
"Sampai disini saja bos!" Ucap Risa saat melihat Dirga ikut turun.
"Aku baik-baik saja," ucapnya lagi begitu melihat keraguan di mata Dirga.
"Baiklah, istirahatlah, dan tenang saja, dan aku akan pastikan jika dia tidak akan mengganggu kamu lagi."
"Hmm, terima kasih karena sudah menolongku, juga terima kasih karena sudah mengantarku dan mengatakan hal itu," ucap Risa tulus, dia berbalik lalu melangkah pergi.
"Kamu bisa bekerja kembali Risa! Asal kamu tidak membolos lagi tanpa kabar."
Risa menghentikan langkahnya mendengar perkataan Dirga.
"Tapi besok kamu istirahat dulu saja, aku memberikanmu libur satu hari lagi."
Risa akhirnya menoleh dia pun mengangguk dan tersenyum.
"Pulanglah!" Ujar Dirga, membuat Risa berbalik kembali dan melanjutkan langkahnya.
Bohong jika Risa baik-baik saja, nyatanya kejadian tadi terus berputar di kepalanya. Kenapa? Kenapa Aldi sampai sebegitu membencinya. Kenapa Aldi melakukan hal itu? dan pergi bersama Dirga? Kapan? Banyak pertanyaan yang kini dia tidak menemukan jawabannya.
Risa yang berjalan sambil melamun, terkejut saat tiba-tiba merasakan seseorang telah memeluknya, dia ingin memberontak tapi urung saat mencium aroma parfum yang begitu dia kenali dan jujur Risa begitu merindukannya, padahal baru sekitar satu jam yang lalu mereka berpisah.
"Abang…" tangis Risa pun kembali pecah di pelukan pria itu.
"Menangislah! Menangislah jika itu membuat kamu merasa lega, abang ada disini, abang akan menemani kamu sayang." Ucap Zhen mengelus punggung Risa. Dirinya ikut sedih mendengar tangisan Risa saat ini.
Zhen hanya diam membiarkan Risa menumpahkan semuanya. Hingga beberapa menit berlalu, gadis yang dicintainya mengurai pelukan mereka. Ditatapnya wajah yang terlihat sembab itu, dihapusnya air mata yang membanjiri wajah cantiknya, Zhen bahkan mengecup kedua mata Risa.
"Sudah lega?" Tanyanya kemudian.
Risa hanya mengangguk lemah, dan Zhen tahu jika saat ini Risa belum bisa dibilang baik-baik saja.
Zhen melepas jaket yang dikenakannya lalu menyampirkan di bahu gadisnya.
"Ayo ikut abang!" Ucap Zhen merangkul Risa dan mengajaknya berjalan menuju mobil milik pria itu.
"Aku tidak melihat mobil abang ada disini tadi," ucap Risa membuat Zhen menoleh.
"Kamu jalan sambil melamun, bagaimana melihat mobil abang, melihat abang saja tadi sepertinya tidak."
"Maaf," lirih Risa.
Zhen membalik tubuh Risa agar menghadap ke arahnya. Mengangkat dagu Risa, hingga membuat tatapan mereka saling beradu pandang.
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf, abang mengerti tapi lain kali jangan seperti itu ya, bahaya, abang takut kamu kenapa-napa."
Risa pun mengangguk, Zhen lalu meraih pintu dan membukanya mempersilahkan Risa untuk masuk. Lalu dirinya pun menyusul dan tak lama mobil Zhen pun kini sudah melaju meninggalkan tempat.
"Kita mau kemana abang?"
"Makan, kamu belum makan kan? Abang juga, jangan bilang kamu lupa jika tadi siang abang sudah mengatakan padamu jika abang akan mengajakmu makan malam bersama di luar.
"Risa menggeleng, "Aku tidak lupa, hanya saja aku kira abang membatalkannya," jawabnya sendu.
"Kenapa abang harus membatalkannya?"
"Tadi abang…"
Zhen tersenyum, "Maafkan sikap abang tadi ya, abang hanya ingin terlihat tegas di depan Zeline, abang meminta Zeline untuk cepat, karena abang ingin kesini lagi menghampiri kamu, tadinya abang mengajukan diri memberikan ponsel milikmu agar bisa bertemu dan menjelaskan semuanya, tapi Zeline merebutnya dari abang dan memilih mengembalikannya sendiri, ya sudah abang bisa apa, makanya tadi setelah memastikan Zeline masuk ke rumah, abang segera kesini, karena abang tahu kamu pasti bingung dengan keputusan abang yang tiba-tiba tadi."
Risa menoleh menatap Zhen yang matanya fokus melihat jalanan di depannya.
Zhen pun melirik Risa, hingga keduanya saling bersitatap.
"Nanti abang jelaskan lebih detailnya," ucap Zhen mengacak rambut Risa.
Risa pun kembali terdiam dengan pandangan tak lepas dari Zhen. Risa sangat suka melihat Zhen yang sedang fokus melakukan sesuatu, yang menurut Risa justru terlihat semakin tampan.
Risa melotot, menampar lengan Zhen, lalu segera mengalihkan pandangan ke luar jendela, membuat Zhen terkekeh.
"Abang resek ih."
Zhen malah tergelak melihat kekesalan Risa. Tapi gelaknya kini menjadi senyuman. Dia benar-benar lega, karena akhirnya kekasih hatinya itu, kini sudah tersenyum kembali.
Tak butuh waktu lama, kini mobil Zhen berhenti di sebuah tempat makan. Zhen turun lebih dulu lalu segera disusul oleh Risa.
Pria itu mendekat ke arah Risa, menggenggam tangan gadis itu, lalu segera membawanya masuk.
Zhen memilih tempat duduk di samping jendela, menarik kursi untuk Risa duduk, bergantian untuk dirinya sendiri.
"Kamu mau pesan apa sayang?" Tanya Zhen sambil melihat menu yang kini sudah berada di tangannya.
"Abang aja yang pesan asal jangan…"
"Iya abang tau," jawab Zhen lalu mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.
Tak lama pelayan pun datang, mencatat pesanan Zhen lalu pergi untuk menyiapkan makanan yang Zhen pesan.
__ADS_1
Zhen menarik tangan Risa lalu menggenggamnya erat.
Risa menatap Zhen, menimbang apa dia harus mengatakannya atau tidak.
"Abang…" ucap Risa dengan suara yang begitu pelan, tapi Zhen masih mendengarnya.
"Kenapa? Apa ada yang ingin kamu katakan?"
"Aku sudah memutuskan jika aku tidak akan menjadi Zeline lagi," ucap Risa mengutarakan isi pikirannya.
Risa menatap ketar-ketir Zhen yang hanya diam saja.
"Walaupun abang tidak setuju, aku tetap pada keputusanku. Apa abang marah?"
Zhen menggeleng dan tersenyum.
"Abang tidak marah, dan abang setuju jika seperti itu. Satu yang perlu kamu ingat sayang, kamu berhak memutuskan apapun jika itu menyangkut dirimu, jangan terlalu memikirkan orang lain saja, tapi juga pikirkan diri kamu sendiri, karena bagaimanapun kamu yang menjalaninya, jika kamu merasa itu sulit, kamu bisa menolaknya. Kamu tidak perlu memaksakan diri lagi, taruhannya adalah hidup kamu sendiri. Kamu belum terlalu mengenal Zeline, jadi kamu tidak perlu melakukan segalanya untuk dia. Karena belum tentu Zeline akan melakukan hal yang sama seperti apa yang sudah kamu lakukan untuknya. Sampai sini mengerti?"
"Hmm mengerti," jawab Risa dengan senyumannya.
Tak lama pesanan Zhen pun datang, dia melepaskan genggaman tangannya, membiarkan pelayan menyajikan makanan pesanannya.
Setelah pelayan itu pergi, Zhen dan Risa pun segera menyantap hidangan itu.
"Bagaimana? Kamu suka?"
"Hmm, ini enak."
"Makan yang banyak ya sayang," Zhen menambahkan makanan lagi ke piring kekasihnya.
"Nanti bagaimana kalau aku tambah bulat, abang tidak lihat pipiku ini."
"Gak apa-apa, abang tetap sayang kok, lagian biar lebih enak diunyel-unyel," ucap Zhen yang spontan mendapat tabokan di tangannya.
Risa segera bangkit dari duduknya lalu segera menarik Zhen.
"Kenapa?" Zhen hanya mengernyitkan dahi bingung.
"Abang sekarang ke toilet, nanti aku hubungi abang, ok," kata Risa mendorong tubuh Zhen agar segera pergi dari sana.
Risa membenarkan bajunya, lalu melangkah dengan tenang, dan duduk di tempatnya kembali, menikmati makanannya.
Hingga tiba-tiba gerakan tangan Risa berhenti saat melihat seseorang berdiri di depan mejanya. Risa mengangkat kepala dan menatapnya.
__ADS_1
"Hai," ucap Risa melambaikan tangannya sambil tersenyum.