Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 26


__ADS_3

Zhen menatap datar ketiga anak yang sama sekali tidak menyadari kedatangannya. Zhen berjalan mendekat berdiri di depan ketiganya, membuat ketiganya terkejut.


"Abang ngapain sih disitu? Abang awas minggir dulu, yah game over deh," Zeline meletakkan remote menatap kesal abangnya.


"Abang ganggu tau gak."


Bi Irma takut-takut meletakkan cemilan dan minuman yang sebelumnya diminta oleh Zeline.


"Yah, kalian begitu asyiknya bermain sampai tidak menyadari kedatangan abang, bagaimana jika terjadi kebakaran? Kalian akan sadar jika tubuh kalian yang sudah terbakar, iya?"


"Abang berlebihan deh, lagian Zeze main game sama kebakaran gak ada hubungannya."


Zhen menghela nafas kasar, lalu segera pergi dari tempat itu, dirinya begitu pusing dan lelah menghadapi Zeline dari sore tadi, semenjak gadis itu kembali.


Rio dan Evan yang sedari tadi menahan nafas, akhirnya merasa lega, saat melihat Zhen sudah pergi dan menaiki tangga.


Evan bahkan langsung menyambar minuman dingin yang tadi disiapkan bi Irma lalu meneguknya hingga tak tersisa satu tetes pun.


"Kenapa lo haus?" Cibir Zeline yang kini kembali memainkan game nya.


"Lo yakin Zel tidak apa-apa?" 


Zeline menghentikan sejenak lalu menatap Rio.


"Maksud lo?"


"Abang lo, kami tidak enak. Dan lagi, kami tidak mau jika sampai lo dimarahi karena kami."


"Tunggu gue gak ngerti apa yang kalian katakan sedari tadi."


"Terakhir abang lo kesal saat kami datang, hmm dia terlihat tidak suka. Terutama pada Nico, makanya gue nanya apa tidak apa-apa kalau gue sama Evan ada disini."


"Abang marah?"


"Iya, memangnya lo gak ingat, bahkan saat Nico duduk di dekat lo aja, abang lo sampai narik lo, dan dudukin lo di pangkuannya, takut lo dideketin sama Nico."


"Abang ngelakuin itu?"


Rio dan Evan saling pandang, hingga tak lama terdengar tawa Zeline yang cukup kencang, membuat keduanya merinding seketika.

__ADS_1


"Gue hanya bercanda tadi nanya gitu, tenang aja abang gak akan marah, hmm cuma sebentar habis itu baik-baik saja, jadi kalian gak perlu khawatirin gue," jawab Zeline memberi alasan saat kedua sahabatnya terlihat bingung dengan ucapannya tadi.


"Tapi itu…"


"Abang hanya capek, tadi telpon dan bilang lagi ada sedikit masalah di kantor, abang juga bilang, mau langsung istirahat begitu pulang, jadi kalian gak usa takut gitu deh, uda ah ayo lanjut, tuh cemilannya juga sudah datang," ucap Zeline memberi alasan lalu mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Wah enak sepertinya," ucap Evan yang dengan segera menarik piring berisi cemilan dan segera melahapnya, inilah yang dia suka jika berada di rumah Zeline, tidak pernah kekurangan bahan makanan.


Melihat kedua sahabatnya yang kini sudah asyik memakan cemilannya, Zeline pun sedikit bisa bernafas lega.


Sementara itu, Zhen yang kini baru saja masuk ke dalam kamarnya duduk di atas ranjang. Mengambil foto dirinya dan Zeline yang diambil beberapa hari yang lalu. Foto dirinya juga Zeline mengenakan kaos yang sama berwarna biru, dimana di foto itu Zhen tengah mencium pipi Zeline, Zhen tersenyum dan mengusap foto itu dengan lembut.


"Abang kangen sama kamu sayang," ucap Zhen. Dia memegang dadanya, dia tadi sempat marah saat melihat Zeline bersama dua teman pria nya. Tapi begitu Zhen berdiri dan menghadap ketiganya, Zhen sadar bahwa marahnya tidak seperti saat itu, Zhen tadi marah, tapi karena Zeline tidak belajar justru bermain bahkan di waktu yang terbilang cukup malam. Apa adiknya itu tidak takut jika nanti akan terlambat? Itulah yang tadi terlintas di benak Zhen, sedangkan marahnya saat itu, dia seakan tidak rela jika Zeline dekat dengan pria selain dirinya.


"Bahkan debaran jantung abang pun tidak seperti saat itu," gumam Zhen.


"Mungkin perasaan abang sebelumnya memang salah, dan kini abang sadar bahwa sayang abang ke kamu tetap sayang seorang abang pada adiknya, bukan sayang antara pria dan wanita. Maafkan abang Ze, abang salah mengartikan perasaan abang, abang hanya berharap kamu juga merasakan hal yang sama, kamu juga sadar bahwa perasaan kemarin bukanlah yang sebenarnya," Zhen meletakkan foto itu, bangkit dan berlalu ke kamar mandi, Zhen perlu menyegarkan pikirannya.


*


*


"Ris!"


"Kita cari tempat yang nyaman ya Ar, untuk bicara," Risa melanjutkan langkah menuju ke taman rumah sakit, dia lalu duduk di sebuah bangku besi panjang yang tersedia disana.


Malam itu cukup terang, apalagi dengan banyaknya gemerlap bintang. Risa mendongak menatap keindahan itu, hingga dia merasa ada seseorang sudah duduk di sampingnya.


"Maaf Ar…"


Dua kata yang diucapkan Risa sudah membuat pria yang kini di sampingnya sudah menebak apa keputusan gadis itu.


Risa menoleh dan tersenyum menatap pria itu.


"Aku tidak bisa, kita jelas berbeda, kamu orang terpandang berbeda dengan keluargaku, kamu bisa melihatnya sendiri."


"Tapi Ris…"


"Aku tidak keberatan berteman denganmu, tapi tidak dengan menjalin sebuah hubungan. Dan kita juga sudah nyaman berteman selama ini, aku tidak mau merusak pertemanan kita hanya karena niatmu yang ingin hubungan kita lebih."

__ADS_1


Pria itu tiba-tiba menggenggam tangan Risa, membuat Risa terkesiap.


"Tidak bisakah kita mencobanya dulu Ris?"


Risa menatap lurus ke depan. "Sebuah hubungan bukan untuk coba-coba Ar."


"Ris…"


"Kalau sudah tidak ada yang ingin dikatakan, aku permisi dulu," Risa segera bangkit dari duduknya tapi tangannya ditahan oleh Ardan.


"Setidaknya bertemulah dengan orang tuaku, aku yakin mereka akan menerimamu dan jika itu benar-benar terjadi, kamu bisa pertimbangkan semua ini Ris, aku mohon!" Risa terdiam, sambil memejamkan matanya.


Tiba-tiba saja bayangan-bayangan dirinya dan juga Zhen bermunculan di benaknya, layaknya sebuah film yang tengah diputar, ada rasa sesak menyelimuti hatinya, bukankah dia dan Zhen juga bisa saja berakhir seperti ini, dia dan Zhen juga sangat jauh berbeda.


"Ris...ayo bertemu orang tuaku dulu, lusa orang tuaku merayakan pesta ulang tahun pernikahan mereka. Aku akan memperkenalkan kamu dengan keluarga besarku."


Risa sama sekali tidak menoleh, bahkan kini pikiran Risa terus tertuju pada Zhen, pria yang dalam beberapa hari sudah berhasil masuk ke dalam hatinya.


'Abang aku kangen.'


"Ris!"


Risa terkejut saat dirinya membuka mata tiba-tiba Ardan sudah berdiri di hadapannya. Bahkan kini pria itu menekuk lututnya, menggenggam kedua tangan Risa dan mengecupnya.


Risa menatap ke sekeliling, malu, itu yang dia rasakan, apalagi saat orang-orang yang kini berlalu lalang sampai berhenti, terlihat penasaran dengan apa yang terjadi dengannya.


"Ardan bangun!" Risa mencoba membantu Ardan untuk bangun, tapi Ardan menolaknya.


"Aku tetap akan seperti ini, sampai kamu menjawabku."


"Ardan!" Risa mengacak rambutnya frustasi, dirinya yang tahu bagaimana sifat keras kepalanya seorang Ardan, Risa yakin jika Ardan akan tetap seperti itu sebelum mendapatkan apa yang pria itu mau.


Risa menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Baiklah."


Ardan mendongak menatap Risa.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu ke acara orang tuamu."

__ADS_1


__ADS_2