
Rio dan Evan saling memberi isyarat pada Zeline, lalu keduanya berjalan lebih dulu lewat belakang Nico dengan perlahan.
Tanpa mereka tahu, jika Nico tahu pergerakan mereka lewat jendela, dengan segera dia berbalik dan menarik kerah keduanya.
"Ayo cepat!" Ucap Evan.
"Kok gak bisa jalan," tambahnya.
"Sama," jawab Rio.
Lalu keduanya saling pandang dan kemudian menoleh bersama.
"Hehe pantesan, kecantol," ucap Rio memberikan cengiran nya.
Tak berbeda pula dengan Evan. Keduanya terlihat pasrah saat Nico menariknya dan menyuruh duduk di kursi masing-masing.
Tak lama bel tanda masuk berbunyi, dengan bibir mengerucut, Zeline menatap Nico yang kini mendekat dan mengusap rambutnya.
"Belajar yang benar," ucap Nico. Lalu dia dengan segera menuju ke bangkunya sendiri saat melihat wali kelas mereka datang. Sikap Nico terhadap Zeline jelas disaksikan seseorang sambil meremas selembar kertas.
Setelah basa-basi singkat menanyakan kabar murid-muridnya selama liburan, wali kelas pun mulai menjelaskan rencana pembelajaran di akhir semester, terutama dengan diadakannya jam tambahan, agar para murid nantinya bisa mengerjakan ujian dengan mudah.
Nico sesekali melirik Zeline, gadis itu kini tampak menumpukan dagu di atas satu tangannya yang terlipat, dan tangan yang lainnya sibuk mencoret-coret bukunya.
Diam-diam Nico tersenyum, tak menyadari jika dirinya tengah diperhatikan oleh seorang gadis yang menatapnya dengan pandangan sendu.
Tak terasa waktu kini berlalu begitu cepat, bel tanda pulang bahkan sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Tapi tak membuat Zeline beranjak dari duduknya. Dia justru memainkan jari-jarinya di atas layar ponselnya. Tampak serius, bahkan kemungkinan dia tidak menyadari jika kini yang duduk di sebelahnya sudah berganti orang. Dan Zeline baru menoleh saat tangan orang itu mengganggu dirinya yang sedang fokus bermain game.
"Sudah mainnya, ayo pulang! Besok sudah tidak bisa pulang jam segini lagi."
"Tangan kamu minggir dulu, nanggung tau ini, bentar lagi menang," ucapnya mengubah posisinya membelakangi Nico.
Tak mengganggu lagi, Nico kini mengambil ponsel miliknya lalu mengirim pesan pada mamanya, bahwa dia akan pulang terlambat.
"Kalian mau ditinggal nih," ujar Evan dan Rio yang sedari tadi hanya diam memperhatikan sejak Nico berjalan ke arah bangku mereka. Walaupun dalam hati mereka merasa heran dengan sikap Nico yang terlihat berbeda terhadap sahabat keduanya.
"Disini saja, tunggu sebentar lagi katanya, gue tidak ingin nanti jadi fitnah jika hanya ada kita berdua di dalam kelas."
Rio pun setuju dengan ucapan Nico, dia juga tidak berencana meninggalkan Zeline.
"Yes!" Seru Zeline.
Ia lalu menoleh ke sampingnya dan tersenyum menatap Nico.
"Sudah?"
"Hmm sudah."
"Abang lo yang jemput Zel?"
Zeline menoleh ke belakang dan dirinya tidak menyangka jika Evan dan Rio juga masih ada disana.
"Kalian belum pulang?"
"Yah ditanya malah balik tanya lagi," ucap Evan yang berdiri lalu menyampirkan tas di bahu.
"Jangan bilang lo lo pada juga menungguku?"
Evan memutar bola matanya lalu berjalan keluar lebih dulu.
Zeline lalu menatap Rio sambil mengernyitkan dahinya.
"Iya, kami semua nungguin lo yang sibuk main game sendirian," jawab Rio lalu segera berjalan menyusul Evan.
Zeline tersenyum, dia lalu mengambil tasnya, menatap Nico, menarik tangan Nico untuk mengejar kedua sahabatnya.
__ADS_1
Zeline lalu melepaskan tautan tangannya, sedikit berlari dan kemudian merangkul bahu Rio dan Evan.
Nico hanya menggelengkan kepalanya melihat sang pacar yang kini justru bergelantung pada Rio dan Evan.
"Mau mabar gak?" Tanya Zeline pada keduanya menatap bergantian.
Evan dan Rio sama-sama melihat ke arah Zeline, lalu menyingkirkan tangan gadis itu.
"Lo pikir tidak berat apa?"
"Gak lah kan gue mungil. Iya kan Nic?" Ucap Zeline menoleh ke belakang meminta persetujuan pacarnya.
"Entahlah, aku belum pernah mengangkatmu."
Rio menghentikan langkah lalu berbalik menatap Zeline dan Nico bergantian.
"Aku? Tunggu…tunggu…sebenarnya dari tadi gue penasaran. Kalian…?
Zeline lalu menggamit tangan Nico saat lelaki itu sudah berdiri di sampingnya.
"Iya, seperti yang kalian pikirkan," jawab Zeline dengan senyumannya.
Rio lalu berbalik kembali dan melanjutkan langkah, sementara itu, Zeline mendongak menatap Nico.
"Lihatlah dia bertanya tapi giliran aku jawab malah pergi begitu saja," adunya manja.
Nico tersenyum dan mengacak rambut Zeline, lalu menautkan tangannya dengan tangan gadis itu.
"Ayo!"
Zeline mengerucutkan bibir, kesal merasa ucapannya tadi diabaikan.
"Ayo jalan!" Ucap Nico saat melihat pacarnya itu tidak juga bergerak.
"Sebentar," ucap gadis itu kemudian saat mendengar ponselnya berbunyi.
Nico berhenti sejenak, lalu membiarkan Zeline menjawab teleponnya.
"Halo."
"...."
"Abang tidak bisa menjemputku?"
"...."
"Hmm baiklah, Zese akan menelpon supir."
"..."
"Apa? Mobilnya di bengkel? Abang…terlalu lama jika supir pulang dan mengambil mobil yang lain."
"..."
"Tidak perlu, biar Zeze naik taxi saja."
"...."
"Tapi bang…" Zeze kemudian melihat Nico yang memberikan isyarat untuk memberikan ponselnya.
"Abang Nico mau bicara," setelah mengucapkan itu, Zeline memberikan ponselnya pada Nico, membiarkan pacarnya itu, berbicara dengan abangnya.
"Oke bang."
"...."
__ADS_1
"Iya, abang tenang saja."
Zeline memperhatikan Nico sambil mencuri dengar perkataan dia pada abangnya, walaupun tidak bisa mendengar suara abangnya, tapi Zeline sedikit bisa menebak apa yang sedang mereka bicarakan saat ini.
"Ini," Nico mengembalikan ponsel Zeline lalu kembali menggandeng tangan gadis itu.
"Ayo, aku antar kau pulang," ucapnya lalu mengajak Zeline untuk melangkah bersama menuju parkiran.
"Kalian mau menyebrang, pake gandengan segala," ujar Evan saat Nico dan Zeline berjalan ke arah dirinya dan Rio.
"Bilang aja iri," Zeline justru kini sengaja memeluk lengan Nico membuat Evan memutar bola matanya jengah.
"Sudah ayo!"
Nico membuka pintu mobilnya, membiarkan Zeline untuk masuk. Lalu setelah memastikan Zeline sudah duduk dengan benar. Dia pun berpamitan pada Rio dan Evan untuk jalan duluan, lalu masuk ke kursi kemudi.
Zeline menurunkan kaca jendela mobil.
"Kalian yakin tidak mau mabar? Abang pulang malam hari ini," beritahu Zeline seperti apa yang tadi abangnya katakan barusan di telepon.
Evan dan Rio saling pandang.
Zeline menaik turunkan kedua alisnya sambil menunggu jawaban keduanya.
"Oke, gue dan Evan ikut," jawab Rio kemudian.
Evan menyikut Rio dan berbisik.
"Lo yakin mau jadi obat nyamuk?"
Rio lalu memandang Evan, memintanya untuk mendekat.
"Kita ganggu saja mereka, jadi kita tidak jadi obat nyamuk," bisiknya tepat di telinga Evan.
"Iya benar, disana kita juga kenyang," balas Evan.
"Woy! Ikut gak? Malah bisik-bisik lagi."
"Iya…iya kami ikut, gue dan Rio akan mengikuti di belakang."
"Oke," Zeline lalu menaikkan kembali kaca mobil, lalu membenarkan posisi duduknya.
"Kita jalan sekarang?"
"Hmm."
Nico lalu segera mengemudikan mobilnya menuju rumah Zeline.
"Kenapa?" Tanya Zeline saat Nico lagi-lagi melirik ke arahnya.
"Tidak…"
"Ayo katakan! Kenapa?"
"Sungguh, tidak apa-apa."
"Hmm," Zeline mengangguk-anggukan kepalanya lalu menatap keluar jendela.
Tak lama, mobil Nico pun telah memasuki halaman rumah Zeline. Nico turun lebih dulu, membukakan pintu untuk kekasihnya.
"Makasih," ucap Zeline yang kini turun dari mobil, dia menatap Nico dalam dengan senyuman.
"Ayo masuk!" Ucapnya menggandeng tangan Nico.
Langkahnya tiba-tiba berhenti saat seseorang yang baru turun dari mobil menatapnya tajam.
__ADS_1