
"Hmm bagaimana ini? Dirga? Kenapa dia sudah ada disini? Dia sudah kembali dari luar negeri? Tapi tadi kata Nico…"
Zeline mengetuk-ngetukkan jarinya di ponsel gelisah. Khawatir jika Dirga akan pulang ke apartemen yang ditempatinya. Bisa-bisa...semuanya akan terbongkar.
"Mbak Risa…" ucap Zeline mengingat nama itu. Dengan segera dia menggeser layar ponselnya untuk menghubungi nomor Risa.
"Kemana sih mbak Risa? Kenapa tidak dijawab?" Ucap Zeline gusar, apalagi saat panggilan ke 4 tidak kunjung mendapat jawaban.
"Sial!"
Tanpa membuka pintu apartemen itu, Zeline segera melangkah pergi, sungguh dirinya tidak ingin ketahuan saat ini, sudah terlanjur jauh, dan Zeline tidak ingin membuatnya sia-sia.
Zeline masuk ke dalam lift, tak lama hingga menunggu pintu lift itu terbuka kembali. Zeline segera melangkah keluar, dan menghentikan taxi. Mau tidak mau, dia harus kembali ke kos an Risa.
Menempuh perjalanan selama 30 menit, kini akhirnya taxi yang membawa Zeline sudah sampai di depan gang tempat tinggal Risa.
Zeline melangkah sambil terus memandangi layar ponselnya berharap Risa menghubunginya kembali. Tapi sepertinya Zeline harus kecewa, bahkan pesan yang sempat Zeline kirimkan juga sama sekali belum dibaca oleh Risa.
Zeline terlalu sibuk dengan ponselnya, hingga membuat gadis itu menabrak seseorang.
Brak
"Maaf," ucap Zeline sambil mengambil ponselnya yang tadi terjatuh.
"Aga?" Tubuh Zeline membeku, dia lupa kalau Aga berada di kos an Risa.
"Sekali lagi maaf," dia pun berbalik dan hendak pergi. Zeline tidak bisa menghadapi Aga, pria itu terlalu peka, hingga selalu mencurigainya dan mengatakan bahwa dirinya tidak seperti Risa.
"Tunggu!" Aga menahan pergelangan Zeline membuat gadis itu menoleh.
"Aga...mbak ingin sendiri dulu. Mbak hanya akan berjalan-jalan sebentar…."
Belum selesai dengan ucapannya, Zeline justru terkejut saat Aga menarik tangannya hingga mereka tiba di kos an.
"Aga, mbak…."
"Masuk!"
"Tapi…"
"Masuk sekarang Zeline! Atau aku akan menelpon abangmu dan memberitahunya bahwa kau ada disini dan menyeretmu pulang."
Zeline terkejut mendengar perkataan Aga, dia menatap Aga dengan dahi yang mengerut.
"Aga kau…"
"Iya, aku sudah tahu semuanya, jadi tidak perlu lagi berpura-pura di depanku."
"Mbak Risa yang ngasih tahu?" Kini tatapan Zeline berubah menjadi tatapan penuh amarah. Merasa jika Risa mengkhianatinya dengan menceritakan kesepakatan mereka kepada orang lain. Ya walaupun bisa dikatakan Aga bukan orang lain bagi Risa, tapi tetap saja. Akhirnya rahasia Zeline jadi terbongkar.
"Masuk dulu, tidak enak jika ada tetangga yang melihat," ucap Aga yang kemudian memilih masuk lebih dulu.
Zeline menghela nafas dan mengikuti Aga.
"Istirahatlah disini, bahaya seorang gadis di luaran."
"Lo mau kemana?"
"Gue bakal cari tempat lain untuk tidur. Bagaimanapun kita tidak punya hubungan apapun, jadi tidak baik bukan jika kita berada di satu atap yang sama."
__ADS_1
Zeline menatap Aga, tidak tahu harus berkata apa.
"Kamu kesini karena mau tinggal disini kan?"
"Tapi lo…"
"Gue cowok, gak usah khawatirkan gue, dan lagi…lebih sopan bisa gak. Gue ini lebih tua dari lo, itu yang perlu lo ingat."
"Maaf."
"Tidak perlu minta maaf, gue pergi dulu."
"Akh!"
Aga yang hendak melangkah keluar, menghentikan langkah saat mendengar suara ringisan Zeline.
"Kenapa?" Tanya Aga khawatir.
"Perut gue sakit." Zeline berjongkok sambil memegang perutnya yang rasanya seperti diremas-remas.
Zeline menyadari sesuatu, lalu segera berlari ke kamar mandi.
Aga menghela nafas lega, lalu berjalan ke arah lemari kakaknya, mencari sesuatu, setelah menemukannya, dengan segera Aga melangkah ke kamar mandi dan mengetuk pintunya.
"Ntar dulu," teriak Zeline dari dalam.
"Buka sebentar, lo pasti membutuhkan ini," ucap Aga sedikit berteriak agar Zeline bisa mendengarnya.
Tak lama pintu pun terbuka, Zeline hanya menyembulkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Ini."
"Aku keluar sebentar, jangan lupa nanti kunci pintunya."
"Lo mau kemana?"
"Hanya sebentar, nanti gue balik lagi."
Setelah mengatakan itu, Aga pun segera pergi, Zeline kembali menutup pintu dan menyadarkan tubuh di baliknya.
"Sepertinya aku bisa mempercayainya," gumam Zeline.
*
*
"Makasih pak," ucap Risa pada sopir yang baru saja menurunkan barang belanjaannya.
Risa kemudian menatap mama Zeline yang sejak di perjalanan hanya diam saja. Dalam hati bertanya-tanya, apa yang membuat wanita itu jadi lebih banyak diam saat mereka kembali.
"Mama…"
Wanita itu menatap Risa lalu berkata.
"Mama ke kamar dulu, nanti punya mama biar di kamar kamu dulu aja. Lalu punya abang, kamu berikan saja ya."
Risa hanya mengangguk, sepertinya wanita itu sedang tidak ingin diganggu untuk saat ini.
__ADS_1
"Sayang!"
"Abang! Ngagetin tau gak," ucap Risa memegangi dadanya, terkejut saat tangan Zhen tiba-tiba merangkulnya.
Zhen hanya terkekeh, mengecup pipi Risa sekilas, gemas melihat ekspresi Risa saat terkejut tadi.
Risa mendelik, menatap sekitar, dan merasa lega saat tidak ada yang melihat apa yang Zhen lakukan tadi.
Plak
Tangan Risa mendarat di lengan Zhen.
"Abang ih, bagaimana jika nanti ada yang melihat?"
Cup
Zhen justru mengecup bibir Risa.
"Abang!" Kali ini bukan tabokan, tapi cubitan cukup pedas, Risa berikan.
"Aman sayang," ucap Zhen mengerti kekhawatiran sang kekasih hati. Sebelum melakukan itu, Zhen juga memastikan jika sopir tidak melihat apa yang dilakukannya
Tapi tanpa mereka tahu, ada seseorang yang melihat hal itu lewat kamera cctv.
"Tetap saja, abang tidak boleh seperti itu," ucap Risa dengan wajah cemberutnya.
"Hehehe, iya sayang gak akan kayak gitu lagi kok," tatapan Zhen lalu tertuju pada barang belanjaan Risa yang masih tergeletak di atas lantai.
"Kamu belanja sebanyak ini?"
"Hmmm."
"Tapi…"
"Mama yang bayarin ini semua dan yang memilih juga. Tapi pilihan mama bagus kok, aku juga suka. Oh ya, mama juga beliin buat abang loh!"
"Oh ya?"
"Hmm, ayo abang bantu bawa masuk, kita bongkar bersama," ucap Risa mengambil beberapa paperbag dan membawanya masuk.
Sementara Zhen, membawa sisanya. Mereka lalu melangkah bersama menuju kamar Zeline. Keduanya duduk di bawah dan membongkar belanjaan Risa hari ini.
"Lihatlah! Ini punya abang, bagus kan?"
"Iya bagus."
Risa tersenyum, membayangkan Zhen yang memakai pakaian pilihan mamanya.
"Tampan," gumam Risa yang ternyata masih bisa didengar oleh Zhen.
"Baru sadar kamu."
Risa lalu menatap Zhen membuat pipinya merah seketika, merasa malu, karena dirinya kepergok oleh kakak Zeline itu.
Keduanya melangkah bersama menaiki tangga sambil bercanda. Hingga begitu sampai di lantai atas, mama Zeline tampak menghadang mereka.
"Mama mau bicara sama kamu Zhen," ucapnya lalu melangkah menjauh.
Zhen dan Risa saling tatap, lalu buru-buru pria itu menurunkan barang bawaannya dan segera menyusul sang mama yang masuk ke sebuah ruangan.
__ADS_1
"Sejak kapan?"
Baru saja melangkahkan kakinya, Zhen kini kembali menghentikan langkah,menatap mamanya yang berdiri memunggunginya.