Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 79


__ADS_3

Seorang pria tampak memejamkan kedua matanya sambil melipat kedua tangan di depan dada, duduk bersandar di kursi mobil bagian belakang, mengabaikan ponselnya yang sedari tadi berdering tak tahu untuk keberapa kalinya. Sementara sang sopir hanya bisa diam dengan pandangan yang sesekali melirik pada spion, ragu antara membangunkannya atau membiarkan saja. Sopir bahkan tak yakin jika majikannya itu benar-benar tidur. 


Panggilan itu pun tak lama berakhir, tapi setelahnya, kini justru ponsel miliknya yang berbunyi, sebuah nomor tak dikenal sedang menghubunginya. Awalnya sang sopir tak memperdulikannya, tapi nomor itu kembali memanggilnya, membuatnya mau tak mau menjawab panggilan itu.


"Maaf Tuan, orang yang tadi pagi Anda minta mengantar dan menjemput Non Zeline menghubungi saya. Dia bilang ingin berbicara penting dengan Anda."


Mata pria itu pun akhirnya terbuka, tampaknya pria itu tadi memang tidak benar-benar tidur.


Diambilnya ponsel yang ada di dalam saku jas nya. Dan benar, ada 8 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama.


"Kenapa?" Ucap pria itu tanpa basa-basi.


"Nona…Tuan…Nona…dia kabur."


Terdengar helaan nafas dari pria itu, sepertinya dia tidak terkejut mendengar laporan dari orang suruhannya yang ia minta untuk mengawasi putrinya.


"Baiklah, sekarang kau segera ke bandara, saya ada pertemuan penting," jawab pria itu sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia lalu segera mengakhiri panggilan saat melihat bahwa dirinya telah sampai di tempat tujuan.


"Tuan Abi, Anda akhirnya datang. Saya sudah berusaha menahan Alex, dia hanya bisa memberikan kita waktu 15 menit," ucap seseorang yang berdiri menyambut kedatangan Abi.


"Kau sudah persiapkan semuanya?" Tanya Abi yang kini melangkah lebih dulu kemudian segera diikuti oleh pria yang menyambutnya tadi.


"Sudah Tuan," jawabnya mantap.


Keduanya berjalan tegap dengan langkah lebar, waktu mereka tidak banyak untuk meyakinkan pria bernama Alex agar mau menjalin kerja sama dengan perusahaannya.


"Sebelah sini Tuan," ucap pria tadi menunjukkan jalan pada Abi kemana mereka harus melangkah. Abi pun mengikuti setiap petunjuk arah yang diarahkan oleh asistennya.


"Semuanya sudah diperiksa ulang?"


"Sudah Tuan."


"Itu dia Tuan Alex!"


Abi mempercepat langkah menghampiri seorang pria dengan kulit putih dan rambutnya yang pirang.


"Halo Mr Alex," ucap Abi mengulurkan tangan lalu memperkenalkan dirinya, begitu pula dengan pria bernama Alex. Setelah sedikit berbasa-basi, mereka pun duduk dan membahas rencana kerja sama.


Tak terasa lima belas menit telah berlalu. Kabar baik karena Abi akhirnya mendapatkan kerja sama itu. 


"Terima kasih Mr. Alex, semoga kerjasama kita lancar," mereka bangkit dari kursi masing-masing dan kembali berjabat tangan, dilanjutkan dengan Alex yang berpamitan, karena sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas.


Abi tampak tersenyum puas sambil memandangi Alex dan orang-orangnya yang berjalan menjauh.


"Kau kembali saja ke kantor, ada sesuatu yang harus saya lakukan. Dan mungkin saya tidak akan ke kantor lagi," ucap Abi saat Alex sudah benar-benar menghilang dari pandangannya.


"Nanti akan ada yang datang menjemputmu."


"Baik Tuan," ucap asisten Abi yang kemudian segera pergi dari sana.


Abi hendak melangkah, tapi langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat seseorang yang tidak begitu  jauh dari tempatnya.


Walau merasa kakinya terasa berat, Abi berusaha untuk menghampirinya. Tatapan keduanya bertemu. Wanita itu terlihat gugup, dia segera bangun dan hendak pergi dari sana, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia menoleh, rupanya Abi menahan tangannya.


"Lepaskan!"


"Maya!"


"Maaf Anda salah orang."

__ADS_1


"Tidak, aku tahu ini kamu."


"Lepas!"


Ponsel Abi berdering, awalnya Abi mengabaikannya, tapi akhirnya dia menjawab panggilan itu setelah berbunyi yang keempat kalinya.


Dan tak menyia-nyiakan kesempatan wanita yang dipanggil Maya segera melarikan diri.


Maya terus berlari menyeret koper kecilnya, sambil sesekali menoleh ke belakang. Hingga…


Bruk


"Ah maaf."


"Ibu…"


"Oh Risa, kamu sudah datang Nak," ucap Maya.


"Ibu kenapa?" Tanya Risa melihat ibunya yang tampak panik, mengikuti kemana arah pandang wanita itu, sambil mengambil alih koper milik sang ibu.


"Ti…tidak…tidak apa-apa, ibu tadi hanya bertemu dengan orang aneh."


"Orang aneh? Aneh bagaimana?"


"Sudah tidak usah dibahas, ayo ke tempatmu!"


Risa yang mencoba mencari orang yang dimaksud ibunya. Segera mengalihkan pandangan saat sang ibu menarik tangannya. 


"Ayo kita pulang ke tempatmu sekarang, ibu lelah."


"Ah…oh iya. Ayo kita pulang!"


"Sayang!"


Langkah Risa dan ibunya berhenti saat seseorang datang menghampiri mereka. Risa terlihat gugup, sementara ibu Risa tampak bingung.


"Oh bu, kenalkan ini abang Zhen," ucap Risa memperkenalkan kekasihnya.


"Saya Zhen bu, mari!" Ajak Zhen mempersilahkan agar ibu dari wanita yang dicintainya itu berjalan lebih dulu.


"Biar aku yang bawa kopernya," ucap Zhen merebut koper yang Risa bawa.


Risa segera menyerahkan koper milik ibunya, berpamitan pada Zhen bahwa dia akan berjalan lebih dulu. Dan Zhen pun langsung mengizinkan Risa berjalan dengan ibunya beriringan, dengan tangan Risa yang merangkul lengan wanita itu.


"Laki-laki itu siapa?" Bisik ibu Risa.


Risa menoleh ke belakang, dan begitu mendapati wajah Zhen yang tengah tersenyum, buru-buru dia mengalihkan kembali pandangannya ke depan.


"Pacar kamu ya? Ganteng," komentar ibu Risa.


"Ih apaan sih bu," ucap Risa malu-malu. Wajahnya pun kini tampak memerah.


"Jadi benar, putri ibu rupanya sudah dewasa, rasanya baru kemarin kamu bisa berlari, sekarang sudah punya pacar."


"Ibu…"


Ibu dan anak itu pun asyik mengobrol sambil berjalan, bertanya ini dan itu melepas rindu karena sudah beberapa bulan tidak bertemu.


"Silahkan bu!" Zhen meninggalkan koper dan segera membukakan pintu mobil.

__ADS_1


"Terima kasih Nak Zhen."


"Sama-sama bu."


Risa tersenyum senang dengan interaksi keduanya, dia lalu berjalan mengitari mobil dan membuka pintu bagian belakang di sisi lainnya, lalu segera masuk. Begitu pula dengan Zhen yang masuk ke kursi kemudi setelah menaruh koper ibu Risa ke bagasi mobil.


"Risa kangen sama ibu," ucap Risa menyandarkan kepala di bahu sang ibu.


Ibu Risa hanya tersenyum, di belainya rambut sang putri dengan lembut, mengecup puncak kepalanya. Saat dirinya menatap keluar jendela tanpa sengaja dirinya melihat pria yang tadi ditemuinya berlari sambil menengok kanan dan kiri seperti tengah mencari seseorang dan mungkin orang itu adalah dirinya. 


Ibu Risa menarik nafas lega saat akhirnya mobil Zhen pun melaju meninggalkan bandara.


"Ibu kenapa?" Tanya Risa saat mendengar ibunya menghela nafas panjang, dia menarik tubuhnya dan mendongakkan kepala agar bisa melihat wajah sang ibu.


"Ibu tidak apa-apa," jawab ibu Risa sambil mengelus lengan putrinya.


Risa pun mengangguk, ia kembali menyandarkan kepalanya. 


Zhen bahagia saat melihat bagaimana Risa dan ibunya yang sangat berbeda dengan keluarganya.


Ketiganya kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Ibu sudah makan?" Tanya Zhen mencoba memulai pembicaraan. Sebenarnya dia juga ada sedikit merasa gugup. Bagaimanapun dia kini tengah berhadapan dengan ibu dari wanita yang dicintainya.


"Ibu…" Zhen menoleh ke belakang, tampak ibu Risa seperti sedang melamun.


Risa yang juga tidak mendengar tanggapan ibunya lalu mendongak. Dia mengulurkan tangan menggenggam tangan sang ibu.


"Ibu!"


"Hah?"


Karena sibuk dengan pikirannya, ibu Risa sampai terkejut mendengar ucapan putrinya.


"Abang tanya sama ibu, ibu sudah makan belum? Bagaimana jika kita makan dulu, Risa lapar, dari siang belum makan.


"Oh itu, ibu belum makan. Iya kita makan dulu aja," jawab ibu Risa.


"Maaf ya Nak Zhen, ibu tadi sedang tidak fokus," tambahnya.


"Tidak apa-apa bu."


"Memang ibu lagi mikirin apa sih?"


"Hah? Oh itu, ibu lagi mengingat-ingat barangkali ada yang tertinggal," ucap ibu Risa beralasan.


"Ya ampun, Risa kira apaan," Risa kembali membenarkan posisi duduknya bersandar ke kursi dan menatap lurus ke depan.


Tak menunggu lama, kini Zhen sudah memarkirkan mobilnya di sebuah tempat makan. Pria itu turun lebih dulu membukakan pintu untuk Risa dan ibunya.


"Seharusnya Nak Zhen tidak perlu repot-repot, ibu bisa membukanya sendiri."


"Tidak repot kok bu."


"Ya sudah ayo!"


Ketiganya masuk, Risa dan ibunya memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, keduanya duduk bersebelahan, sedang Zhen duduk tepat di depan ibu Risa.


Zhen mengangkat tangannya memanggil pelayan lalu memesan beberapa makanan.

__ADS_1


"Ibu perhatikan kamu mirip dengan seseorang yang ibu kenal," ucap ibu Risa yang membuat Zhen dan Risa kompak menatapnya.


__ADS_2