
Risa yang tampak sibuk belajar dengan Nico terkejut saat Zhen tiba-tiba menggeser Nico dan kini duduk di tengah mereka.
"Abang ngapain?"
"Duduk, apalagi memang," jawab Zhen ketus.
Risa hanya mengernyitkan dahi bingung, sofa di belakang mereka kosong, lantas kenapa abangnya justru duduk di sampingnya yang jelas tadi ada Nico.
"Tidak apa-apa Zel, biar aku saja yang pindah ke sebelah kanan kamu," ucap Nico tapi tangannya ditahan oleh Zhen.
"Disini saja."
Nico menatap Zhen penuh aura permusuhan, dan Zhen tidak mau kalah, dia juga tak kalah menatap Nico tajam.
"Lanjutkan saja, abang tidak akan mengganggu kalian," jawab Zhen cuek mengambil ponsel dan memainkannya tanpa rasa bersalah.
"Tidak mengganggu? Yang benar saja, keberadaannya saja sudah jelas mengganggu," gerutu Nico yang masih bisa Zhen dengar dengan jelas.
Tapi pria itu memilih tetap cuek, tapi senyum menyeringai terbit di sudut bibirnya melirik pada wajah Nico yang terlihat kesal.
"Berani sih dekat-dekat," ucap Zhen dalam hati.
Zhen tadi memang pergi, entah kenapa dia begitu marah saat ada pria yang lain dekat dengan Zeline. Zhen berpikir mungkin karena selama ini dirinya yang sangat dekat dengan adiknya, hingga dia tidak rela jika Zeline bersama dengan pria lain selain dirinya. Zhen melangkah gusar ke dapur, mengambil minuman dingin, dan langsung meneguknya hingga tandas. Setelah itu, dirinya kembali melangkah hendak ke kamarnya, tapi dari kejauhan dia melihat teman adiknya itu duduk dengan jarak yang begitu dekat dengan Zeline, hingga dengan langkah cepat, Zhen datang dan menggeser Nico kemudian duduk diantara mereka, dia tidak akan membiarkan Nico mencari kesempatan dalam kesempitan dan dia puas saat melihat kekesalan di wajah Nico yang tergambar dengan jelas.
"Ya sudah Nic, kita lanjutkan saja," ucap Risa kemudian, Nico mengangguk dan saat mereka hendak kembali memulai belajar mereka, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Risa memperhatikan Nico yang hanya melihat ponselnya saja, lalu meletakkan kembali di atas meja. Tidak lama hingga, ponsel pria itu kembali berdering.
"Jawab saja Nico, mungkin saja penting," ucap Risa membuat Nico menoleh ke arahnya.
"Sebentar ya," pamitnya.
"Lama juga tidak apa-apa," sahut Zhen yang langsung mendapat lirikan sinis dari Nico, tapi hanya sekilas karena Nico kembali tersenyum saat bertatapan dengan Zeline.
"Dasar bocah licik. Akhh!" Zhen meringis dan menoleh saat mendapat cubitan pedas dari gadis di sampingnya. Sementara Nico berjalan menjauh untuk menjawab panggilan teleponnya.
"Abang ngomongnya ya, bagaimana kalau Nico dengar?"
"Memang benar kan."
"Akh...Zeze sakit sayang, lepasin!" Rengek Zhen saat Zeline memutar cubitannya.
Risa yang tidak tega, akhirnya melepaskan cubitannya. Dia lalu membereskan peralatan tulis yang sekiranya sudah dia tidak gunakan, lalu menoleh saat Nico memanggilnya.
__ADS_1
"Maaf Zel, sepertinya aku harus pulang sekarang."
"Kenapa gak dari tadi aja," gumam Zhen tapi masih didengar oleh Risa dan Nico.
"Nanti dilanjut besok saja di sekolah, biar lebih tenang dan tidak ada setan yang mengganggu," ucap Nico santai sambil menatap Zhen dengan senyum miringnya.
Risa hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mendengar perkataan saling sindir keduanya.
Sementara Zhen yang tidak terima langsung berdiri berkacak pinggang.
"Kau bilang saya setan?"
"Aku tidak bilang loh bang. Abang sendiri yang bilang tadi."
"Kau!"
Zeline segera menahan Zhen yang sepertinya hendak menyerang Nico, dengan cara memeluk tubuh pria itu, mendapat pelukan Zeline, Zhen tersenyum senang, apalagi saat melihat wajah Nico yang kini terlihat kesal.
"Jika ada dua orang yang sedang bersama maka ketiganya setan," bisik Nico di dekat telinga Zhen, lalu menatap Zeline tersenyum, mengacak rambut gadis itu sebelum akhirnya berpamitan.
"Aku pulang dulu ya Zel," Nico mengambil bukunya yang ada di atas meja, lalu memasukkannya ke dalam tas.
Zhen terlihat kesal, karena merasa kecolongan oleh pria muda yang sedang mencoba mendekati Zeline.
Sementara Zeline, gadis itu membeku, saat tiba-tiba saja, Nico melakukan hal yang tidak terduga padanya.
"Abang mau kemana?"
"Ke kamar."
"Abang tunggu!" Risa mengejar Zhen yang sudah lebih dulu menaiki tangga. Tapi karena rasa kesalnya, Zhen sama sekali tidak mendengarkan Risa dan tetap berjalan dengan cepat menuju kamarnya yang tinggal beberapa langkah saja.
"Abang!" Risa menahan pintu saat Zhen hendak menutup pintu kamarnya.
"Lepasin Zeze!"
"Akh!" Teriak Risa.
"Kenapa?" Zhen melepaskan dan menatap adiknya khawatir.
Melihat Zhen yang lengah, Risa segera menerobos masuk ke dalam kamar Zhen.
"Kamu…"
__ADS_1
Risa mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya, lalu berlari dan duduk di atas ranjang king size milik kakaknya.
"Berani ya kamu bohongin abang," Zhen mendekat dan menggelitiki tubuh Zeline.
"Rasain ini…"
"Abang ampun abang...abang stop please...abang…"
Zhen mengabaikan teriakan Zeline yang kini bahkan sudah jatuh berbaring di atas kasur miliknya. Zhen ikut naik ke atas kasur tanpa berhenti menggelitik Zeline.
"Abang…"
"Ini hukuman kamu…"
Nafas Risa naik turun, tubuhnya sudah terasa lemas karena ulah Zhen. Melihat itu Zhen pun menghentikan aksinya, dan dia baru sadar jika saat ini duduk di atas paha Zeline, keduanya saling pandang dalam diam. Zhen menunduk mendekatkan wajahnya hingga kini bibirnya menempel di bibir Zeline. Cukup lama ciuman itu berlangsung, saat merasa Zeline kehabisan nafas, barulah Zhen melepas pagutan bibir mereka. Zhen menjatuhkan tubuhnya tepat di samping tubuh Zeline. Menarik Zeline hingga kini mereka berbaring dengan saling berhadapan.
Tangan Zhen terulur menyingkirkan helaian rambut Zeline yang menjuntai ke depan menutupi wajahnya.
"Abang."
"Zeze."
Ucap keduanya bersamaan.
Zhen lalu menarik tangan Zeline membawa ke dadanya.
"Abang…"
Risa merasakan jantung Zhen yang berdetak begitu kencang.
Bukan menjawab, Zhen justru menarik Zeline masuk ke dalam pelukannya.
"Abang…"
"Biarkan seperti ini...biarkan seperti ini sebentar saja…" ucap Zhen memeluk Zeline begitu erat.
Sementara Risa menatap kosong ke depan, pikirannya campur aduk, jujur Risa juga selalu gugup di dekat Zhen, jantungnya juga berdebar kencang sama seperti yang Zhen rasakan, tapi tiba-tiba, seolah ada yang berbisik padanya, bukan karena status mereka bukan, tapi Risa takut, takut jika Zhen seperti bukan hanya padanya, Risa takut sebenarnya rasa Zhen untuk Zeline bukan untuknya, Risa takut jika Zhen seperti itu karena mengira dirinya adalah Zeline.
"Zeze."
"Abang!"
"Biarkan abang bicara dulu."
__ADS_1
Risa mencoba melepaskan pelukan Zhen, setelah berhasil, dirinya segera turun. Dia harus pergi dari kamar Zhen, mengingat jika mungkin saja bisikan tadi benar, entah kenapa hati Risa merasa sesak. Risa ingin menumpahkan segalanya, tapi tidak disini. Dia tidak mau Zhen tahu.
"Zeze, sepertinya abang sayang sama kamu." Teriak Zhen yang membuat langkah Risa yang sudah berada di ambang pintu langsung berhenti.