
Zhen dengan perlahan membuka pintu ruangan dimana Zeline dirawat. Kakinya melangkah mendekat ke arah ranjang, ditatapnya sang adik yang terlihat lelap dari tidurnya, Zhen duduk, pandangan tak pernah lepas dari gadis itu, mengulurkan tangan dan membelai lembut rambutnya.
"Maafkan abang, maaf karena kamu seperti ini abang tidak tahu apapun, abang bukan abang yang berguna," setitik air mata lolos dari kedua mata Zhen.
Zhen sedari tadi tidak masuk dan menemui adiknya, jujur karena rasa bersalahnya. Dia seperti bukan kakak yang baik, karena tidak tahu apapun tentang adiknya, dia tidak bisa mencegah hal yang bisa saja membahayakan Zeline.
Zhen meraih tangan Zeline dan menciumnya.
Hingga butiran air mata kini membasahi punggung tangan Zeline. Membuat perlahan membuka mata gadis itu, Risa menatap Zhen dengan pandangan sayu, dia begitu menyayangi Zeline.
"Zeline sangat beruntung memiliki kamu bang," gumam Risa teramat pelan hingga Zhen tidak mendengarnya.
Tangan Risa yang bebas terulur membelai surai hitam milik Zhen. Membuat pria yang sedari tadi menunduk, mengangkat kepalanya.
"Kamu sudah bangun sayang?"
Segera Risa mengalihkan pandangannya, tidak ingin Zhen melihat wajahnya yang merona, entah kenapa setiap Zhen memanggilnya sayang, terasa seperti ada kupu-kupu beterbangan di perut Risa.
Zhen menghela nafas kasar, mengira jika Zeline tidak mau menatapnya karena marah.
Zhen melepaskan genggaman tangan mereka hingga spontan membuat Risa menoleh dan menahan tangan pria itu, Risa ingin Zhen selalu ada bersamanya, padahal baru beberapa hari, tapi Risa sudah merasa nyaman di dekat pria itu.
"Abang mau kemana?" Tanya Risa begitu Zhen menatapnya.
"Abang disini saja," ucap Risa lagi karena Zhen hanya diam saja.
Zhen menatap Risa dan mengikuti keinginannya, kembali duduk menemani gadis itu.
"Abang, Zeze lapar," ucap Risa kemudian.
Zhen melirik paper bag yang tadi dibawakan bibi, bangun lalu mengambilnya. Dengan diam Zhen mengeluarkan seluruh isinya, lalu membuka sebuah kotak makan berisikan bubur ayam. Meletakan kotak di atas meja, lalu membantu menaikan bed agar Risa bisa duduk dengan nyaman. Lalu barulah suapan demi suapan Zhen berikan pada Risa yang sepertinya memang kelaparan.
"Kapan Zeze bisa pulang bang?"
Zhen yang tengah membereskan bekas makan Risa tadi menghentikan gerakannya.
"Nunggu dokter dulu, sebentar lagi juga dokter datang memeriksa keadaan kamu."
Risa mengangguk mengerti. Risa memperhatikan setiap gerakan yang Zhen lakukan, seulas senyum terbit dari sudut bibirnya.
'Bagaimana jika nanti aku jatuh cinta sama abang?' Ucapnya dalam hati, melihat Zhen yang kini berdiri dan kembali meletakkan paper bag tadi di atas sofa.
"Kenapa kamu lihatin abang seperti itu?" Zhen tidak tahan lagi untuk bertanya sedari tadi, dia menyadari jika Risa terus memperhatikannya.
"Abang tampan," ucap Risa tanpa sadar lalu dengan cepat menutup mulutnya.
"Apa? Abang tidak dengar," ucap Zhen sambil mendekat ke arah Zeline.
Zhen kembali duduk menarik dagu Zeline agar menatapnya.
"Ayo katakan lagi, tadi abang tidak mendengarnya."
Mata Zeline saat terlihat lucu bagi Zhen, apalagi dengan kedua pipi yang merona.
"Abang tampan."
__ADS_1
"Apa Ze?"
"Abang tampan," ucap Zeze sedikit berteriak, agar pria yang sedari tadi berpura-pura tidak mendengar bisa mendengar dengan jelas, tanpa dia kembali mengulang perkataannya.
"Tau itu, dari dulu memang abang tampan," jawab Zhen dengan percaya diri.
Risa yang melihat wajah Zhen kembali ceria ikut tersenyum.
"Nah gitu dong senyum, jadi ketampanannya semakin bertambah."
Zhen tersenyum dan mengacak rambut adiknya. Bertepatan dokter datang saat itu. Zhen mundur memberi tempat untuk dokter memeriksa adiknya.
Dan hasil pemeriksaan siang itu, Zeline sudah diperbolehkan pulang, membuat gadis itu senang.
Setelah dokter pergi, Zhen pun pamit untuk mengurus administrasi sebelum kepulangan Zeline.
*
*
"Abang, Zeze bisa jalan sendiri," protes Risa saat Zhen menggendongnya masuk ke dalam rumah.
"Diam atau abang akan melemparmu."
Risa mengerucutkan bibirnya dengan ancaman abangnya yang pasti tidak akan dilakukan.
Zhen terkekeh melihat wajah Zeline yang tengah kesal. Zhen langsung menaiki tangga membawa Zeline ke kamarnya. Lalu dengan perlahan menurunkan tubuh Zeline di atas ranjang.
"Abang, Zeze ingin keluar," rengeknya manja.
"Kamu istirahat saja."
"Kalau abang bilang tidak ya tidak."
"Abang ih!"
Di tengah perdebatan mereka terdengar suara pintu diketuk, Zhen kemudian melangkah untuk membukanya.
"Kenapa bi?"
"Ada teman-temannya non Zeze, Tuan."
"Suruh pulang, Zeze harus istirahat."
"Abang! Tidak bi suruh mereka tunggu di ruang keluarga aja, bibi tolong buatkan minum, nanti Zeze akan turun."
"Zeze!"
"Abang, please!" Risa menampilkan mata puppy eyes nya berharap Zhen akan luluh dan mengizinkannya.
'Menggemaskan sekali!' Ucap Zhen dalam hati.
"Abang…"
"Baiklah tapi tidak boleh lama-lama, apalagi teman-teman kamu itu laki-laki."
__ADS_1
"Kenapa abang tidak ikut saja dan mengobrol bareng."
Zhen tampak berfikir, sepertinya itu ide bagus, dia jadi bisa mengawasi Zeline secara langsung.
"Baiklah, bi tolong lakukan seperti yang Zeze katakan tadi."
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu."
Zhen mengangguk kemudian kembali mendekat ke arah ranjang.
"Abang mau apa?" Teriak Risa dengan apa yang akan Zhen lakukan.
"Menggendong kamu dong sayang, memangnya apalagi."
"Tidak!" Zeline langsung mengangkat satu tangannya di depan wajah Zhen, menolak dengan tegas.
"Ayolah Zeze sayang, badan kamu masih lemas, abang tidak mau terjadi apa-apa denganmu."
"Abang Zeze baik-baik saja."
"Baiklah, tapi abang akan memapahmu."
"Terserah abang saja," Zeline menyerah, rasanya dia tidak akan menang berdebat dengan Zhen.
"Bagus! Ya udah ayo kita turun!" Zeline pun turun perlahan dibantu Zhen.
Keduanya kemudian turun bersama menuju ke ruang keluarga dimana teman-teman Zeline saat ini berada.
Begitu Zeline turun, dia tersenyum menyambut kedatangan Rio dan Evan, tak hanya mereka berdua, tapi ada satu orang lagi yang datang bersama mereka.
Berbeda dengan Zeline, ketiga pria itu mengernyit bingung saat melihat ada seorang pria dewasa tengah berjalan menuntun Zeline.
"Ini…"
Rio menatap pria yang sekarang berdiri di hadapannya bersama Zeline.
"Iya ini abang Zhen."
"Bukankah abang kamu…"
Evan ikut bertanya penasaran. Tapi ucapannya dengan cepat dipotong oleh Zeline.
"Abang sudah kembali beberapa hari lalu."
Evan dan Rio mengangguk mengerti, berbeda dengan satu orang lagi yang hanya diam saja, karena memang tidak tahu apapun.
"Sini bang!" Rio menarik Zhen untuk duduk di sebelahnya, tapi dengan cepat Zhen menepis tangan Rio dan memilih duduk bersama adiknya.
"Jangan lupa ini rumahku," ucap Zhen datar.
"Abang ih jangan gitu!" Zeline mencubit pinggang Zhen, kesal karena kakaknya bersikap seperti itu pada dua teman baiknya.
"Rio, Evan dan Nico maaf atas sikap abang," ucap Zeline merasa tak enak.
Ketiganya mengangguk bersama.
__ADS_1
"Oh ya Nico silahkan duduk!" Ucap Zeline pada ketua kelasnya, karena ini baru pertama kalinya dia datang ke rumah Zeline berbeda dengan Evan dan Rio kini sudah duduk santai seperti menganggap rumah sendiri, seperti yang pernah dikatakan oleh Zeline dan Bi Irma.
"Iya," Nico mengangguk lalu berjalan mendekat ke arah Zeline, duduk di samping gadis itu, membuat mata Zhen melotot tak terima.