
"Ini!"
Risa hanya bisa menatap selembar kertas yang baru saja di letakkan di atas meja. Dia lalu mengangkat kepalanya menatap wanita itu.
"Angka itu, menurutku cukup agar kamu tidak mengganggu keluargaku lagi. Jangan meminta putriku untuk menggantikanmu juga putuskan hubunganmu dengan putraku," tegas wanita itu.
Risa mengepalkan tangan di bawah meja, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, berharap dengan begitu dia bisa menahan diri untuk tidak marah saat ini, terlebih mengingat di depannya adalah seseorang yang lebih tua darinya, selain itu wanita yang sekarang berhadapan dengannya adalah ibu dari orang yang dicintainya, juga seorang ibu yang tengah mengkhawatirkan putrinya, dan tidak ingin putrinya dimanfaatkan orang lain. Seperti itu pula yang Risa pikirkan beberapa tahun yang lalu saat seseorang melakukan hal yang sama padanya.
Perlahan tangan yang tadi mengepal itu terbuka, lalu terulur mengambil kertas itu, membaca nominal yang tertulis sambil tersenyum lebar, membuat wanita yang duduk di hadapannya menatapnya sinis.
"Lihatlah, sepertinya kau menyukainya, jadi ingatlah baik-baik apa yang saya katakan tadi. Kembalikan putriku, dan jangan ganggu dia lagi," wanita itu mendorong kursi yang didudukinya dengan cukup kencang, sampai terdengar bunyi berderit.
"Anda pikir, saya yang meminta putri Anda untuk menggantikan posisi saya? Dan ini…." Risa berdiri dan menunjukkan kertas yang ada di tangannya di depan wajah wanita itu.
"Aku tidak membutuhkannya," ucapnya kemudian lalu merobek kertas itu.
"Apa yang kau lakukan?"
"Bukankah Anda bisa melihatnya sendiri."
"Kau…apa itu kurang? Saya akan menambahkannya, tidak perlu berpura-pura."
"Kenapa Anda tidak menanyakan pada putri Anda lebih dulu sebelum mengajakku bertemu? Tanyakan dulu secara jelas kenapa kami bisa bertukar peran, bukan langsung menghakimi orang lain tanpa tahu yang sebe…"
"Jika itu putriku…jika putriku yang memintamu untuk menggantikannya, memang apa yang akan dia dapat?"
"Dengarkan saya dulu, dan jangan potong perkataan saya, jika Anda ingin tahu yang sebenarnya. Dan mengenai pertanyaan Anda tadi, saya akan menjelaskannya," ucap Risa meraih tangan mama Zeline dan meletakkan beberapa bagian dari cek yang tadi di sobeknya.
Mama Zeline menarik tangannya yang digenggam Risa sedikit kasar, lalu melipat keduanya di depan dada seraya menatap Risa sinis.
"Menjelaskan atau kamu akan menyangkalnya?"
__ADS_1
Risa menghela nafas panjang, dia kembali duduk lalu mengambil sesuatu dalam tas nya. Risa menatap mama Zeline yang masih berdiri hingga akhirnya wanita itu pun duduk lagi di tempatnya tadi.
Risa lalu meletakkan selembar kertas di atas meja lalu mendorongnya ke arah mama Zeline, agar lebih jelas membacanya.
"Disitu tertulis bahwa Zeline lah pihak pertama, pihak yang meminta saya untuk menggantikan posisinya. Bahkan Anda bisa lihat, kami berdua tanda tangan disini." Ucap Risa menunjuk tanda tangannya juga tanda tangan Zeline di atas kertas itu.
Risa lalu terdiam mengingat kejadian saat itu.
"Mbak Risa jadi kan berangkat malam ini?"
"Iya jadi. Oh ya Ze, ada sesuatu yang harus aku berikan padamu.
Risa melihat Zeline mengernyitkan dahi saat kini dirinya turun dari ranjang dan membongkar tas nya. Lalu tak lama dia kembali dengan kedua kertas di tangannya.
"Kamu baca dulu, setelah itu tanda tangani," ucap Risa memberikan kertas itu pada Zeline.
Zeline pun tak menolak dia segera membaca kertas itu.
"Ya itu surat pernyataan bahwa kamu yang minta mbak untuk menggantikanmu."
"Kenapa tiba-tiba saja mbak melakukan ini?"
"Ini tidak tiba-tiba, mbak sudah memikirkan ini cukup lama."
"Kenapa? Mbak tidak percaya? Makanya mbak membuat ini?" Zeline menatap Risa yang masih berdiri di hadapannya.
"Tidak apa-apa, hanya jaga-jaga saja."
"Jadi mbak benar-benar tidak percaya sama gue?"
"Tidak ada orang lain yang bisa aku percaya selain keluargaku."
__ADS_1
Tangan Zeline mengepal, ia lalu segera membubuhkan tanda tangan di atas dua kertas yang Risa berikan, yang tentunya kertas itu nantinya akan disimpan masing-masing orang.
"Kenapa kamu mau melakukannya?" Tanya mama Zeline membuyarkan lamunan Risa.
"Maksud Anda?"
"Kamu bisa menolaknya, tapi kenapa kamu justru menerimanya?"
"Entahlah, saat dia bilang kesepian, saya spontan menyetujui keinginannya. Sebelumnya saya minta maaf jika terkesan lancang, saya tahu Anda bekerja agar Zeline selalu berkecukupan, juga untuk meneruskan usaha orang tua Anda. Tapi yang Zeline butuhkan bukan cuma uang, dia juga butuh kasih sayang dan perhatian kalian, terlebih di umur Zeline yang sekarang."
Risa lalu bangkit dari duduknya, dan Zeline…saya tidak tahu dimana dia sekarang. Yang jelas jika Zeline pergi, itu bukan karena saya, tapi karena dia mungkin tidak nyaman berada di rumah. Dan seharusnya Anda lebih memperhatikan itu, kalau begitu saya permisi dulu," setelah mengatakan itu, Risa pun segera berlalu pergi. Meninggalkan mama Zeline yang menunduk dengan kedua tangan menutup wajahnya.
Risa terus melangkah kakinya, "Aku tidak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya," gumamnya berhenti dan memejamkan mata sebentar, menepis bayangan kenangan menyakitkan yang tiba-tiba saja muncul dibenaknya. Risa lalu membuka mata, dan kembali berjalan menuju halte terdekat.
*
*
Sementara itu, Zeline baru keluar lagi dari kamarnya saat merasakan perutnya yang mulai meronta minta diisi. Awalnya Zeline ingin memesan saja, tapi gadis itu segera mandi dan berubah pikiran, dia memutuskan untuk turun saja dan akan makan di restoran yang berseberangan dengan gedung apartemen Zhen. Sekalian berjalan-jalan untuk menghilangkan rasa bosannya. Niatnya datang agar tidak kesepian karena bisa bersama kakaknya, namun nyatanya sama saja, bahkan Zeline juga tidak tahu bahwa Zhen pergi meninggalkannya. Zeline keluar dari unit Zhen dan segera berjalan menuju lift. Zeline lalu masuk ke dalam lift itu.
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan," gumam Zeline pada dirinya sendiri. Tapi tiba-tiba air matanya menete begitu saja. Bagaimanapun dia berusaha untuk tidak memikirkannya, nyatanya semua itu justru membuatnya semakin mengingat dengan jelas, kejadian-kejadian belakangan ini, bahkan Zeline sempat berpikir, lebih baik keadaannya seperti dulu, dia sendiri, walaupun kesepian tak apa, bukan seperti sekarang, di saat semuanya sudah kembali dan mereka tinggal bersama, tapi hati Zeline justru terasa kosong.
Ting
Lift pun akhirnya terbuka, dan dengan segera Zeline menghapus air matanya, menarik nafas dan dia pun segera keluar dari lift dengan senyuman di wajahnya. Zeline mengambil ponsel saat mendengar notifikasi pesan masuk. Senyumnya makin lebar kala mendapati bahwa kekasihnya yang saat ini mengirim pesan padanya. Zeline berjalan sambil asyik berbalas pesan, hingga…
Bruk
Tiba-tiba saja dia menabrak seseorang, untung saja ponselnya tidak sampai terjatuh karena tabrakan itu.
"Maaf," ucapnya membantu memunguti barang-barang milik orang yang ditabraknya.
__ADS_1
"Ini…" ucap Zeline memberikan dompet orang itu, dengan tangan yang tiba-tiba gemetar. Zeline lalu perlahan mengangkat wajahnya, menatap wajah orang yang kini justru menatapnya sambil tersenyum.