Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 44


__ADS_3

"Darimana saja kamu?" 


Zeline menghentikan langkah saat mendengar suara pria yang tidak asing baginya. Zeline tersenyum dan berbalik, tapi senyumannya luntur saat melihat tatapan tajam dari pria yang kini duduk sambil bersidekap dada, juga kaki kanan yang menyilang di atas kaki kirinya.


"Papa sudah pulang?" 


"Mana sopan santunmu, ditanya orang tua bukannya menjawab kamu justru balik bertanya. Apa tidak ada yang mengajarimu, hingga kamu sampai tidak tahu tata krama."


Hati Zeline mencelos mendengar penuturan ayahnya, air matanya bahkan tiba-tiba menetes begitu saja. Kedua tangannya mengepal, mulutnya akan terbuka tapi tertutup kembali, ingin rasanya Zeline menjawab ucapan itu, tapi rasa takut kini menyergapnya hingga dia hanya bisa diam saja dengan kepala menunduk.


"Darimana kamu? Klayapan kemana saja? Apa seperti itu tingkahmu saat papa tidak di rumah? Merasa bebas hingga bisa seenaknya?"


"Papa cukup!" Seorang wanita datang dari arah dalam, menghentikan ucapan suaminya yang keterlaluam terhadap putri mereka.


"Kenapa? Makanya didik anak-anakmu dengan benar, lihatlah tingkah mereka! Hanya bisa bikin sakit kepala saja!" Papa Zeline lalu berlalu pergi meninggalkan kedua perempuan itu.


"Sayang...maafkan papa ya...jangan diambil hati," wanita itu hendak merangkul Zeline, tapi Zeline segera memundurkan langkahnya, menolak dipeluk wanita itu. Zeline menatap wanita itu dengan mata yang dipenuhi air mata, lalu dengan segera menaiki tangga dan menuju kamarnya.


Zeline menutup pintu cukup keras, berjalan cepat dan membanting tubuhnya di atas ranjang dengan posisi telungkup. Zeline menarik guling dan menenggelamkan wajahnya, lalu menumpahkan tangis yang begitu menyesakkan dada.


"Ya benar memang, tidak yang mengajariku, harusnya kalian! Kalian...hikss...hikss…"


Zeline terus menangis menumpahkan semua kesedihannya, bahagia yang dia bayangkan sebelum menginjak rumahnya kembali, kini justru sebaliknya yang terjadi. Dan Zeline hanya bisa memendam semua rasa sakit itu sendirian, seperti yang dia lakukan selama ini, hingga membuat dirinya menjadi anak nakal yang berharap mendapatkan perhatian yang sudah lama tidak dia dapatkan.


Zeline yang kini sudah mulai tenang, mengambil ponselnya yang sedari tadi terus bergetar.


"Ini ponsel mbak Risa," gumamnya. Dia lalu melihat pesan masuk dari orang yang sama tak hanya satu atau dua tapi cukup banyak. Dia lalu mengetikan pesan balasan, setelahnya menonaktifkan ponsel dan meletakkannya begitu saja di atas ranjang.


*


*


Zhen terdiam di depan kosan Risa. Pandangannya menatap lurus ke depan, hatinya sakit melihat wajah Risa yang tampak sedih saat tadi dirinya menuduh Risa yang tidak-tidak.


Zhen menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, begitu amarahnya mereda, dia kembali masuk ke dalam kos an Risa, bagaimanapun dia harus mendengarkan penjelasan gadis itu terlebih dahulu, bagaimana jika adiknya yang justru memaksa Risa untuk menggantikannya.

__ADS_1


Begitu masuk, Zhen semakin sakit saat melihat Risa menelungkupkan wajah di atas kedua lutut yang ditekuk, bahkan Zhen bisa melihat jika tubuh gadis itu bergetar menandakan bahwa sepertinya Risa sedang menangis.


Zhen melangkah dan berdiri di hadapan Risa, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya, merangkul Risa dari belakang.


"Maaf," lirih Zhen.


"Maafkan abang," Zhen mengecup puncak kepala Risa berkali-kali. 


Risa mengangkat kepalanya, menatap Zhen dengan mata yang masih berlinang air mata.


Cup


Zhen mengecup bibir Risa, dia melepaskan pelukannya lalu memutar tubuhnya, hingga kini berdiri di hadapan Risa. Zhen membantu Risa berdiri dan mengajak Risa untuk duduk di atas ranjang, Zhen pun ikut duduk di sampingnya, keduanya kini saling berhadapan.


"Abang maaf…" ucap Risa dengan air mata yang masih terus menetes dari kedua matanya.


Zhen hanya diam menatap Risa, ibu jarinya mengusap air mata Risa yang membasahi pipi.


"Aku tahu, abang pasti kecewa dan marah karena aku sudah bohongin abang. Tapi…" Risa menarik nafasnya yang terasa sesak, karena kelamaan menangis.


"Zeline yang memintamu melakukan ini?"


Risa mengangguk lalu menggeleng.


"Jadi mana yang benar, iya atau tidak?"


"Abang janji jangan marahin Zeline."


Zhen menyelipkan helaian rambut Risa yang menutupi pipinya yang kembali basah karena air mata.


"Kenapa tidak langsung jawab saja pertanyaan abang?"


"Abang janji dulu, nanti aku jelaskan semuanya," jawab Risa menunduk takut menatap mata Zhen.


"Jadi benar Zeline yang memintanya."

__ADS_1


"Tapi Zeline tidak memaksaku, aku juga setuju dengan permintaannya, semua ini atas keputusan kami berdua," lirih Risa.


Zhen menghembuskan nafasnya, lalu menarik dagu Risa agar menatapnya.


"Tatap abang jika sedang bicara!" Ucap Zhen dan Risa tampak begitu gugup saat tatapan keduanya bertemu.


Walaupun Zhen masih memperlakukannya dengan lembut setelah tahu dirinya berbohong. Tetap saja Risa enggan menatapnya karena perasaan bersalahnya yang sudah membohongi kakak Zeline itu.


"Kenapa? Kenapa Zeline memintamu untuk menjadi dirinya?"


Risa pun kemudian menceritakan bagaimana dia bertemu Zeline hingga mereka memutuskan untuk bertukar peran dari awal hingga akhir tanpa ada yang dia tutup-tutupi.


Zhen menunduk, dia tidak tahu adiknya sampai terluka seperti itu, bukan luka fisik bukan, tapi luka pada hatinya. Luka fisik mungkin bisa diobati jika hati...butuh waktu lama, bahkan terkadang waktu pun tidak bisa menyembuhkannya.


Risa yang baru menyadari respon Zhen, kini mengikis jarak diantara mereka, Risa memeluk Zhen yang memang butuh pelukan hangat untuk sedikit mengurangi beban hatinya.


"Abang...semua sudah terjadi, pun jika menyesalinya sekarang, sudah tidak ada gunanya, Zeline sayang sama abang, Zeline juga sudah memaafkan abang, yang harus abang lakukan hanya satu, tebus kesalahan abang yang meninggalkan Zeline sendirian dengan menemaninya di masa sekarang. Zeline...dia masih butuh abang yang akan melindunginya, dia masih butuh abang untuk berbagi cerita masa sekolahnya, dia butuh abang yang akan terus memperhatikannya, semuanya belum terlambat untuk abang mengganti masa-masa kesepian Zeline dulu, aku yakin, itu saja sudah membuat Zeline bahagia," ucap Risa sambil mengusap lembut punggung Zhen, menenangkannya.


Zhen melepaskan pelukan saat sudah mulai tenang, menatap Risa dan mengecup bibir gadis itu sekilas.


"Makasih sayang, makasih karena sudah menjadi sandaran buat abang, makasih sudah mengingatkan abang tentang itu," Zhen kini memberikan senyuman manisnya pada gadis yang memenuhi harinya-harinya.


"Abang tidak marah sama aku?"


Zhen menggeleng cepat, kali ini pria itu yang menarik Risa ke dalam pelukannya.


"Setidaknya abang bersyukur karena kamu bukan adik abang, abang lega karena artinya perasaan abang padamu tidaklah salah."


"Abang…" Risa memaksa untuk melepaskan pelukan mereka.


"Abang cinta sama kamu sayang, cinta sama Risa bukan Zeline, abang sangat yakin itu. Dan disini…" Zhen menarik Risa dan membawa ke dadanya.


"Kamu bisa merasakannya bukan? Disini selalu berdebar kencang saat abang bersama denganmu."


"Abang…" kedua mata Risa mengembun, terharu akan ucapan Zhen. Kemudian dengan gerakan cepat, Risa kini memeluk Zhen erat.

__ADS_1


"Aku juga cinta sama abang."


__ADS_2