
Risa segera keluar, setelah ojek online yang dipesannya sudah tiba. Buru-buru dia melangkah, hingga tak sengaja dia menabrak ibu-ibu yang sepertinya juga terburu-buru.
"Ibu tidak apa-apa?" Tanya Risa membantu memungut barang bawaan ibu-ibu itu.
"Tidak, tidak apa-apa, maafkan saya Nak," ibu itu menerima barangnya yang tadi diambilkan Risa. Dan begitu mengangkat kepalanya, keduanya sama-sama terkejut.
"Risa?"
"Tante Dewi?"
Ucap keduanya bersamaan.
"Tante apa kabar?"
"Tante baik. Bagaimana kabarmu?"
"Risa juga baik, tadi Risa baru…"
"Maaf ya Risa, tante buru-buru," potong wanita itu cepat.
"Oh tidak apa-apa tante, tante hati-hati ya."
Wanita itu tersenyum dan mengangguk, dan saat akan masuk ke taxi, langkah wanita itu berhenti.
"Oh ya Risa, bisakah lain kali kita mengobrol?"
Risa mengernyitkan dahi tapi tak urung kepalanya mengangguk.
"Boleh tante pinjam ponselmu?"
Risa mendekat dan langsung memberikannya, membiarkan wanita yang tadi dipanggilnya tante Dewi mengetikkan beberapa angka dan menyimpan dengan namanya.
"Nanti, akan tante hubungi, tapi...kamu jangan bilang sama Viona ya jika kamu bertemu tante dan tante mengajakmu bertemu?" Ucap wanita itu yang segera masuk ke taxi, meninggalkan Risa sebelum, dia menjawab.
Panggilan seseorang menyadarkan Risa, jika saat ini, dirinya pun sedang ditunggu. Mengabaikan hal tadi, Risa segera melangkahkan kaki menuju ke tukang ojek yang tadi menunggunya.
Sepanjang jalan telepon Risa terus saja berdering, tanpa melihat nama pemanggil, Risa pun tahu siapa yang menghubunginya. Tapi Risa tetap tidak berniat untuk menjawabnya, toh sebentar lagi dirinya sampai rumah.
Risa turun dari motor, dia melirik sekilas Zhen yang tadi mondar-mandir di teras dan segera berlari menghampirinya.
"Zeze kamu darimana saja? Kamu tahu kakak khawatir, kakak telepon juga tidak diangkat-angkat," dengan wajah kusut, Zhen memegang kedua bahu Zeline. Ya jelas ada kekhawatiran di mata pria itu, dan Risa bisa melihatnya dengan jelas.
__ADS_1
"Kita bicara di dalam saja bang," Risa menurunkan tangan Zhen dan mengajaknya masuk.
Risa kemudian duduk di sofa ruang tamu, diikuti oleh Zhen.
"Zeze tidak bisa menjelaskan apa-apa, yang perlu Zeze kasih tahu ke abang bahwa Evan dan Rio hanya sahabat Zeze, kami selalu melakukan apapun bertiga, hanya keduanya yang mau menerima Zeze sebagai teman. Ya, Zeze akui, Zeze sering bikin ulah bersama mereka, dan itu, Zeze lakukan untuk mencari perhatian mama dan papa, juga abang," lirih Zeze di akhir kalimatnya.
"Bersama mereka, menghabiskan waktu bermain bersama, sedikit mengalihkan kesedihan juga rasa kesepian Zeze selama ini," Risa tiba-tiba menjatuhkan air matanya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Zeline. Karena baru menjadi beberapa hari menjadi Zeline, sedikit Risa bisa merasakan bagaimana kesepiannya gadis itu.
Zhen yang duduk berhadapan dengannya segera menarik Risa ke dalam pelukannya, dia jadi merasa bersalah pada adiknya itu, bagaimana bisa dia selama ini begitu egois memikirkan rasa sakitnya pengkhianatan hingga mengabaikan orang yang berarti baginya.
"Maafkan abang, abang minta maaf Ze, abang janji mulai saat ini akan selalu ada untuk kamu, abang akan terus menemani kamu agar kamu tidak merasa kesepian."
"Hmm Zeze percaya," Risa kemudian melepaskan pelukannya.
"Zeze lapar abang."
Zhen terkekeh, berdiri dan mengulurkan tangan membantu Risa bangun.
"Abang sudah minta bi Irma membuatkan makanan kesukaanmu."
"Wah benarkah?"
Zhen mengangguk, mereka kini sampai di ruang makan. Dia kemudian menarik kursi mempersilahkan adiknya duduk.
"Kenapa? Ini makanan kesukaanmu loh, ayo makan, tadi kamu bilang sama abang sudah lapar," tegur Zhen karena adiknya hanya menatap makanan di depannya, padahal biasanya langsung menyantapnya.
"Iya bang," jawab Risa memaksakan senyumnya, perlahan dia pun mulai memakan makanannya.
"Abang Zeze ke kamar dulu, abang tolong beresin bekas makanan Zeze sekalian ya," Risa buru-buru bangkit dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya membuat Zhen menatapnya dengan mengernyit dahi bingung.
Risa mengacak-ngacak sesuatu yang selalu dibawanya tapi tidak ada, Risa tidak menemukan obatnya, padahal seluruh tubuhnya kini mulai terasa gatal.
Risa terus menggaruk bagian yang dia rasa gatal, tangannya berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
*
*
Zhen menatap pintu kamar Zeline, tadi saat membereskan bekas makan keduanya, bi Irma datang dan memberikan sebuah paper bag, bilang jika di dalamnya ada seragam, sepatu juga tas sekolah Zeline. Dan Zhen pun baru menyadari jika adiknya sudah berpakain santai.
Zhen mendekat, tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, tapi pintu sudah lebih dulu terbuka dari dalam. Zhen begitu terkejut, bukan karena pintu yang tiba-tiba terbuka, tapi kondisi Zeline saat ini.
__ADS_1
"Abang…"
"Sayang kamu kenapa?" Zhen segera mengangkat tubuh adiknya membawanya ke mobil dan segera pergi ke rumah sakit terdekat. Dan begitu selesai diperiksa, Zhen kembali terkejut saat dokter bilang bahwa Zeline seperti itu karena alergi.
Zhen duduk di kursi tunggu, dirinya ingin sendiri sambil mencerna ucapan dokter tadi. Bagaimana mungkin, itu yang Zhen pikirkan saat ini. Adiknya menyukai makanan itu, dan selama ini dia juga baik-baik saja mengkonsumsinya.
"Bagaimana keadaan Non Zeze Tuan?" Sapaan bi Irma membuyarkan mengejutkan Zhen.
"Eh bibi, hmm sudah bawa baju ganti yang saya minta."
"Sudah tuan, ini bajunya."
Bi Irma menyerahkan sebuah tas berisi baju ganti Zhen dan Zeline karena Zeline harus dirawat dulu.
"Sudah lebih baik bi, bibi langsung masuk saja, dan jika Zeline bertanya bilang aja saya tadi ke kantor."
"Baik Tuan."
"Bi…"
Bi Irma langsung menghentikan gerakannya yang akan membuka pintu, menoleh menatap Zhen, menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.
"Kenapa Tuan?" Tanya bi Irma yang sepertinya tidak sabar menunggu Zhen sampai bicara yang entah tidak tahu sampai kapan.
"Tidak apa-apa bi," Zhen tersenyum, mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Ya sudah Tuan, bibi ke dalam dulu untuk melihat kondisi non Zeline, nanti habis itu, bibi langsung pamit saja ya."
"Iya bi,makasih juga ya karena kesini."
"Sama-sama Tuan, kalau itu memang sudah menjadi tugas dan kewajiban bibi."
Zhen mengangguk, bi Irma segera masuk melihat keadaan Zeline.
"Bibi…"
Risa yang memang sedari tadi menatap pintu menunggu kedatangan kakaknya, entah kenapa merasa kecewa karena yang datang justru bi Irma. Tapi Risa tetap tersenyum, menyapa wanita yang selama ini menemaninya.
"Bagaimana keadaan non Zeze sekarang?"
"Sudah lebih baik bi, oh ya bi, apa bibi tahu abang dimana?"
__ADS_1
"Tuan Zhen, hmmm dia tadi pergi ke kantor ada urusan penting katanya, makanya bibi disini menemani Non Zeze."
Risa mengangguk mengerti, sebelum akhirnya, pandangannya beralih pada pintu dimana seorang perawat membuka pintu, dan Risa dengan jelas mendengar dokter berbicara dengan Zhen sebelum akhirnya dokter masuk untuk memeriksa dan pintu pun tertutup.