Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 80


__ADS_3

Risa tertawa mendengar ucapan ibunya.


"Ibu ini ada-ada aja, jadi maksud ibu wajah bang Zhen pasaran gitu ya," ucap Risa sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Maya, ibu Risa menyingkirkan makanannya, lalu melipat tangan di atas meja, memperhatikan Zhen. Dirinya yakin, Zhen mirip dengan seseorang, wajahnya tak asing menurutnya.


Zhen yang ditatap penuh selidik oleh ibu Risa jadi gugup, dia bahkan kini terlihat salah tingkah.


"Ibu…sudah jangan menatap abang seperti itu, nanti abang kabur lagi."


"Hah? Oh iya. Maaf ya Nak Zhen, ayo dilanjutkan makannya!" Ucap Maya membiarkan Zhen melanjutkan makan.


"Maaf, kamu pasti jadi tidak nyaman karena ibu, kamu juga jangan dengarkan ucapan Risa tadi, wajah kamu gak pasaran kok, ibu hanya merasa tidak asing saja, mungkin itu karena kamu akan jadi menantu ibu jadi…"


Uhuk


Uhuk


Risa sampai tersedak mendengar perkataan ibunya, dia tidak menyangka bahwa ibunya akan bicara begitu. Menantu…menurut Risa ibunya terlalu berpikir terlalu jauh, mereka baru menjalin hubungan  dan semuanya tampak rumit karena dirinya yang pernah pura-pura menjadi Zeline, jadi untuk sejauh itu, mereka harus lebih berjuang bukan? Dan semua itu sungguh tidak akan mudah.


Maya dan Zhen tampak khawatir, bahkan keduanya kini kompak memberikan segelas air pada Risa.


"Pelan-pelan sayang," ucap Maya.


Risa menerima gelas yang Zhen berikan setelah mendapat isyarat dari ibunya.


"Risa sudah kenyang bu," ucapnya setelah menghabiskan hampir setengah gelas minuman.


"Hmm, ibu juga sudah kenyang."


Risa lalu bangkit dari duduknya untuk membayar makanan mereka, tapi Zhen dengan cepat mencegahnya.


"Biar abang saja," kata Zhen menahan lengan Risa.


"Aku saja bang, abang tidak perlu khawatir, aku baru saja gajian jadi kali ini yang traktir oke?"


"Tapi sayang…"


"Biar putri ibu saja Nak Zhen, kamu duduk sini temani ibu."


Maya mencoba menghentikan keduanya yang tengah berebut untuk membayar.


Risa mengangguk dan tersenyum, hingga mau tidak mau Zhen pun akhirnya menuruti permintaan ibu Risa.


"Sudah lama menjalin hubungan dengan putri ibu?" Tanya Maya begitu melihat Risa sudah menjauh.


"Baru beberapa bulan bu."

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, kalian kenal dimana? Kamu teman kerjanya Risa?"


"Hah? Oh bukan bu. Kita kenal saat…"


Tiba-tiba ponsel Zhen berdering begitu nyaring.


"Maaf bu, ada telepon…"


"Ya, jawab saja."


"Saya permisi dulu."


Zhen bangkit dari duduknya setelah menggeser ikon berwarna hijau, dia berjalan sedikit menjauh sebelum akhirnya menempelkan ponsel ke telinganya untuk menjawab panggilan.


"Loh abang kemana bu?"


Maya yang sedang minum, segera melepas sedotan dari mulutnya, mengangkat kepala dan menatap sang putri yang sudah kembali.


"Oh Zhen, tadi lagi jawab telepon, mungkin sebentar lagi…oh itu dia…"


Maya lalu menunjuk ke arah belakang Risa dengan dagunya.


"Sayang,"


Zhen memegang kedua bahu Risa, membuat Risa mendongak. Risa lalu memegang tangan kiri Zhen.


"Kenapa bang? Abang harus kembali sekarang?" Tanya Risa yang sepertinya sudah bisa menebak apa yang akan Zhen katakan.


"Tidak perlu bang, abang langsung pulang saja, aku sama ibu bisa kok pesan taxi."


"Tapi tetap saja…"


"Tidak apa-apa Nak Zhen, jika memang Nak Zhen harus kembali sekarang, seperti yang Risa katakan tadi, kita bisa naik taxi," sahut Maya meyakinkan saat melihat wajah Zhen yang tampaknya keberatan dengan usulan putrinya.


Zhen lalu menatap kedua wanita cantik itu bergantian.


"Hmm baiklah, maaf ya bu," ucap Zhen yang jadi merasa tidak enak.


Maya pun tersenyum dan mengangguk.


"Kalau begitu aku antar ke depan sampai kamu dapat taxi," tambah Zhen.


Risa dan ibunya pun setuju, mereka pun dengan segera meninggalkan tempat itu.


Di depan, Zhen tampak melambaikan tangan menghentikan sebuah taxi, setelah berbicara pada sopir dan memberikan beberapa uang serta menyebutkan alamat, Zhen pun membukakan pintu bagian belakang agar sang kekasih dan ibunya masuk.


"Kami duluan ya bang."

__ADS_1


"Hmm, besok pagi abang jemput. Kebetulan jadwal abang juga tidak begitu padat."


"Iya."


"Hati-hati pak!" Peringat Zhen pada sang sopir sebelum akhirnya mobil melaju.


Zhen lalu berjalan kembali ke tempat parkir, dan masuk ke mobilnya lalu segera melajukan mobilnya ke alamat yang dikirimkan Zeline padanya.


Dalam perjalanan, ponsel Zhen terus saja berdering, Zhen melirik sebentar, masih nomor yang sama, menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, Zhen pun menjawab panggilan itu.


"Halo."


"Abang dimana? Sudah jalan belum?"


"Udah di jalan. Memangnya sopir tidak bisa menjemputmu hingga kamu meminta abang yang jemput?"


"Nanti Zeze jelasin, abang cepetan kesini dulu."


"Hmmm, kamu tunggu dan jangan kemana-mana."


"Iya."


Zhen pun mengakhiri panggilannya, dia mempercepat laju mobilnya ke alamat tujuan.


*


*


"Bagaimana? Abang kamu bisa jemput? Kalo tidak biar aku yang antar saja," kata Nico yang melihat Zeline tampak gelisah.


Pasalnya Zeline baru saja mendapat telepon dari ayahnya, meminta dirinya untuk segera pulang, atau kalau tidak, dia akan dihukum. Zeline beralasan jika dirinya sedang pergi bersama abangnya. Zeline juga bilang bahwa Zhen tadi menjemputnya ke sekolah, sekalian mengajaknya makan dan membeli beberapa buku untuk persiapan ujian. Makanya Zeline menghubungi Zhen dan meminta untuk menjemputnya, berharap agar papanya tidak tahu bahwa sebenarnya Zeline bersama teman-temannya.


Zeline menoleh dam memaksakan senyumannya. Dia tidak ingin membuat Nico khawatir begitu pula dengan Evan dan Rio. Ini salahnya, dan mereka tidak boleh ikut terlibat. Jadi Zeline berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Walaupun dia tidak benar-benar melakukannya karena dia tetap saja meminta bantuan kakaknya.


"Iya Zel, biar kita yang antar saja. Jika kamu kena marah, biar kami juga. Bagaimanapun ini semua keputusan bersama. Jadi kita juga bertanggung jawab bersama," sela Evan, ikut merasa bersalah melihat bagaimana ekspresi ketakutan Zeline saat menerima panggilan dari papanya.


"Tidak perlu, abang dalam perjalanan kemari kok," jawab Zeline yang berusaha setenang mungkin.


Rio, Evan dan juga Nico menghembuskan nafas pasrah, saat mendengar penolakan Zeline yang kesekian kalinya. Mereka saling diam dengan pemikiran masing-masing, hingga…


Tet tet tet


Suara klakson terdengar, Zeline secepat mungkin bangkit dari duduknya. Dia berlari dan melihat dari jendela, begitu tahu bahwa itu mobil abangnya, Zeline kembali berlari ke tempatnya duduk tadi, untuk mengambil tasnya. Ponselnya pun berdering, dia dengan segera menjawab panggilan itu.


"Iya bang, ini mau keluar," ucapnya lalu mengakhiri panggilan.


"Gue pulang duluan ya," pamit Zeline sambil memasangkan tas di punggungnya. Dia lalu berlari pergi. Tapi dia tiba-tiba berbalik dan berlari menghampiri Nico.

__ADS_1


Cup


Zeline mengecup pipi Nico, lalu kembali berbalik dan berlari keluar dengan wajah yang memerah. Dia segera masuk ke mobil abangnya, kemudian menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dalam hati merutuki dirinya sendiri, karena melakukan hal tadi, apalagi di depan kedua temannya. Zeline tidak tahu bagaimana harus menghadapi mereka besok.


__ADS_2