Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 29


__ADS_3

Risa menghela nafas. Panggilan bersama Zeline baru saja berakhir, Zeline bercerita tentang abangnya yang katanya jarang pulang, bahkan seperti selalu menghindar darinya. Risa rasanya seperti tak percaya, saat kemarin bersamanya, Zhen baik-baik saja. Hubungan mereka pun...tiba-tiba dirinya terdiam, entah kenapa dia tiba-tiba takut, jika kemarin yang Zhen lakukan bersamanya hanya rasa sesaat pria itu.


"Melamun lagi," Aga duduk dan memberikan satu cup minuman untuk Risa.


"Kalau mbak tidak mau datang, tidak perlu datang, gak usah dibikin ribet, lagian jika mbak datang karena terpaksa, rasanya percuma saja."


Risa menghembuskan nafasnya, bukan karena itu dirinya melamun, soal orang tua Ardan, dia sudah memutuskan akan datang, apapun yang terjadi, entah mungkin perkataan yang akan kembali menyerang dirinya, Risa sudah siap untuk menerimanya.


Tapi masalahnya sekarang, tiba-tiba saja Risa kepikiran Zhen, entah kenapa dia merindukan pria itu, ingin menanyakan kenapa dia jarang pulang dan bersikap dingin pada Zeline, jika pria itu ada masalah, Risa juga ingin menghiburnya.


"Mbak malah diam."


"Hah? Oh mbak gak apa-apa, dan soal undangan Ardan mbak akan datang kok," jawab Risa memaksakan senyumnya walaupun sebenarnya gunda tengah melanda hatinya saat ini.


"Ok, baiklah, terus apa yang membuat melamun disini? Perkataan mbak Ina tadi?"


"Hmm bukan, oh ya kenapa kamu malah disini, mbak Ina kasihan lah sendirian jaga ibu."


"Aku diminta mbak Ina menyusul mbak dan mengantarkan mbak pulang, kata mbak Ina biar dia yang gantian jaga ibu."


Risa menatap adiknya, Risa juga sebenarnya ingin sendiri dulu saat ini.


"Ayo, aku antar, besok mbak bareng aku lagi kesininya sekalian aku berangkat ke kampus."


Risa pun akhirnya bangkit dan mengikuti langkah adiknya.


"Apa mbak ada masalah? Semenjak pulang, Aga perhatikan mbak lebih sering melamun," Risa melihat adiknya yang kini tengah menatapnya.


"Tidak kok, tidak ada masalah apa-apa. Oh ya bagaimana kuliah kamu?"


"Malah ngalihin pembicaraan," Aga merangkul Risa membawanya ke tempat dimana motornya diparkirkan.


Risa tersenyum, Aga adiknya jauh lebih peka dengan dirinya ketimbang kakak perempuannya.


"Liburan main dong ke tempat mbak!" Kata Risa kemudian.

__ADS_1


"Iya nanti Aga malah ditinggal kerja dan berakhir sendirian di kos an, tidak mau, yang ada nanti Aga yang kesepian."


"Ya kan kamu bisa jalan-jalan saat mbak kerja, nanti pulangnya kita baru jalan bareng."


"Hmm nanti deh Aga pikirkan, soalnya Aga sama teman-teman mau buka tempat les gitu mbak untuk anak-anak, hasilnya lumayan kan buat jajan Aga, Aga gak mau ngerepotin mbak terus."


Risa berhenti membuat Aga juga menghentikan langkahnya.


"Kata siapa kamu ngerepotin mbak? Mbak nggak pernah merasa seperti itu, mbak tidak minta banyak sama kamu, hanya ingin kamu bisa buat bangga orang tua, juga mbak dengan prestasi kamu, soal kamu mau buka tempat les, mbak akan mendukungmu selama kamu bisa membagi waktu antara belajar dan mencari penghasilan, juga waktu untuk ibu. Kamu tahu kan, mbak kerja di tempat yang jauh, sedangkan mbak Ina sudah berkeluarga dan punya kehidupannya sendiri."


"Iya mbak, soal itu mbak tidak perlu khawatir, mbak kerja aja yang tenang, kumpulin uang untuk masa depan mbak sendiri, bukan hanya untuk kami."


Risa sedikit berjinjit dan mengacak rambut adiknya.


"Wah kamu kenapa jadi tinggi seperti ini, makan apa aja sih, padahal terakhir segini loh," ucap Risa menyetarakan telapak tangannya setinggi bahu.


"Yeh memangnya mbak."


Plak


"Kamu ngatain mbak pendek? Mbak itu imut tahu."


"Iya-iya imut, percaya deh."


"Ini ya, mungkin kalau kita jalan bareng, nyangkanya mbak pasti anak kamu."


"Yah, memangnya aku setua itu," jawab Aga tidak terima.


Tapi Aga tiba-tiba tersenyum saat melihat kakaknya juga tersenyum, tidak murung seperti tadi.


Obrolan mereka berhenti, karena mereka kini sudah berada di tempat parkir. Aga memberikan helm pada Risa juga jaketnya agar dikenakan oleh sang kakak, setelahnya Aga memakai helm miliknya sendiri, lalu naik ke atas motor di susul Risa yang kini berpegangan di kaos Aga begitu adiknya itu mulai melajukan motornya.


*


*

__ADS_1


"Abang tidak pulang lagi bi?"


"Bibi tidak tahu Non," Bi Irma menatap sendu nona nya yang terlihat sedih.


Saat ini Zeline tengah duduk di sofa ruang tengah, tv menyala tapi tidak menjadi fokusnya, dia hanya menatap kosong ke depan sambil menunggu abangnya yang mungkin saja akan pulang malam ini.


"Non Zeze istirahat saja di kamar, biar bibi yang tungguin Tuan Zhen."


Zeline menatap bi Irma lalu menggeleng.


"Tidak perlu bi, bibi istirahat saja, Zeze juga akan istirahat kok, lagian abang juga pegang kunci, nanti kalau pulang bisa buka pintu sendiri."


Tatapan keduanya bertemu, Bi Irma melihat Zeline yang tersenyum padanya, tapi jelas senyum itu senyum yang sepertinya tengah dipaksakan oleh nona nya.


"Ya sudah, tapi Non Zeze aja yang ke kamar dulu, bibi mau masukin makanan ke dalam kulkas dulu," ucap Bi Irma yang sebenarnya ingin memastikan lebih dulu bahwa Zeline benar-benar masuk ke kamarnya dan beristirahat.


Zeline mengangguk, berdiri dari duduknya lalu dengan langkah gontai berjalan menaiki tangga. Dan begitu sampai di kamarnya, Zeline menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, melipat kedua tangan yang dia jadikan bantal, menatap langit-langit kamarnya.


Dia segera mengecek ponsel begitu mendengar notifikasi pesan masuk, berharap itu dari abangnya, tapi ternyata bukan. Zeline yang kecewa meletakkan kembali ponselnya begitu saja di atas ranjang. Dia mengubah posisinya miring, meraih jam digital di atas meja, waktu masih menunjukkan pukul 10. 


"Masih belum terlalu malam," pikir Zeline yang kini segera turun dari ranjang, mengambil sweater lalu memakainya. Zeline dengan mengendap-endap berjalan keluar dan bernafas lega saat akhirnya kini dia sudah ada di depan rumah tanpa ketahuan bi Irma.


Keberuntungan sepertinya juga tengah berpihak padanya saat satpam kini tampak memejamkan mata. Zeline yang biasa bolos sekolah melewati pagar memudahkan dirinya untuk juga memanjat pagar rumahnya.


Tap


Zeline mendarat dengan sempurna, menoleh dengan perlahan dan bernafas lega karena satpam tidak terbangun karena suara sandalnya tadi. Zeline berjalan sebentar sampai sebuah motor yang tadi dipesannya datang dan Zeline langsung naik ke boncengan.


"Sudah dibayar di aplikasi ya pak," ucap Zeline yang diangguki pengemudi ojek online.


Zeline turun dan masuk ke dalam sebuah toko es krim yang untungnya masih buka, berharap minuman dingin dan manis itu membuat moodnya kembali membaik.


Memesan es krim yang diinginkannya lalu berjalan ke arah kasir untuk membayar. Baru saja moodnya membaik, kini harus turun saat seseorang menepuk bahunya dari belakang membuat dirinya terkejut, hingga sisa es krim yang ada di tangannya terjatuh.


Zeline mengepalkan kedua tangan, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, dia hendak berbalik dan memarahi orang yang sudah berani mengganggu ketenangannya, tapi saat berbalik, mulutnya yang hampir saja terbuka, kembali tertutup rapat saat melihat siapa orang yang kini ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2