, jam masuk sebentar lagi. Tapi saat baru akan melangkah, ponselnya bergetar, Risa segera membuka pesan itu dan membacanya. Dan setelah mengirim pesan balasan, Risa kembali mengantongi ponselnya, melanjutkan langkah yang sempat tertunda.


"Kamu nanti dijemput abang kamu?" Risa melihat ke arah Nico yang juga menatapnya.


"Iya," balas Risa sambil terus melihat Nico yang kini meletakkan ponsel di atas meja dan kembali fokus pada buku di hadapannya.

__ADS_1


Risa mengedikan kedua bahunya acuh, lalu mulai mengerjakan tugas dari guru hingga jam pelajaran hari itu berakhir.


"Gue duluan yo," pamit Risa begitu sudah membereskan buku-bukunya dan berlalu keluar berjalan ke depan dimana sopir sudah menunggunya untuk mengantarkan Risa ke suatu tempat dimana dia sudah janjian dengan seseorang.


__ADS_2