Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 40


__ADS_3

"Tuan ada apa? Kenapa tadi Non Zeze berteriak dan lagi wanita, apa maksud Non Zeze…"


"Aku ke kamar Zeze dulu bi, aku telah membuat kesalahan," setelah mengatakan itu, Zhen berlari cepat menuju kamar Zeline. Begitu sampai di depan pintu, Zhen mencoba membukanya, tapi sayang, pria itu tidak bisa melakukannya karena pintu kamar Zeline dikunci.


"Zeze sayang! Zeze buka pintunya, abang minta maaf, Zeze!" 


Zhen terus mencoba mengetuk pintu, berharap Zeline akan membukanya, tapi cukup lama berdiri di depan pintu. Zeline tampaknya tidak mau menunjukkan batang hidungnya.


"Apa yang kau lakukan Zhen?" Zhen meraup wajahnya kasar.


Zhen sebenarnya sama sekali tidak berniat mengabaikan Zeline. Dia hanya merasa marah, setiap melihat wanita itu, Zhen ingin meluapkan semua amarahnya, tapi Zhen tidak bisa melakukan itu, Zhen tak ingin Zeline takut, makanya dia mengajak Zeline pulang, tapi Zhen justru lupa bahwa sebelumnya dia sudah berjanji pada Zeline mentraktirnya makan. Intinya kemarahan Zhen bertemu wanita itu, membuat Zhen mengecewakan adiknya.


"Zeze sayang, ini abang, Zeze buka pintunya!"


Ceklek


Zhen tersenyum saat mendengar suara kunci pintu yang diputar, dengan segera, dia membuka lebar pintu kamar Zeline.


"Sayang!"


Zhen melihat adiknya yang tengah berbaring sambil menonton drama di ponselnya.


"Zeze maafkan abang!" Zhen semakin mendekat, namun tidak ada tanggapan sama sekali dari Zeline membuat Zhen semakin yakin jika adiknya benar-benar marah.


Zhen perlahan duduk di pinggiran ranjang. Lalu mengelus rambut Zeline dengan lembut. 


"Sayang!"


Risa menyingkirkan tangan Zhen dari rambutnya, lalu kembali fokus pada tontonannya.


"Sayang kamu masih marah sama abang? Abang minta maaf, abang janji tidak akan seperti itu lagi, atau bagaimana kalau abang ganti tadi siang dengan malam ini? Kita dinner di luar, kamu mau kan?" Zhen masih terus berusaha membujuk Zeline.


"Sayang!" Zhen lalu membaringkan tubuhnya di belakang Zeline lalu memeluknya.


"Maafkan abang, sungguh abang menyesal karena sudah mengabaikanmu. Ayolah Zeze, bicara! Jangan diamkan abang seperti ini!"


Risa menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, dirinya juga tidak tahu kenapa jadi diam seperti ini, Risa merasa jika saat ini dia tidak seperti dirinya.


"Sudahlah sana abang mandi!" Risa mendorong tubuh Zhen agar menjauh darinya.


"Jadi kamu mau dinner di luar sama abang?"


"Tidak. Zeze mau nonton, habis itu tidur."


"Tapi sayang… kamu belum makan loh."


"Sudah tidak lapar, gara-gara seseorang. Sudah ah sana keluar, jangan lupa, nanti pintunya tutup."


"Kalau abang tidak mau?"


Risa membalik posisinya hingga kini berhadapan dengan Zhen. Zhen tersenyum tapi Risa hanya berwajah datar.

__ADS_1


"Cepat keluar sekarang! Atau Zeze akan benar-benar marah sama abang."


"Baiklah...baiklah… abang akan keluar sekarang, tapi jangan kunci pintunya, nanti habis mandi abang akan kemari lagi."


"Hmmm," jawab Zeline hanya dengan gumaman.


Zhen pun mengalah, dia turun dan keluar dari kamar Zeline tak lupa menutup pintu seperti pesan Zeline tadi.


*


*


Risa menatap ponsel Zeline yang kini menampilkan foto gadis itu. Dirinya baru saja bertelponan dengan Zeline. Lebih tepatnya, Risa yang menghubungi Zeline terlebih dahulu, Risa ingin kembali dan bertemu ibunya. Menatap ponsel cukup lama, dan meletakkannya asal di atas ranjang, dan dalam keadaan diam, kini Risa justru teringat dengan kejadian tadi siang di restoran.


"Berarti….ah pantas saja."


"Pantas saja kenapa?"


Risa memegang dadanya yang terkejut saat mendapati Zhen tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Risa melirik Zhen kesal yang justru ditanggapi kekehan pria itu yang kini juga mengacak rambut Risa.


"Bikin kaget aja tau."


"Hehe maaf, tapi tadi abang beneran kok uda ketuk pintu dulu sebelum masuk, kamu aja yang gak denger. Oh ya, tadi maksud kamu apa sayang, pantas saja apanya?"


"Kepo banget sih abang. Dan juga ngapain kesini lagi, biasanya juga ke ruang kerja abang, kerjain kerjaan kantor."


"Suka-suka abang lah, abang pemilik kantornya."


"Ya sudah ayo! Kita makan."


"Memang siapa yang mau makan? Kalau abang mau makan ya uda tinggal makan, Zeze tidak lapar."


"Kamu kenapa sih sayang, bawaannya marah-marah terus? Lagi ada tamu bulanan?"


Risa diam tampak mengingat-ingat sesuatu. Lalu menatap Zhen.


"Abang kok bisa tau?"


"Jelas dong, harus malah."


"Tunggu, aku masih punya…" Risa kemudian tersenyum menatap Zhen sambil menatap pria itu dengan tatapan puppy eyes nya. 


Dan tatapan Risa yang seperti itu, justru membuat Zhen bergidik ngeri, sepertinya dia tahu apa yang saat ini adiknya inginkan.


"Abang…"


"Memang beneran?"


"Sepertinya. Jadi…"


"Baiklah akan abang belikan," Zhen segera bangkit, dan akan membelikan apa yang diinginkan adiknya saat ini.

__ADS_1


"Tunggu abang!"


Risa kemudian bangkit dan mengambilkan sesuatu di lemarinya.


"Sebagai contoh, yang seperti ini ya abang, tidak perlu sampai memborong berbagai merk dan ukuran," ucap Risa.


Dan dengan wajah memerah, Zhen menerima pemberian adiknya tadi, setidaknya dengan contoh seperti itu, dirinya tidak perlu waktu berlama-lama untuk memilih apa yang adiknya perlukan.


"Ya udah abang pergi dulu."


"Sama beli es krim ya abang," teriak Risa saat melihat Zhen sudah keluar dari kamarnya.


Risa pun tersenyum, turun dan segera ke kamar mandi.


Sekeluarnya Risa dari kamar mandi, dirinya dikejutkan dengan keberadaan Zhen yang ternyata sudah kembali dan kini tengah duduk di sofa.


"Kemarilah!" Zhen menepuk sofa sampingnya meminta Risa mendekat dan duduk di sampingnya.


"Mana pesananku?" 


Zhen lalu memberikan kantong plastik berisi pesanan adiknya tadi. 


"Makasih abang."


"Cuma itu?"


Zeline yang akan memakan es krimnya berhenti dan menatap Zhen.


"Lalu?"


"Cium dulu!"


"Gak mau," jawab Zeline yang kini mulai menikmati es krimnya.


"Abang gak dibagi?" Zhen menatap adiknya.


"Abang mau? Sini Zeze suapin," kata Zeline bersiap memberikan suapan pada Zhen.


Zhen sudah membuka mulutnya hendak menerima suapan dari Risa, tapi siapa sangka, Risa justru menyuapkan es krim ke mulutnya sendiri. Tak habis akal kini Zhen justru mengecup bibir Risa menjilati sisa es krim di bibir gadis itu, membuat tubuh Risa menegang seketika.


"Manis," ucap Zhen tersenyum sambil mengusap bibir Risa dengan jarinya.


"Abang…"


"Ayo tidur, abang ngantuk."


Risa mengangguk kaku dan hanya bisa pasrah saat Zhen mengangkat tubuhnya dan membawanya ke ranjang. 


"Tidak perlu tegang seperti itu sayang," bisik Zhen membuat Risa tersadar. 


Risa langsung merubah posisinya membelakangi Zhen. Zhen tersenyum dan memeluk tubuh mungil Risa dari belakang. Dan tak lama keduanya pun sudah menuju ke alam mimpi.

__ADS_1


Tapi rasanya baru sebentar memejamkan mata, kesadaran keduanya terasa ditarik paksa oleh seseorang yang memanggilnya penuh amarah. Dan mau tidak mau, keduanya pun terpaksa bangun dan membuka mata.


__ADS_2