
Zeline hendak melepas tangannya, tapi Nico justru menahannya. Gadis itu pun menoleh ke arah Nico, menatapnya dengan pandangan memelas. Tapi tampaknya Nico tetap pada pendiriannya. Dia sama sekali tidak melepas genggaman tangan mereka.
"Nico…"
Zeline tampak panik saat papanya semakin mendekat ke arah mereka. Perlahan gadis itu pun mundur dan bersembunyi di balik tubuh Nico.
"Zeline masuk!" Titah Abi papa Zeline. Tapi tatapan pria itu tak lepas dari tangan putrinya.
"Zeline kamu tidak dengar papa bicara?"
Perlahan Zeline menampakkan wajahnya, memberanikan diri untuk menatap papanya.
"Zeze tidak mau."
"Zeline!"
"Kenapa? Apa salahnya Zeze membawa pacar Zeze kesini."
"Pacar?"
"Iya."
Nico yang mendengar pengakuan Zeline tersenyum, dia dengan segera menarik tangan kanannya yang sedari tadi tidak lepas dari genggaman. Tapi Nico tidak benar-benar melepaskan tangan Zeline, karena tangan kiri Nico sudah langsung menggenggam tangan gadisnya itu.
"Perkenalkan saya Nico om," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Zeline masuk sekarang!"
Tanpa membalas uluran tangan Nico, Abi lalu pergi begitu saja.
Zeline mendongak menatap Nico.
"Masuklah, mungkin ada yang ingin papa kamu bicarakan," ucap Nico mengelus pipi Zeline.
"Tapi…."
"Tidak apa-apa, masuklah! Aku akan pulang sekarang."
Nico mengatakan itu, karena ingin memberikan waktu untuk Zeline dan papanya bicara. Mungkin lain kali, Nico akan berkunjung lagi, yang terpenting kini papa Zeline tahu tentangnya.
"Sudah sana masuk!"
Dengan ragu Zeline pun akhirnya masuk apalagi saat mendengar suara bariton Abi yang kembali memanggilnya.
"Papa mau bicara," ucap Abi saat mereka sudah berada di ruang tamu.
"Duduk!" Perintahnya kemudian.
Dengan langkah malas, Zeline berjalan ke arah sofa dan duduk disana.
"Siapa dia?" Tanya Abi tanpa berbasa-basi.
"Bukankah tadi sudah Zeze katakan?"
"Kau dan abangmu..?"
Abi terdiam, tidak jadi melanjutkan ucapannya.
"Zeze sama abang? Maksud papa?"
"Lupakan," Abi lalu melangkah meninggalkan Zeline. Tapi tiba-tiba langkahnya berhenti.
"Papa tidak mengizinkanmu pacaran di usia kamu yang sekarang."
"Apa?"
Zeline melangkah melewati Abi dan berdiri di hadapannya.
"Coba papa katakan sekali lagi? Zeze tidak boleh berpacaran? Kenapa?"
__ADS_1
"Karena kamu masih sekolah, jadi fokus saja sama pendidikanmu."
Zeline tiba-tiba tertawa membuat Abi keheranan.
"Zeze tidak boleh, lantas papa yang sudah punya mama bisa melakukannya? Begitu?"
Abi menatap putrinya tak percaya.
"Zeline…"
"Zeze mau ke kamar dulu," Zeline berbalik dan pergi meninggalkan papanya.
Abi membuka mulutnya lalu menutup kembali hendak mengatakan sesuatu tapi memilih mengurungkannya. Dia akhirnya membiarkan putrinya berlalu begitu saja.
*
*
"Risa kamu baik-baik saja?"
Risa menoleh dan tersenyum menerima gelas dari rekan kerja sekaligus temannya itu. Kini keduanya sedang berada di ruangan khusus karyawan. Beristirahat sejenak sebelum pulang setelah seharian ini bertempur, karena banyaknya pengunjung juga pesanan, Risa bahkan sampai tidak sempat makan hingga jam kerjanya berakhir.
"Hmm, aku baik-baik saja."
"Ini keterlaluan, aku harus melaporkan ini sama bos!" Ucap Hani yang tidak terima saat tahu Risa diperlakukan seperti itu.
"Hani…!" Risa menahan tangan Hani agar tidak pergi.
"Risa!"
"Please jangan Han, aku tidak mau jika masalahnya semakin rumit? Kalau kita lapor, bagaimana jika dia akan semakin membenciku? Aku tidak mau jika sampai hal itu terjadi."
"Tapi Ris…"
"Please Han!"
Risa menarik tangan Hani dan menggenggamnya.
"Justru itu Han, masalahnya mungkin bisa saja menjadi semakin rumit.
Hani pun hanya bisa menghela nafasnya, tidak mengerti dengan apa yang Risa pikirkan.
"Han…"
"Hmm baiklah."
"Makasih Han."
Hani mengangguk, lalu ia pun segera keluar dari ruangan itu.
"Aku keluar dulu, kamu cepat ganti pakaianmu."
"Hmm,"
Risa lalu hanya menatap punggung Hani yang berjalan menjauh, menghembuskan nafas panjang lalu melihat ponselnya yang bergetar.
Risa lalu tersenyum membaca pesan yang dikirimkan oleh Zhen. Dia lalu bangkit dan berkemas.
"Sudah pukul setengah tujuh, pantas saja cacing di perutku sudah demo," ucap Risa lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas setelah membalas pesan dari Zhen.
Risa yang hendak pergi begitu saja, kini berhenti dan berbalik. Meletakkan tas nya, lalu menatap wajahnya di cermin. Risa bahkan mengambil liptint dan mengoleskan di bibirnya.
"Nah…gini kan oke," gumamnya.
Memastikan sekali lagi penampilannya, dan setelah merasa cukup, dia pun segera keluar. Dia tidak mau membuat Zhen menunggunya terlalu lama.
"Kamu mau pulang sekarang Ris?" Tanya Hani saat melihat Risa.
"Mau bareng gak? Aku bawa motor."
__ADS_1
"Tidak usa Han, lagian uda ada yang jemput kok."
"Oh ya uda."
"Hmm…aku duluan ya," pamit Risa.
Hani hanya melambaikan tangannya.
Risa pun tersenyum dan kembali melangkah. Tiba-tiba dia berhenti, merasa sedih saat mengingat kejadian pagi tadi dimana kekasih Aldi datang dan mengamuk padanya. Dirinya tidak terima karena Aldi ditahan sekarang.
Risa menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan, entah kenapa belakangan ini selalu saja ada masalah yang datang membuatnya merasa lelah.
Setelah merasa cukup tenang, Risa pun kembali melanjutkan langkah, beruntung semua rekannya di shift siang tampak sedang dengan kesibukan masing-masing.
Begitu sampai di luar, Risa belum melihat keberadaan mobil Zhen, dia lalu berjalan ke kursi panjang yang memang tersedia disana untuk orang-orang menunggu jemputan.
Risa terdiam menatap langit yang tampak cerah hari ini, bulan sabit dan satu bintang di sampingnya, seakan menemani dirinya yang kini tengah duduk sendiri. Risa memejamkan mata merasakan hembusan angin yang menurutnya cukup menyejukkan.
Tin
Tin
Risa membuka matanya dan tersenyum saat sebuah mobil berhenti di depannya. Dia lalu bangun dan berjalan mendekat lalu membuka pintu, segera masuk ke dalam mobil itu.
"Anda terlambat sepuluh menit Tuan Zhen," ucap Risa sambil memasang seatbeltnya.
"Maaf sayang, tadi ada sesuatu di jalan."
Zhen mengusap kepala Risa. Sebelum akhirnya dia mulai mengendarai mobilnya.
"Baiklah aku maafkan, tapi abang harus mentraktirku makan sekarang, aku belum makan dari siang," ucap Risa sambil memegangi perutnya.
Zhen lalu menoleh ke sampingnya.
"Kamu belum makan?"
"Hmmm."
Zhen dengan segera mempercepat laju kendaraannya, tujuan utamanya adalah mencari tempat makan.
"Kenapa belum makan? Bagaimana jika nanti kamu sakit?"
"Tadi sibuk sekali, aku tidak sempat makan."
Risa memang tidak berbohong soal itu, tadi restoran memang cukup ramai, tapi selain itu, Risa pun memang sedang tidak berselera makan karena kejadian tadi pagi.
Zhen menghela nafasnya, kadang dia sendiri pun seperti itu.
Zhen lalu menghentikan mobilnya di dekat warung makan yang ada di pinggir jalan.
Risa lalu menatap Zhen yang kini melepas seatbelt dan segera turun dari mobil.
"Ayo turun! Disini salah satu tempat langganan abang, makanannya enak," Ucap Zhen membuyarkan lamunan Risa.
"Hah? Oh iya." Jawab Risa.
"Aku kira abang tidak pernah makan di tempat seperti ini," gumamnya pelan. Lalu ia pun segera turun. Pandangannya tak pernah lepas dari Zhen.
"Kamu cari tempat duduk saja, biar abang yang pesan."
Risa hanya menurut, dia melihat ke sekeliling, mencari tempat duduk yang masih kosong.
Malam itu, warung tampak ramai membuat Risa bingung harus duduk dimana, karena hampir semua ada yang menempatinya. Dan dia tersenyum karena ada tiga orang yang kini bangun dari tempat duduk. Dengan segera Risa menuju ke bangku itu.
"Akhirnya dapat," ucap Risa bersamaan dengan seseorang.
Keduanya menoleh dan pandangan mereka pun bertemu.
"Risa?"
__ADS_1