Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 82


__ADS_3

Zeline membanting ponselnya di kasur saat tidak juga mendapat jawaban dari Risa. Dia segera bangkit dan menuju kamar mandi. Dia akan membersihkan diri dulu, setelah memutuskan bahwa dia akan pergi menemui Risa dan berbicara secara langsung.


Tak berlama-lama, Zeline kini sudah rapi, ia mengambil ponsel dan dompetnya lalu segera keluar dari kamar.


"Kamu mau kemana?"


Zeline menoleh dan mendapati mamanya sedang menonton televisi.


"Zeze mau menemui mbak Risa ma."


"Kenapa tidak ditelepon saja? Jika papamu kembali dan tahu kamu tidak di rumah, dia pasti akan memarahimu lagi," ucap mama Zeline menatapnya khawatir.


Zeline mengerucutkan bibirnya, berjalan gontai lalu duduk di samping mamanya.


"Teleponnya tidak diangkat ma," adu Zeline.


"Padahal nomornya aktif," tambahnya lesu.


Anita menatap putrinya dan mengusap rambut Zeline.


"Maafkan mama. Mungkin ini karena mama," ucapnya kemudian.


"Waktu itu, mama mendatanginya dan meminta untuk menjauh dari keluarga kita. Mama tidak mau jika dia terus memanfaatkan kamu."


"Mama! Sudah pernah Zeze katakan jika Zeze yang meminta mbak Risa untuk menggantikan Zeze. Mbak Risa tidak pernah memanfaatkan Zeze," tegas Zeline, kecewa pada apa yang sudah mamanya perbuat.


"Justru Zeze yang membuat mbak Risa hampir kehilangan pekerjaannya," lirih Zeline kemudian.


Anita menatap putrinya, sebelumnya dirinya terus bersikeras, bahwa Risa yang sengaja meminta bertukar peran. Bahkan saat Zhen dan Risa sudah menjelaskan semuanya. Dalam hati Anita, dia tetap tidak percaya pada Risa. Makanya, waktu itu dirinya berinisiatif menemui Risa dan meminta gadis itu untuk menjauhi keluarganya.


Mata Zeline berkaca-kaca, mendengar ucapan mamanya, membuat harapan Zeline agar bebas seperti sebelumnya sepertinya pupus sudah. Mulai besok pasti dirinya benar-benar tidak akan bisa keluar. 


Melihat putrinya yang hampir menangis karena apa yang telah dirinya lakukan, Anita pun segera memeluk Zeline. Mengelus punggungnya yang bergetar, dia tidak menyangka bahwa keputusannya waktu itu justru mempersulit Zeline sekarang.


"Zeze…"


"Sudahlah ma, Zeze mau pergi sekarang ya." 


Zeline menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes. Dia melepaskan pelukan mamanya, mengambil tas dan segera pergi dari rumahnya.


Zeline menaiki taxi untuk menuju rumah Risa, karena sopir yang biasa mengantarnya masih bersama papanya. Dan untungnya pria yang mendadak menjadi sopirnya dia juga sedang tidak ada di rumah.

__ADS_1


Zeline menatap keluar jendela saat taxi sudah melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.


Di dalam taxi, Zeline kembali mengambil ponselnya yang tadi sempat ia masukkan ke dalam tas. Yang pertama ia lakukan adalah menuju aplikasi telepon dan menghubungi nomor yang terakhir ia hubungi. 


Beberapa menit kemudian, Zeline meletakkan kasar ponselnya di pangkuan. Jika tadi saat di rumah nomor Risa aktif tapi tidak dijawab, kali ini nomor Risa justru tidak aktif.


Zeline menurunkan duduknya melipat kedua tangannya di depan dada, pandangannya menatap ke samping dengan wajah yang terlihat kesal.


Waktu berjalan lambat, itu yang Zeline rasakan saat ini. Membuat mood nya semakin memburuk. Menunggu hingga benar-benar bosan, akhirnya taxi yang ia tumpangi tiba juga di depan gang tempat tinggal Risa.


Zeline turun dan mempercepat langkah, ingin segera menanyakan kenapa Risa seperti sedang menghindarinya, padahal dia sudah mengirim chat, jika dia minta maaf soal mamanya yang sudah salah paham padanya.


Sampai di depan pintu, tanpa ragu Zeline mengetuk pintu kos Risa. 


Tak lama pintu terbuka dan muncul wajah Risa yang sudah cukup lama tidak ia lihat.


"Zeline?"


Risa segera menoleh menatap ke belakang seperti tengah mencari sesuatu membuat Zeline merasa heran.


"Ada yang mbak sembunyikan?"


Risa pun segera keluar dan menutup rapat pintu, menarik Zeline pergi.


"Kenapa mbak?" Tanya Zeline bingung.


"Kamu ngapain disini?" 


Risa bertanya sambil celingak-celinguk kesana kemari. Zeline hanya terheran-heran melihat Risa yang tampak panik.


"Kamu pulang sekarang ya?" Ucap Risa menggenggam kedua tangan Zeline.


"Mbak ngusir aku? Apa ini gara-gara mama waktu itu?" Suara Zeline sedikit meninggi, tidak terima karena Risa memintanya pulang, padahal dia bela-belain datang ke tempat Risa, dengan resiko jika ketahuan papanya, maka dapat dipastikan dirinya benar-benar tidak bisa keluar lagi dari rumah kecuali jika pergi ke sekolah.


"Zeline bukan seperti itu…tapi…"


"Risa kamu sedang apa disitu? Cepat masuk! Nanti kamu sakit, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu Nak."


Tubuh Risa membeku saat mendengar suara ibunya.


"Ibu?" Gumam Zeline pelan, saat dia melihat wanita yang berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Ya Zeline melihat ibu Risa karena memang posisinya yang menghadap ke kos an Risa. Sementara Risa berdiri membelakangi ibunya.


"Risa!"


"Iya bu, Risa akan masuk sekarang."


Sebelum Risa menjawab, Zeline sudah lebih dulu menjawabnya. Dia tersenyum lalu dengan segera melepaskan tangan Risa dan hendak berlari ke arah ibu Risa.


"Zeline…" Risa menahan tangan Zeline, mencegah Zeline melanjutkan langkahnya.


"Ajak teman kamu sekalian masuk!" Ucap ibu Risa lagi.


"Tidak bu, teman Risa sudah mau pulang."


"Zeline…" 


Zeline pun melepaskan tangan Risa dan memberikan tasnya lalu melangkah pergi. Dia merasa senang karena ibu Risa masih setia menunggunya. Sementara Risa hanya bisa berdiri mematung, tidak menyangka Zeline akan melakukan itu. Ingin rasanya dirinya berbalik dan menarik tangan Zeline pergi dari sana. Tapi tidak mungkin, jika dia melakukan itu, maka ibunya akan tahu.


"Ayo bu masuk, di luar dingin," ucap Zeline menggamit lengan ibu Risa mengajaknya masuk.


Sementara ibu Risa menoleh ke belakang, tatapannya terus tertuju pada gadis yang hanya berdiri, tak beranjak sedikitpun.


"Ibu…"


"Teman kamu…"


"Dia sudah mau pulang, tadi Risa sudah mengajaknya masuk, tapi dia tidak mau."


Ibu Risa menghela nafas, ada sesuatu aneh yang ia rasakan, saat Zeline terus mendesaknya untuk masuk.


Sementara Risa, dia baru berbalik saat mendengar suara pintu yang tertutup.


Risa menghela nafas panjang, sekarang apa yang harus dia lakukan, dia bahkan tidak membawa ponselnya. Dirinya lalu menatap tas Zeline yang ia pegang karena Zeline tadi sedikit memaksanya untuk menerima tas itu. Dan sekali lagi, Risa menoleh menatap pintu yang sudah tertutup rapat dan dengan berat hati, ia pun melangkah pergi dari sana.


Risa terus berjalan hingga tak terasa dia sudah sampai di depan gang, menengok ke arah kanan, barangkali ada sebuah taxi yang lewat. Tak kunjung mendapatkan taxi, Risa berjalan lagi, dan duduk di halte.


Risa melihat isi tas Zeline dan dirinya menghembuskan nafas kasar saat tidak melihat ponsel disana. 


"Jika aku tidak dapat taxi gimana?" Pikirnya dalam hati.


Tak lama, sebuah busway berhenti tepat di depannya, tapi Risa sama sekali tidak beranjak, hingga Risa melewatkan kendaraan itu. Risa terdiam, melamun dan justru sibuk dengan berbagai macam pikiran. Bahkan saat sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di tempat yang tak jauh dari dirinya berada. Risa sama sekali tidak menyadarinya. Tapi kemudian, dirinya begitu terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan meraih pergelangan tangannya dan berusaha menariknya. 

__ADS_1


__ADS_2