Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 31


__ADS_3

Zeline berjalan mengendap-ngendap begitu keluar dari kamar, semalam saat dirinya pulang Zhen tidak juga terlihat, hanya bi Irma yang menunggunya. Wanita paruh baya itu bilang jika dirinya khawatir karena cukup lama Zeline keluar dan tidak kunjung pulang.


Dan saat dirinya menanyakan Zhen, jawaban   bi Irma masih sama, pria itu tidak pulang. Zeline hanya menghela nafas kecewa.  Dirinya yang tadinya begitu antusias saat mendengar abangnya pulang dan dia tidak akan kesepian lagi, namun nyatanya tidak sesuai dengan harapannya. 


"Sudahlah, lagian percuma abang tidak di rumah," ucap Zeline yang sudah masuk ke dalam taxi memandangi rumah yang akan ditinggalkannya lagi.


"Jalan pak!" Pinta Zeline pada sang sopir taxi yang kini segera melajukan mobilnya.


Zeline mengambil ponselnya mengabari Risa jika dia akan jalan sekarang ke kos an nya, karena kemarin Dirga bilang akan menjemputnya disana.


Setelah mendapat jawaban dari Risa, Zeline meletakkan ponsel di atas pangkuannya, tapi ponselnya bergetar, Zeline langsung melihat yang ternyata adalah pesan dari Dirga yang mengatakan jika dia sudah dalam perjalanan menjemput dirinya.


Zeline kemudian teringat pesan Risa, dia kemudian menekan nomor yang belum lama ada di ponselnya, menghubungi nomor itu.


"Halo," ucap Zeline begitu panggilan tersambung.


"Hmm ini aku Zeline."


"Iya aku tahu kok, tumben kamu menghubungiku lebih dulu, ada  hal penting kah?"


"Hmm Nico, aku mau minta tolong...hmm tolong izinkan pada guru jika aku tidak masuk selama dua hari, ada keperluan mendesak. Apakah…"


"Baiklah, nanti aku izinkan pada guru. Dan kamu tidak  perlu khawatir, nanti aku akan mengirimkan catatan seperti biasa, agar kamu tidak ketinggalan pelajaran."


"Iya...iya...makasih ya Nico. Oh ya, sudah dulu ya, kita lanjut kapan-kapan," setelah mengatakan itu, Zeline pun segera memutuskan panggilan tanpa persetujuan Nico karena saat ini dia sudah sampai di tempat tujuan, dan juga yang membuat Zeline terkejut adalah kehadiran bos Risa yang sedang bersandar di depan mobilnya memainkan ponsel.


*


*


Sementara di tempat lain, setelah mengunjungi ibunya, Risa berpamitan pulang  saat Aga sudah datang. Tanpa menaruh curiga, Aga hanya mengiyakan ucapan kakaknya, pria itu hanya maklum, mungkin saja kakaknya masih merasa lelah. 


"Biar Aga yang antar saja mbak, ibu tidak apa-apa kok," ucap  wanita yang kini kesehatannya semakin membaik. Bahkan nanti sore ibunya sudah diperbolehkan pulang.


"Tidak apa-apa Bu, Risa bisa sendiri, Aga biar jagain ibu, nanti sore, Risa akan kesini lagi jemput ibu."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya."


"Iya bu."


"Biar Aga antar ke depan mbak."

__ADS_1


Risa mengangguk setuju, keduanya keluar bersama.


"Mbak tinggal dulu ya, jaga ibu baik-baik. Kalau ada apa-apa hubungi mbak," pesan Risa begitu keluar dari ruangan rawat ibunya.


"Iya, udah mbak tenang saja."


"Itu, ojek nya uda datang," Risa menunjuk sebuah motor yang sudah ada di tepi jalan.


"Mbak hati-hati, nanti sore biar aku aja yang jemput mbak."


Risa menatap adiknya, ingin berbicara tapi buru-buru dicegah Aga.


"Nanti sebentar lagi mbak Ina datang, jadi ibu ada temannya."


"Hmm baiklah, terserah kamu saja."


Risa kemudian naik ke ojek lalu melambaikan tangan pada adiknya.


Bukan ke rumahnya, tapi Risa pergi ke suatu tempat dirinya janjian dengan seseorang. Begitu sebuah mobil berhenti, Risa segera bersembunyi, jangan sampai orang itu melihatnya.


"Kau yakin mau diturunkan disini? Aku bisa mengantarmu. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan meminta bayaran."


Pria itu mengedikan bahunya acuh, lalu segera menjalankan mobilnya meninggalkan gadis itu.


Setelah memastikan pria itu pergi, Risa muncul dari persembunyiannya.


"Ze!"


"Mbak sudah ada disini?"


"Iya, baru saja. Ya sudah ayo ikut mbak!" Risa menarik tangan gadis yang ternyata adalah Zeline pergi dari tempat itu.


Mereka kini tiba di sebuah rumah, yang Zeline yakini bahwa itu adalah rumah Risa. Rumah sederhana, tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, tapi tampak nyaman dengan pepohonan rindang di depan rumahnya.


Risa membuka pintu rumahnya, lalu mempersilahkan Zeline untuk masuk.


"Maaf mungkin rumah mbak tidak sebesar rumah kamu…"


"Tidak apa-apa mbak," Zeline tiba-tiba saja memeluk Risa menangis dipelukan gadis itu.


Risa hanya membiarkan saja, dia tahu Zeline hanya butuh seseorang untuk bersandar. Dia mengelus punggung Zeline sampai gadis itu merasa tenang.

__ADS_1


"Makasih mbak," ucapnya kemudian mengurai pelukan.


Risa tersenyum dan mengangguk. 


"Sudah? Kalau sudah ayo ada yang harus mbak beritahukan padamu, bagaimana selama ini, dan seperti yang mbak minta kemarin," ucap Risa yang kini membawa Zeline dan duduk di atas ranjangnya.


"Tentang ke acara itu?"


Risa mengangguk.


"Mbak tenang saja, lalu kapan mbak akan berangkat?"


"Nanti malam, kamu disini saja ya, jangan keluar jika mbak belum masuk."


"Iya mbak, gue ngerti, mbak dari semalam sudah bilang juga."


"Baiklah kalau gitu, kamu istirahat saja. Mbak harus masak, nanti sore mbak harus ke rumah sakit lagi, jemput ibu."


Zeline mengangguk, "Aku mau bersih-bersih dulu, rasanya lengket nih badan."


"Ya sudah, nanti kalau lapar makan aja ya, nanti kalau mbak sudah hampir sampai rumah, mbak kabari."


Setelah mengatakan itu dan mendapat anggukan dari Zeline. Risa pun keluar dari kamarnya, menuju dapur. Gadis itu mengeluarkan semua bahan yang dibutuhkannya, lalu mulai berkutat dengan peralatan dapur di rumahnya, yang tidak mudah dia sentuh di rumah Zeline.


Setelah selama satu jam sibuk menyiapkan berbagai makanan dan menyusunnya di atas meja, Risa melepas celemeknya, menggantung di tempat yang disediakan, lalu barulah Risa kembali ke kamar untuk membersihkan diri apalagi jam kini menunjukkan bahwa hari sudah sore dan Risa harus bersiap untuk menjemput ibunya.


Begitu masuk ke kamar, Risa melihat Zeline yang tertidur pulas, Risa mendekat ke arah ranjang, menarik selimut menutupi tubuh Zeline.


"Kamu pasti kelelahan, tidur sampai lelap banget gini," ucap Risa menyingkirkan helaian rambut Zeline yang menutupi wajahnya.


Setelah itu Risa mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Waktunya hanya setengah jam sebelum Aga datang menjemput dengan motornya dan nanti mereka akan kembali berangkat ke rumah sakit bersama Ardan, pria itu sudah menawarkan diri sejak kemarin bahwa dia akan ikut menjemput ibu Risa dengan menggunakan mobilnya, yang sayangnya tidak bisa ditolak Risa.


*


*


Tak sepertinya janjinya yang akan datang menjemput 30 menit lagi, kini Aga sudah lebih dulu berangkat menjemput Risa. Bahkan Aga juga sampai lupa mengabari Risa jika saat ini dirinya hampir sampai rumah. 


Aga segera turun dari motor, berjalan masuk sambil berteriak-teriak memanggil-manggil Risa.


"Mbak...mbak Risa!" Aga mengetuk pintu kamar Risa tapi tidak mendapat tanggapan, hingga membuat Aga memutuskan saja langsung membuka kamar Risa. Dan terkejutnya Aga saat melihat ranjang Risa bergantian dengan pintu kamar mandi yang terdengar gemiricik air di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2