Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 47


__ADS_3

Risa menatap rumah mewah di depannya. Setelah berpikir dan meminta pendapat Aga, akhirnya Risa kembali ke rumah itu, bagaimanapun Risa sudah memulainya, dan dia juga harus mengakhirinya. 


Risa menghela nafas berat, lalu mulai melangkahkan kakinya. Risa menoleh ke belakang dimana Aga yang masih ada di dalam taxi kini sedang tersenyum padanya, meyakinkan jika semua akan baik-baik saja lewat tatapannya. Tadi Aga memutuskan untuk ikut mengantarkan kakaknya.


Risa mengangguk dan membalas senyuman Aga, kembali menatap rumah Zeline dan melangkahkan kakinya masuk. 


"Zeline!" Seorang wanita yang Risa tahu sebagai ibu dari Zeline, kini berlari dan memeluknya.


Risa yang tidak siap hampir saja limbung karena pelukan tiba-tiba wanita itu.


"Kamu kemana saja sayang? Kenapa pergi tidak bilang-bilang mama? Mama khawatir, takut kamu kenapa-napa."


Risa mengurai pelukan, lalu menatap wanita yang sepertinya seumuran dengan ibunya. Memegang kedua bahu wanita itu, lalu menuntunnya untuk duduk di sofa.


"Maafkan Zeze, uda bikin mama khawatir," Risa menggenggam kedua tangan wanita itu dan membawanya ke atas pangkuan.


"Maafkan atas ucapan papa tadi ya, mungkin saja papa…"


Risa langsung mendekap mama Zeline, membayangkan bagaimana jika wanita yang kini duduk berhadapan dengannya, tahu yang sebenarnya tentang hubungan papa Zeline dan wanita lain yang tak lain adalah mantan kekasih Zhen, putranya.


"Sayang…,"


"Zeze baik-baik saja ma, mama tidak perlu khawatir," Risa mengusap punggung mama Zeline.


"Mama sudah makan?" Tanya Risa begitu pelukan keduanya terlepas. 


Mama Zeline hanya menggeleng, Risa segera bangkit dan menarik tangan wanita itu, membawanya ke dapur.


"Bibi tadi baru saja izin pulang kampung."


Risa menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap mama Zeline lalu tersenyum.


"Mama mau coba masakan Zeze?"


"Kamu bisa masak?"


Risa mengangguk dan menarik kursi di ruang makan, meminta mama Zeline untuk duduk disana sambil menunggu dirinya memasak.


Risa memasang celemek, menoleh dan tersenyum sebelum akhirnya gadis itu mulai berkutat dengan peralatan memasaknya.


"Zhen kamu pulang Nak, Zeze juga baru saja pulang tadi," ucap mama Zeline pada Zhen yang hendak ke dapur.


"Aww!" Ringis Risa yang terkejut mendengar ucapan mama Zeline yang tengah menyapa Zhen, entah mengapa hal itu membuat Risa gugup.

__ADS_1


Sedang Zhen pria itu tampak panik dan segera berlari menghampiri Risa, menarik tangan Risa dan membawanya ke wastafel, mengaliri dengan air jari Risa yang terkena wajan panas.


"Kamu baik-baik saja Nak?" Mama Zeline kini ikut mendekat, merasa cemas.


"Iya ma, Zeze baik-baik saja, hal seperti ini sudah biasa, mama tidak perlu khawatir."


"Sudah biasa?"


Risa menatap Zhen yang ternyata juga menatap matanya.


"Zeze belakangan sering belajar masak ma, ya jadi sering seperti ini."


Risa menghela nafas lega, mendengar apa yang Zhen baru saja sampaikan.


"Abang ambilkan obatnya dulu," pamit Zhen mengambilkan salep agar kulit Risa tidak melepuh, meninggalkan kedua wanita itu.


"Mama tidak perlu khawatir, Zeze benar-benar baik-baik saja kok. Ya sudah Zeze lanjutkan dulu ya, mama duduk aja."


"Biar abang saja," Zhen melangkah mendekat dan mengoleskan salep yang dibawanya pada tangan Risa.


"Kamu juga duduk saja, biar abang yang lanjutin, tinggal memindahkan ke piring saja kan?"


Risa mengangguk, dan hanya bisa menuruti perintah pria itu, tak ingin membuat Zhen tambah marah padanya.


Ekor mata Risa juga tidak sengaja melirik mama Zeline yang menatap Zhen dengan pandangan berkaca-kaca. Bahkan setetes air mata menetes begitu saja, tapi dengan cepat menghapusnya dan menarik sudut bibirnya ke atas saat Zhen berjalan mendekat ke arah mereka.


"Ini mama coba masakan Zeze, mama pasti ketagihan," ucap Zhen yang membuat Risa menatapnya.


"Hmm...dari baunya saja, mama yakin jika masakan Zeze pasti enak." 


Mama Zeline segera menyuapkan makanan buatan Risa, kepalanya mengangguk-angguk, setuju dengan ucapan Zhen jika masakan putrinya begitu enak. Berbeda dengan dirinya yang bahkan tidak bisa memasak.


"Bagaimana ma?"


"Enak banget sayang," puji wanita itu dan memakannya dengan lahap.


Risa yang melihat senyum wanita itu, merasa senang, dia pun kini menyusul ikut menikmati makanan buatannya.


"Abang yakin tidak mau aku bantu?" Tanya Risa untuk kesekian kalinya, menawarkan diri pada Zhen yang tengah membereskan dan mencuci peralatan masak bekasnya tadi.


Semenjak mama pria itu berpamitan untuk ke kamarnya dan meninggalkan mereka berdua, Zhen diam saja, yang membuat Risa yakin jika memang Zhen marah padanya.


"Abang, soal…"

__ADS_1


"Pergilah ke kamar Zeze!"


"Tapi…"


Zhen berbalik dan menatap Risa, lalu menghela nafas.


"Masuk kamar Risa!"


Melihat tatapan kakak Zeline, Risa pun akhirnya menurut. Gadis itu dengan langkah gontai menaiki tangga menuju kamar yang biasa ditempatinya.


Menghempaskan diri di atas ranjang, menatap langit-langi kamar, terdengar helaan nafas berkali-kali. 


"Maklum sih jika abang marah, aku sudah membohonginya juga menyembunyikan fakta penting darinya," gumam Risa pelan.


"Tapi aku hanya ingin menjaga perasaannya, aku juga tidak mau membuat abang dan papanya ribut, terlebih mereka selama ini juga tidak akur," tambahnya lagi yang kini merubah posisinya menjadi tengkurab.


"Kenapa aku jadi serba salah gini…"


Risa yang sibuk dengan pikirannya sampai tidak menyadari jika Zhen kini sudah berada di dalam kamar dan tengah memperhatikannya.


"Apa aku balik saja ya, iya...daripada disini, rasanya jadi canggung banget, aku tinggal pamit saja kan sama mama Zeline, nanti dia juga bakal kasih izin," kata Risa yang segera bangun dan begitu berbalik dirinya terkejut saat tubuhnya menabrak sesuatu.


"Abang maaf…" cicit Risa dengan kepala menunduk, tatapan tajam Zhen begitu membuatnya takut.


"Mau kemana kamu?"


"Aku mau balik kos an bang."


"Bagaimana kalau nanti mama nanya?"


"Aku akan bilang ke mama nginap di rumah teman. Lagian tempatku sesungguhnya juga bukan disini kan? Abang juga terlihat tidak nyaman, jika ada aku disini."


Risa pun melangkah pergi melewati Zhen, tapi baru beberapa langkah, Risa terkejut saat sepasang tangan melingkar di bahunya, memeluk dari belakang.


"Kata siapa abang tidak nyaman? Abang justru sangat nyaman jika ada di dekat kamu, sayang."


"Tapi dari tadi abang diam saja."


"Itu karena abang sedang memikirkan sesuatu. Dan untuk abang yang menolak bantuan kamu, itu karena tangan kamu yang sedang terluka. Abang meminta kamu untuk segera ke kamar, karena abang tidak ingin kamu justru pergi dari rumah ini."


Tangan Risa terangkat, memegang tangan Zhen yang memeluknya.


"Biarkan seperti ini, abang ingin mengisi energi lebih dulu, menjatuhkan dagunya di bahu Risa.

__ADS_1


Risa tersenyum memejamkan mata menggesekkan pipinya dengan pipi Zhen, Zhen yang gemas kini mengecupi pipi Risa berkali-kali.


__ADS_2