Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 41


__ADS_3

"Zhen! Zeline! Cepat bangun kalian!" 


Zeline mengerjapkan matanya, dan dirinya langsung bangun saat melihat sosok yang asing baginya.


"Abang bangun...abang!" Zeline menggoyangkan bahu Zhen agar pria itu segera bangun apalagi saat melihat tatapan tajam pria dan wanita yang kini ada di kamarnya.


"Ambil air cepat!"


"Ada apa sih ribut-ribut?" Zhen mengucek mata dan segera bangun.


"Papa!"


"Apa yang kalian lakukan? Apa pantas kalian tidur bersama seperti ini? Apa ini yang kalian lakukan saat papa dan mama tidak ada?"


Zhen memutar malas bola matanya, menatap sang ayah yang sedang berkacak pinggang.


"Tidak usah berlebihan pa, dari dulu memang Zhen selalu menemani Zeze tidur."


"Kau…"


"Sudahlah mas. Biar aku yang bicara sama mereka," wanita yang sedari tadi diam kini angkat bicara.


Tatapan pria itu kini mengarah ke arah Risa yang hanya bisa menunduk saat merasakan aura dingin dari pria yang dia kenali sebagai ayah Zeline. 


"Dan kamu Zeline, tidak bisakah sehari saja kamu tidak membuat masalah? Bolos sekolah, berbuat keributan, nilai buruk, dan sekarang, kau bahkan tidur dengan kakakmu, apa seperti ini kamu diajarkan?"


Risa tertawa membuat ketiga orang dewasa disana menatapnya.


"Iya seperti ini aku diajarkan, tidak...aku bahkan tidak diajarkan, apa papa dan mama pernah peduli? Aku membolos aku berbuat keributan, apa kalian tahu kenapa aku melakukannya? Itu karena kalian semua egois, kalian lebih mementingkan urusan kalian daripada aku yang butuh kasih sayang dan perhatian kalian. Dan ini...ini hasil dari ajaran papa dan mama."


"Kau!"


Zhen buru-buru menangkap tangan ayahnya yang kini melayang dan hampir saja mendarat di pipi Zeline.


"Sudahlah, papa dan mama lebih baik keluar sekarang!" Ucap Zhen dingin setelah menghempaskan tangan ayahnya.


"Kalian…"


Nafas pria itu naik turun, menatap Zhen dan Zeline lalu pergi dari kamar anak-anaknya.


"Mama akan coba bicara sama papa," pamit wanita tadi, lalu segera menyusul suaminya.


Zhen menghapus air mata Zeline lalu menarik ke dalam pelukannya.


"Jangan dimasukkan ke hati ucapan papa tadi ya, papa memang seperti itu."


"Zeze hanya kesal abang, bagaimana bisa papa berbicara seperti itu, hati Zeze sakit…"


"Abang tau kok sayang, sudah ya…kamu sana mandi, abang harus temui papa dulu," ucap Zhen mengurai pelukan.


"Abang…"


"Tidak apa-apa."


"Tapi…"

__ADS_1


Cup


Zhen mengecup bibir Zeline sekilas. Lalu tersenyum begitu pagutan bibir mereka terlepas.


"Jangan khawatir, abang akan bicara sama papa."


Risa mengangguk membiarkan Zhen pergi dari kamarnya. Risa lalu buru-buru menghubungi Zeline untuk memberitahu bahwa papa dan mama gadis itu, akhirnya pulang. Juga menanyakan tentang rencana pertukaran mereka kembali hari ini.


Setelah selesai, Risa turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi, dia akan membersihkan diri dulu sebelum turun ke lantai bawah. 


"Kenapa aku jadi kesal sama mereka? Jelaslah, siapa yang tidak kesal melihat orang tua yang tidak peduli sama anaknya, bahkan menilai anaknya buruk, padahal mereka sendiri yang tidak mengajari dengan benar. Kasihan Zeline…"


Risa mengguyur tubuhnya lalu segera mengambil bathrobe dan memakainya.


"Abang…"


Zhen yang duduk di atas ranjang Zeline langsung menoleh, pria itu menelan saliva susah payah, melihat penampilan Zeline saat ini.


"Ngapain abang disini?"


Zhen menggeleng lalu tersenyum, "Tidak apa-apa, abang hanya memastikan jika kamu baik-baik saja, abang takut…"


"Zeze baik-baik saja abang."


Risa kemudian melangkah dan duduk di kursi depan meja rias.


"Abang disini nanti papa marah lagi loh."


Zhen berdiri dan melangkah menghampiri Zeline, berdiri di belakang Zeline dan mengalungkan kedua tangan di bahu adiknya.


Risa menghembuskan nafasnya berat, jelas saja Zeline merasa kesepian, bahkan saat baru kembali, ayah dan ibunya lebih mementingkan undangan orang lain daripada menghabiskan waktu dengan anak-anaknya.


"Abang…"


Risa menahan nafas, saat merasakan Zhen mengendus lehernya, bahkan gadis itu bisa merasakan hembusan hangat nafas Zhen yang membuat tubuhnya meremang.


"Wangi." Gumamnya dengan tangan yang tidak tinggal diam, menarik tali bathrobe yang Risa kenakan.


"Abang jangan!" Risa menahan tangan Zhen, mendongak dan menatap pria itu dengan pandangan sayu.


"Hanya bermain disini saja, seperti waktu itu, abang janji tidak akan melakukan lebih."


"Tapi abang…"


Ucapan Risa terhenti saat Zhen kini sudah membungkam bibirnya.


Zhen menarik kursi yang Risa duduki hingga kini Risa berhadapan dengannya tanpa melepas pagutan bibir mereka.


Tangan Zhen bahkan sudah membuka bathrobe hingga tubuh bagian atas Risa bisa Zhen lihat dengan jelas.


Zhen melepas tautan bibir mereka, pandangan keduanya bertemu, Zhen memegang kedua tangan Risa dengan satu tangannya, lalu bibirnya turun mengecupi leher Risa.


"Abang…"


Satu tangan Zhen melepas kaitan di punggung Risa, hingga kini bisa melihat dua gundukan kenyal yang dengan cepat langsung Zhen sambar dengan bibirnya.

__ADS_1


"Abang, Zeze mohon jangan seperti ini!" Ucap Risa yang kini tengah berusaha mempertahankan kewarasannya dari aksi Zhen yang sebenarnya membuat dirinya terbuai.


"Abang!"


Zhen tersadar, dia kemudian menarik Risa ke dalam pelukannya, sambil mengaitkan kembali yang tadi dilepasnya.


"Maafkan abang, dan makasih karena sudah mengingatkan abang, hingga abang tidak berbuat lebih."


Zhen melepaskan pelukan mereka, membenarkan bathrobe yang Risa kenakan seperti semula dan mengikatnya.


"Abang ke kamar mandi dulu," Zhen berdiri dari duduk bersimpuhnya yang entah dia lakukan sejak kapan, melangkah berniat meninggalkan Risa.


"Abang…." Risa menahan tangan Zhen yang akan pergi.


Zhen tersenyum dan mengacak rambut Risa gemas.


"Abang tidak marah, abang mengerti kok."


"Mau Zeze bantu?"


Zhen mengernyit mendengar ucapan Zeline.


"Bantu?"


"I...itu…"


Zhen mencoba mencerna apa yang akan adiknya katakan lalu tergelak.


"Jika kamu tidak keberatan," Zhen mengulurkan tangan.


Zeline mengerucutkan bibirnya, tapi tetap menyambut uluran tangan pria itu, dan keduanya kini berjalan bersama menuju kamar mandi.


*


*


"Mama dan papa sudah pulang bi?" Tanya Zhen yang kini duduk di kursi meja makan, diikuti Risa yang duduk di sampingnya dengan kepala yang terus menunduk.


Zhen terkekeh melihat wajah adiknya yang masih saja memerah karena kejadian tadi sebelum mereka akhirnya kembali mandi dan baru turun untuk makan.


"Belum Tuan," jawab Bi Irma sambil menyajikan makanan untuk kedua anak majikannya itu.


"Loh Non Zeze kenapa? Sakit?" Tanya Bi Irma yang melihat wajah merah Zeline.


"Hah? Oh...Zeze tidak apa-apa kok bi."


Risa dan bi Irma lalu saling pandang saat melihat Zhen justru tertawa kencang.


"Kenapa Non?" Tanya Bi Irma tanpa suara.


Risa hanya menempelkan jari telunjuknya di kening dengan posisi miring. Membuat Bi Irma yang kini gantian tertawa.


"Non Zeze ada-ada saja."


Sementara Zhen kini mendengus kesal karena secara tidak langsung, Zeline mengatainya gila.

__ADS_1


__ADS_2