
Semenjak kejadian di ruang makan dengan Zhen, Risa enggan keluar dari kamarnya. Setelah mandi, gadis itu memilih rebahan di kasur Zeline yang begitu empuk. Menonton drama yang sempat terlewatkan. Karena kemarin malam dirinya harus belajar lagi, ya walaupun bisa dikatakan Risa dulu anak yang pintar, tapi tujuh tahun tidak membuka buku membuat Risa sedikit lupa, hingga dia belajar dari awal lagi.
Risa kadang tertawa, kadang juga menangis. Dia terhanyut dalam drama yang ditontonnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi gadis itu masih memandang layar ponsel walaupun rasa kantuk sudah sedikit menguasai. Mumpung besok hari minggu, dan baru kali ini minggu Risa libur, biasanya dia akan tetap bekerja tak peduli hari minggu atau tanggal merah. Risa bahkan sampai melewatkan makan malamnya, entah dia merasa lapar atau tidak sebenarnya. Menonton drama membuatnya lupa waktu juga lupa bagaimana rasanya lapar.
Mata Risa perlahan sudah mulai redup, mungkin tinggal 5 watt sekarang, perlahan tangannya melemah, dan Risa tertidur masih dengan ponsel yang menyala dalam genggamannya.
*
*
Zhen menghela nafas berkali-kali sambil terus mengaduk makanannya. Sedari tadi gadis yang ditunggu-tunggu tidak juga datang. Zhen bahkan sudah menyuruh bi Irma untuk memanggil Zeline, nyatanya bi Irma justru turun sendiri saat Zhen tanya, katanya Zeline tidak mau membuka pintu, mau masuk saja, bi Irma takut membuat Zeline marah, karena masuk kamarnya tanpa izin.
Akhirnya, Zhen kembali menunggu, berharap Zeline turun karena rasa laparnya, tapi jam sudah menunjukkan pukul 9, Zeline tidak juga menampakkan batang hidungnya.
"Apa mau dihangatkan lagi Tuan makanannya?"
Zhen menoleh ke arah bi Irma.
"Tidak perlu bi, bereskan saja, simpan barangkali nanti Zeze lapar."
Zhen menyudahi makannya lalu bangkit.
"Bagaimana kalau Tuan bawa saja makanan non Zeze ke kamarnya? Jika iya, bibi akan panaskan dulu," saran wanita itu.
Zhen terdiam seperti tengah berfikir, lalu kembali duduk.
"Baiklah, aku tunggu."
Bi Irma dengan cekatan memanaskan makanan dan menyusunnya di atas nampan.
Zhen hanya diam memperhatikan, sejujurnya Zhen tidak ingin bertemu dulu dengan Zeline, sungguh Zhen malu dengan kejadian sore tadi, dan bisa-bisanya pusakanya langsung on, Zhen tidak punya muka untuk berhadapan dengan Zeline.
'Zeline loh ini Zeline, adik gue. Zhen...Zhen...kenapa dari kemarin loe seperti itu," Ucap Zhen merutuki dirinya dalam hati.
"Tuan!"
"Tuan!" Bi Irma sampai menepuk lengan Zhen pelan, membuat akhirnya pria itu tersadar dari lamunannya.
"Eh kenapa bi? Sudah selesai?"
__ADS_1
"Sudah Tuan."
"Baiklah bi, terima kasih," Zhen bangkit, mengambil nampan dan membawanya menuju kamar Zeline.
Zhen mengetuk pintu berkali-kali, tapi tidak juga mendapat sahutan, Zhen mencoba membukanya, tidak dikunci. Perlahan Zhen mendorong pintu itu, Zeline adiknya tampak terlelap, tapi Zhen seperti mendengar suara. Dengan langkah pelan, Zhen meletakkan nampan di atas meja belajar lalu mendekat ke arah ranjang.
"Rupanya dari ponsel."
Zhen mencoba mengambil ponsel Zeline, tapi matanya melotot saat melihat pemeran utama wanita dan pria tengah saling memagut bibir. Zhen terkejut, bukan karena dirinya tidak pernah melihat adegan seperti itu, bahkan di kehidupan nyata Zhen sering menemui hal seperti itu, terlebih sebelumnya dirinya memang tinggal di luar negeri yang memang bebas. Tapi Zeline? Adiknya itu baru berumur 18 tahun dan…"
"Tidak bisa dibiarkan," gumamnya mengembalikan ponsel Zeline ke layar depan lalu meletakkannya di atas meja nakas, sepertinya, Zhen harus benar-benar ekstra menjaga adiknya.
Zhen kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Zeline. Mendekat kemudian mencium kening Zeline lama, tatapan Zhen beralih pada bibir Zeline yang sedikit terbuka, entah kenapa tiba-tiba, dia menelan saliva susah payah.
Zhen terus menatapnya, hingga kemudian wajahnya tertarik ke depan, benda kenyal yang sedari tadi dipandanginya kini benar-benar menempel di bibirnya.
Zeline tiba-tiba melepaskannya, lalu kembali tertidur.
"Saranghae oppa," gumamnya.
Zhen yakin, jika tadi Zeline pasti sedang bermimpi.
Zhen menegakkan badannya, mengganti lampu utama dengan lampu tidur, kemudian segera pergi dari kamar Zeline ke kamarnya sendiri.
Menatap pantulan dirinya di cermin, Zhen mengangkat tangan, memegang bibirnya yang tadi bertabrakan dengan bibir Zeline. Tanpa sadar sudut bibir Zhen tertarik ke atas. Tapi buru-buru dia menggeleng, menepis pemikirannya yang mulai ngawur.
Tangan Zhen turun, memegang dadanya, di dalam sana, jantungnya berdebar begitu kencang, seperti apa yang terjadi sore tadi, debaran yang sama juga orang yang sama.
*
*
Keesokan harinya, baik Risa maupun Zhen sama-sama bangun kesiangan. Risa yang kesiangan karena tidurnya yang begitu nyenyak, juga memimpikan dirinya yang tengah mencium idolanya.
Sedangkan Zhen kesiangan karena tidak bisa tidur, penyebabnya karena Zhen yang terus mengingat, kejadian demi kejadian antara dirinya dan Zeline.
"Maaf," Zeline yang baru saja menutup pintu kulkas, menabrak Zhen yang rupanya sejak tadi berdiri di belakang pintu.
"Tidak apa-apa, harusnya abang yang minta maaf karena mengejutkanmu."
__ADS_1
"Oh ya bibi mana?" tanya Zhen yang kini mencoba bersikap biasa saja.
Zhen celingukan mencari bi Irma yang memang mempunyai tugas memasak. Zhen merasa lapar, makanya dia mencari keberadaan bi Irma.
"Ke supermarket."
Zhen mengangguk mengerti.
Risa menyingkir, saat Zhen akan membuka kulkas, gadis itu berjalan dan menarik salah satu kursi dan duduk di sana.
Zhen yang baru saja mengambil minuman dingin melakukan hal yang sama dan duduk di seberang tempat duduk gadis yang sampai saat ini dikira adiknya.
Zhen membuka tutup botol, lalu meneguknya. Risa diam memperhatikan, pandangannya tak lepas dari Zhen. Melihat Zhen minum, membuat Risa menelan saliva susah payah.
Saat Zhen sudah selesai, buru-buru Risa mengalihkan pandangannya, tak ingin pria itu tahu bahwa tadi dia sempat memperhatikan nya.
"Kamu sudah makan?" Tanya Zhen, Risa hanya menggeleng.
"Kenapa bang?" Risa mengernyitkan dahi bingung.
"Tidak apa-apa," jawab Zhen yang sebenarnya menahan lapar.
Seberapa besar Zhen bertahan dengan rasa laparnya, nyatanya perutnya tidak bisa berbohong, perutnya berbunyi, saat Risa baru saja menghabiskan minuman di gelasnya.
"Abang lapar?"
Zhen yang sudah terlanjur malu, kini akhirnya hanya memberi anggukan pelan.
Risa tersenyum, kemudian bangkit dari duduknya dengan lancar, tidak ada adegan seperti kemarin lagi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Zhen menahan tangan Zeline yang hendak pergi meninggalkannya.
"Mau masak, katanya abang lapar."
Zhen menatap Zeline tanpa berkedip.
"Benarkah?" Hanya kata itu yang Zhen ungkapkan, tentunya hanya dalam hati saja.
Zeline yang baru beberapa langkah berjalan, berhenti seketika, saat mendengar ponselnya berdering, juga suara abangnya yang menyebutkan nama seseorang yang dikenalnya.
__ADS_1
"Risa?"
Zhen membaca nama yang tertulis di layar, dan buru-buru Zeline berbalik dan berlari segera, merebut ponselnya yang saat ini ada di tangan kakaknya.